18. About Your Dream

Setelah dua hari terlarut dalam tidur panjangnya, akhirnya Hendery kembali membuka mata. Saat anak kecil itu tersadar orang pertama yang ia lihat adalah Ten yang menggenggam erat jemarinya. Hendery berucap lirih dari balik masker oksigennya, menggerakkan jemari kecilnya dan meminta Johnny mendekatinya. Johnny hampir menangis pagi itu, setelah beberapa hari lalu hampir kehilangan harapan akhirnya seberkas cahaya kembali datang dalam hidupnya. Hendery berucap lemah, memanggil Johnny seperti biasa dan menggenggam erat jemari sang ayah seperti yang biasa ia lakukan. Johnny tersenyum teduh dan mengelus lembut surai hitam Hendery, mengecupnya berkali-kali dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar semua doa-doa panjangnya.

Kun Kembali datang untuk mengecek Hendery seperti yang biasa ia lakukan. Pria tampan itu nampak tersenyum saat mendapati pasien kecilnya kembali terbangun. Menunjukkan mata bulat berbinarnya yang entah sejak kapan jadi hal yang paling Kun sukai saat ini. Ia melepas perlahan masker oksigen yang Hendery kenakan, mulanya si kecil nampak tidak nyaman. Berusaha menggapai udara yang bahkan tak bisa dilihat dan Kun bergegas memasangkan nasal cannula ke hidung bangir pasien kecilnya.

"Dery tidak boleh kemana-mana dulu ya, cukup disini." Ucap Kun, ia baru saja selesai memeriksa Hendery dengan stetoskopnya dan dibalas anggukan dari Hendery pagi itu. Kun tersenyum dan bergegas keluar dari ruangan Hendery setelah sebelumnya berpamitan pada Johnny dan Ten yang masih berada disana. Ten bahkan masih terlihat canggung setelah insiden pernyataan cinta Kun yang tiba-tiba beberapa hari lalu.

"Dad- dy…." Lirih Hendery.

"Iya. Dery butuh sesuatu?" Tanya Johnny yang berada disampingnya.

"Mi- num…." Ucap Hendery. Johnny tersenyum dan bergegas mengambilkan sebotol air mineral yang telah ia beri sedotan sebelumnya. Membiarkan si kecil membasahi tenggorokannya setelah berhari-hari terlarut dalam tidur panjangnya.

"Sudah?" Tanya Johnny saat Hendery melepaskan sedotan miliknya. Hendery hanya mengangguk dan sedikit menggerakkan tubuhnya. Pasti kabel-kabel yang menempel di dada sempitnya amat mengganggu, pikir Johnny.

Ten yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ayah dan anak itu akhirnya memutuskan untuk berpamitan. Masih banyak pasien yang harus ia kunjungi pagi itu, lagipula Hendery terlihat masih lemas dan butuh banyak istirahat. Kepergian Ten digantikan dengan kehadiran Taeyong dan Jaehyun yang baru saja tiba di ambang pintu. Taeyong yang melihat Hendery telah terbangun terlihat amat senang. Netra indahnya terlihat berkaca-kaca dan dengan jemari kecilnya Hendery menghapus air mata yang nampak mengalir dari netra indah wanita cantik yang sudah ia anggap sebagai eomma nya sendiri.

"Eom- ma ul- jima…." Lirih Hendery. Taeyong menggenggam erat jemari Hendery dan menciumnya dengan sayang. Adegan menyentuh Taeyong dan Hendery disaksikan langsung oleh dua pria dewasa yang berada tak jauh dari mereka berdua. Jaehyun nampak tersenyum lembut, ia jelas tahu bagaimana gusarnya Taeyong selama berhari-hari karena Hendery yang tak kunjung terbangun dari tidur panjangnya. Atau bagaimana Mark yang menangis semalaman saat tahu Hendery kembali menginap di rumah sakit. Dan hari ini pria berlesung pipi itu lebih bersyukur karena Johnny kembali mendapat kekuatannya setelah sempat terpuruk dan kehilangan arah selama dua hari lamanya.

"Yuta bilang ia akan kembali menetap di Korea." Ucap Jaehyun tiba-tiba.

"Jinjja?" Tanya Johnny.

"Hum. Semalam Winwin menghubungi Taeyong dan meminta rekomendasi sekolah yang bagus di Seoul." Balas Jaehyun.

