13. Another Happy Day

Di akhir pekan yang cerah Hendery dan Johnny nampak tengah berkumpul di ruang keluarga, sepasang ayah dan anak itu tengah menikmati acara televisi yang tersaji pagi itu. Hendery yang terlihat begitu bersemangat sekali ikut menyanyikan lagu pembuka kartun yang tengah ia tonton. Sedangkan Johnny, pria dewasa itu hanya menatap lekat kearah Hendery seraya sesekali tersenyum karena merasa begitu bahagia melihat Hendery yang amat ceria pagi ini.

"Daddy kemarin sudah janji mau hubungi Ten imo kan?" Tanya Hendery.

"Iya. Tapi ini masih terlalu pagi Dery, nanti ya…." Ucap Johnny berusaha memberikan pengertian pada putra kecilnya.

"Dery mau sekarang dad." Balas anak itu, bibirnya mulai menekuk ke bawah dan menampilkan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

"Baiklah…." Ucap Johnny, ia mengacak rambut anaknya seraya terkekeh dan mulai meraih ponselnya.

Johnny mulai menghubungi Ten, sebenarnya ia cukup merasa tak enak dengan wanita mungil itu. Pasalnya ia kerap kali menghubunginya karena Hendery merindukannya. Ten sama sekali merasa tak keberatan namun tetap saja Johnny merasa terlalu sering merepotkan wanita itu. Tak butuh waktu lama Ten nampak telah mengangkat panggilan dari Johnny. Kedua orang dewasa itu mulai berbincang.

"Ah kebetulan sekali, aku tidak memiliki jadwal ke rumah sakit hari ini." Ucap Ten dari seberang sana.

"Syukurlah, Hendery sangat ingin bertemu denganmu." Balas Johnny, pria tinggi itu mulai menjauh dari Hendery dan melanjutkan pembicaraan dengan Ten.

"Ah begitu? Sepertinya aku akan datang ke rumahmu, cuaca di luar cukup panas. Aku khawatir jika harus membawa Hendery ke luar, bagaimana?" Usul Ten.

"Baiklah. Akan ku kirim alamatnya. Terima kasih banyak Ten, maaf jika Hendery terlalu sering membuatmu repot." Balas Johnny.

"Sama sekali tidak. Kututup dulu ya, sampai ketemu nanti Johnny." Balas Ten. Panggilan telepon dua orang dewasa itu pun terputus begitu saja. Johnny kembali memainkan ponselnya dan mengirim alamat rumahnya pada Ten.

Di kediaman keluarga Lee, Ten yang mulanya masih bermalas-malasan di kasur bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengganti pakaiannya dengan dress selutut yang dipadukan dengan sling bag berwarna biru muda. Sungguh sangat berbeda dengan penampilannya saat di rumah sakit. Ten keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga dan mendapati sang ibu yang tengah sibuk di dapur. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu menatap heran ke arah sang anak, seingatnya tadi pagi putri bungsunya itu bilang akan bermalas-malasan seharian, tapi sekarang sudah terlihat begitu rapi sepagi ini.

"Bukankah kau libur?" Tanya nyonya Lee.

"Hum. Aku mau bertemu Dery." Jawab Ten, ia tersenyum seraya mencicipi cookies yang tengah ibunya tata di toples ukuran sedang.

"Ah anak yang beberapa hari lalu kau ceritakan itu?" Ucap nyonya Lee. Memang beberapa hari lalu Ten menceritakan tentang Hendery pada ibunya dan itu berhasil membuat nyonya Lee penasaran dengan sosok anak kecil itu.

"Iya, dia merindukanku. Akhirnya bisa bertemu lagi dengannya setelah sekian lama." Ucap Ten semangat.

"Senang bertemu ayahnya atau anaknya?" Tanya nyonya Lee sedikit menggoda.

"Eomma…. Tentu saja aku senang bertemu Dery." Jelas Ten, bibirnya mulai menekuk ke bawah dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

"Eomma hanya bercanda. Ini bawakan untuknya, coba ajak dia kemari kapan-kapan. Eomma jadi penasaran karena kau bilang dia sangat tampan." Ucap nyonya Lee seraya menyodorkan cake coklat yang baru saja ia tata di tempat makan.

"Harus kukabari Johnny dulu jika mau mengajak Dery kemari." Ucap Ten.

"Ah jadi nama ayahnya Johnny. Namanya keren, pasti orangnya tampan." Ucap nyonya Lee, ia mulai membayangkan Johnny sosok yangs eperti apa.

