11. A New Life
Hari ini Hendery dipindahkan ke ruang rawatnya, ventilator yang beberapa hari lalu membantunya bernafas nampak telah dilepas dan berganti dengan masker oksigen yang terpasang manis di wajah tampannya. Hari ini Taeyong dan Seohyun yang menunggu Hendery, Taeyong nampak tengah mengelap tubuh Hendery dengan air hangat supaya Hendery lebih nyaman. Kedua wanita itu juga nampak berbincang tentang banyak setelah cukup lama tak bersua. Hendery mulai membuka matanya, di balik masker oksigennya anak kecil itu nampak berucap lirih memanggil Taeyong dan Seohyun yang sibuk berbincang.
"Annyeong Dery." Ucap Seohyun, wanita cantik itu mengecup kening keponakannya dengan sayang dan mengelus lembut punggung tangannya.
"I- mo…." Lirih Hendery.
"Iya, imo dan eomma disini. Dery mau apa?" Ucap Seohyun, ia mendekatkan telinganya agar dapat mendengar ucapan Hendery dengan jelas.
"Da- ddy…." Lirih si kecil.
"Daddy sedang keluar, nanti daddy kemari. Sekarang Dery bersama imo dan eomma dulu ya." Jelas Taeyong. Hendery mengangguk dan kembali ingin memejamkan matanya.
Tak lama setelah Hendery terbangun dari tidur panjangnya Kun datang untuk kembali memeriksa kondisinya. Ia membuka kancing piyama Hendery dan mengecek luka sayatan di dada putih anak kecil itu. Dengan teliti Kun mendengarkan irama jantung Hendery menggunakan stetoskop miliknya dan seulas senyuman nampak muncul di wajah tampan pria itu.
"Dery masih merasa sakit seperti kemarin?" Tanya Kun. Hendery menggelengkan kepalanya dan berusaha tersenyum di balik masker oksigennya.
"Dery hebat. Setelah ini harus banyak istirahat ya, supaya cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah." Ucap Kun. Hendery mengangguk dan menggenggam erat jemari Kun yang berada di dekatnya. Kun tersenyum cerah, ia balas menggenggam jemari kecil Hendery dan mengelusnya dengan sayang.
Hendery terlihat lebih baik siang ini. Masker oksigen yang sejak pagi ia gunakan telah dilepas dan anak kecil itu telah bisa beraktivitas dengan bebas. Saat ini ia tengah menyantap makanan yang disuapkan oleh Taeyong sejak tadi. Taeyong sedikit lega karena Hendery mau memakan makanannya sekalipun membutuhkan waktu lama untuk mengunyah. Saat ini Hendery dan Mark tengah fokus melihat video Jeno yang tersaji di ponsel milik Taeyong, bahkan Mark ikut naik ke atas ranjang Hendery dan berbaring di sana. Tentu saja itu adalah hasil paksaan Hendery.
Hari itu Mark membawa serta buku pelajarannya, ia berniat menjelaskan apa saja yang terjadi di sekolah selama Hendery tidak datang. Taeyong bahkan terkekeh gemas saat melihat bagaimana cara Mark menjelaskan pelajaran matematika pada Hendery yang dibalas tatapan serius dari anak tampan itu. Kegiatan antara Mark dan Hendery terhenti saat tiba-tiba saja pintu ruang rawat tersebut diketuk dari luar, tak berselang lama Johnny menyembulkan kepalanya dan tersenyum cerah ke arah Hendery. Sang anak yang nampak terduduk di ranjang rawatnya ikut tersenyum dan melambaikan sebelah tangannya yang bebas ke arah Johnny. Mark yang paham akan situasi bergegas turun dari ranjang Hendery dan menghampiri Taeyong yang tengah duduk di sofa.
"I miss you so much dad." Ucap anak kecil itu, ia telah berhambur ke pelukan Johnny sejak tadi.