"Ah Xiaojun seusia Mark dan Hendery. Adiknya siapa namanya? Aku lupa." Ucap Johnny.

"Adiknya Jaemin, ia seusia dengan Jeno." Ucap Jaehyun.

"Rasanya sudah sangat lama tidak bertemu dengan pria Jepang itu." Monolog Johnny.

"Kau benar. Bukankah terakhir kita bertemu dengan Yuta saat Xiaojun masih bayi. Kita bahkan belum tahu wajah Jaemin selain dari foto yang Yuta kirimkan selama ini." Ucap Jaehyun.

"Kau tak pergi bekerja?" Tanya Johnny pada sahabatnya itu.

"Apa kau lupa jika aku pemilik perusahaannya." Balas Jaehyun, ia sedikit menyombongkan diri sekalipun tahu jika Johnny bahkan jauh lebih kaya darinya. Johnny hanya terkekeh mendengar jawaban sahabatnya itu.

"John, Dery memanggilmu." Ucap Taeyong yang berhasil membuyarkan lamunan Johnny. Johnny mendekat ke arah Hendery dan mendapati anaknya yang nampak mengerucutkan bibirnya.

"Mau pipis…." Ucap Hendery.

"Pipis saja, disitu." Ucap Johnny, ia jelas ingat jika Hendery menggunakan pampers sejak tadi pagi karena Kun masih membatasi pergerakannya.

"Tidak mau. Dery sudah besar kenapa harus pake pampers, Jeno saja sudah tidak pakai." Ucap Hendery, ia mulai komplain kepada Johnny. Tayeong tersenyum dan mulai mencoba menenangkan Hendery setelah sadar jika Johnny terlihat cukup pusing untuk memberikan jawaban yang tepat pada anaknya.

"Tidak apa-apa, Dery kan sedang sakit. Eomma janji akan jaga rahasia. Sebentar lagi pasti dokter Kun kemari, jadi Dery bisa lepas pampersnya. Sekarang pipis disitu dulu ya, tidak apa-apa." Ucap Taeyong. Hendery hanya mengangguk dan mencebikkan bibirnya.

"Sudah?" Tanya Taeyong. Hendery terlihat kembali mengangguk sebagai jawaban.

Hendery menghabiskan hari itu bersama dengan Taeyong yang setia menemaninya, berterima kasihlah pada ibu mertuanya yang membiarkan Mark dan Jeno menginap sejak beberapa hari lalu. Sesuai dengan perkataan Taeyong siang tadi, tepat sore hari Kun kembali datang ke ruang rawat Hendery. Pria itu melepas semua kabel EKG yang menempel di dada sempit Hendery sehingga si kecil bisa bergerak dengan bebas. Hendery juga merengek untuk melepas pampersnya, awalnya Kun menolak supaya sedikit membatasi pergerakan Hendery namun berakhir dengan Hendery yang menangis keras dan mau tak mau Kun harus menuruti keinginan pasien kecilnya itu.

"Dery ayo habiskan dulu makanannya." Ucap Taeyong, ia tengah sibuk menyuapi Hendery makanan sore itu namun si kecil hanya menggeleng seraya mengerucutkan bibirnya.

"Tidak mau." Ucap Hendery.

"Kenapa begitu? Tadi kan dokter Kun bilang pada Dery harus habiskan makanannya." Ucap Taeyong masih berusaha membujuk Hendery menghabiskan makanannya.

"Dery mau pulang. Disini tidak enak eomma." Ucap Hendery.

"Kalau sudah sembuh pasti Dery boleh pulang, sekarang Dery menginap dulu disini ya." Bujuk Taeyong.

"Dery rindu Yixing ssaem, rindu Mark dan San juga, Jeno juga." Ucap anak itu polos.

"Dery habiskan dulu makanannya. Eomma janji besok Mark dan San akan datang kesini." Ucap Taeyong.

"Janji?" Balas Hendery.

"Hum. Janji, sekarang habiskan dulu makanannya." Ucap Taeyong.

Taeyong tersenyum saat Hendery berhasil menghabiskan makannya. Sore itu ia tengah menunggu kedatangan Johnny yang harus mengambil barang-barang Hendery beberapa menit yang lalu. Taeyong harus segera pulang karena ia dan Jaehyun berencana menjemput Mark dan Jeno setelah sekian lama menginap di rumah orang tua Jaehyun.

