14. A New Family Member
Sebulan telah berlalu sejak pertemuan Ten, Johnny, dan Hendery. Hari ini Johnny nampak kebingungan. Rencananya besok ia harus pergi ke luar kota dan sekarang pria tampan itu kebingungan karena tak ada yang bisa menjaga Hendery. Seohyun sedang berada di London sejak sebulan yang lalu, sedangkan kedua orang tuanya tengah berada di Jepang dan baru akan kembali beberapa minggu lagi. Awalnya Johnny berniat menghubungi keluarga Jung namun saat Mark datang kemarin ia bercerita jika Jeno sedang sakit, Johnny jadi semakin tidak enak jika harus menitipkan Hendery pada Taeyong karena khawatir akan menambah beban wanita itu.
Johnny nampak memandangi ponsel miliknya, ia menatap lekat ke arah kotak Ten dan berkali-kali berniat menghubunginya. Apa tidak masalah jika Hendery dititipkan kepadanya, pikir Johnny. Dengan berat hati akhirnya Johnny memutuskan untuk menghubungi Ten, tak butuh waktu lama si wanita cantik nampak menjawab panggilan tersebut dan mereka berdua mulai berbincang.
"Baiklah terima kasih Ten-ssi maaf jika kami terlalu sering membuatmu repot." Ucap Johnny sebelum benar-benar mengakhiri panggilannya.
"Santai saja, aku tunggu di rumah ya. Sampai jumpa." Balas Ten. Panggilan telepon itu akhirnya berakhir dan Johnny bergegas menemui Hendery yang berada di kamarnya.
"Dery…." Sapa Johnny pada sang anak yang tengah sibuk membaca buku bacaan kesukaannya. Hendery menoleh dan menatap lekat ke netra tajam sang ayah yang ada di hadapannya.
"Kalau besok daddy pergi bagaimana?" Tanya Johnny, ia mulai berjongkok di hadapan Hendery.
"Dery ikut?" Tanya anak kecil itu penasaran.
"Tidak. Nanti Dery-"
"Lalu Dery sama siapa dad, halmeoni dan harabeoji kan sedang di Jepang. Seo imo juga belum pulang." Hendery memotong perkataan Johnny dan mulai berucap dengan dramatis.
"Nanti Dery tinggal di rumah Ten imo dulu sementara." Ucap Johnny. Mata Hendery nampak berbinar ketika mendengar nama imo kesayangannya keluar dari mulut Johnny namun detik berikutnya bibir tipisnya kembali menekuk kebawah.
"Daddy perginya lama?" Tanya Hendery.
"Tiga hari. Setelah itu daddy kembali lagi, janji." Ucap Johnny.
"Janji ya? Kalau lebih dari itu Dery marah sama daddy." Ucap Hendery, ia mengaitkan kelingking kecilnya dengan kelingking besar Johnny. Setelahnya Hendery mengikuti Johnny untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa menginap oleh anak kecil itu.
"Baju, pakaian dalam, handuk, alat mandi, buku bacaan, obat-obatan, apa lagi ya…." Johnny nampak bermonolog seorang diri saat tengah mengemasi barang Hendery yang akan dibawa besok.
"Ini dad, nanti tertinggal." Ucap Hendery ia menyodorkan boneka unicorn nya pada Johnny dan dibalas senyuman teduh oleh sang ayah.
"Kalau daddy masukkan sekarang nanti malam Dery tidak bisa tidur." Ucap Johnny, ia ingat betul jika Hendery selalu memeluk dan membawa boneka putih itu kemanapun ia pergi.
"Dery kira pergi ke rumah Ten imo sekarang." Ujar Hendery.
"Tidak. Besok pagi baru akan daddy antar kesana." Jelas Johnny, Hendery mengangguk dengan bibirnya membulat lucu hari itu.
Saat malam tiba Johnny tidur bersama Hendery, ia baru saja selesai membacakan dongeng untuk anak kecil itu namun Hendery masih terlihat segar dan belum berniat memejamkan matanya, sedangkan Johnny sudah mulai mengantuk.
"Daddy mengantuk ya?" Tanya Hendery.
"Hum. Sedikit. Dery tidak mengantuk?" Tanya Johnny, ia sesekali menguap karena rasa kantuk sudah membayanginya sejak tadi.
"Belum. Dery bingung dad." Ucap Hendery.
"Bingung kenapa?" Tanya Johnny.
