12. New Beginning

Pagi ini kediaman keluarga Jung nampak cukup ramai, Jeno dan Jaehyun tengah berada di meja makan. Balita menggemaskan itu nampak duduk di baby chair nya dan tengah menikmati potongan buah yang baru saja Taeyong sajikan, sedangkan Jaehyun nampak tengah menikmati kopi dan koran paginya. Mark sejak tadi sibuk mengekori Taeyong dengan bibir yang mengerucut lucu, ia tidak ingin pergi ke sekolah dengan alasan yang menurut Taeyong sedikit aneh, itulah yang membuat Mark terlihat begitu kesal pagi ini.

"Eomma, Mark tidak mau sekolah. Mark tidak mau pergi kalau Dery tidak pergi." Ucap anak kecil itu. Taeyong yang sejak tadi mendiamkan Mark akhirnya jengah juga, ia menaruh makanan yang baru saja matang dan memilih untuk berjongkok di hadapan Mark, berusaha memberi pengertian pada putra sulungnya itu.

"Mark dengarkan eomma ya. Dery sudah tidak bersekolah disana lagi." Ucap Taeyong.

"Yasudah Mark tidak mau sekolah juga." Balas anak kecil itu, matanya mulai terlihat berkaca-kaca dengan bibir yang menekuk ke bawah.

"Jangan begitu. Kan Mark masih punya San dan teman-teman yang lain. Mark harus tetap ke sekolah." Jelas Taeyong.

"Tapi kenapa Dery tidak. Padahal Dery sudah janji untuk duduk dengan Mark saat masuk sekolah nanti hiks…." Jelas Mark, air mata mulai membanjiri netra hitamnya yang seindah milik sang eomma.

"Karena Dery special, jadi harus sekolah dari rumah. Bukankah kemarin John samchon sudah janji jika Mark tetap bisa bertemu dengan Dery kapanpun Mark mau?" Ucap Taeyong.

"Tapi eomma-"

"Mark, Dery sedang sakit. Mark mau Dery sembuh kan?" Tanya Taeyong. Lama-lama ia mulai kehabisan akal untuk menjelaskan apa yang terjadi pada anaknya itu.

"Hiks…. Hum. Mark tidak suka Dery kesakitan." Balas anak kecil itu.

"Supaya Dery cepat sembuh, makannya John samchon memindahkan sekolah Dery ke rumah. Mark mengerti kan?" Tanya Taeyong. Mark mengangguk dan mulai menghapus air matanya yang belum juga berhenti mengalir.

"Ya Sudah jangan menangis. Kan masih ada San dan teman-teman yang lain. Besok kita ke rumah Dery ya, Mark juga boleh menginap kalau mau. Sekarang hapus dulu air matanya ya." Ucap Taeyong, ia menghapus air mata Mark dengan ibu jarinya dan mengecup lembut kening putra sulungnya itu.

Mark berlalu dari dapur dan bergabung dengan Jaehyun dan Jeno yang berada di ruang makan. Jaehyun menoleh ke arah Mark, ia nampak keheranan melihat sang putra dengan hidung yang nampak memerah pagi ini.

"Mark kenapa?" Tanya Jaehyun pada Taeyong terdengars eperti berbisik.

"Tidak mau ke sekolah karena tidak ada Hendery." Jawab Taeyong. Jaehyun hanya mengangguk tanda mengerti, ia cukup paham mengapa anaknya sampai menangis begitu, mengingat Mark dan Hendery yang sudah menempel bahkan sejak bayi.

"Hyung uljima…." Ucap Jeno, ia mengelus lembut surai hitam sang kakak yang berada di sebelahnya. Mark hanya mengangguk dan menoleh sekilas ke arah Jeno yang kembali sibuk dengan makanannya.

Kemarin keluarga Jung sempat berkunjung ke kediaman Johnny. Jeno nampak begitu senang karena dapat bertemu lagi dengan Hendery setelah sekian lama. Anak berusia tiga tahun itu bahkan menempel pada Hendery sampai membuat Mark kesal karena acara mainnya jadi terganggu. Dan kemarin Johnny memberitahukan pada Taeyong dan Jaehyun jika Hendery tak akan lagi pergi ke sekolah yang sama dengan Mark, pria tampan ini memutuskan mendaftarkan Hendery ke program homeschooling untuk mengurangi kegiatannya. Kedua pasangan Jung itu hanya mengangguk, mereka yakin Johnny telah memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan tersebut.

Hari berlalu begitu cepatnya, tak terasa seminggu sudah Hendery menjalani program homeschooling nya. Ia mendapatkan tutor yang baik dan menyenangkan namun anak kecil itu tetap merasa bosan, terlebih saat tak mendapati temen-teman yang selalu berada di sekitarnya. Johnny mulai melakukan seluruh kegiatannya dari rumah dan mengurangi perjalanan bisnisnya, ia benar-benar sadar jika Hendery tak lagi sama seperti dulu. Anak tampan itu membutuhkan lebih banyak perhatian dari Johnny saat ini. Hendery yang baru saja selesai dengan kegiatannya memutuskan untuk menghampiri Johnny yang ada di ruang kerjanya siang itu.

