19. On the Way to Airport

Berminggu-minggu sudah Hendery menghabiskan waktunya di rumah sakit. Tim dokter benar-benar memantau perkembangan kesehatan Hendery. Anak kecil itu sesekali mengeluh ada rasa sesak di dadanya dan itu cukup membuat panic orang yang ada di sekitarnya. Hendery nampak tengah terduduk di ranjang rawatnya, ia merasa kecewa karena hujan turun dengan lebatnya. Biasanya anak kecil itu akan menghabiskan waktu di taman rumah sakit atau sekedar pergi ke arena bermain anak bersama Ten yang menemaninya. Namun Ten tak kunjung menampakkan diri sejak tadi dan itu berhasil membuat mood Hendery sedikit terganggu.

Kun masuk ke ruang rawat Hendery dengan seorang dokter tampan yang terlihat tinggi menjulang dengan kacamata yang membingkai wajah tampannya. Baik Handery dan Johnny sudah tidak asing dengan dokter tersebut itu dokter Chanyeol, salah satu dokter spesialis jantung yang akan menggantikan Kun selama pria itu pergi ke Amerika bertahun-tahun lamanya. Dan sejak seminggu yang lalu Chanyeol mulai mengunjungi Hendery untuk sekedar memeriksa keadaan pasien kecilnya itu. Sama seperti Kun, kehadiran Chanyeol juga mudah diterima oleh Hendery, anak itu terlihat cukup senang terlebih Chanyeol merupakan salah satu dokter dengan selera humor yang baik sehingga tak jarrah Hendery akan tertawa disetiap sesi pemeriksaan.

Chanyeol mulai memeriksa pasien kecilnya dan terlihat berbincang dengan Kun yang ada di sebelahnya. Hendery nampak menatap dua pria dewasa itu dengan ekspresi yang lucu dan berhasil membuat Johnny yang duduk disebelahnya mengacak rambut anaknya karena gemas.

"Samchon hanya bicara berdua dad, padahal Dery disini." Ucap anak kecil itu polos. Chanyeol dan Kun terkekeh mendengar perkataan pasien kecil mereka hari itu.

"Jadi Dery mau diajak bicara juga?" Tanya Chanyeol.

"Hum. Dery sedih karena tak bisa ke taman." Ucap anak kecil itu.

"Ah di luar hujan ya, Dery disini saja. Tahu tidak saat hujan itu lebih baik pergi tidur." Ucap Chanyeol.

"Tapi Dery sudah banyak tidur, Dery tak mau berubah jadi sapi." Ucap anak kecil itu polos. Kun dan Chanyeol saling berpandangan, berbeda dengan Johnny yang terlihat tersenyum canggung hari itu. Tentu saja Hendery belajar hal seperti itu dari buku bacaannya, benar-benar menggemaskan, pikir Johnny.

Chanyeol keluar lebih dulu dari ruang rawat Hendery karena harus mengunjungi pasiennya yang lain, berbeda dengan Kun, ia terlihat tengah berbincang dengan Johnny yang nampak duduk di sofa seraya sesekali menatap Hendery yang tengah menyantap potongan buah-buahan yang Johnny sajikan beberapa menit lalu.

"Kau benar-benar akan pergi?" Tanya Johnny pada Kun.

"Hum, bisa dibilang ini hari terakhirku disini." Balas Kun.

"Berapa lama?" Tanya Johnny.

"Mungkin tiga atau empat tahun." Ucap Kun.

Baik Hendery ataupun Johnny sudah mendengar kabar jika Kun akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya. Awalnya Kun sempat kesulitan saat mengatakan pada Hendery jika ia akan memiliki dokter baru, namun beruntungnya lama-kelamaan bocah kecil itu mulai bisa menerima kehadiran Chanyeol di sekitarnya seperti hari ini. Berkat perkenalan mereka sejak beberapa bulan lalu juga membuat Johnny dan Kun cukup dekat, tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama dan berbincang untuk membahas urusan para pria. Dari sekian lama pertemanan mereka ada satu hal yang belum sempat Kun tanyakan pada Johnny, tentang bagaimana perasaan pria tinggi itu pada Ten, wanita yang juga dicintai dengan segenap hatinya.

Bicara soal Ten, wanita itu tak pernah lagi menghubungi Kun sejak beberapa bulan lalu. Tepatnya setelah pernyataan cintanya yang tiba-tiba pada wanita itu. Dan hari ini Kun kembali terpikir sepertinya ada yang hancur dari persahabatan mereka sejak kejadian hari itu. Kun memutuskan untuk undur diri dari ruangan Hendery setelah sebelumnya memberikan anak kecil itu sedikit hadiah yang berhasil membuatnya berbinar cerah.

