10. A Long Night

Seminggu sudah Hendery berada di rumah sakit. Jika sebelumnya anak kecil itu sering kali merengek dan minta pulang, kali ini si kecil nampak mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Terlebih lagi semenjak mengenal Ten, bahkan ia seperti melupakan Johnny yang berada di dekatnya. Ten kerap kali menemani Hendery di waktu senggangnya, entah kenapa ia begitu senang saat bermain dengan anak tampan itu, padahal pertemuan pertama mereka baru terjadi dua hari yang lalu. Namun Ten merasa seolah telah mengenal Hendery sejak lama. Seperti hari ini Ten nampak menggandengan lengan Hendery dan membawa anak kecil itu ke ruang bermain yang ada di rumah sakit, tentu saja setelah mendapatkan izin dari Johnny. Kebetulan pria itu harus pergi ke kantor hari ini dan Hendery melepasnya dengan senang hati tanpa adanya tangisan seperti hari-hari sebelumnya.

"Daddy tidak pernah ajak Dery kesini. Terima kasih imo." Ucap Hendery, ia menatap Ten lekat dan menunjukkan deretan gigi putihnya.

"Sama-sama, Dery senang kan bermain disini?" Tanya Ten seraya menyibak rambut Hendery, poninya yang panjang nampak menutupi kening putihnya.

"Suka sekali, banyak teman-teman." Ucap anak kecil itu.

Tentu saja Ten mengawasi Hendery saat bermain, ia sudah dengar dari Kun tentang penyakit apa yang diderita anak kecil itu, sungguh menyakitkan saat tahu anak sekecil Hendery harus terbelenggu dengan penyakit yang menyeramkan seperti itu. Bahkan seingat Ten, anak kecil itu akan segera melakukan operasi pertamanya beberapa hari lagi. Ten yang tengah memandangi Hendery yang tampak asyik menyusun lego tiba-tiba terkejut dengan ponselnya yang terasa bergetar. Itu Johnny, pria tinggi yang berstatus sebagai ayah Hendery itu baru saja menghubunginya.

"Yeoboseyo Ten-ssi, maaf merepotkan. Bisa tolong bawa Hendery ke ruangannya? Taeyong dan Mark telah menunggu disana." Ucap Johnny dari seberang sana.

"Ah iya sama sekali tidak merepotkan kok." Balas Ten, dan panggilan telepon antara mereka berakhir begitu saja. Ten mengajak Hendery kembali ke kamarnya dan dengan patuhnya anak kecil itu membiarkan Ten menggandeng tangannya.

Hari ini Mark dan Taeyong datang mengunjungi Hendery, anak tampan itu begitu senang saat bertemu kembali dengan Mark juga Taeyong setelah sekian lama. Bahkan Hendery terlihat semangat menyantap makanan yang disuapi Taeyong sejak tadi. Ten kembali datang ke ruang rawat Hendery saat sore menjelang, ia mengobrol banyak dengan Taeyong yang nampak memantau Mark dan Hendery menyusun lego sejak tadi. Sesekali kedua wanita itu terlihat bercanda dan terkekeh satu sama lain, sungguh pemandangan yang indah.

"Eomma!…." Teriak Mark.

Teriakan Mark berhasil menghentikan obrolan mereka berdua sore itu, bahkan Tayeong lebih terkejut saat melihat netra indah Mark yang berkaca-kaca dengan jemari kecilnya yang nampak menunjuk ke arah Hendery yang berada tak jauh dari mereka. Taeyong berhambur ke arah Hendery, ia cukup panik saat melihat anak kecil itu nampak meringkuk dengan tangan yang menekan dada kirinya.

"Dery…. Bisa dengar eomma?" Tanya Taeyong, suaranya mulai terdengar bergetar karena khawatir dengan Hendery yang nampak begitu pucat.

"Se- sesak eomma, sakit…." Lirih Hendery, keringat mulai membanjiri keningnya saat itu. Ten yang membaca kepanikan dari raut wajah Taeyong bergegas menggendong Hendery dan membawanya ke atas ranjang rawatnya. Ia menekan tombol emergency yang berada di ruang rawat Hendery berharap Kun segera datang menemuinya.

"Dery lihat imo, tarik napas…. Hembuskan…." Ucap Ten, ia terlihat membimbing Hendery yang terlihat tidak nyaman sore itu, mulutnya sedikit terbuka dan berusaha untuk menggapai udara yang tak bisa ia lihat. Dengan cekatan ia memasang masker oksigen ke wajah Hendery untuk memudahkan pernapasan anak kecil itu. Mark menangis keras di pelukan Taeyong, ini pengalaman pertamanya melihat Hendery mendapatkan serangan yang tak terduga dan itu cukup membekas di hatinya.