"I Miss you too." Balas Johnny, ia mengelus lembut pucuk kepala sang anak dan mengecupnya sekilas.
"I haven't see you since yesterday. Where did you go dad?" Tanya Hendery, anak kecil itu nampak menatap lekat ke manik hitam sang ayah dengan bibir yang menekuk ke bawah.
"I'm always with you, but you sleep all day long." Jelas Johnny, Hendery hanya mengangguk dan kembali memeluk Johnny erat-erat.
Johnny melepas pelukan Hendery di tubuh tegapnya dan menyodorkan paper bag berukuran cukup besar pada anaknya. Dengan semangat Hendery membuka hadiahnya dan ia kembali tersenyum cerah saat mendapati yang ada di dalam sana adalah hot wheels kesukaannya. Johnny mendekat ke arah Mark dan Taeyong, ia menyodorkan paper bag lain ke arah Mark yang diterima anak kecil itu dengan senang hati. Mark mulai membukanya dan detik berikutnya bibirnya membulat lucu saat melihat hadiah yang ada di dalamnya. Hot wheels yang sama seperti milik Hendery dan puzzle yang telah lama ia idam-idamkan.
"Woah terima kasih samchon. Mark suka sekali hadiahnya." Ucap Mark, ia menerjang kaki jenjang Johnny dan memeluknya erat. Johnny berjongkok dan balas memeluk anak sahabatnya itu.
"Sama-sama Mark, terima kasih juga sudah jadi anak baik dan selalu menemani Dery." Ucap Johnny, ia mengelus lembut surai hitam Mark yang berada di hadapannya.
"Hum. Mark kan teman terbaiknya Dery." Ucap Mark bangga. Detik berikutnya kedua anak kecil itu mulai membuka hadiah mereka dan bermain dengan damai di atas ranjang Hendery meninggalkan Johnny dan Taeyong yang mulai saling berbincang satu sama lain.
"Kau terlalu memanjakan Mark, John." Ucap Taeyong.
"Kurasa baru sekali aku memberikannya hadiah." Ucap Johnny.
"Seharusnya kau jangan terlalu sering kesini. Kasian Jeno pasti merindukan eomma nya." Ucap Johnny lagi.
"Jeno bersama ayah dan ibuku, kau tenang saja setiap malam aku menghabiskan waktu dengannya. Aku hanya tak tenang jika meninggalkan Hendery apalagi setelah melihat kejadian kemarin. Mark bahkan tetap menangis saat tiba di rumah, Jaehyun sampai dibuat bingung olehnya." Balas Taeyong panjang lebar.
"Terima kasih. Keluargamu sangat baik padaku dan Dery." Ucap Johnny.
"Kau sahabat Jaehyun, artinya kau sahabatku juga. Lagipula kau juga sudah banyak membantu Jaehyun selama ini. Merawat Hendery bukan masalah bagiku, lagi pula ia sangat menggemaskan. Mark juga sangat senang bermain dengan Hendery." Balas Taeyong.
Perbincangan kedua orang dewasa itu kembali berlanjut, sesekali mereka terlihat terkekeh terlebih saat Taeyong melakukan panggilan video dengan Jaehyun yang masih berada di Jeju sejak dua hari yang lalu. Pria tampan berlesung pipi itu juga sempat menanyakan kondisi Hendery, tentu saja ia begitu khawatir. Terlebih ia mengenal Hendery sejak masih bayi, bahkan anak kecil itu sampai memanggilnya appa. Obrolan antara Johnny dan Taeyong terhenti saat pintu ruang rawat Hendery terketuk, dan tak lama kemudian pintu kayu itu terbuka. Ten nampak berdiri di ambang pintu dengan keranjang buah-buahan yang ia bawa. Hendery tersenyum cerah saat melihat siapa yang datang hari itu.
"Ten imo…." Teriak anak kecil itu, Mark nampak terkejut melihat Hendery yang begitu antusias, tapi seingatnya ia pernah melihat wanita itu beberapa hari yang lalu, pikir Mark.