Kun berjalan memasuki ruangannya, ruangan itu hampir kosong karena barang-barangnya telah ia bawa pulang beberapa hari yang lalu. Yang tersisa hanya seperangkat komputer dan ranjang pasien yang memang semestinya berada disana. Sepertinya ruangan itu tengah menanti siapa pemilik barunya. Kun duduk di kursinya dan nampak bermain dengan ponselnya, ia terlihat mulai mengetikkan sesuatu disana. Ia mengirim pesan pada Ten, mengatakan jika esok adalah hari keberangkatannya ke Amerika, dan Kun berharap ia bisa bertemu dengan Ten sebelum waktu keberangkatannya. Kun termenung cukup lama di ruangannya sesekali ia menatap ke arah jendela yang dihiasi dengan aliran air hujan yang menambah kesan sendu hari itu. Setelah cukup lama berdiam di ruangannya Kun memilih untuk pulang ke rumah dan bersiap untuk keberangkatannya esok hari.

Ten tengah membantu ibunya di dapur saat ponselnya tiba-tiba saja bordering. Hari ini ia tak memiliki jadwal ke rumah sakit, jadi Ten bisa menghabiskan sepanjang waktu di rumah. Bahkan wanita mungil itu mulai belajar memasak, jujur saja itu salah satu keajaiban yang membuat nyonya Lee terheran-heran. Ten meraih ponselnya dan melihat notifikasi yang tertera di sana. Ada sebuah pesan masuk, itu dari Kun sahabatnya. Ten pamit undur diri dari dapur dan bergegas memasuki kamarnya. Bicara soal Kun ia tak lagi bicara padanya sejak insiden beberapa waktu lalu. Ten sama sekali tak membenci Kun, hanya saja ada perasaan mengganjal di hatinya yang tidak bisa ia jelaskan. Ten sadar jika Kun adalah teman terbaiknya dalam segala hal, tapi Ten belum sanggup untuk menjadikan Kun sebagai teman hidupnya. Ten menyayangi Kun sebagai sahabat dan tak lebih dari itu. Ten memandang ke arah pepohonan yang dibasahi oleh air hujan akibat langit yang menangis beberapa menit lalu. Ia menghela napas panjang, mungkin ada baiknya jika ia mengatakan yang sejujurnya pada Kun tentang perasaannya da nisi hatinya. Lagipula Ten tak ingin kehilangan sahabat sebaik Kun, yang telah menemaninya bertahun-tahun lamanya. Dan hari itu Ten memutuskan untuk membalas pesan Kun, setelah membuat pria tampan itu menunggu cukup lama.

Kun baru sempat membuka kembali ponselnya di malam hari setelah sebelumnya sibuk dengan barang bawaannya. Saat melihat ponselnya Kun mendapati notifikasi yang terpampang di sana. Ada sebuah pesan dari Ten, seulas senyuman tampak terlihat di wajah tampan Kun. Ia kembali membalas pesan Ten, setelahnya ia memutuskan untuk pergi tidur karena tak ingin terlambat untuk penerbangan esok hari.

Hari ini Ten datang ke rumah sakit untuk melakukan pekerjaannya, ia baru saja memeriksa beberapa pasien kecilnya dan berniat untuk menemui Kun yang telah lama tidak ia kunjungi. Ten bergegas membuka pintu ruangan Kun namun saat sampai disana Ten tidak mendapati keberadaan Kun, jangan lupakan ruangan yang terlihat kosong dan hanya menyisakan seperangkat komputer serta ranjang pasien di dalamnya. Ten mengernyit heran, apa Kun secepat itu menyiapkan kepindahannya, pikirnya.

"Kau sedang apa?" Ucap Chanyeol saat melihat Ten yang berdiri di ambang pintu ruangan Kun.

"Mencari Kun." Jawab Ten singkat.

"Kau tidak tahu? Hari ini Kun berangkat ke Amerika." Ucap dokter tampan itu. Mata sipit Ten membulat sempurna sata mendengar perkataan Chanyeol, jadi kemarin Kun mengabarinya untuk ini, pikirnya.

"Sunbaenim tidak sedang bercanda kan?" Tanya Ten penuh selidik.

"Untuk apa aku bercanda Ten, bahkan ia telah membagi pasiennya pada dokter-dokter lain yang ada di divisi kami." Jelas Chanyeol.

"Aku permisi dulu sunbae." Ucap Ten ia melenggang pergi meninggalkan Chanyeol yang terlihat keheranan siang itu.

"Benar-benar wanita yang aneh." Monolog Chanyeol sebelum melanjutkan langkah besarnya.

Ten bergegas ke ruangannya, melepas snelli putihnya dan menyambar tas yang tergeletak di atas meja. Ia berjalan cukup cepat, bahkan terlihat seperti berlari tanpa peduli dengan tatapan setiap orang yang melihatnya keheranan. Ten memasuki mobilnya dan mencoba menghubungi Kun berkali-kali. Percobaan pertama dan kedua tidak berhasil, pria tampan itu tidak menjawab panggilan Ten sama sekali.

"Yeoboseyo…." Ucap Kun saat Ten mendial nomernya untuk yang ketiga kalinya.

"Yak! Kenapa tidak bilang kalau pergi hari ini." Teriak Ten.

"Bisa pelankan suaramu, kau hampir membunuhku." Ucap Kun.

"Tidak perlu banyak bicara. Kau dimana?" Tanya Ten.

