16. For The Woman Who I Loved Before

Hendery nampak kesal karena anak kecil itu merasa Johnny tidak menepati janjinya. Ini adalah hari ketiga Johnny pergi ke luar kota namun sampai saat ini pria tinggi yang berstatus sebagai ayahnya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Hendery bahkan menunggu Johnny sampai melewati jam tidurnya, ini sudah jam sepuluh malam dan artinya seharusnya Hendery telah terlelap sejak dua jam yang lalu.

"Dery, ayo masuk nanti kedinginan." Ucap Ten, ia nampak membawa selimut tebal dalam genggamannya dan bersiap untuk membungkus tubuh Hendery.

"Tapi daddy belum datang…. Apa daddy lupa sama Dery?" Ucap anak kecil itu dengan bibir yang mencebik lucu dan mata yang berkaca-kaca.

"Jangan begitu, mana mungkin daddy lupa. Kan Dery yang paling daddy sayangi." Jelas Ten, ia masih berusaha memberi pengertian pada anak kecil itu seraya membalut tubuh Hendery dengan selimut tebal karena si kecil mulai kedinginan sekalipun sweater telah membalut tubuh kecilnya.

"Hua…. Hiks…. Hiks…." Hendery mulai menangis dan Ten bergegas memeluk tubuh kecil anak itu.

"Dery tidur dulu ya, nanti saat Dery bangun pasti daddy nya Dery sudah ada disini. Kalau disini terus nanti Dery sakit, nanti imo sedih kalau Dery sakit." Ucap Ten, anak kecil itu hanya mengangguk namun masih sibuk dengan tangisnya.

"Sudah ya jangan menangis lagi. Ayo kita masuk dulu." Ucap Ten. Dan akhirnya dua orang berbeda usia itu masuk ke kamar Ten. Ten menyelimuti Hendery karena anak kecil itu menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu Johnny diluar. Ten khawatir jika esok hari anak kecil itu akan demam. Tak butuh waktu lama Hendery mulai memejamkan matanya dan terlihat nyaman dalam tidurnya. Ten mengecek ponselnya yang ada di meja nakas. Johnny tak menghubunginya sama sekali, apa mungkin pria itu menambah waktu kunjungannya, pikir Ten.

Ten terbangun di pagi hari karena guncangan di tubuh mungilnya. Dengan malas ia membuka matanya dan mendapati ibunya yang tengah berdiri di sebelah kasurnya dengan pakaian yang sudah rapi.

"Ten…. Cepat bangun! Johnny sudah di bawah." Ucap nyonya Lee, ia kembali mengguncang tubuh putri bungsunya supaya ia terbangun dari tidurnya.

"Ini masih terlalu pagi eomma. Mana mungkin Johnny sudah datang." Lirih Ten.

"Aish…. Cepat bangun. Johnny bilang ia baru sampai tengah malam jadi baru sempat menjemput Dery sekarang." Jelas nyonya Lee. Ten tetap tak peduli, ia malah semakin bergelung dengan selimut tebalnya.

"Astaga Ten…. Kau seperti babi. Cepat temui Johnny dulu, eomma dan appa akan keluar sebentar." Ucap nyonya Lee. Dengan malas Ten bangkit dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia mendekati Hendery yang masih tertidur lelap, namun Ten sedikit heran karena kening anak kecil itu nampak berkeringat padahal cuaca cukup dingin pagi ini. Ten menyentuh kening Hendery, ia terkesiap saat merasakan suhu panas menjalar dari kening anak kecil itu. Benar dugaannya semalam, hari ini Hendery demam. Anak kecil itu bahkah terlihat mulai tak nyaman dalam tidurnya. Ten memutuskan untuk menemui Johnny terlebih dahulu, ternyata pria itu sudah duduk di sofa ruang keluarganya dengan setelan santai yang membalut tubuh kekarnya.

"Maaf membuatmu menunggu lama…." Ucap Ten saat tiba di hadapan Johnny.

"Ah tak apa, sepertinya aku yang datang terlalu pagi." Ucap Johnny.

"Semalaman Dery menunggumu di depan, bahkan ia sampai menangis." Jelas Ten.

"Maaf aku baru sampai Seoul tepat tengah malam. Kurasa akan mengganggu jika aku datang kemari semalam." Balas Johnny.