"Besok kan daddy pergi, yang bacakan dongeng untuk Dery siapa?" Tanya Hendery. Johnny terkekeh jadi sejak tadi putra kecilnya itu memikirkan hal semacam itu, pikir Johnny.
"Kan ada Ten imo." Jelas Johnny, pria tampan itu masih ingat jika ia pernah melihat Ten yang tampak membacakan cerita di bangsal anak-anak beberapa bulan lalu. Saat itu sekumpulan anak kecil dengan seragam pasien serupa dengan yang Hendery kenakan nampak mengerubungi Ten dengan semangat. Seolah Ten adalah gula diantara sekumpulan semut.
"Memangnya Ten imo bisa? Nanti kalau Dery tidak tidur-tidur bagaimana?" Tanya anak kecil itu, bahkan ia mulai mendramatisir keadaan.
"Tentu saja bisa. Ten imo sangat pandai mendongeng." Jelas Johnny. Hendery nampak terkejut, matanya berbinar cerah dan terlihat begitu antusias. Detik berikutnya mulai terjadi perbincangan antara ayah dan anak itu, Johnny sampai lupa rasa kantuknya pergi kemana karena tiba-tiba menghilang begitu saja. Tak butuh waktu lama Hendery mulai terpejam, ia tertidur dengan damainya malam itu dan jangan lupakan Johnny yang ikut terlelap bersama sang anak.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Johnny mengajak Hendery untuk pergi ke kediaman keluarga Lee. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya mobil yang Johnny kendarai nampak menepi di sebuah rumah mewah yang terkesan minimalis. Ditambah beberapa tanaman yang mengelilinya dan jangan lupakan kolam ikan yang berada tak jauh dari pintu utama. Hendery yang menggenggam erat tangan Johnny nampak terkagum-kagum melihat desain rumah keluarga Lee, sangat jauh berbeda dengan rumahnya. Di ambang pintu nyonya Lee menyambut kedatangan mereka berdua. Wanita paruh baya itu mengajak Johnny dan Hendery untuk masuk ke dalam dan mengajak mereka berbincang di ruang keluarga seraya menunggu Ten yang masih sibuk di kamar mandi. Sebenarnya hanya Johnny yang berbincang karena sejak tadi Hendery lebih banyak diam terlebih saat melihat lelaki paruh baya yang ada dihadapannya. Pria itu adalah ayah Ten, pria yang masih nampak gagah di usia senjanya itu terlihat menikmati perbincangannya dengan Johnny dan sama-sama terkejut ketika pekerjaan mereka begitu sejalan. Bahkan tuan Lee lebih terkejut lagi saat Johnny bilang ia bekerja di salah satu perusahaan otomotif milik keluarga Seo. Tuan Lee jelas tahu jika perusahaan yang Johnny maksud memiliki nilai saham yang tidak sedikit dan sampai sini tuan Lee mulai paham sekaya apa keluarga Seo itu.
"Anak tampan ini siapa namanya?" Tanya tuan Lee. Ia mulai mengajak Hendery berbicara, sebenarnya pria itu telah tahu perihal Hendery dari Ten dan istrinya beberapa hari lalu. Hanya saja ia tak menyangka jika Hendery yang dimaksud oleh Ten dan istrinya itu akan selucu ini dengan kulit putih pucat, mata bulat yang terlihat jernih, dan bibir tipis yang berwarna merah jambu, jangan lupakan juga rambut jamur yang menjadi mahkotanya sejak lama.
"Dery…." Ucap anak kecil itu, ia masih terlihat malu-malu pada tuan Lee.
"Ah maaf dia sedikit pemalu." Jelas Johnny seraya mengusap rambut jamur Hendery.
"Tak apa anak kecil memang seperti itu." Ucap tuan Lee.
Setelah cukup lama berbincang akhirnya Ten yang ditunggu sejak tadi mulai bergabung dengan mereka. Wanita itu memilih mengenakan pakaian santai karena ia libur hari ini. Tak ada jadwal praktek ke rumah sakit. Johnny menyerahkan koper yang berisi perlengkapan Hendery pada Ten dan disambut baik oleh wanita itu. Tak lama kemudian Ten dan Hendery mengantar Johnny sampai ke depan pintu utama. Hendery terlihat begitu sedih saat hendak melepas kepergian Johnny. Pasalnya ini kali pertama Johnny kembali meninggalkannya setelah sekian lama.
