15. Broken Hearted Man
Di malam hari Hendery nampak berbaring di kasur Ten, anak kecil itu sudah bersiap untuk tertidur dan terlihat begitu antusias saat Ten membacakan cerita untuknya. Mata bulatnya bahkan terlihat berbinar saat tahu jika apa yang dikatakan ayahnya beberapa hari lalu benar, Ten imo kesayangannya ternyata sangat pandai mendongeng, pikir anak kecil itu.
"Dery belum mengantuk?" Tanya Ten, pasalnya mata anak kecil itu masih terlihat berbinar dan tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk sama sekali.
"Belum. Dery rindu daddy." Ucap anak kecil itu.
"Aigo…. Baru sehari tidak bertemu sudah rindu ya. Besok kita hubungi daddy nya Dery ya, sekarang sudah malam pasti daddy nya Dery sudah istirahat." Ucap Ten, Hendery hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Ten.
"Itu foto siapa imo?" Tanya Hendery seraya menunjuk ke arah pigura yang berada di meja nakasnya.
"Itu foto imo dengan oppa nya imo." Jelas Ten.
"Imo punya oppa?" Tanya Hendery.
"Hum. Tapi sekarang tidak tinggal disini. Oppa nya imo tinggal di Jeju." Ucap Ten.
"Daddy juga punya noona, Mark punya dongsaeng, San juga punya dongsaeng. Hanya Dery yang sendirian." Ucap anak kecil itu tiba-tiba.
"Siapa bilang? Dery tidak sendiri kok, Dery punya daddy dan imo." Jelas Ten.
"Imo sayang Dery kan?" Tanya anak kecil itu.
"Tentu saja." Jawab Ten semangat.
"Sayang daddy tidak?" Pertanyaan Hendery yang tiba-tiba berhasil membuat Ten terkejut, benar-benar mengejutkan, pikirnya.
"Sudah ya Dery harus tidur. Besok kan sudah janji dengan halmeoni mau pergi ke restoran bersama." Ucap Ten, ia berusaha mengalihkan pembicaraan dan mengajak Hendery tertidur. Namun entah mengapa mendengar pertanyaan Hendery beberapa menit lalu berhasil membuat jantung Ten berdebar tak karuan, seperti ada yang salah dalam dirinya.
Keesokan harinya Ten dan Hendery berniat menyusul nyonya Lee yang telah lebih dulu pergi ke restoran. Anak kecil itu tampak bersemangat saat tahu akan kembali berkunjing ke restoran. Ten baru saja selesai merapikan semua keperluan Hendery, setelahnya mereka bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil Ten. Tak lama mobil berwarna putih itu mulai menghilang dari pekarangan luas rumah keluarga Lee dan berjalan menuju tempat tujuan mereka.
Di restoran Hendery terlihat begitu bersemangat, bahkan tak jarang si kecil terlihat bercanda ria dengan beberapa pegawai padahal beberapa menit lalu anak kecil itu masih datang dengan wajah yang ketakutan dan sekarang malah seperti sudah akrab dengan mereka semua. Saat ini Ten dan Hendery tengah berada di salah satu ruangan yang ada di restoran. Hendery tengah menikmati pudding miliknya. Anak kecil itu begitu fokus, Ten juga terlihat merekam aktivitas Hendery dan mengirimkannya pada Johnny. Bahkan ruang obrolan mereka saat ini terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang terpisah jauh dan Ten berkewajiban mengurus anak mereka.
Mengenal Johnny cukup lama kadang membuat Ten berpikir sebenarnya apa hubungannya dengan pria kelewat tinggi itu, bahkan kedua orang tua Ten terlihat sudah sangat terbuka dengan Johnny sekalipun hanya bertemu beberapa kali. Seolah Johnny dan Hendery telah menjadi bagian dari keluarga mereka. Saat tengah asyik termenung tiba-tiba saja ponsel Ten berdering. Nama Kun nampak terpampang di layar ponselnya dan dengan segera Ten mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
"Ah baiklah, kurasa kita bisa bertemu sore nanti. Sampai jumpa, kututup ya…." Ucap Ten sebelum menutup panggilannya. Jadi Kun mengajak Ten bertemu di sebuah café yang berada tak jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja.