"Daddy…. Dery bosan." Ucap si kecil. Johnny melepas kacamatanya dan menghampiri Hendery.

"Mau pergi ke suatu tempat?" Tanya Johnny, Hendery hanya menggeleng dan merapatkan tubuhnya pada sang ayah.

"Dery lapar dad, bisa buatkan sesuatu?" Tanya anak kecil itu.

"Tentu, ayo kita ke bawah." Balas Johnny.

Johnny sibuk dengan masakannya meninggalkan Hendery yang tengah mewarnai buku gambarnya di atas meja makan. Sesekali ayah dan anak itu tampak membicarakan apa saja yang telah mereka lakukan hari ini. Hendery juga nampak sesekali tertawa karena mendengar lelucon sang ayah.

"Jadi bagaimana? Apa Yixing ssaem orang yang menyenangkan?" Tanya Johnny, ia yang sibuk mengaduk masakannya tak menoleh ke arah Hendery yang berada di belakangnya, Johnny nampak heran pasalnya beberapa menit lalu bocah kecil itu masih nampak tertawa ceria namun tiba-tiba saja suaranya menghilang, apa sudah pergi ke kamar, pikir Johnny.

"Dery…." Johnny menoleh ke belakang dan mendapati Hendery dengan kepala yang bertumpu di atas meja makan, semakin mendekati sang anak Johnny malah semakin mendengar suara rintihan yang berasal dari mana. Dan siang itu nyatanya Hendery kembali mendapatkan serangannya, keringat sebesar biji jagung nampak membasahi keningnya dan tangannya nampak menekan ke bagian dada sebelah kiri.

"Sa- kit dad…." Lirih Hendery, Johnny bergegas membawa Hendery ke ruang keluarga dan membaringkannya di sofa panjang milik mereka. Johnny mengacak meja nakas untuk mencari obat Hendery yang harus dikonsumsi saat serangan datang tiba-tiba.

"Hngg…. Uhuk…. Dad- dy se- sak…." Ucap anak kecil itu, ia masih berbaring dan sesekali berbatuk karena nafasnya yang kian memburu dan sesak. Johnny mengambil sebutir obat dan berniat memasukkannya ke mulut kecil Hendery namun tiba-tiba saja si kecil nampak menutup mulutnya rapat-rapat dan membuat Johnny kian panik.

"Dery buka mulutnya." Ucap Johnny.

"Pa- hit…. Uhuk…. Uhuk…." Ucap Hendery, ia menggelengkan kepalanya dan berhasil membuat emosi Johnny kian meningkat. Johnny membuka paksa mulut kecil Hendery, memasukkan sebutir obat dan memastikan obat tersebut berakhir di bawah lidah anaknya, ia tak peduli sekalipun Hendery akan membencinya setelah ini. Hendery terlihat mulai pasrah, ia memilih terdiam dan membiarkan lelehan obat yang pahit membasahi tenggorokannya. Jemari kecilnya nampak menggenggam tangan besar Johnny yang ikut berada di atas dada kirinya sejak beberapa menit yang lalu, perlahan napasnya kembali normal meskipun masih terdengar berat, tapi setidaknya tak ada lagi rasa sakit yang dirasakan.

Johnny membantu Hendery bangkit dari posisi tidurnya. Anak kecil itu membenamkan wajahnya ke dada bidang Johnny yang dibalas elusan hangat di punggung sempitnya.

"Maafkan daddy, tapi Dery benar-benar harus minum obat itu." Ucap Johnny seraya mengecup lembut pucuk kepala sang anak. Hendery hanya diam dan sibuk bersandar di dada bidang sang ayah siang itu.

Johnny sangat paham dari sekian banyak obat yang harus Hendery konsumsi setiap hari hanya ada satu obat yang paling ia benci. Obat yang beberapa menit lalu ia masukkan paksa ke mulut anaknya, sejujurnya Johnny juga tak tega melakukan hal yang demikian pada sang anak, namun bagaimana lagi, itu adalah satu-satunya cara agar Hendery tetap bertahan. Hendery masih terdiam begitupun Johnny, ia masih sibuk mengelus lembut punggung sempit anaknya dan berusaha memberikan kenyamanan dari sana. Dalam minggu ini sudah dua kali anak kecil itu mendapatkan serangan tiba-tiba, dan hari ini Johnny kembali berpikir apakah operasi yang dilakukan beberapa bulan lalu sama sekali tak ada artinya, namun Johnny masih bisa sedikit bersyukur setidaknya rasa sakit yang dirasakan anaknya tidak separah saat itu, meskipun ia sama sekali tak mengerti bagaimana rasanya.

