9. Our First Meeting
Johnny menginap di ruangan Hendery dan memilih untuk tidur di sofa yang berada di sana. Sejak semalam tidurnya nampak tak tenang seolah ada hal yang begitu mengganggu pikirannya. Johnny terbangun dari tidurnya saat mendengar suara lirih Hendery yang memanggil namanya dari kejauhan. Johnny bangkit dan bergegas menghampiri Hendery. Si kecil nampak mencoba untuk berbicara di balik masker oksigennya. Sepertinya Hendery cukup terkejut karena saat terbangun ia tidak berada di kamarnya yang di cat biru muda tapi berada di ruangan serba putih dengan masker oksigen yang menutupi wajahnya.
"Dad- daddy…." Lirih Hendery.
"Daddy disini. Jangan takut." Ucap Johnny, ia meraih tangan Hendery yang terulur ke arahnya.
"Dery merasakan sakit?" Tanya Johnny. Hendery hanya menggeleng dan nampak kembali memejamkan matanya. Tangannya menggenggam erat tangan Johnny seolah memintanya untuk tetap berada di sisinya.
Kun datang ke ruangan pasien kecilnya. Ia mendapati Hendery yang telah terbangun dari tidurnya dan tengan menggenggam tangan sang ayah. Johnny sedikit terkejut saat mendapati kedatangan Kun yang tiba-tiba, pikirnya ini terlalu pagi untuk dilakukan visit pasien. Hendery terlihat ketakutan, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Johnny. Si pria tinggi tersenyum teduh dan mengelus lembut surai hitam anaknya itu.
"Jangan takut, daddy disini bersama Dery." Ucap Johnny. Ia sangat paham jika Hendery cukup takut dengan dokter, ia hanya khawatir akan disuntik seperti beberapa waktu lalu.
Kun memulai pemeriksaannya, ia membuka kancing piyama Hendery dan menampilkan dada putih si kecil yang ditempeli beberapa elektroda EKG untuk memantau kondisi jantungnya. Kun menempelkan stetoskop miliknya ke dada sempit Hendery yang nampak bergerak naik turun hari itu, mendengarkan irama jantung si kecil yang terdengar teratur dan menenangkan. Hendery nampak bingung, terlebih saat dokter tersebut membuka bagian atas pakaiannya, ia semakin menggenggam erat tangan Johnny dan disambut senyuman oleh pria tinggi itu. Perlahan Kun mulai melepas masker oksigen yang digunakan Hendery sejak kemarin. Si kecil nampak tersenyum dan dibalas oleh Kun dengan senyuman yang tak kalah indahnya.
"Apa Dery merasakan sakit disini?" Tanya Kun, ia menunjuk bagian dada sebelah kiri Hendery setelah selesai mengancingkan kancing piyama anak itu. Hendery hanya menggeleng, detik berikutnya ia kembali berucap dan berhasil membuat Kun tertawa.
"Dokter tau nama Dery?" Tanya anak kecil itu.
"Tentu. Mulai hari ini Dery bisa panggil samchon Kun." Ucap pria itu.
"Dokter Kun." Ulang Hendery. Johnny dan Kun tersenyum teduh mendengar ucapan Hendery pagi itu.
Sejak saat itu Hendery menjadi lebih akrab dengan Kun. Johnny sampai bingung sendiri padahal biasanya Hendery akan sangat takut dengan dokter lainnya. Namun dengan Kun, Hendery bisa menyambutnya begitu baik seolah tak ada rasa ketakutan dalam diri anak kecil itu. Johnny sendiri cukup maklum mengingat bagaimana pendekatan yang Kun lakukan pada Hendery beberapa hari lalu. Kun bilang ia cukup sering menemui pasien anak-anak, sebenarnya itu kenyataan yang cukup Kun benci dan sangat menyakitkan, mengingat ia adalah dokter spesialis jantung dan akan sangat pedih rasanya saat tahu anak-anak seusia Hendery harus bergelut dengan penyakit yang dapat merenggut nyawa mereka kapan saja.
Lima hari sudah Hendery menginap di rumah sakit. Ia sudah mulai bosan apalagi selama lima hari penuh tak bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Beberapa hari lalu San dan Mark sempat mengunjunginya dan Hendery terlihat sangat ceria hari itu, menyisakan Mark dan San terlihat cukup sendu.
"Dery sakit apa?" Tanya San hari itu. Hendery hanya menggeleng dan kembali fokus dengan hot wheels miliknya yang tengah mereka mainkan bertiga.