Tak terasa sore yang Ten tunggu sejak tadi akhirnya tiba juga. Ia bergegas meninggalkan restoran bersama dengan Hendery yang sibuk melambaikan tangannya ke arah para pegawai yang dibalas dengan senyuman cerah dari orang-orang disana. Ten melajukan mobilnya dan bergegas menuju café yang Kun sebutkan tadi. Saat sampai disana Ten telah mendapati Kun yang duduk di dekat jendela tak jauh dari pintu masuk café.
"Kun maaf aku membuatmu menunggu lama." Ucap Ten saat berada di hadapan Kun. Yang dipanggil nampak terkejut dan mendongak untuk menatap Ten yang berada di hadapannya.
"Ah tak apa aku baru beberapa menit yang lalu sampai disini." Jelas Kun.
Kun dan Ten adalah sahabat sejak lama, bahkan sejak sekolah menengah. Entah takdir bermain seperti apa pada mereka berdua tapi Kun dan Ten banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka berada di kelas yang sama saat sekolah menengah dan akhirnya masuk ke universitas yang sama dengan jurusan yang sama pula, sekalipun minat mereka akhirnya berbeda, Ten lebih memilih menjadi dokter anak, sedangkan Kun memilih menjadi dokter spesialis jantung. Bahkan dari sekian banyak dokter jantung di rumah sakit mereka Kun termasuk deretan yang terbaik dan layak diperhitungkan oleh para dokter senior. Kun jelas sudah paham betul bagaimana sifat Ten, gadis cantik itu terkadang bersifat ceroboh dan pelupa, dan Kun datang seolah sebagai penyempurna untuk Ten, ia menutupi semua kekurangan yang Ten punya.
Sebenarnya Kun dan Ten tidak terlalu akrab saat di sekolah menengah namun saat masuk universitas keakraban mereka sudah melewati batas. Bahkan beberapa mahasiswa di kampus mereka mengira jika Kun dan Ten memiliki hubungan spesial. Kun yang begitu perhatian selalu berakhir jadi orang yang menggendong Ten di punggungnya karena wanita itu kerap kali pingsan saat melihat cadaver yang ada di ruang praktek. Kun sampai heran kenapa Ten memilih untuk menjadi dokter jika melihat cadaver saja akan membuatnya berakhir di ruang kesehatan. Dan sekarang Kun tahu alasannya, Ten begitu menyukai anak-anak, wanita itu akan sangat sedih jika melihat anak kecil yang menderita. Itulah mengapa wanita mungil itu memilih untuk menjadi dokter spesialis anak.
"Kau datang dengan Dery?" Tany Kun, ia jelas mengenal siapa anak kecil yang sejak tadi berjalan beriringan dengan Ten.
"Hum. Johnny sedang pergi ke luar kota, anggota keluarganya yang lain juga sedang tidak di Seoul. Jadi aku menawarkan diri untuk merawat Dery sementara waktu." Jelas Ten, ia sesekali melirik ke arah Hendery yang tengah menikmati jus miliknya.
"Ah begitu…." Ucap Kun.
"Tumben sekali mengajakku kesini. Kau sedang pusing ya?" Tanya Ten, ia jelas tahu kebiasaan sahabatnya itu, Kun kerap kali mengajak Ten keluar untuk melepaskan rasa stress setelah sekian lama berkutat dengan pasien.
"Begitulah." Jawab Kun singkat, ia kembali menyesap Americano miliknya.
"Sekarang apa lagi? Kasus pasien baru? Atau ada pasien yang meninggal?" Tanya Ten.
"Bukan itu. Sebenarnya ada yang lain." Ucap Kun.
"Apa?" Tanya Ten, ia menatap serius ke arah sahabatnya itu.
"Sepertinya aku akan dikirim ke Amerika." Ucap Kun lirih.
"Benarkah?" Tanya Ten, bahkan mata sipitnya sudah membulat sempurna sekarang.