"Dokter Ten, Dery." Ucap Johnny, ia bangkit dari duduknya dan mengoreksi ucapan anaknya itu.
"Tapi Dery mau panggil imo." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang menekuk ke bawah.
"Ah tak apa Johnny-ssi aku tak keberatan jika Hendery memanggilku imo." Ucap Ten, ia meletakkan keranjang buah yang ia bawa dan mulai mendekat ke arah Mark dan Hendery. Hendery menerjang tubuh mungil Ten dengan pelukan, ia bahkan mengusap wajahnya ke dada Ten. Taeyong yang duduk tak jauh dari mereka tampak terkejut melihat pemandangan saat itu, karena seingatnya Hendery sangat sulit untuk kenal dengan orang baru namun dengan Ten anak itu menempel seperti perangko.
"Imo ini teman Dery." Ucap Hendery, ia memperkenalkan Mark yang saat ini berada di sampingnya.
"Annyeonghaseyo Mark Jung imnida. Mark teman terbaiknya Dery." Ucap Mark bangga seraya menunjuk dadanya.
"Wah Mark pintar sekali." Puji Ten.
"Mau panggil imo juga boleh?" Tanya Mark ragu-ragu. Ten menganggukkan kepalanya dengan semangat dan disambut high five antara bocah kecil yang ada di dekatnya.
"Mark…." Ucap Taeyong, ia merasa tak enak jika Mark memanggil Ten dengan panggilan imo.
"Tak apa Taeyong-ssi." Ucap Ten seraya tersenyum cerah.
Ten menyempatkan waktu untuk mengupas buah-buahan yang ia bawa sesuai dengan permintaan Hendery. Bocah tampan itu meminta Ten mengupas buah apel untuk disantap bersama dengan Mark. Setelah selesai Ten bergabung dengan Johnny dan Mark yang nampak tengah asyik mengobrol. Di sepanjang obrolan tiga orang dewasa itu, Taeyong nampak menatap aneh ke arah Johnny. Pasalnya pria tinggi yang ia kenal sejak lama itu terlihat sedikit berbeda. Ia nampak begitu terbuka pada Ten, padahal seingatnya dua insan itu baru berkenalan beberapa hari yang lalu dan Johnny bukanlah tipe orang yang mudah dekat dengan orang baru, mirip seperti Hendery. Bahkan tadi Johnny sempat menegur Ten yang berbicara dengan bahasa formal pada mereka berdua. Taeyong menatap lekat ke arah Johnny dengan ekspresi yang sulit diartikan. Johnny menatap balik dengan ekspresi bingung yang terlihat jelas dari wajah tampannya. Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta, pikir Taeyong seraya tersenyum tipis.
Ten berniat pamit setelah menerima panggilan dari salah satu dokter residen yang berada di divisinya, Johnny ikut mengantar wanita itu keluar dan mereka sempat berbincang sebentar. Meninggalkan Taeyong yang menatap Johnny dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bukankah kemarin kita sudah berbicara panjang lebar. Tak peril seformal tadi, panggil saja Johnny. Pasti merepotkan memanggilku dengan embel-embel begitu." Ucap Johnny saat mereka tengah berbicara.
"Ah iya, maaf aku belum terbiasa John. Kalau begitu aku permisi dulu, jika ada waktu aku akan kembali menemui Hendery. Jangan lupa jaga kesehatanmu John, kau harus tetap sehat." Ucap Ten sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang dari hadapan Johnny, tak tahukan wanita itu jika sekarang sip ria tampan nampak tersenyum teduh. Senyuman yang sama seperti saat ia bertemu dengan Irene beberapa tahun silam.
"Kau menyukai Ten kan?" Tanya Taeyong, wanita itu tampak tersenyum pada Johnny yang ada di hadapannya.