"Daddy tidak boleh ingkar janji ya?" Ucap Hendery.
"Tentu. Tiga hari dan tidak lebih dari itu." Jelas Johnny. Ia mengecup kening Hendery dan memeluknya erat.
"Dery harus jadi anak baik ya, jangan lupa makan, minum obat, dan harus menurut pada Ten imo, halmeoni, dan harabeoji, mengerti?" Ucap Johnny.
"Hum. Dery janji akan jadi anak baik." Cicit anak kecil itu.
"Daddy pergi dulu ya, see you soon boy…." Ucap Johnny ia mulai melangkah menjauh dari Ten dan Hendery kemudian memasuki mobilnya.
"See you soon dad." Lirih Hendery, ia masih tak bersemangat karena Johnny pergi meninggalkannya. Tak lama kemudian mobil berwarna hitam itu mulai menghilang dari kediam keluarga Lee dan Ten mengajak Hendery kembali ke dalam untuk menikmati sarapan bersama sebelum memulai hari mereka.
Sebelum sarapan, Ten terlebih dahulu mengajak Hendery ke kamarnya namun si kecil nampak menolak dan memilih untuk mengikuti ayah Ten yang mengajaknya memberi makan ikan. Ten tersenyum dan membiarkan Hendery pergi mengikuti ayahnya. Di dalam kamar Ten mulai membongkar koper kecil milik Hendery, ia cukup terkagum melihat tatanan barang di dalamnya. Bagaimana mungkin seorang pria bisa merapikan koper sebaik ini, pikir Ten. Ten mulai mengeluarkan satu-persatu barang-barang yang ada di dalamnya. Saat Ten tengah sibuk menata barang-barang Hendery tiba-tiba saja ponselnya bergetar, ada pesan dari Johnny. Dengan cepat Ten membuka pesan tersebut dan membacanya dengan seksama.
From: Johnny
Untuk obat yang berukuran besar bisa tolong belah jadi dua? Dery tidak bisa menelannya sekaligus. Saat terjadi serangan mendadak kau bisa ambil obat dalam botol putih, berikan satu dan taruh di bawah lidahnya. Di koper itu juga aku siapkan sweater karena Dery sering merasa kedinginan akhir-akhir ini. Satu lagi yang paling penting, bisa tolong bacakan Dery dongeng setiap malam, bukunya sudah aku simpan di dalam koper, maaf jika aku terlalu membuatmu repot. Terima kasih Tenniee….
Ten terkekeh setelah membaca pesan dari Johnny, sepertinya Johnny lupa jika Ten juga seorang dokter sama seperti Kun. Ten juga tersenyum saat melihat isi pesan Johnny di baris terakhir, apa pria itu sering mendongeng untuk Hendery, pikirnya. Dan lagi ia memanggilnya Tenniee. Dari sekian banyak panggilan kenapa harus seperti itu, pikir Ten. Ten lebih terkejut lagi saat melihat penampakan kotak obat yang terlihat bersekat-sekat. Disitu terdapat tulisan tangan yang Ten kira milik Johnny tentang waktu minum obat untuk Hendery. Bahkan pria itu telah mengelompokkan obat Hendery dengan begitu rapi.
Nyonya Lee yang melewati kamar anak gadisnya nampak terkejut saat melihat Ten yang tertawa seorang diri. Ia bergegas menghampiri Ten dan memastikan bahwa anak perempuannya itu baik-baik saja.
"Astaga eomma mengagetkanku saja." Ucap Ten, ia meraba dadanya yang masih terkejut karena kedatangan sang ibu yang tiba-tiba.
"Kau yang membuat eomma kaget. Masih sepagi ini dan kau sudah tertawa sendiri, mengerikan sekali." Ucap nyonya Lee ia mulai duduk di pinggir kasur Ten dan memperhatikan sang anak yang tengah mengeluarkan barang-barang Hendery.
"Eomma coba lihat ini!" Ten menyodorkan ponselnya dan membiarkan ibunya membaca pesan dari Johnny.
"Gemas sekali. Dia benar-benar ayah yang baik. Pantas saja Dery begitu sedih saat ditinggal pergi. Johnny sangat cocok denganmu yang teledor dan pelupa." Ucap nyonya Lee seraya bercanda.
"Mulai lagi." Ten mulai jengah dengan perkataan nyonya Lee yang selalu menjodohkannya dengan Johnny.