"Tidak tahu, dokter Kun bilang jantung Dery spesial." Ucap anak kecil itu polos, tak tahukah ia bahwa perkataan itu berhasil membuat Johnny dan Taeyong yang berada disana merasa pedih.
"Dery harus cepat sembuh ya. Teman-teman sudah sangat merindukan Dery." Ucap Mark. Hendery mengangguk semangat dan mereka bertiga kembali melanjutkan acara bermainnya.
Selama lima hari penuh Johnny selalu menemani Hendery, ia membawa seluruh pekerjaannya bersamanya. Bahkan Seohyun sampai kasihan pada adiknya itu dan dengan berat hati tuan Seo mulai mengurangi pekerjaan anaknya secara perlahan dan membiarkan orang lain mengambil alih pekerjaan anaknya sementara Johnny fokus dengan Hendery untuk saat ini. Terkadang Seohyun atau Taeyong menggantikan Johnny untuk menjaga Hendery, mereka senang-senang aja, namun Johnny merasa keberatan terlebih Taeyong masih harus mengawasi Jeno yang berada dalam masa emas pertumbuhannya. Namun Jaehyun berhasil meyakinkannya jika Taeyong tak merasa keberatan sama sekali, bahkan wanita itu sempat menangis saat mengetahui kondisi kesehatan Hendery beberapa hari lalu.
Johnny tengah menyuapi Hendery, anak kecil itu nampak rewel sejak tadi. Terlebih tangannya yang dipasang infus ternyata membengkak dan membuat Kun melepas sementara infusnya beberapa jam yang lalu. Hendery mulai menutup rapat mulutnya saat Johnny tengah menyuapinya, si kecil terlihat mulai berkaca-kaca dengan bibir yang nampak menekuk ke bawah.
"Habiskan dulu ya Dery, jangan ditutup begitu mulutnya." Ucap Johnny.
"Tidak mau dad, rasanya tidak enak. Tidak seperti masakan daddy." Ucap si kecil.
"Dery harus sembuh dulu, nanti di rumah daddy akan masakkan banyak makanan enak." Ucap Johnny, ia masih berusaha meyakinkan anaknya itu.
"Tidak mau. Dery mau pulang dad, Dery bosan disini." Ucap anak kecil itu, suaranya mulai terdengar bergetar dan siap untuk menangis.
"Kalau Dery sudah sembuh pasti diizinkan pulang oleh dokter Kun. Sekarang habiskan dulu makanannya supaya cepat sembuh." Ucap Johnny. Hendery hanya menggeleng dan kembali menutup mulutnya.
"Oke. Makan nasinya sudah. Tapi habiskan buahnya ya?" Ucap Johnny, Hendery hanya mengangguk pasrah dan mulai menelan paksa potongan apel yang sempat Johnny kupaa beberapa menit lalu.
Hendery berhasil menghabiskan potongan buah miliknya, saat ini ia tengah sibuk menonton kartu kesukaannya dari televisi yang berada di ruang rawatnya. Johnny nampak mengawasi Hendery seraya mengerjakan pekerjaannya dengan laptop miliknya. Tak lama Kun kembali datang ke ruangan anak kecil itu, Hendery tersenyum cerah saat mendapati Kun berada di hadapannya. Ia bersama seorang perawat wanita yang terlihat begitu cantik hari itu. Kun mengajak Hendery berbincang tentang banyak hal untuk mengalihkan perhatian Hendery, namun tiba-tiba saja Hendery tersadar saat Kun menarik tangan kirinya, dokter tampan itu hendak kembali memasang infus di tangan kecil Hendery.
"Hua…. Tidak mau, daddy dokter Kun jahat…." Teriak Hendery, ia mulai menangis dan merentangkan tangannya, berharap Johnny akan memeluknya.
Johnny bangkit dari duduknya dan mendekati Hendery, si kecil langsung merapatkan pelukannya dan bersembunyi dari Kun dan perawat wanita yang Johnny tahu bernama Jungwoo dari name tag yang terpasang di dadanya. Johnny dan Kun berusaha mengalihkan perhatian Hendery dengan banyak hal membiarkan Jungwoo memasang infus pada tangan kecil itu. Saat Jungwoo telah mengoleskan kapas beralkohol ke lengan kecil Hendery, si kecil nampak terkesiap. Saat itu pula Hendery berhasil meloloskan diri dari pelukan Johnny dan mulai berlari keluar ruangannya. Kun dan Johnny terlihat panik, mereka ikut mengejar Hendery keluar ruangan saat itu, meninggalkan Jungwoo yang terlihat kebingungan di kamar rawat anak kecil itu.