"Tidak. Dia hanya baik karena menenangkan Dery beberapa waktu lalu, dan semalam kami sempat berbincang banyak, kurasa itu yang membuat kami terlihat dekat." Jelas Johnny.
"Kau tak bisa mengelak John, matamu jelas mengatakan jika kau menyukainya. Kurasa memang sudah waktunya kau membuka hati untuk orang lain, lagipula Hendery pasti senang jika punya mama yang hebat seperti Ten." Jelas Taeyong seraya terkekeh.
"Dery mau kan punya mama baru?" Tanya Taeyong pada anak kecil yang tengah bermain dengan hot wheels miliknya. Hendery hanya membulatkan mata indahnya dan itu berhasil membuat Taeyong memekik gemas, ia bergegas menghampiri Hendery dan mengelus lembut rambut jamur anak kecil itu.
Setelah dilakukan operasi Hendery menjalani pemulihan selama tiga minggu penuh di rumah sakit, tujuannya untuk memantau kondisi jantung anak kecil itu setelah dilakukan pemasangan shunt beberapa waktu lalu. Sejauh ini Hendery menunjukkan kondisi yang jauh lebih baik sekalipun ia sempat mendapatkan serangan beberapa hari lalu namun rasa sakit dan frekuensinya tak separah saat sebelum dilakukan operasi. Hari ini anak kecil itu diizinkan pulang, Johnny nampak tengah mengemasi barang-barang Hendery kebetulan hari ini ia tidak pergi ke kantor jadi bisa menemani anaknya seharian. Tiba-tiba Ten datang dan berhasil membuat Hendery tersenyum cerah.
Hendery memeluk erat Ten seolah tak mengizinkan dokter cantik itu berada jauh darinya. Johnny sampai gemas sendiri melihat tingkah putranya itu.
"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Johnny, sejak tadi ia sadar jika Ten tengah memperhatikannya.
"Ah kau terlihat berbeda, biasanya saat kita bertemu kau pasti mengenakan jas atau kemeja mu. Kukira tadi Hendery sedang bersama dengan orang asing." Jawab Ten, Johnny hanya terkekeh mendengar perkataan wanita itu. Jika diingat lagi benar juga apa yang dikatakan wanita itu, selama ini mereka berdua memang selalu bertemu saat Johnny tengah mengenakan setelan kantornya, pantas saja wanita itu terlihat terkejut beberapa menit lalu.
"Imo…. Nanti jangan lupa kunjungi Dery ya." Ucap anak kecil itu
"Tentu saja, jika imo ada waktu luang pasti akan datang menemui Dery. Tapi Dery harus janji untuk selalu jaga kesehatan, jangan terlalu lelah bermain ya, jangan lupa menurut sama daddy." Jelas Ten, ia mengusap lembut pipi bulat Hendery yang mulai terlihat sedikit mengecil.
"Hum. Dery janji, imo juga harus janji ya. Nanti menginap ya imo kita tidur bersama, dengan daddy juga." Ucap anak kecil itu polos. Johnny cukup terkejut dengan perkataan Hendery dan berniat menegur anaknya itu, namun Ten terlihat tersenyum dan berusaha menahannya, ia cukup maklum dengan perkataan polos yang keluar dari mulut Hendery.
Hendery hendak meninggalkan ruang rawatnya, saat ini anak kecil itu tengah berbincang dengan Kun yang terlihat datang beberapa menit lalu. Kun nampak menggenggam erat jemari mungil Hendery dan berjongkok di hadapan anak kecil itu.
"Dery harus minum obatnya ya, supaya tetap sehat dan kuat." Ucap Kun seraya tersenyum teduh.
"Tapi nanti Dery berubah jadi titan." Ucap anak kecil itu, Kun hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ia mulai menjelaskan kepada anak kecil itu dengan bahasa yang mudah dipahami. Sebenarnya ia cukup tak tega mengingat sebanyak apa obat yang harus Hendery minum setiap harinya. Ia yang orang dewasa saja merasa sangat malas jika harus menelan obat, bagaimana dengan Hendery? malang sekali nasibnya, pikir Kun.