Kun masuk dengan beberapa perawat ke ruang rawat pasien kecilnya. Taeyong mengajak Mark keluar selagi dokter melakukan pemeriksaan. Ten mulanya berniat mengikuti Taeyong, namun tangan kecil Hendery menggenggam tangannya begitu erat seolah tak membiarkan dokter wanita itu jauh darinya.

"Ja- jangan per- pergi imo." Lirih Hendery di tengah rasa sakit yang membelenggu dada kecilnya.

Kun mulai melakukan tindakannya, ia nampak menyuntikan obat melalui infus Hendery dan menempelkan elektroda EKG di dada kecil pasiennya itu. Hening nampak menguasai ruangan VIP itu, hanya ada suara alat pendeteksi detak jantung Hendery dan rintihan anak kecil itu yang terdengar begitu menyakitkan.

"Sa- sakit daddy…." Lirih anak kecil itu dari balik masker oksigennya, bersamaan dengan itu mata indahnya mulai terpejam seiring dengan bunyi alat pendeteksi detak jantung yang terdengar begitu teratur. Tanpa sadar air mata mulai jatuh dari manik indah Ten, melihat anak kecil bertaruh nyawa bukan pengalaman baru untuknya, namun melihat Hendery hari ini membuat hatinya terasa begitu sakit seolah ada belati tak kasat mata yang mengujam hatinya.

"Kau menangis?" Tanya Kun, ia terlihat bernapas lega melihat kondisi Hendery yang lebih baik dari sebelumnya.

"Apa hal seperti ini yang selalu kau lihat?" Tanya Ten pada sahabatnya itu.

"Kurang lebih begitu, menyedihkan bukan saat melihat anak kecil berjuang untuk hidupnya?" Jawab Kun, Ten hanya terdiam, ia memilih mengelus lembut surai hitam Hendery yang telah basah oleh keringat.

Johnny baru saja kembali dari kantornya. Ia dikejutkan dengan Mark yang menangis keras di depan ruang rawat Hendery dengan Taeyong yang berusaha menenangkan anaknya itu. Johnny sudah merasa ada yang tidak beres saat Mark menangis begitu kerasnya, dan rasa penasarannya seolah terjawab saat Kun keluar dari ruang rawat Hendery dengan keringat yang tampak membasahi keningnya dan ekspresi yang sulit terbaca.

"Bisa ikut aku sebentar?" Ucap Kun, Johnny menurut saja dan kembali menyuruh Taeyong masuk ke ruang rawat anaknya.

"Kami akan segera melakukan operasi sebelum kondisi Hendery semakin menurun." Ucap Kun, Johnny masih terdiam. Jadi beberapa menit lalu Hendery kembali mendapatkan serangannya saat ia tak berada disisi anak kecil itu.

"Kumohon lakukan yang terbaik untuk Hendery." Ucap Johnny, Kun hanya mengangguk. Setelah pembicaraan mereka berakhir Johnny memilih pergi ke ruang rawat Hendery. Disana nampak Ten yang terduduk di sebelah ranjang Hendery dengan tangannya yang digenggam oleh tangan kecil pangerannya. Taeyong dan Mark menghampiri Johnny yang baru saja masuk. Wanita cantik itu berniat berpamitan pada Johnny, ia memeluk pundak kokoh Johnny dan berusaha menyalurkan energy dari sana.

"Samchon, Dery akan segera bangun kan?" Tanya Mark, suaranya terdengar parau akibat sisa tangisnya beberapa menit yang lalu. Johnny berjongkok di hadapan Mark dan mengelus lembut pundak anak kecil itu.

"Dery pasti segera bangun, Mark harus selalu doakan Dery ya." Ucap Johnny, netra setajam elangnya juga nampak berkaca-kaca hari itu.

"Hum. Mark janji selalu doakan Dery, Mark pulang dulu ya samchon. Besok mark akan datang lagi." Ucap Mark, Johnny mengangguk detik berikutnya ia melepas kepergian sepasang ibu dan anak itu.

Malam harinya tim dokter mulai melakukan operasi pada Hendery. Johnny duduk di ruang tunggu seorang diri dengan pakaian yang masih sama seperti tadi sore. Pikirannya terlalu kalut dan takut hanya untuk sekedar mengganti pakaiannya. Johnny juga telah mengabarkan anggota keluarganya tentang kondisi Hendery yang ternyata berhasil membawa kesedihan bagi semua orang. Johnny terkejut saat tiba-tiba saja Ten duduk di sebelahnya. Wanita itu nampak menyodorkan sekaleng minuman dan sepotong roti pada Johnny malam itu.

