8. Johnny's Broken Heart

Tahun demi tahun telah berlalu, Johnny dan Hendery telah banyak melalui hari-hari yang menyenangkan bersama. Saat ini Hendery telah berusia delapan tahun. Anak tampan itu telah duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Tentu saja ia berada di satu sekolah yang sama dengan Mark, dan lucunya San mengikuti langkah dua teman kecilnya itu ke sekolah yang sama. Bahkan mereka bertiga ditempatkan di kelas yang sama pula.

Hari ini tepat perayaan ulang tahun Hendery yang ke delapan, seperti kebiasaan mereka berdua biasanya ayah dan anak itu hanya akan merayakan ulang tahun berdua di rumah mereka tanpa mengundang siapapun. Sore itu Hendery yang telah kembali sejak tadi dari sekolahnya nampak berada di kamar. Ia membungkus dirinya dengan selimut tebal yang biasa digunakan saat malam. Sejak masuk sekolah dasar Hendery memutuskan untuk tidur seorang diri, tidak lagi di kamar yang sama dengan Johnny. Hendery terlihat sedikit aneh, keringat sebesar biji jagung nampak membasahi keningnya hari itu, ia juga nampak terlihat meringis menahan sakit dengan tangannya yang menekan keras bagian dada kirinya. Hendery berdiam cukup lama, ia sangat ingin berteriak dan memanggil sang ayah yang tengah sibuk di bawah, namun suaranya seperti tertahan. Rasa sakit yang menghujam dada kirinya terasa amat mendominasi hari itu. Hendery berdiam cukup lama sampai rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya, setelah dirasa tubuhnya telah lebih baik ia bergegas ke bawah menghampiri Johnny yang nampak sibuk dengan ponselnya di ruang keluarga.

Johnny yang baru saja menutup panggilan teleponnya bergegas menoleh ke arah Hendery saat anak kecil itu menuruni tangga. Johnny merasa ada yang aneh dengan anak kecil itu, rambutnya terlihat basah oleh keringat padahal cuaca di luar terasa sangat sejuk hari itu. Johnny menarik Hendery untuk duduk di sebelahnya dan meraba keningnya. Sama sekali tidak hangat pikir Johnny, namun wajah Hendery terlihat cukup pucat hari itu.

"Dery sakit?" Tanya Johnny.

"Tidak." Ucap Hendery, ia kembali sibuk menonton televisi yang menayangkan kartun kesukaannya. Johnny hanya tersenyum sekilas dan memberikan bungkusan paper bag berukuran besar kepada sang anak.

Hendery sedikit terkejut dengan barang yang Johnny berikan, mata bulatnya nampak membola dan mulutnya sedikit terbuka. Detik berikutnya ia tersenyum cerah saat mendapati hadiah yang Johnny berikan. Lego edisi khusus yang sudah lama ia idam-idamkan. Saat tengah sibuk membuka kotak lego miliknya tiba-tiba saja rasa yang sama seperti beberapa menit yang lalu kembali menghujam dadanya, bahkan kali ini terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya. Hendery ambruk di dada bidang Johnny menyisakan pria dewasa itu yang terlihat terkejut. Johnny terlihat lebih panik saat suara rintihan terdengar dari mulut kecil Hendery.

"Sa- sakit dad sesakh-" Ucap anak kecil itu, Jonny tersadar saat Hendery nampak menekan erat bagian dada kirinya dengan tangan kecilnya.

"Dery…. Jangan tidur, hey bisa dengar daddy?" Ucap Johnny, ia terlihat amat panik hari itu terlebih Hendery hanya merintih dengan mata yang mulai terpejam.

Dengan gerakan cepat Johnny meraih kunci mobilnya dan membawa Hendery dalam gendongannya. Hari itu Johnny tersadar jika Hendery terasa lebih ringan dari anak seusianya. Johnny benar-benar kalut, bahkan ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diluar nalar sore itu. Saat sampai di rumah sakit ia berpisah dengan Hendery yang dibawa oleh para perawat memasuki ruang IGD, si kecil telah sepenuhnya terpejam setelah beberapa menit lalu hanya bisa merintih kesakitan.

Johnny nampak tak tenang, ia sejak tadi menunggu dokter yang tengah menangani Hendery keluar dari ruangannya. Berkali-kali pria tinggi itu mengecek ke arah jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Johnny bangkit berdiri begitu dokter yang sejak tadi menangani Hendery keluar, si kecil juga nampak dipindahkan ke ruang rawatnya. Namun kondisi Hendery hari itu cukup membuat Johnny teriris. Wajah Hendery dihiasi masker oksigen untuk membantunya bernafas dan terdapat beberapa kabel yang menempel di dada kecilnya.

"Tuan bisa ikut saya sebentar?" Ucap dokter pria yang ada di hadapannya. Johnny tersadar dari lamunannya dan mulai mengikuti dokter tersebut masuk ke sebuah ruangan.

"Ada kelainan pada jantung Hendery." ucap dokter yang saat itu berada di hadapan Johnny. Pria yang berstatus sebagai ayah Hendery itu hanya terdiam. Kata-kata yang keluar dari mulut dokter yang berada di hadapannya seperti kembali berputar di otaknya. Delapan tahun lalu perkataan itu juga meluncur dari dokter yang menangani Hendery saat baru saja dilahirkan.