"Eomma hanya bicara kenyataan." Canda nyonya Lee, ia tampak senang sekali mengganggu putri bungsunya itu.
"Ya Sudah cepat kebawah, Dery sudah menunggumu." Ucap nyonya Lee, ia berbalik dan meninggalkan Ten yang masih nampak kesal.
Sarapan pagi ini berlangsung dengan menyenangkan, Hendery nampak bersemangat menyantap makanannya. Nyonya Lee yang melihat reaksi Hendery saat menyantap makanannya hanya bisa terkekeh gemas, ia merasa senang jika anak tampan itu menyukai masakannya.
"Dery suka masakan halmeoni?" Tanya nyonya Lee, entah kenapa ia jadi lebih suka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "halmeoni" semenjak Hendery datang dalam hidupnya.
"Hum. Halmeoni choego. Rasanya lebih enak dari masakan daddy." Ucap Hendery seraya memberikan dua jempol kecilnya. Ten hanya terkekeh dan mengecup gemas rambut anak kecil itu.
"Daddy nya Dery bisa memasak?" Tanya nyonya Lee.
"Bisa, daddy selalu buatkan makanan enak untuk Dery." Ucap Hendery bangga.
"Woah senangnya…." Ucap nyonya Lee, ia melirik ke arah Ten yang duduk tak jauh darinya. Ten jelas tahu apa maksud ibunya, pasti ingin meledeknya yang tak bisa masak sama sekali padahal keluarganya pemilik restoran besar.
Setelah menikmati sarapan Hendery mulai menghabiskan waktunya di rumah besar keluarga Lee. Anak kecil itu nampak mengekor seharian pada ayah Ten, Ten sampai heran kenapa Hendery begitu penasaran dengan apa yang ayahnya lakukan, pikir wanita cantik itu. Tuan Lee sama sekali tak keberatan lagipula Hendery sama sekali tak membuatnya kerepotan. Nyonya Lee merasa iri karena Hendery lebih senang dengan suaminya, akhirnya ia memakai segala tipu daya untuk membuat Hendery berada di pihaknya.
"Dery masih ingat pudding vanilla yang dulu Dery makan, kan?" Tanya nyonya Lee, netra bulat Hendery berbinar cerah, ia mengangguk semangat saat mengingat rasa manis puding yang memenuhi mulutnya beberapa waktu lalu.
"Kita buat sama-sama ya? Dery mau tidak?" Tanya nyonya Lee. Hendery kembali mengangguk semangat dan turun dari kursinya. Nyonya Lee tersenyum cerah saat mendapati Hendery yang berada di pihaknya.
"Dasar wanita tak mau kalah." Ucap tuan Lee, ia memutar bola matanya malas, pria paruh baya itu jelas sudah hapal dengan perilaku istrinya itu.
Sepanjang hari itu Hendery benar-benar terlihat bahagia, ia menghabiskan waktunya dengan keluarga Lee. Bocah kecil itu bahkan terlihat sangat bersemangat seolah energinya tak akan habis. Saat ini si anak kecil yang baru saja selesai membuat puding nampak tengah menonton televisi dalam dekapan tuan Lee, Ten sampai heran rasanya Hendery adalah satu-satunya anak kecil yang menempel pada ayahnya. Biasanya semua anak kecil akan menjauh dari ayahnya karena terlihat sedikit menyeramkan, tapi Hendery malah menempel seharian. Benar-benar mengherankan, pikir Ten.
"Ten, Dery tertidur." Ucap tuan Lee saat merasa beban dalam dekapannya semakin berat.
"Akhirnya baterainya habis…." Ten berucap dan mengambil alih Hendery dari dekapan ayahnya, ia bergegas memindahkan Hendery ke kamar dan membuat tidur anak laki-laki itu lebih nyaman.
Ten memandangi wajah Hendery yang terlelap. Bocah kecil itu nampak begitu lucu dengan tangan yang memeluk erat bonekanya dan bibir yang sesekali mengerucut dan bergerak lucu. Ten mengelus surai lebat Hendery dan menyingkap poninya. Jika dilihat Hendery tidak terlalu mirip dengan ayahnya, pasti Dery lebih mirip ibunya, pikir Ten. Akhirnya Ten memutuskan untuk berbaring di sebelah Hendery dan ikut terlelap bersama anak kecil itu. Anak kecil yang diterima baik di keluarganya, seolah seperti anggota keluarga baru yang memiliki tempat di hati mereka semua.