"Ah iya, tadi eomma sudah bilang. Tapi sepertinya Dery demam karena semalam ia menghabiskan waktu dua jam menunggu di luar. Padahal aku berkali-kali memaksanya masuk ke dalam." Ucap Ten.

"Boleh aku temui Dery?" Tanya Johnny.

"Ah iya, langsung saja ke kamarku, dari tangga ini belok ke kanan. Aku akan menyiapkan makanan sebentar." Ucap Ten. Johnny mengangguk dan bergegas ke kamar Ten, ia membuka pintu kayu bercat putih yang ada di hadapannya dan mendapati Hendery yang tengah bergelung dalam selimut tebal milik Ten.

"Dad- dy…." Lirih anak kecil itu dengan mata yang masih terpejam. Sepertinya ia tengah mengigau. Johnny bergegas menghampiri Hendery dan berusaha untuk membangunkannya. Saat tangan besarnya menyentuh kening Hendery ternyata suhu tubuhnya cukup tinggi seperti yang Ten katakana beberapa menit lalu.

"Dery bangun…." Ucap Johnny, ia mengguncang bahu sempit Hendery berusaha membuat anaknya terbangun dari tidurnya. Hendery yang merasa tidurnya terganggu mulai membuka matanya dan menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terlihat begitu terang. Anak kecil itu mengerjapkan matanya berkali-kali dan detik berikutnya bibir tipis itu terlihat melengkung kebawah dengan tangis yang pecah.

"Hua…. Daddy…." Teriak anak kecil itu, ia menerjang tubuh tegap sang ayah dan memeluknya erat.

"Jangan menangis. Kan daddy sudah disini." Ucap Johnny.

"Dery kira daddy lupa sama Dery." Lirih anak kecil itu.

"Siapa bilang? Tentu saja tidak." Jelas Johnny.

"Pusing dad…." Ucap anak kecil itu.

"Dery demam. Semalam menunggu daddy di luar ya?" Tanya Johnny.

"Hum." Ucap Hendery.

"Dery sudah bangun…." Ucap Ten yang baru saja sampai di kamarnya. Hendery hanya mengangguk dan sibuk membenamkan wajahnya di ceruk leher sang ayah.

"Benarkan apa yang imo bilang. Daddy nya Dery pasti sudah ada disini saat Dery terbangun." Jelas Ten, ia mulai mengelus surai hitam Hendery yang dibasahi keringat.

"Ne, imo choego." Balas Hendery.

"Kita pulang sekarang ya Dery." Ucap Johnny.

"Yeay, Dery sudah rindu kamar Dery." Ucap anak kecil itu.

"Kalau begitu aku rapikan dulu barang-barangnya." Ucap Ten.

"Ah tak apa Ten biar aku saja." Ucap Johnny, ia mulai bangkit dan berniat memasukkan barang-barang Hendery ke koper kecilnya.

"Tak apa biar aku saja, lagipula Dery masih merindukanmu." Ucap Ten seraya terkekeh.

Semua barang Hendery telah tertata rapi seperti saat baru datang ke kediaman keluarga Lee, saat ini sepasang ayah dan anak itu bersiap untuk pulang. Ten mengantar Johnny dan Hendery sampai ke halaman depan. Dari mobil hitamnya Johnny nampak mengeluarkan paper bag yang berukuran besar dan menyerahkannya pada Ten. Ten sedikit terkejut kala menerima bingkisan dari Johnny.

"Ini untukmu, terima kasih banyak sudah menjaga Dery." Ucap Johnny, ia membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Ten.

"Ah, ini berlebihan. Terima kasih banyak." Balas Ten.

"Untung Dery mana?" Tiba-tiba saja anak kecil itu menyela pembicaraan orang dewasa di hadapannya dengan bibir yang nampak mengerucut lucu.

"Punya Dery ada di rumah. Ayo kita pulang." Ucap Johnny.

"Imo, Dery pulang dulu ya, nanti kesini lagi." Ucap Hendery.

"Hum. Hati-hati ya Dery jangan lupa selalu minum obatnya supaya Dery tetap sehat." Ucap Ten, ia berjongkok di hadapan Hendery dan mengelus lembut pipi putih anak kecil itu. Hendery hanya mengangguk dan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

"Hum. Annyeong imo." Ucap Hendery seraya mengecup pipi Ten.