Hendery yang lahir lebih awal dari waktu yang seharusnya membuatnya mengalami penyakit yang bahkan namanya sulit untuk Johnny ingat. Patent ductus arteriosus, atau lebih mudahnya terdapat bukaan yang menghubungkan antara aorta dan arteri paru. Saat itu Johnny tersadar ketika Hendery kecil sering sekali menangis sampai nafasnya tersengal-sengal bahkan berat badannya sangat sulit naik. Taeyong sampai heran karena saat itu ia menyusui dua bayi sekaligus namun berat badan Mark jauh di atas berat badan Hendery. Demi menuntaskan rasa penasarannya Johnny membawa Hendery kecil ke rumah sakit saat itu, dan kenyataan pahit harus Johnny terima. Namun dibalik semua kesedihan muncul secercah harapan saat dokter mengatakan jika Hendery tidak membutuhkan operasi apapun karena normalnya lubang itu akan menutup saat Hendery beranjak dewasa.

Dan benar saja setelah bertahun-tahun melakukan kontrol ke rumah sakit secara rutin akhirnya Hendery terbebas dari penyakit yang membuat Johnny tak tenang bahkan untuk menjalani hidupnya. Tepat saat usia tiga tahun lubang itu sepenuhnya menutup dan Hendery tumbuh menjadi anak yang sehat. Pangeran Johnny itu tumbuh menjadi anak yang pintar dan membawa kebahagiaan bagi orang di sekitarnya. Johnny pikir setelah semua badai yang ia lalui hanya aka nada pelangi yang menghampirinya. Nyatanya hari ini badai itu kembali datang, bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya mengingat betapa kesakitannya Hendery sore tadi.

"Anda masih mendengarku?" Tanya dokter dihadapan Johnny. Ucapan itu berhasil membangkitkan Johnny dari lamunan panjangnya. Johnny hanya mengangguk menanggapi dokter itu dan ia kembali mendengar apa yang tengah dibicarakan.

"Ventrikel yang ada pada jantung Hendery cukup lemah." Ucap dokter itu. Johnny hanya terdiam dan mendengar semua penjelasan dokter itu dengan saksama.

"Apa sebelumnya Hendery pernah merasa kesakitan seperti tadi?" Tanya dokter itu. Johnny hanya menggeleng, ia belum membuka suaranya. Isi kepalanya nampak begitu berisik hari itu.

"Normalnya saat kondisi seperti ini akan dipasang alat bantu ventrikel pada pasien. Namun karena Hendery masih terlalu kecil kami hanya akan memasang shunt jantung untuk membantu meningkatkan kadar oksigen dalam darahnya." Ucap dokter tersebut.

"Setelah itu bagaimana?" Tanya Johnny, akhirnya ia mulai buka suara.

"Kami akan terus memantau kondisi Hendery, jika kondisinya telah membaik shunt jantung akan kami lepas. Namun jika sampai dewasa belum ada perubahan apapun kami terpaksa menggantinya dengan alat bantu ventrikel." Jelas dokter tersebut.

"Tolong lakukan yang terbaik." Ucap Johnny. Dokter tersebut nampak tersenyum teduh dan mengangguk di hadapan Johnny.

"Kami akan memantau kondisi Hendery dan setelah stabil akan dilakukan pemasangan shunt pada jantungnya." Ucap dokter itu. Johnny mengangguk, raut kesedihan nampak terpancar jelas di wajah tampannya hari itu. Saat Johnny bangkit berdiri dokter di hadapannya ikut berdiri dan menyerahkan selembar kartu nama ke arah Johnny.

"Aku Kun, kau bisa menghubungiku kapan saja. Kami akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan Hendery, jangan khawatir." Ucap dokter yang diketahui bernama Kun itu, bahkan ia terlihat mengelus lembut bahu Johnny yang berada di hadapannya.

"Terima kasih banyak. Aku permisi dulu." Ucap Johnny, ia keluar dari ruangan Kun dengan wajah yang sarat akan kesedihan. Saat sampai di ruang rawat Hendery, Johnny nampak memandang Hendery yang terlihat damai dalam tidurnya. Si kecil sama sekali tak berniat membuka matanya.

Untuk kali pertama Johnny merasa gagal dalam membesarkan sang anak. Seharusnya ia sadar sejak lama tentang Hendery yang selalu terlihat pucat, Hendery yang sangat sulit makan, atau Hendery yang terlihat lebih kurus dari anak seusianya. Namun semua keceriaan yang Hendery tunjukan selalu berhasil membuat Johnny melupakan kepanikannya dan malah berujung penyesalan mendalam hari ini.

Pintu ruangan Hendery tiba-tiba saja terbuka. Dari ambang pintu terlihat jelas kedatangan tuan dan nyonya Seo beserta Seohyun yang sempat Johnny hubungi beberapa waktu lalu. Seohyun mendekati sang adik dan memeluknya erat, detik berikutnya Johnny mulai menangis di pelukan sang kakak. Seohyun yang mendekatinya hanya mengelus lembut pundak kokoh adiknya berusaha memberikan ketenangan di sana. Tangisan Johnny masih sama seperti delapan tahun lalu saat Irene pergi meninggalkannya dan Seohyun tersadar jika adiknya baru saja mengalami patah hati untuk kedua kalinya.