"Di bandara." Jelas Kun.

"Tunggu disana, aku dalam perjalanan ke bandara." Ucap Ten sebelum benar-benar mengakhiri panggilannya.

Ten berlari cukup kencang dan berhasil menarik perhatian banyak orang di bandara, sebagian dari mereka terlihat terkagum-kagum melihat seorang wanita berlari dengan high heels miliknya, sebagian lagi menoleh karena keributan yang ditimbulkan. Ten tersenyum lega saat mendapati Kun tengah duduk di kursi tunggu dengan dua koper besar yang ada di hadapannya. Ten menormalkan nafasnya yang terlihat terengah-engah saat baru saja sampai di hadapan Kun, ia menyeret Kun untuk sedikit menjauh dari kerumunan siang itu. Kun terlihat kebingungan tentang Ten yang tiba-tiba berada di hadapannya dan Ten yang menariknya menjauh dari orang-orang.

"Kenapa tidak bilang jika kau pergi sekarang." Ucap Ten lirih.

"Aku lupa. Semalam seharusnya aku memberitahumu, tapi malah tertidur." Jelas Kun seraya menggaruk belakang kepalanya.

"Benar-benar. Kau membuatku terlihat seperti sahabat yang buruk." Ucap Ten, manik indahnya mulai berkaca-kaca.

"Siapa yang bilang begitu? Ya walaupun kau bodoh tapi kau tidak seburuk itu." ucap Kun seraya bercanda.

"Maaf." Cicit Ten.

"Untuk?" Tanya Kun, sebenarnya ia sudah bisa menebak maksud dari permintaan maaf Ten, namun apa salahnya mengerjai sahabatnya itu sebentar saja.

"Aku- aku-"

"Kau kenapa?" Tanya Kun, ia bahkan menyela ucapan Ten yang terlihat begitu gugup berada di hadapannya.

"Aku tak bisa membalas perasaanmu." Ucap Ten pelan.

"Tak masalah. Benar yang kau katakan, lebih baik kita tetap bersahabat." Ucap Kun seraya tersenyum.

"Kau semakin membuatku terlihat seperti orang jahat." Ucap Ten dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Tak ada yang jahat disini Ten. Aku paham jika perasaan itu tak pernah bisa dipaksakan. Lagipula sudah ada orang lain di hatimu kan?" Tanya Kun seraya terkekeh. Ten hanya terdiam, ia terlihat menunduk dan sibuk menatap lantai bandara yang tengah ia pijak.

"Johnny kan? Daddy nya Dery? Aku lega jika orang itu dia, setidaknya kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku." Ucap Kun, ia mulai mengelus lembut surai hitam Ten siang itu. Ten mulai mendongak dan menatap lekat wajah sahabatnya yang terlihat tersenyum teduh.

"Kau juga pantas mendapatkan yang lebih baik dariku Kun." Ucap Ten.

"Tentu saja." Balas Kun seraya tertawa.

"Boleh aku memelukmu?" Tanya Ten ragu-ragu. Kun merentangkan tangannya dan membiarkan Ten memeluknya, setidaknya sebagai hadiah sebelum keberangkatannya ke Amerika.

"Jangan berbuat yang aneh-aneh disana. Kau harus rajin belajar, tetap jaga kesehatan, dan cepat kembali." Ucap Ten saat mereka tengah berpelukan. Kun hanya terkekeh kala mendengar perkataan sahabatnya itu, ia membalas pelukan Ten dan mengelus lembut punggung sempit sahabat wanitanya.

"Ini untukmu." Ten menyodorkan kotak panjang berwarna putih yang telah ia ikat dengan pita berwarna biru di hadapan Kun. Dengan ragu Kun menggapai kotak tersebut dan membukanya, ia tersenyum kala mendapati pulpen berwarna hitam dengan ukiran namanya di atasnya.

"Aku terima hadiahnya, terima kasih." Ucap Kun. Ia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah waktunya ia menuju pesawat.

"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik dan yang terpenting jangan lupa kabari aku jika ada kabar baik tentang kau dan Johnny." Ucap Kun.

"Yak! Masih saja meledek." Ucap Ten sedikit berteriak.

"Sudah ya, annyeong Ten. Jaga dirimu baik-baik." Kun mulai menjauh dan melambaikan tangannya, Ten balas melambai pada Kun sampai pria tampan itu benar-benar menghilang dari pandangannya.

Mungkin sebagian orang akan berpikir jika Kun pergi dengan perasaan yang amat menyesakkan dada, namun kenyataannya ia pergi dengan perasaan yang begitu lega setelah mendengar semua jawaban Ten tentang perasaannya. Katanya level tertinggi mencintai seseorang adalah saat kita mulai ikhlas memilih untuk melepaskan, bukannya tak ingin berjuang, hanya saja kita tahu sekalipun diperjuangkan sekeras apapun tak akan mengubah apa-apa. Dan itulah yang sekarang tengah Kun lakukan. Melepaskan Ten dari hidupnya dan berharap wanita mungil itu selalu bahagia dengan pilihannya.