"Eomma…." Ucap Ten, lama-lama sebal juga selalu menjadi bahan ledekan ibunya.

"Sudah sana pergi, Dery pasti sudah menunggu." Ucap nyonya Lee.

"Ngomong-ngomong eomma tidak ke restoran?" Tanya Ten.

Keluarga Lee memang memiliki bisnis restoran yang cukup terkenal dengan cabang yang sudah mengakar hampir ke seluruh Korea, tapi jangan sekali-kali menyuruh Ten untuk memasak, dia hanya akan menghancurkan dapur. Keluarga Ten terdiri dari empat orang ayah, ibu, Ten, dan satu kakak laki-laki. Kakaknya telah lama menikah dan sudah menetap di Jeju, sekaligus mengelola bisnis restoran keluarga mereka yang berada disana. Sedangkan tuan Lee ia dikenal sebagai broker saham yang handal, jadi bisa dibilang ia bekerja sesuai hobinya disamping memiliki restoran yang berpuluh-puluh cabangnya. Untuk nyonya Lee ia ibu rumah tangga biasa, namun kerap kali berkunjung ke restoran miliknya untuk memantau langsung proses memasak disana supaya rasanya tetap otentik dan memiliki ciri khas yang kental.

"Tidak. Mungkin besok baru akan kesana." Ucap nyonya Lee.

"Kalau begitu aku pergi dulu, annyeong eomma." Ucap Ten, ia mulai menjauh dari nyonya Lee dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

"Hati-hati. Sampaikan salam eomma untuk Dery dan calon kekasihmu itu." Teriak nyonya Lee seraya tersenyum, namun tak ada balasan dari anaknya. Mungkin Ten sudah memasuki taksi, pikirnya.

Di rumah Johnny, Hendery nampak mulai bosan, acara kartun kesukaannya baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Anak kecil itu nampak tengah meringkuk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga seraya memeluk boneka favoritnya. Johnny tengah berada di dapur ia sedang membuat jus sejak beberapa menit yang lalu. Netra indah Hendery hampir saja terpejam saat tiba-tiba saja suara besar Johnny amat mengganggunya.

"Dery! Coba lihat siapa yang datang. Buka pintunya…." Teriak Johnny dari arah dapur. Dengan malas Hendery berlalu ke pintu depan, ia bergegas membuka pintu tanpa mengecek intercom terlebih dahulu dan saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu bocah kecil itu nampak terkejut dan tersenyum cerah.

"Woah…. Ten imo." Ucap Hendery, ia menerjang tubuh mungil Ten dan memeluknya erat-erat.

"Maaf ya imo baru datang. Hari ini macet sekali." Ucap Ten seraya membelai lembut rambut Hendery.

Johnny yang baru saja datang dari dapur nampak tersenyum mendapati Hendery yang telah menempel pada Ten. Sebenarnya ia sudah tahu jika orang yang datang beberapa menit lalu adalah Ten. Namun ia menyuruh Hendery membuka pintu karena saat dilihat anak laki-laki itu terlihat tidak bersemangat sejak tadi. Hendery mulai membawa Ten untuk duduk di sofa setelahnya ia mulai bersandar manja pada Ten tanpa menghiraukan Johnny yang ada di sebelahnya.

"Dery tidak apa-apa kan? Kok terlihat pucat begini?" Tanya Ten. Hendery hanya menggeleng dan kembali bergantung manja di lengan Ten. Detik berikutnya suara dengkuran halus nampak terdengar di ruang keluarga. Hendery tertidur dengan nyaman dalam pelukan Ten, jadi sejak beberapa menit lalu anak kecil itu mengantuk, pikir Johnny.

"Bagaimana perkembangannya? Apa sudah lebih baik?" Tanya Ten pada Johnny, jemari lentiknya masih sibuk mengelus lembut surai hitam Hendery yang serupa dengan milik ayahnya.

"Jauh lebih baik, sekalipun mendapat serangan dua kali berturut-turut di minggu ini." Ucap Johnny.

"Pantas saja jadi pucat begini." Ucap Ten, ia mulai membelai pipi Hendery yang terlihat lebih tidur berbeda dengan saat pertemuan pertama mereka.

"Mungkin besok akan kembali ke rumah sakit. Obatnya juga sudah menipis." Ucap Johnny. Ten hanya mengangguk dan beralih ke acara televisi yang tersaji di hadapan mereka.

