17. Getting Worse
Sore itu Hendery kembali dilarikan ke rumah sakit dan untuk pertama kali dalam hidupnya Johnny merasa kehilangan harapan. Ia yang meninggalkan Hendery sebentar di ruang keluarga tiba-tiba saja menemukan sang anak yang telah tergeletak tak berdaya dengan wajah yang pucat pasi sore itu. Ia panik bukan main, pria tinggi itu bergegas membawa Hendery ke rumah sakit tanpa tahu resiko membentang yang telah menanti di hadapannya. Johnny yang kalut dan terus menggenggam jemari kecil Hendery yang mendingin terpaksa dipisahkan oleh pintu ruang IGD. Johnny benar-benar kalut, untuk pertama kalinya ia benar-benar takut jika Hendery akan pergi meninggalkannya setelah banyaknya hal indah yang mereka lalui berdua.
Johnny menunggu harap-harap cemas di depan ruang UGD, bukan dia satu-satunya makhluk Tuhan yang gusar sore itu. Nyatanya ada beberapa orang yang juga sama sepertinya tengah menanti kabar baik dari orang terdekat mereka yang tengah berjuang di dalam sana. Johnny memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana, ia menundukkan kepalanya dan mengatupkan kedua tangannya. Hari ini Johnny benar-benar memohon pada Tuhan untuk tidak mengambil Hendery dari sisinya. Setelah bermenit-menit menundukkan kepalanya tanpa terasa bahu kokoh Johnny terasa berguncang, saat mendongak ia mendapati Ten yang berdiri di hadapannya, seolah wanita itu tahu apa yang tengah menimpanya.
"Dery baik-baik saja, Kun berhasil menyelamatkannya." Ucap Ten saat baru saja duduk di sebelah Johnny.
Kelegaan terpancar jelas di wajah tampan Johnny, setelah bermenit-menit merasa gusar akhirnya Tuhan benar-benar mendengar do'anya. Tapi bukankah dari perkataan Ten artinya Hendery hampir saja kehilangan harapan. Ten merengkuhnya sore itu, membawa pria tinggi itu dalam pelukannya dan tanpa sadar Johnny mulai menangis disana, tangisan pilu yang pertama kali Ten dengar dari sosok ayah yang amat takut kehilangan anaknya.
Tangisan Johnny terhenti saat Kun menghampirinya, dokter tampan itu meminta Johnny mengikutinya sementara Hendery dipindahkan ke ruang perawatan. Ten memutuskan untuk memisahkan diri dan pergi menyusul Hendery yang tengah tertidur lelap di ranjang rumah sakit yang tengah didorong oleh beberapa perawat. Di ruangan Kun, Johnny benar-benar menyiapkan hatinya. Ia bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yang akan Kun katakan.
"Kondisi Dery cukup buruk kali ini." Ucap Kun.
"Seburuk itu?" Ucap Johnny, sebenarnya sejak awal ia telah paham jika anaknya tak baik-baik saja, namun tetap ada rasa keraguan di hati kecilnya yang menolak menerima kenyataan yang ada.
"Hum. Kami akan memantaunya selama beberapa hari ke depan dan sepertinya kali ini Dery harus menginap lebih lama disini. Mungkin kita akan mulai berdiskusi tentang pemasangan VAD untuk Dery. Ventrikelnya semakin melemah, aku takut hal yang semakin buruk akan menghantuinya nanti." Jelas Kun.
Johnny benar-benar terdiam. Rasanya baru kemarin ia melihat Hendery yang kembali tersenyum ceria. Nyatanya hari ini hal buruk kembali menimpa keluarga kecilnya. Rasanya Johnny tak ingin percaya dengan semua ucapan Kun yang ada di hadapannya, namun bagaimana lagi, nyatanya itulah kenyataan yang harus ia terima saat ini. Setelah cukup lama berbincang, Johnny memutuskan untuk undur diri dari ruangan Kun. Melangkahkan kaki jenjangnya untuk menemui Hendery yang masih terlihat damai dalam tidurnya. Disana sudah ada Taeyong dan Jaehyun yang sempat ia hubungi beberapa menit yang lalu. Mereka hanya datang berdua karena kebetulan Mark dan Jeno tengah menginap di rumah orang tua Jaehyun sejak kemarin.
"Bagaimana keadaan Dery?" Tanya Jaehyun, saat ini ia tengah duduk di sofa yang ada di ruangan Hendery dengan Johnny yang berada di sebelahnya.