Ten nampak melambaikan tangannya saat mobil hitam yang Johnny kendarai mulai menjauh dari rumahnya. Ia masuk ke dalam dan cukup terkejut saat melihat hadiah yang Johnny berikan. Sebuah tas berwarna hitam yang jelas saja Ten tahu berapa harganya. Benar-benar orang kaya, pikir Ten.

Siang harinya Ten kembali ke rumah sakit, ia memiliki jadwal praktek hari ini setelah kemarin menghabiskan waktu liburannya. Ten baru saja selesai melakukan kunjungan ke pasien-pasien kecilnya, senyum di wajah Ten terlihat berkembang saat beberapa pasiennya telah diizinkan pulang karena kondisinya yang telah membaik. Ten terlihat berjalan menuju ruang bermain, disana terlihat beberapa anak kecil yang mengenakan pakaian rumah sakit. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang menderita penyakit cukup serius sehingga harus menghabiskan waktu berlama-lama di rumah sakit.

"Woah…. Ada dokter Ten…." Ucap salah seorang anak kecil yang terlihat cukup pucat. Beberapa anak lain pun mengalihkan perhatian mereka dan menatap Ten lekat, mata anak-anak tersebut terlihat begitu berbinar saat mendapati Ten berada di dekat mereka.

"Dokter Ten kemana saja, kami sangat merindukan dokter." Ucap seorang anak perempuan berambut pendek yang mulai mendekat ke arah Ten.

"Hum…. Jadi baru sehari tak bertemu tadi sudah rindu ya?" Ucap Ten seraya mengacak surai hitam anak kecil itu yang terlihat mulai menipis.

"Dokter Ten bacakan cerita ini ya, kemarin mamanya Minji baru membelikan buku cerita." Ucap seorang anak kecil, ia berjalan ke arah Ten dengan buku dongeng yang dipeluk erat-erat.

"Baiklah, semuanya duduk yang rapi. It's story time…." Ucap Ten, ia mulai duduk dan dikelilingi sekelompok anak kecil yang terlihat penasaran.

Seperti biasa Ten yang mendongeng adalah yang paling disukai anak-anak itu. Beberapa anak kecil nampak antusias mendengar cerita Ten, mereka sesekali terkekeh bahkan memasang ekspresi sedih jika Ten menceritakan tentang kesedihan. Dari kejauhan seorang pria bersnelli putih sama seperti yang Ten kenakan nampak memandangi wanita itu dari jendela yang menutupi ruang bermain anak. Senyuman menawan nampak terpatri di wajah tampannya kala melihat Ten yang berinteraksi dengan anak-anak kecil disana. Pria itu adalah Kun, pria yang sama yang memendam perasaannya pada Ten sejak lama.

Saat sore hari Ten dengan sepotong roti di tangannya nampak menghampiri Kun yang tengah duduk di kursi panjang yang berada di taman rumah sakit. Pria itu menyambut kedatangan Ten dengan senyuman seperti yang biasa ia lakukan. Kedua insan itu pun mulai saling bercakap tentang banyak hal. Bahkan sesekali Ten terlihat tertawa dengan perkataan yang Kun lontarkan.

"Aku benar-benar akan ke Amerika." Ucap Kun tiba-tiba. Ten menghentikan kegiatan makannya dan menatap lekat ke arah sahabatnya itu.

"Sudah pasti?" Tanya Ten.

"Hum. Baru diputuskan hari ini, dan aku akan pergi bulan depan." Jelas Kun.

"Berarti kita akan berpisah. Aku pasti akan merindukanmu." Ucap Ten.

"Ten…." Kun kembali membuka mulutnya.

"Hum…." Jawab Ten.

"Boleh aku bicara?" Tanya Kun.

"Tentu saja, tak ada yang melarangmu." Jawab Ten seraya terkekeh.

"Aku menyukaimu." Ucap Kun singkat.

"Sudah tahu." Ten malah terkekeh dan kembali memakan roti miliknya.

"Bukan begitu Ten. Maksudku aku menyukaimu lebih dari seorang sahabat, aku mencintaimu…." Ucap Kun. Ten benar-benar terdiam, ia tak tertarik lagi dengan roti yang ada di tangannya dan hanya fokus mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Kun.