"Aku pindahkan Dery dulu, nanti tanganmu pegal." Ucap Johnny, ia mulai bangkit berdiri dan berniat mengambil Hendery yang berada di samping Ten.

"Ah tidak apa-apa, aku tak keberatan, nanti tidurnya akan terganggu. Sepertinya juga Dery sedikit demam." Ucap Ten, ia tengah meraba kening Hendery yang mulai dipenuhi keringat. Johnny terkejut dengan perkataan wanita itu, ia mendekat ke arah Ten dan meraba kening Hendery, benar saja keningnya terasa cukup panas siang ini padahal beberapa jam lalu masih baik-baik saja.

Johnny tak menghiraukan perkataan Ten, ia mengambil alih Hendery dari dekapan wanita itu dan membawanya ke pangkuannya. Perlahan si kecil mulai terbangun dan berucap lirih dalam tidurnya.

"Daddy…." Lirih Hendery. Johnny mengelus lembut punggung Hendery dan berusaha menyamankan sang anak dalam dekapannya.

"Lebih baik baringkan dulu di kamarnya John." Usul Ten, ia mengangguk dan membawa Hendery ke kamarnya. Ten mulai mengambil termometer yang ada di kotak obat dan menempelkannya ke telinga Hendery untuk mengetahui suhu tubuhnya.

"39 derajat. Apa dia baru saja melakukan sesuatu?" Tanya Ten.

"Tidak, dia hanya menonton televisi sejak tadi." Ucap Johnny.

"Bisa tolong siapkan air hangat, yang terpenting kita harus buat demam Dery turun terlebih dahulu. Kondisi tubuh Dery sudah jauh berbeda John, tidak seperti dulu lagi." Jelas Ten. Johnny mengangguk dan mengambil air hangat dari kamar mandi untuk kompres si kecil. Ten mengelus lembut lembut kening Hendery, si kecil masih sibuk memejamkan matanya seolah tidak menyadari tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Saat Johnny datang Ten bergegas mengompres Hendery dan mengatur suhu ruangan supaya demam Hendery cepat turun.

"Bisa aku titip Dery sebentar, kurasa aku harus menyiapkan makanan supaya Dery bisa meminum obatnya." Ucap Johnny.

"Hum. Tenang saja serahkan padaku." Balas Ten.

Saat ini Ten ikut berbaring di kasur Hendery, netra indahnya menjelajahi kamar Hendery yang terlihat teduh dengan nuansa biru muda. Di sudut ruangan terdapat lemari kaca yang penuh dengan koleksi hot wheels miliknya, tak jauh dari sana ada semacam meja dengan rak kecil yang penuh dengan berbagai macam buku bacaan. Di atas meja juga Ten dapat melihat jika ada berbagai macam foto ayah dan anak itu saat sedang bersama. Jika Ten tebak pasti foto itu diambil berurutan sejak Hendery lahir. Di atas meja nakas terdapat berbagai obat yang jelas Ten tahu jenisnya, cukup perih memang saat melihat anak sekecil Hendery harus mengkonsumsi obat-obat itu setiap hari.

"Hngg…." Lirih Hendery dalam tidurnya. Ten mengalihkan perhatiannya pada Hendery, ia melepas sementara kompres yang menempel di dahi anak kecil itu dan melepas pakaian Hendery. Pakaian yang dipakai anak kecil itu terlalu tebal Ten khawatir tubuhnya akan kepanasan dan akan sulit untuk mengeluarkan panas tubuh. Setelah pakaian Hendery terlepas Ten mendekap tubuh si kecil dan sesekali mengecek kembali suhu tubuhnya.

Setelah tiga puluh menit berada di dapur, Johnny kembali ke kamar anaknya dan nampak terkejut saat mendapati Hendery tengah tertidur dalam dekapan Ten dengan pakaian bagian atasnya yang telah terbuka, saat ini tubuh Hendery tertutupi selimut tipis dan berada dalam dekapan wanita cantik itu.

"Maaf aku terpaksa membuka pakaian Dery supaya panas tubuhnya cepat keluar." Ucap Ten, Johnny hanya mengangguk dan tersenyum ia mengambil kursi dan duduk di sebelah kasur Hendery.

"Tak apa, kau pasti lebih mengerti caranya merawat anak yang sakit." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Jangan begitu. Kau juga hebat telah merawat Dery selama delapan tahun ini." Ucap Ten.