"Makin parah. Aku bahkan hampir kehilangan Dery beberapa menit lalu." Jawab Johnny dengan suara paraunya. Tak ada yang dapat Jaehyun lakukan hari itu, ia hanya dapat mengelus lembut pundak kokoh sahabatnya berharap semuanya akan berjalan lebih baik kedepannya.
Taeyong duduk di sebelah ranjang Hendery, ia memandang sendu wajah tampan anak kecil yang dulu ia rawat berbulan-bulan lamanya. Taeyong amat menyayangi Hendery seperti ia menyayangi Mark dan Jeno bahkan wanita itu merasa Tuhan sedikit tidak adil pada anak kecil itu. Dari semua anak kenapa harus Hendery, kenapa harus Hendery yang tak pernah melihat ibu kandungnya dan kenapa harus Hendery yang merasakan sakit seolah ia tengah mencicipi gerbang kematian. Bulir bening yang Taeyong tahan sejak tadi berhasil lolos dari mata indahnya, jarinya yang lentik sibuk mengelus surai hitam Hendery yang basah oleh keringat. Bahkan hari itu suasana amat mencekam, tak ada lagi yang bicara, hanya ada suara tangisan Taeyong ditemani bunyi monitor yang terdengar menenangkan, setidaknya dari bunyi itu mereka semua masih sadar jika Hendery memiliki harapan untuk tetap bersama mereka.
Taeyong memutuskan untuk menemani Hendery semalaman, ia bahkan meminta izin pada Jaehyun untuk menginap. Jaehyun sama sekali tak masalah, ia sadar jika sang istri amat merasa terguncang, terlebih Hendery sangat dekat dengan keluarga mereka terutama Taeyong. Jaehyun memutuskan untuk kembali ke rumah karena ada banyak hal yang harus ia lakukan esok hari, meninggalkan sang istri bersama dengan Johnny yang masih terdiam malam itu. Ten berkunjung ke ruang rawat Hendery saat malam tiba, ia nampak terkejut karena mendapati Taeyong yang sibuk menggenggam jemari mungil Hendery dengan mata yang berkaca-kaca malam itu, dan jangan lupakan Johnny yang masih terdiam di sofa, pria itu seperti kehilangan jiwanya dan hanya menyisakan raga tanpa nyawa.
"Ten, kau belum pulang?" Tanya Taeyong saat tersadar ada orang lain di ruang rawat Hendery. Ten menggeleng dan mendekat ke arah Taeyong, ia berusaha menguatkan wanita itu, sekalipun Taeyong bukan siapa-siapa untuk Hendery namun Ten sudah sangat paham bagaimana perasaan wanita itu.
"Aku piket malam ini, jadi memutuskan untuk mampir sebentar." Jawab Ten. Taeyong mengangguk dan kedua wanita itu mulai saling berbincang tentang banyak hal, tentang Hendery dan bagaimana anak kecil itu berhasil mengambil tempat di hati mereka.
"Bisa kau ajak Johnny keluar? Dia sama sekali tak meninggalkan Dery sejak tadi. Aku khawatir dia akan jatuh sakit, bahkan ia belum makan apapun." Ucap Taeyong. Ten menoleh ke arah Johnny, pria itu masih bertahan dengan posisi yang sama. Benar-benar seperti patung yang tak bergerak. Ten bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Johnny, menepuk pelan pundak kokoh pria itu dan menarik tangannya.
"Mau keluar sebentar? Kau harus mengisi perutmu, Dery akan sangat marah jika tahu kau melewatkan makan malammu." Ucap Ten. Johnny mendongak dan menatap ke arah Hendery yang masih tertidur lelap.
"Jangan khawatir, aku yang akan menjaga Dery sampai kau kembali." Ucap Taeyong dengan senyum teduh yang terukir di wajah cantiknya.
Setelah mendapat jawaban dari Taeyong, Ten memutuskan membawa Johnny ke minimarket 24 jam yang ada di rumah sakit. Membiarkan Johnny mengisi perutnya dengan ramen dan kimbab yang sempat mereka pesan berdua. Johnny masih terdiam dan sibuk dengan makanannya. Begitu pula Ten, ia sama sekali tak berniat mengganggu Johnny, setidaknya ia harus membiarkan pria di hadapannya itu menenangkan hatinya terlebih dahulu setelah kejadian memilukan beberapa jam yang lalu.