"Eomma…." Ucap Hendery seraya menarik kecil lengan baju Tayeong.

"Hum." Jawab Taeyong.

"Semalam saat Dery tidur, Dery bertemu dengan mama di mimpi." Ucap anak kecil itu polos. Taeyong nampak tertegun mendengar perkataan Hendery dan mengelus lembut pipi putih Hendery.

"Jinjja? Dery senang bertemu mama? Mamanya Dery terlihat seperti apa?" Tanya Taeyong.

"Hum. Dery senang sekali, mama sangat cantik eomma, Dery bermain seharian dengan mama. Semalam mama bilang daddy sudah menunggu Dery dan suruh Dery pulang." Ucap anak kecil itu polos. Taeyong hanya terdiam, netra indahnya nampak berkaca-kaca. Bukankah dari mimpi singkat itu artinya Irene belum mau Hendery pergi bersamanya, pikir wanita itu. Taeyong merengkuh tubuh kurus Hendery dan memeluknya erat, mengelus lembut punggung sempit anak kecil itu dan menghirup aroma tubuhnya yang khas.

"Dery janji jangan tinggalkan eomma ya?" Ucap Taeyong, suaranya mulai terdengar parau sore itu.

"Janji. Dery sayang eomma." Balas anak kecil itu dan mulai membalas pelukan hangat Taeyong.

Kegiatan Taeyong dan Hendery terhenti akibat Johnny yang datang tiba-tiba dan berdehem pelan. Ia terlihat menyeret koper kecil berisi pakaian Hendery, dan jangan lupakan beberapa buah-buahan yang sempat ia beli sebelum datang mengunjungi anaknya.

"Eomma pulang dulu ya, besok eomma akan datang lagi bersama Mark." Ucap Taeyong. Hendery mengangguk semangat dan membiarkan Taeyong keluar dari ruangannya.

Johnny mengantar Taeyong sampai ke pintu depan ruang rawat Hendery, pria itu merasa ada yang aneh dengan Taeyong karena wanita cantik itu hanya terdiam, padahal sebelumnya selalu banyak bicara. Dan saat menatap lekat wajah cantik dari istri sahabatnya itu, Johnny sadar jika di wajah putih Taeyong nampak jejak air mata dan jangan lupakan netra indahnya yang terlihat memerah.

"Kau menangis?" Tanya Johnny. Tayeong buru-buru menghapus air matanya dan menghindari tatapan mematikan Johnny sore itu.

"Ah tidak." Ucap Taeyong. Johnny sadar jika wanita disampingnya itu tengah berbohong, terdengar dari suara paraunya dan matanya yang terus menghindar seolah tak ingin bertemu tatap dengan netra tajam miliknya.

"Terima kasih sudah membantuku menjaga Dery." Ucap Johnny.

"Jangan begitu, besok aku akan datang lagi, Mark bilang ia sangat merindukan Dery. Annyeong John aku pergi dulu." Pamit Taeyong. Bersamaan dengan itu Johnny memilih untuk kembali masuk ke ruang rawat anaknya dan mendapati Hendery yang tengah terduduk seraya mewarnai buku gambar miliknya. Johnny tersenyum dan bergegas menghampiri anaknya, Hendery terlihat begitu senang saat melihat siapa yang ada di hadapannya, ia melupakan buku gambarnya dan memeluk Johnny erat-erat.

"Semalam Dery bermain dengan mama, dad." Ucap anak itu tiba-tiba, Johnny nampak terkejut dan menatap lekat mata bulat Hendery yang terlihat berbinar.

"Dery suka berlama-lama dengan mama, tapi mama bilang Dery harus pulang karena daddy sedang menunggu Dery di rumah." Ucap anak itu lagi. Johnny berdiam cukup lama, apa ini yang membuat Taeyong berkaca-kaca beberapa menit lalu. Apa Irene sudah sangat merindukan anak mereka dan ingin membawa Hendery pergi darinya. Sore itu Johnny mendekap Hendery erat-erat dan mendengar semua cerita indah yang keluar dari mulut anaknya, menanggapinya dengan senyuman dan kekehan meskipun dalam hatinya mulai timbul banyak pertanyaan tentang rasa ketakutan terbesar jika Hendery benar-benar meninggalkannya.