"Makan dulu, kau tidak boleh sakit demi Hendery." Ucap Ten. Dengan ragu Johnny menerima pemberian si dokter cantik dan mulai menyantap sepotong roti dengan sisa tenaganya.

"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Ten membuka pembicaraan. Johnny hanya mengangguk malam itu.

"Kau selalu sendiri, mamanya Hendery kemana?" Tanya Ten, ia sedikit berhati-hati bertanya pada Johnny.

"Sudah pergi, mamanya meninggal saat melahirkan Hendery delapan tahun yang lalu." Ucap Johnny. Ten nampak terkejut, ia merasa tidak enak karena telah menanyakan pertanyaan semacam itu pada Johnny.

"Maaf, aku tak bermaksud-"

"Ah tak apa. Menurutku itu pertanyaan yang wajar." Jawab Johnny.

"Hendery begitu ceria, aku tak menyangka jika bebannya sebesar ini." Ucap Ten.

"Hum. Anak itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Hendery bilang kau sangat hebat. Ia bangga punya daddy sepertimu. Jika kau mengira telah gagal merawat Hendery kurasa kau salah besar." Ucap wanita itu, ia sangat ingat bagaimana Hendery menceritakan tentang daddy di setiap pertemuan mereka berdua.

"Dia sangat pandai memuji orang lain bukan?" Tanya Johnny.

"Hum. Hendery terlampau pintar." Balas Ten.

"Kau tahu boneka unicorn yang selalu ia bawa kemana-mana. Itu pemberian mamanya sebelum meninggal. Irene sempat membeli boneka itu saat kami berwisata, tak kusangka itu akan jadi hadiah yang pertama dan terakhir untuknya." Ucap Johnny.

"Ah boneka itu, pantas saja Hendery selalu membawanya kemana-mana." Balas Ten.

Pembicaraan dua insan itu terus berlanjut dan merembet tentang banyak hal. Mulai dari masalah pekerjaan sampai masalah sepele yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Bahkan sesekali Johnny terlihat tertawa menanggapi guyonan Ten yang berusaha menenangkan hatinya malam itu.

"Kau tenang saja, Kun dokter yang hebat dan Hendery adalah ksatria yang kuat." Ucap Ten.

"Kau benar mereka berdua sama hebatnya." Balas Johnny.

Dan setelah obrolan panjang mereka, akhirnya lampu ruang operasi kembali menyala. Kun menghampiri Johnny dengan wajah lelahnya namun senyuman menawan tak luput dari wajah tampannya.

"Operasinya berhasil. Kami akan memantau Hendery sampai kondisinya stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Anakmu petarung yang hebat." Ucap Kun seraya mengelus pundak kokoh Johnny, ia juga nampak tersenyum pada Ten malam itu dan dibalas dengan senyuman secerah matahari oleh wanita yang selalu menjadi pusat perhatian Kun selama ini.

Setelah operasi Hendery selesai Ten memutuskan untuk kembali ke rumah setelah sebelumnya berpamitan pada Johnny yang jadi teman bicaranya sejak tadi. Selepas kepergian Ten, Johnny memilih untuk mengunjungi Hendery yang nampak terbaring lemah di ICU dengan ventilator yang terpasang di mulutnya. Dengan baju hijau khas rumah sakit Johnny kembali menemui sang putra, seolah mengulang adegan delapan tahun lalu saat Hendery baru saja lahir ke dunia. Dan hari ini Johnny kembali mengulang kalimat yang sama seperti sebelumnya.

"Cepat sembuh Dery, daddy tidak suka sendirian." Ucap pria tampan itu, air mata bahkan terlihat mulai berlomba untuk keluar dari manik tajamnya.

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk memandangi Hendery, Johnny memutuskan untuk keluar. Di depan pintu ruang ICU nampak Kyuhyun dan Seohyun yang telah berdiri disana. Sepasang suami istri itu menatap lekat ke arahnya dengan tatapan teduh yang selalu berhasil menenangkan Johnny sejak lama.

"Kau harus istirahat John, aku dan Kyu oppa akan menunggu di ruang rawat Hendery sampai besok. Kau bahkan belum mengganti pakaianmu." Ucap Seohyun. Johnny hanya mengangguk, lagipula tubuhnya memang terasa cukup lelah setelah seminggu penuh menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk menemani pangeran kecilnya. Johnny harap esok hari akan ada hal indah yang menghampirinya setelah malam panjang yang melelahkan, bagaimanapun juga ia belum bisa jika harus melepaskan Hendery dari sisinya.