"Hari ini untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa takut jika Dery akan meninggalkanku." Ucap Johnny, setelah bergelut dengan pemikirannya selama berjam-jam akhirnya pria itu kembali membuka mulutnya.
"Aku tahu, matamu jelas mengatakannya. Apa yang Kun katakan tadi?" Tanya Ten.
"Kondisinya semakin memburuk." Balas Johnny singkat.
"Apa akan segera dilakukan pemasangan VAD?" Tanya Ten.
"Mungkin saja, tapi bukankah Dery terlalu kecil untuk itu?" Ucap Johnny.
"Seharusnya begitu, tapi aku yakin Kun lebih mengerti soal ini." Balas Ten.
"Kau yakin Dery anak yang kuat kan John?" Tanya Ten lagi.
"Jujur saja kali ini aku bingung." Balas Johnny.
"Kau harus yakin jika Dery bisa bertahan. Pernah dengar ungkapan yang mengatakan jika Tuhan sebagaimana prasangka kita sebagai manusia. Jika kau yakin Dery akan kuat dan bertahan maka Tuhan akan mengijinkan anakmu untuk bertahan sesuai dengan keyakinan mu." Jelas Ten, dia bukanlah seorang yang amat rajin beribadah namun ia selalu yakin dengan satu ungkapan yang berhasil memenangkannya selama ini, tentang bagaimana kita sebagai manusia yang harus selalu berprasangka baik pada sang pencipta.
Johnny menoleh dan menatap wajah Ten dari samping. Wajah cantik itu bahkan terlihat lebih menawan saat malam hari.
"Terima kasih." Ucap Johnny.
"Untuk?" Tanya Ten.
"Menyadarkanku jika masih ada harapan yang membentang." Balas Johnny.
"Sama-sama. Kau harus tahu saat kau kehilangan arah kau tak pernah sendirian. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau, aku sama sekali tak keberatan." Ucap Ten. Johnny hanya terkekeh mendengar perkataan wanita disampingnya itu.
"Boleh ceritakan sesuatu? Dery bilang daddy nya pandai mendongeng." Ucap Ten.
"Tentang apa?" Tanya Johnny.
"Tentang Dery." Jawab Ten singkat.
"Dery lahir tepat di bulan ketujuh kehamilan Irene. Dan seperti yang kau tahu Irene meninggal saat melahirkan Dery. Kepergian Irene benar-benar pukulan terberat untukku, tapi ternyata masih ada Dery kecil yang menungguku. Sejak itu aku mulai tersadar jika kita tak pernah kehilangan apapun dalam hidup kita tapi hanya ditukar dengan sesuatu yang jauh lebih indah."
"Kau puitis." Goda Ten seraya terkekeh.
"Sedikit." Balas Johnny.
"Dery kecil menghabiskan waktunya denganku sepanjang hidupnya. Anak kecil itu bahkan terlihat lebih dewasa dari usianya, ia begitu berbesar hati saat aku ceritakan banyak hal tentang Irene, kemana Irene pergi dan kenapa Irene harus pergi lebih dulu darinya. Bahkan Dery lebih kuat dari yang aku bayangkan." Ucap Johnny.
"Kurasa kau berhasil merawat Dery selama ini. Ia tumbuh jadi anak yang manis dan baik pada semua orang." Ucap Ten.
"Banyak orang yang membantuku, aku tak benar-benar sendirian." Jelas Johnny.
"Semoga kau menemukan pengganti mamanya Dery, yang lebih baik dan memang pantas untuk kalian berdua." Ucap Ten.
"Kau mau jadi orangnya?" Tanya Johnny tanpa sadar.
"Apa-"
"Ah jangan pikirkan perkataanku barusan." Ucap Johnny, bahkan ia menyela ucapan Ten beberapa detik lalu.
"Kurasa kau harus segera kembali. Kasian Taeyong sendirian." Ucap Ten.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih banyak sudah mau mendengar cerita panjangku, Tennieā¦." Ucap Johnny.
"Aku suka panggilan itu." Jawab Ten. Johnny hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkah besarnya. Setelahnya tak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Dua insan itu hanya berjalan beriringan dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sampai akhirnya mereka terpisah di lobby. Johnny yang harus kembali ke ruang rawat Hendery dan Ten yang harus kembali ke ruang IGD untuk mengerjakan tugasnya. Setidaknya malam itu ada beban yang berhasil terangkat dan mungkin juga ada cinta yang berhasil tumbuh di hati mereka berdua.