"Masih sesak?" Tanya Johnny. Hendery hanya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh tegap Johnny.

Setelah dirasa lebih baik Hendery mulai melepaskan pelukannya pada Johnny. Sedangkan Johnny mulai menatap lekat ke wajah Hendery yang terlihat cukup pucat siang itu, kulit putih yang Irene wariskan bahkan terlihat lebih pucat dari biasanya, Johnny tersenyum dan menyibak rambut Hendery yang terasa basah karena keringat. Ia menggandeng tangan Hendery dan kembali mengajak anaknya untuk bergabung di meja makan, melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebelum terjadinya serangan mendadak beberapa menit lalu.

Hendery yang baru saja selesai dengan makan siangnya nampak mengerucutkan bibirnya, pasalnya Johnny mulai menatapnya lekat serata mengeluarkan kotak obat yang terlihat bersekat-sekat. Johnny benar-benar tipikal ayah yang rajin, ia memasukkan obat yang harus Hendery konsumsi setiap harinya dan mengawasi anaknya itu supaya tak ada obat yang terlewat.

"Yang ini pahit dad, tidak mau…." Ucap Hendery, ia mengeluarkan butir obat dengan ukuran yang cukup besar dari kotak obat miliknya itu.

"Jangan begitu Dery." Ucap Johnny, ia membelah pil besar itu menjadi dua dan meletakkannya di telapak tangan Hendery yang terasa dingin. Setidaknya Johnny bersyukur karena Hendery telah bisa menelan obatnya bulat-bulat sejak beberapa minggu yang lalu. Jujur saja Johnny merasa kewalahan jika harus menggerus obat-obat itu setiap hari, belum lagi aromanya yang pasti akan tetap tertinggal di hidung bangirnya.

Setelah banyak drama di siang hari, di sore harinya Hendery dapat tersenyum cerah karena hari ini Mark dan San datang mengunjunginya. San baru saja tiba setelah diantar ibunya, wanita cantik yang juga teman dari kakak perempuan Johnny itu nampak terkejut saat mengetahui jika Hendery sakit dan tak dapat melanjutkan sekolahnya seperti biasa. Pantas saja San nampak uring-uringan sejak beberapa hari lalu, pikir wanita itu.

Saat malam menjelang Mark dan San kembali ke rumah mereka masing-masing. Hendery nampak sendu saat harus melepaskan kepergian teman-temannya namun detik berikutnya Johnny datang menghiburnya dan kembali menggenggam tangannya. Saat malam tiba Johnny yang baru saja selesai dengan pekerjaannya nampak bersiap untuk tidur. Saat tengah berada di kamarnya tiba-tiba saja pintu kokoh itu terketuk dari luar.

"Dad…." Itu suara Hendery, suara anak kecil itu terdengar begitu lirih malam itu. Johnny membuka pintu kamarnya dan mendapati Hendery yang berdiri di ambang pintu dengan tangannya yang memeluk erat boneka miliknya.

"Dery takut. Mau tidur dengan daddy boleh?" Tanya anak kecil itu, Johnny mengangguk dan membawa Hendery ke dalam dekapannya. Ia baru sadar saat menatap ke arah jendela jika di luar tengah hujan lebat, pantas saja Hendery datang malam ini.

"Dery takut kilat?" Tanya Johnny, saat ini anak dan ayah itu telah berada di kasur dengan Hendery yang memeluk erat sang ayah.

"Hum. Disini rasanya berdebar dad, Dery takut seperti tadi siang." Ucap Hendery, ia membawa tangan besar Johnny ke arah dada kirinya. Benar saja degupan benda sebesar kepalan tangan orang dewasa itu terdengar memburu malam itu.

"Sakit?" Tanya Johnny, ia cukup khawatir melihat Hendery yang mulai terlihat pucat.

"Tidak, tapi dug dug dug." Ucap Hendery seraya tersenyum cerah. Johnny balas tersenyum cerah seraya mengelus lembut surai lebat Hendery.

"Dery rindu Ten imo." Ucap anak kecil itu, bibirnya mulai menekuk ke bawah dan suaranya terdengar lirih.

"Mau bertemu dengan Ten imo?" Tanya Johnny.

"Mau…." Ucap si kecil semangat.

"Besok kita hubungi Ten imo ya." Ucap Johnny, Hendery mengangguk semangat dengan mutut kecilnya yang mulai menguap. Tak butuh waktu lama mata indah itu mulai terpejam seiring dengan hujan yang terdengar makin deras di luar sana. Johnny menyamankan tidur sang anak dan menatap lekat wajah tampan Hendery. Setelah banyak hal bahagia yang mereka lalui berdua nyatanya ayah dan anak itu harus memulai awal yang baru, tidak hanya untuk Hendery tapi juga untuk Johnny. Bahkan pria tinggi itu menjadi lebih protektif pada sang putra dan kembali berusaha untuk membentengi Hendery dari segala hal buruk di luar sana.