"Aku satu-satunya yang Hendery punya, siapa lagi yang harus merawatnya jika bukan aku." Ucap Johnny. Setelahnya kedua orang itu hanya terkekeh dan berbincang satu sama lain.

Setelah sekitar tiga jam tertidur lelap dalam dekapan Ten akhirnya Hendery membuka matanya. Si kecil nampak berucap lirih untuk memanggil Ten yang tengah memejamkan matanya, saat Hendery menoleh ternyata Johnny juga tertidur dengan kepala yang bertumpu ke kamarnya.

"Imo…." Ucap Hendery, ia mengguncang lembut pundak Ten, tak butuh waktu lama mata indah itu kembali terbuka dan Ten menatap lekat ke arah Hendery.

"Hum. Dery sudah bangun? Ada yang sakit tidak?" Ucap Ten, ia mulai mengubah posisinya menjadi duduk dan menjelajahi tubuh kecil Hendery.

"Memangnya tadi Dery kenapa? Baju Dery mana?" Tanya anak kecil itu. Ten terkekeh mendengar respon Hendery, ia mengambil pakaian Hendery yang berada tak jauh darinya dan mulai mengenakannya pada anak kecil itu.

"Tadi Dery demam, jadi imo buka pakaiannya supaya panasnya cepat keluar." Jelas Ten. Hendery hanya mengangguk lucu dan berhasil membuat Ten gemas. Detik berikutnya Ten kembali mengecek suhu tubuh Hendery, sudah sedikit membaik dan tak separah tadi.

"Dery pakai ini ya, supaya cepat turun suhunya." Ucap Ten, ia menempelkan plester penurun demam di kening Hendery yang disambut baik anak kecil itu.

Johnny yang sejak tadi tertidur tiba-tiba saja terbangun saat obrolan antara dua orang di hadapannya semakin ramai. Ia tersenyum saat melihat Hendery sudah terbangun dan terlihat lebih ceria meskipun ada plester penurun demam di keningnya.

"Dery lapar dad." Ucap anak kecil itu.

"Ayo kita makan." Balas Johnny, ia menggendong Hendery dengan tangan kekarnya dan mulai menuju ke ruang makan diikuti Ten yang nampak mengekor di belakang mereka.

Dengan adanya Ten, Hendery terlihat lebih manja, bahkan ia meminta Ten menyuapinya. Ten senang-senang saja lagipula Hendery sama sekali tidak merepotkan.

"Imo setelah ini kita bermain ya." Ucap Hendery.

"Tapi Dery belum sembuh, kan masih demam." Ucap Ten. Hendery mencebikkan bibirnya dan menatap Ten dengan mata yang berkaca-kaca.

"Dery setelah makan minum obatnya ya, setelah itu tidur dulu sampai sore. Imo janji akan tetap disini bersama Dery." Ucap Ten.

"Janji?" Ucap Hendery.

"Hum. Janji." Balas Ten.

Setelah selesai makan, Ten membantu Hendery meminum obatnya. Sesekali ia nampak terkekeh saat mendapati Hendery yang memejamkan matanya saat rasa pahitnya obat membasahi tenggorokannya. Setelah meminum semua obatnya Ten mengajak Hendery kembali ke kamarnya dan berencana menemani anak tampan itu tidur siang, meninggalkan Johnny yang sibuk dengan piring kotornya.

"Dery hebat bisa telah obat-obatnya." Puji Ten saat mereka tengah berbaring di kasur dengan Hendery yang memeluk Ten dari samping.

"Rasanya pahit, tapi daddy bilang Dery harus minum obatnya supaya cepat sembuh." Ucap anak kecil itu polos.

"Pintarnya…." Ucap Ten seraya mengecup kening Hendery untuk pertama kalinya.

"Imo sayang Dery ya?" Tanya anak kecil itu.

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Tanya Ten.

"Imo cium kening Dery. Daddy bilang kalau ada yang cium kening Dery tandanya orang itu sayang sama Dery. Seperti Seo imo, Kyu samchon, eomma, appa, harabeoji, dan halmeoni." Ucap anak kecil itu panjang lebar.

"Tentu saja imo sangat menyayangi Dery. Sekarang ayo tidur, supaya lebih cepat turun demamnya." Ucap Ten. Hendery mengangguk, ia mengeratkan pelukannya pada Ten dan tak lama kemudian mata bulatnya mulai terpejam seiring dengan suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.