Hendery melambaikan tangannya dari dalam mobil pada Ten yang mengantarnya sampai ke lobby, anak kecil itu terlihat begitu ceria sekalipun wajahnya terlihat sedikit pucat. Di mobil Hendery nampak begitu bersemangat, ia bercerita tentang banyak hal kepada Johnny seraya tersenyum cerah. Tak lama mobil mewah Johnny menepi di kediaman mereka, Hendery keluar dari mobil dan terlihat begitu senang akhirnya bisa kembali ke rumah setelah sekian lama. Johnny yang berada di belakangnya hanya terkekeh sekilas, rasanya senang sekali melihat Hendery kembali ceria berbeda jauh dengan Hendery yang berada di rumah sakit beberapa minggu lalu.
"Besok Dery sekolah kan dad?" Tanya anak kecil itu, saat ini mereka tengah menyantap makanan di meja makan.
"Hum. Tapi tidak ke sekolah ya Dery." Jawab Johnny.
"Lalu dimana? Berarti Dery tidak bisa bertemu San dan Mark." Tanya anak kecil itu, bibirnya mulai mengerucut dan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
"Dery akan homeschooling mulai besok. Jadi tidak perlu ke sekolah." Ucap ayah satu anak.
"Tapi kenapa? Dery rindu teman-teman dad." Ucap anak kecil itu.
"Dery dengarkan daddy ya-"
"Daddy jahat sama Dery…." Ucap anak kecil itu memotong pembicaraan Johnny, detik berikutnya ia turun dari kursi dan bergegas masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Johnny cukup panic, pasalnya Hendery berjalan cukup cepat bahkan sampai menghentakkan kaki kecilnya dan detik berikutnya suara dentuman pintu yang cukup keras nampak terdengar dari lantai dua rumah mereka. Johnny bergegas masuk ke kamar sang anak dan mendapati Hendery yang bersembunyi dibalik selimut tebalnya anak kecil itu nampak menangis, jujur saja Johnny cukup panic. Ia khawatir Hendery akan melewati batas dan berakhir dengan nafasnya yang tersengal-sengal seperti beberapa hari lalu.
"Dery…. Dengarkan daddy ya. Ingat kata dokter Kun kan, Dery itu special." Ucap Johnny, detik berikutnya Hendery mulai keluar dari selimut tebalnya dan menatap Johnny dengan napas yang terlihat mulai tersengal.
"Lalu kenapa kalau Dery special, Dery hanya mau sekolah dad." Balas anak kecil itu.
"Dery juga tetap bisa sekolah walaupun di rumah, Dery harus tetap di rumah supaya cepat sehat dan benda aneh yang ada disini bisa dikeluarkan." Ucap Johnny seraya menunjuk ke arah dada Hendery, bocah kecil itu memang sudah tahu sejak beberapa hari lalu jika ada benda semacam pipa yang dipasang di jantungnya.
"Berarti Dery tidak akan jadi titan?" Tanya anak kecil itu, Johnny terkekeh seraya menganggukan kepalanya.
"Daddy janji Dery tetap akan bisa bertemu dengan San dan Mark." Ucap Johnny.
"Janji?" Tanya Hendery, ia mulai mengulurkan kelingking kecilnya dan disambut baik oleh Johnny.
"Janji." Jawab Johnny mantap. Hendery terlihat tersenyum dan memeluk Johnny erat. Bahkan Johnny bisa merasakan dengan jelas irama jantung anaknya yang terdengar teratur sekalipun sedikit melambat. Setidaknya lewat irama itu Johnny tahu bahwa Hendery masih punya harapan untuk tetap bersamanya. Dan mulai hari ini si kecil yang begitu ia sayangi harus kembali menyesuaikan diri dengan hidupnya demi memperpanjang masa hidupnya yang bahkan tak Johnny tahu sampai kapan.