"Tapi kita kan sahabat." Ucap Ten lirih.

"Aku tahu." Balas Kun.

"Aku tak bisa-"

"Ada orang lain di hatimu?" Tanya Kun, bahkan ia menyela omongan sahabatnya itu.

"Bukan begitu. Aku tak mau menghancurkan persahabatan kita." Ucap Ten seraya menggeleng.

"Tak ada yang akan hancur Ten." Ucap Kun dengan senyuman remeh.

"Kau tak mengerti Kun." Balas Ten.

"Aku tetap menunggu-" Belum sempat Kun menuntaskan perkataannya tiba-tiba saja ponsel yang berada di sakunya bordering nyaring. Dengan segera Kun mengangkat panggilan tersebut, detik berikutnya ekspresi wajahnya terlihat berubah dan ia bergegas berdiri untuk pergi dari taman sesegera mungkin.

"Kita bicara lagi nanti Ten, ada pasien darurat." Ucap Kun. Ia mulai berlalu meninggalkan Ten yang tetap terpaku di tempatnya.

"Ten…. Pasiennya Hendery, pasien darurat yang kumaksud tadi Hendery." Ucap Kun, ia menyempatkan berbalik badan sebelum kembali melanjutkan langkah besarnya. Ten tersadar dari lamunannya dan bergegas mengikuti langkah besar Kun yang ada di depannya. Ten sedikit terkejut, baru tadi pagi ia bertemu dengan anak kecil itu, namun tiba-tiba mereka harus kembali bertemu dalam kondisi yang tak terduga. Kun melesat masuk ke ruang IGD disana beberapa perawat tengah melakukan CPR di dada sempit anak kecil itu, bahkan wajah putih Hendery kian memucat bersamaan dengan kulitnya yang terasa kian mendingin.

"Suntikan atropine!" Perintah Kun, dengan sigap perawat yang berada di dekatnya menyuntikkan atropine ke infus anak kecil itu dan Kun kembali melanjutkan PCR nya. Berkali-kali Kun menengok ke arah monitor yang menunjukkan denyut jantung pasien kecilnya itu, namun tak kunjung ada pergerakan yang berarti. Pria tampan itu pun meminta pada perawat untuk menyiapkan alat kejut jantung demi menolong pasien kecilnya.

"50 Joule shock…." Alat yang serupa setrika mulai menghujam dada putih Hendery namun masih belum ada kemajuan yang berarti.

"100 Joule shock…." Peluh mulai ikut membasahi kening Kun, bahkan ia mulai ikut merapalkan do'a dalam hatinya.

"Come on boy, wake up…." Lirih Kun

"100 Joule shock" Seolah mantra yang Kun rapalkan membuahkan hasil, monitor tersebut mulai kembali berbunyi seiring dengan dada sempit Hendery yang bergerak naik turun dengan teratur.

Ten yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Kun dan para perawat lainnya hampir saja terjatuh saat melihat kondisi Hendery. Bukankah setelah peristiwa panjang yang cukup memilukan tadi artinya mereka hampir saja kehilangan Hendery. Ten benar-benar lemas dan tak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia memilih untuk keluar dari IGD, di ruang tunggu nampak Johnny yang tengah terduduk dengan kepalanya yang menunduk, sepertinya pria itu tengah merapalkan doa, pikir Ten.

"John…." Ten menepuk lembut bahu kokoh Johnny dan membuat pria itu mendongak.

"Ten, Dery-"

"Dery baik-baik saja, Kun berhasil menyelamatkannya." Ucap Ten, ia mulai duduk disebelah Johnny dan berusaha menenangkan pria itu, membawanya dalam dekapannya dan mengelus lembut pundak kokohnya.

"Aku hampir kehilangan Dery…." Lirih Johnny, ia mulai menangis dalam pelukan Ten, bahkan pria itu sudah tak peduli sekalipun Ten melihatnya menangis.

Dari arah berlawanan Kun nampak baru keluar dari IGD, ia melihat dengan jelas Johnny yang menangis dalam pelukan Ten, dengan wanita itu yang berusaha menenangkannya. Kun tersenyum samar, bukankah sampai disini seharusnya ia sadar tentang posisinya dan tak terlalu berharap banyak tentang Ten yang akan balik mencintainya.