Saat sore menjelang Ten terbangun dari tidurnya dan mendapati Hendery yang tengah meregangkan anggota tubuhnya. Ten tersenyum dan menyibak rambut Hendery yang menutupi matanya dan tak lama kemudian anak kecil itu mulai membuka matanya dan mengecup pipi Ten dengan sayang. Ten terkekeh dan membawa tangannya untuk meraba kening Hendery. Ia tersenyum cerah saat mendapati kening Hendery yang sudah tak lagi panas seperti sebelumnya. Ten dan Hendery turun ke bawah dan mendapati Johnny yang nampak sibuk dengan laptopnya di ruang keluarga. Hendery berlari dan memeluk Johnny dari samping disambut tatapan terkejut dari pria tampan itu.

"Anak Dery sudah bangun…." Ucap Johnny, ia mengelus lembut rambut Hendery dan mengecup keningnya.

"Hum. Tadi tidur bersama Ten imo." Ucap anak kecil itu semangat.

"Ayo jalan-jalan dad." Ucap Hendery, ia mulai bergelayut manja di lengan kekar sang ayah.

"Bagaimana kalau kita ke Myeongdong?" Usul Ten yang berdiri tak jauh dari ayah dan anak itu.

"Mau…. Boleh ya dad, San bilang disana banyak makanan enak." Ucap Johnny, ia memohon pada Johnny dengan puppy eyes andalannya. Johnny berdiam cukup lama pasalnya ia belum pernah mengajak Hendery pergi ke tempat ramai setelah sakit beberapa bulan lalu, namun tak lama kemudian senyuman teduh nampak muncul di wajah tampannya bersamaan dengan anggukan kepala yang ia berikan.

"Kajja kita siap-siap." Ucap Johnny.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Ten, Johnny dan Hendery nampak tengah berbaur dengan keramaian di Myeongdong. Hendery nampak menggenggam erat tangan mungil Hendery yang saat ini mengenakan kaos putih yang dilapisi sweater berwarna biru muda untuk menjaganya agar tetap hangat. Mata bulat Hendery berbinar saat mendapati banyaknya makanan yang dijual di sepanjang jalan Myeongdong. Ia memaksa Johnny untuk membeli berbagai jenis makanan, Johnny tentu hanya menurut saja. Lagipula kapan lagi mereka bisa keluar seperti hari ini.

Saat ini Ten, Hendery dan Johnny tengah duduk di bangku panjang yang tersedia di sepanjang jalan Myeongdong, Hendery tengah menikmati es krim miliknya seraya terkekeh karena tengah bercanda ria dengan Ten. Tak terasa mereka bertiga telah menghabiskan waktu berjam-jam di Myeongdong. Hendery telah berada dalam gendongan Johnny, si kecil mulai kelelahan dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Johnny.

"Lapar dad…." Ucap Hendery dengan bibir yang melengkung ke bawah.

"Tadi kan Dery sudah makan banyak, masih lapar?" Tanya Johnny, ia keheranan melihat anaknya yang masih saja lapar padahal sudah memakan banyak hal hari ini.

"Dery mau makan apa?" Tanya Ten yang berada di sampingnya.

"Hotpot." Ucap si kecil.

"Kajja. Imo tahu restoran hotpot yang enak." Ucap Ten, Hendery mengangguk semangat dan tersenyum cerah. Ten memimpin jalan mereka bertiga sampai akhirnya menepi di sebuah restoran yang cukup besar. Ten memilih tempat yang nyaman dan dekat dengan jendela. Ten dan Johnny sibuk melihat buku menu sampai akhirnya seorang pelayan menghampiri mereka.

"Mau pesan ap- Agassi tumben sekali berkunjung kesini." Ucap salah seorang pelayan laki-laki seraya menunjuk ke arah Ten.

"Ah kebetulan aku sedang ke daerah sini. Aku pesan yang ini ah jangan lupa pudding vanilla nya." Ucap Ten ia menunjuk menu hotpot dan beberapa jenis minuman melupakan Johnny yang keheranan di hadapannya.

"Kau mengenal orang tadi?" Tanya Johnny.

"Sebenarnya restoran ini milik keluargaku." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Jinjja?" Ucap Johnny, ia nampak tak percaya pasalnya ia cukup sering mampir ke restoran dengan nama yang sama namun berada di pusat kota Seoul.

"Hum." Ucap Ten.

Tak lama pesanan mereka datang, Hendery menyantap makanannya dengan semangat seolah tak makan berbulan-bulan lamanya. Johnny sampai heran dengan sikap Hendery hari ini. Tak butuh waktu lama makanan mereka telah habis begitu saja, Johnny terlihat mulai kekenyangan sedangkan Hendery masih sibuk menyantap puding yang beberapa menit lalu sempat Ten pesan.