"Chanyeol sunbaenim bilang di departemen kami aka nada dokter yang dikirim ke Amerika, jika dilihat lagi kemungkinan aku adalah orangnya. Karena yang lain sudah pernah dikirim beberapa bulan atau beberapa tahun lalu." Jelas Kun.
"Bukankah itu baru desas-desus, kau harus cari tahu dulu." Ucap Ten.
Bukan rahasia lagi jika rumah sakit mereka sering mengirim beberapa dokter untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika, lebih tepatnya di John Hopkins University atau Harvard Medical School. Tujuannya hanya satu, demi mendapatkan dokter-dokter terbaik di bidangnya. Dan Ten rasa itu telah terbukti karena rumah sakit tempatnya bekerja termasuk jajaran rumah sakit dengan peringkat terbaik di Korea.
"Benar juga…." Balas Kun.
"Tapi satu hal yang harus kau tau Kun. Jika kau memang benar-benar dikirim ke Amerika artinya kau yang paling kompeten diantara kami semua. Bukankah itu bagus untuk menambah wawasanmu. Lagipula kau kan suka belajar, aku sampai jengah karena eomma ku selalu membandingkanku denganmu dulu." Ucap Ten, ia sedikit mendengus sebal saat berbicara.
"Benar juga, bahkan eomma mu membiarkanku makan gratis di restoran keluargamu selama bertahun-tahun lamanya." Balas Kun seraya terkekeh.
"Untung saja restoran keluargaku masih bertahan hingga sekarang." Balas Ten.
"Yak kau pikir aku makan sebanyak apa." Kun nampak emosi mendengar perkataan Ten, sedangkan wanita di hadapannya itu hanya terkekeh tanpa dosa.
"Uhukk…. Uhuk…." Suara batuk Hendery nampak menginterupsi kegiatan mereka berdua. Ten terlihat panik ia takut terjadi sesuatu pada Hendery terlebih anak kecil itu sedang dititipkan padanya.
"Pelan-pelan Dery…." Ucap Ten, ia mengelus lembut punggung Ten dan berusaha menenangkannya.
"Pelan-pelan ya, tak ada yang akan ambil minuman Dery kok." Ucap Kun seraya mengelus lembut kepala pasien kecilnya. Si anak kecil hanya terkekeh dan menunjukkan deretan gigi putihnya pada Kun.
Perbincangan dua orang dewasa itu terus berlanjut sampai ke banyak hal. Mulai tentang pekerjaan mereka sampai hal konyol yang baru saja mereka lakukan. Bahkan pembicaraan mereka merembet ke masa lalu. Saat mereka berdua selalu bersama, baik orang tua Ten ataupun Kun sudah hafal jika anak mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk sekedar belajar bersama ataupun jalan-jalan sebagai bentuk pelepas stress setelah penatnya bersinggungan dengan mata kuliah kedokteran yang amat memusingkan.
Persahabatan mereka yang berlangsung lama membuat Kun begitu mengerti Ten begitupun sebaliknya. Mereka saling mengetahui baik atau buruknya sifat masing-masing, apa yang disuka dan apa yang paling tidak disuka. Dan setelah perjalanan panjang persahabatan mereka akhirnya Kun sadar jika dalam hatinya merasa begitu ingin memiliki Ten, lebih dari sekedar teman bercakap, tapi teman hidup yang akan menemaninya sampai kapanpun jua. Namun kebimbangan kembali muncul di hati kecil Kun kala mendapati Ten begitu dekat dengan Johnny, entah sadar atau tidak Johnny adalah orang yang sama yang menjadi alasan dari setiap senyuman yang terukir di wajah cantik sahabatnya itu. Seperti saat ini, Ten nampak tersenyum kala membalas pesan dari Johnny. Sekalipun pesan itu hanya menanyakan perihal keadaan Hendery tetap saja berhasil membuat Kun iri.
Pernah dengar ungkapan pepatah yang mengatakan tak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Jika bukan kau yang terjebak dalam hatinya maka dialah yang jatuh hati padamu. Dan sepertinya ungkapan itu sangat sesuai dengan apa yang tengah Kun rasakan, bahkan ia tak tahu jalan kembali untuk terbebas dari belenggu hati teman wanitanya itu.