"Ten! Tangkap dia." Teriak Kun pada dokter wanita yang berada tak jauh dari Hendery yang masih berlari kencang. Dengan sigap Ten berhasil menangkap Hendery dan membawa anak kecil itu dalam dekapannya.
"Hua…. Imo tolong Dery, dokter Kun jahat mau suntik Dery." Ucap anak kecil itu. Ten cukup terkejut mendengar anak kecil yang tak ia kenal tiba-tiba saja mengadu padanya.
"Hei, jangan takut. Imo disini sudah ya jangan menangis lagi." Ucap Ten, ia berjalan ke arah Kun dan Johnny yang berada tak jauh darinya. Ekspresi kelegaan terpancar jelas di wajah tampan Johnny, ia pikir Hendery akan berlari lebih jauh lagi tadi.
Johnny berencana mengambil Hendery dari gendongan wanita cantik yang diketahui bernama Ten itu, namun Hendery malah menghindar. Ia semakin membenamkan wajahnya ke ceruk leher Ten dan bersembunyi dari Johnny. Seolah bisa membaca situasi, Kun mengajak Ten masuk ke dalam ruang rawat Hendery. Meminta wanita itu duduk di ranjang Hendery detik berikutnya Kun dan Jungwoo kembali melanjutkan misi mereka memasang infus di tangan Hendery. Johnny terlihat takjub karena wanita itu berhasil menenangkan Hendery yang tengah menangis dengan mudahnya. Bahkan ia berhasil mengalihkan perhatian Hendery sampai akhirnya infus terpasang di tangan kecilnya.
"Nama imo siapa?" Tanya Hendery saat Ten baru saja membantunya berbaring.
"Nama imo Ten." Ucap wanita itu seraya tersenyum teduh.
"Wah senyuman imo cantik, imo dokter seperti dokter Kun juga?" Tanya Hendery, mood nya terlihat mulai kembali seperti semula.
"Hum. Imo dokter disini, sama seperti dokter Kun." Jawab wanita itu.
"Daddy, Dery mau sama dokter Ten saja, tidak mau dengan dokter Kun. Dokter Kun nakal mau suntik Dery." Ucap anak kecil itu polos. Kun, Johnny dan Jungwoo yang berada disana hanya terkekeh mendengar perkataan polos anak itu.
"Imo mau kemana? Disini saja temani Dery." Ucap anak kecil itu saat Ten berniat pergi dari ruangannya.
"Imo harus periksa teman-teman Dery dulu, nanti sore imo janji akan datang lagi." Ucap Ten. Hendery mengerucutkan bibirnya, namun detik berikutnya ia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Ten pergi dari ruangannya.
Johnny menemani Ten keluar dari ruang rawat Hendery karena Kun dan Jungwoo telah pergi sejak tadi melanjutkan acara mereka visit ke pasien lainnya.
"Terima kasih, telah bantu menenangkan Hendery." Ucap Johnny, ia dan Ten tengah berada di depan ruang rawat Hendery saat ini.
"Ah, tak apa. Lagipula Hendery begitu menggemaskan, aku suka." Ucap Ten seraya tersenyum.
"Aku Johnny, daddy nya Hendery." ucap Johnny, ia mengulurkan tangannya kepada Ten dan disambut baik oleh wanita itu.
"Aku Ten, dokter spesialis anak disini. Senang berkenalan denganmu Johnny." ucap Ten. Johnny nampak mengangguk, pantas saja wanita itu bisa menenangkan Hendery dengan mudah ternyata bertemu dengan anak-anak adalah rutinitasnya sehari-hari.
"Kalau begitu aku permisi dulu, kuharap Hendery cepat sehat. Sampai ketemu lagi Johnny-ssi." Ucap Ten, ia tersenyum teduh saat itu. Johnny menganggukkan kepalanya dan saat Ten benar-benar menghilang dari hadapannya pria tinggi itu nampak meraba dada bidanya, setelah sekian lama, untuk pertama kalinya jantungnya kembali berdebar kencang. Debaran yang sama seperti yang dulu ia rasakan saat bertemu dengan Irene untuk pertama kalinya, apa mungkin ia kembali merasakan yang namanya jatuh cinta, pikirnya.