"Imo ini enak." Ucap Hendery.

"Telan dulu Dery." Johnny menginterupsi kegiatan anak nya, khawatir jika si kecil tersedak.

"Enak kan? Kapan-kapan imo buatkan untuk Dery, mau?" Tawar Ten.

"Mau. Imo janji ya?" Ucap Hendery semangat.

"Tentu." Balas Ten seraya tersenyum cerah.

Setelah cukup lama berbincang, tiga orang yang nampak terlihat seperti satu keluarga itu mulai beranjak. Johnny mengeluarkan black card miliknya dan berjalan menuju kasir. Ten nampak menahannya, ia tak mengizinkan Johnny membayar makanan hari ini, namun pria tinggi itu tetap melangkah tanpa memperdulikan Ten yang sibuk menggenggam tangan Hendery.

"Tidak usah bayar. Iyakan Ten." Ucap seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri di meja kasir.

"Eomma." Ten nampak terkejut melihat ibunya berada di restoran seingatnya beberapa jam lalu wanita itu bilang tak berniat datang ke restoran.

"Jadi ini yang namanya Dery." Ucap nyonya Lee, ia menatap lekat ke arah Hendery yang tengah bersembunyi di balik kaki Ten.

"Jangan takut. Itu eomma nya Ten imo, Dery bisa panggil halmeoni." Ucap Ten, ia meyakinkan Hendery bahwa orang yang berada di hadapannya sama sekali tak berbahaya.

"Annyeong- haseyo Hendery imnida." Ucap si kecil, ia membungkukkan tubuhnya di hadapan nyonya Lee dan dihadiahi usapan gemas di surai hitamnya.

"Aigo gemasnya…." Puji nyonya Lee, pantas saja Ten selalu bercerita tentang anak kecil itu, ternyata Hendery memang sangat lucu sekali pun wajahnya terlihat cukup pucat, pikir nyonya Lee.

"Ah ini ayahnya Hendery." Ucap nyonya Lee.

"Ne, annyeonghaseyo eomoni." Ucap Johnny.

"Wah ayah dan anak sama sama tampan." Ucap nyonya Lee, Ten semakin tak nyaman melihat kelakuan ibunya. Lama-lama jenuh juga, pikirnya.

Setelah berbincang cukup lama akhirnya Johnny dan Hendery berpamitan pada nyonya Lee karena waktu sudah mulai malam. Johnny harus segera kembali ke rumah sebelum Hendery kelelahan.

"Dery kapan-kapan datang ke rumah halmeoni ya." Ucap nyonya Lee yang berada di hadapan Hendery.

"Tapi Dery harus izin daddy dulu." Ucap Hendery polos.

"Tentu saja. Harus bilang dulu pada daddy nya Dery." Balas nyonya Lee.

"Boleh kan dad?" Tanya Hendery dengan mata yang membulat lucu.

"Boleh. Nanti kita kesana kalau ada waktu luang, ya." Jelas Johnny.

Setelah berpamitan Hendery dan Johnny nampak masuk ke mobil mereka. Menyisakan Ten yang membiarkan mobil mewah itu menghilang perlahan dari depan restoran keluarganya.

"Eomma setuju jika kau menikah dengan Johnny, anaknya sangat lucu. Dan dia punya black card." Ucap nyonya Lee seraya terkekeh.

"Astaga, eomma…." Ten merajuk pada sang ibu dan mulai masuk ke dalam restoran.

"Hei eomma hanya bercanda. Tapi kau memang sudah waktunya menikah. Eomma kan juga mau punya cucu. Oppa mu malah sibuk menikmati waktu berdua dengan istrinya di Jeju tanpa peduli dengan eomma dan appa yang sudah menginginkan cucu." Jelas nyonya Lee panjang lebar.

"Eomma, hentikan. Ten malu…." Ucap wanita mungil itu, pipinya mulai merona dan membuat nyonya Lee semakin gemas dengan putri bungsunya itu.

Dan di sepanjang perjalanan pulang Johnny tampak tersenyum cerah dengan Hendery yang bernyanyi sepanjang perjalanan. Nyatanya hari ini terasa begitu indah setelah ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama Ten seharian. Dan tak hanya Hendery yang bahagia tapi juga Johnny, bahkan senyuman menawan tak pernah luntur dari wajah tampannya.