20. Story About Us
Ten dan Johnny pertama kali bertemu saat insiden Hendery yang menolak disuntik beberapa bulan lalu. Ten yang mudah menempel pada anak-anak mulanya terkejut melihat Hendery yang merengek padanya dan terlihat begitu nyaman dalam dekapannya. Sejak saat itu dokter wanita dan pasien kecil itu semakin akrab. Hendery yang manja terkadang akan mencari keberadaan Ten jika dokter wanita itu tak mengunjunginya. Begitu pula Ten, ia akan selalu menyempatkan diri menemani Hendery semampunya.
Dari pertemuan singkatnya dengan Hendery, Ten tersadar jika anak kecil dengan mata bulat yang berbinar itu selalu ditemani seorang pria dewasa yang kerap kali ia panggil "daddy" namun Ten cukup heran karena Hendery tak pernah sekalipun mengucap kata "mama". Rasa penasaran Ten terobati saat Hendery melakukan operasi untuk pertama kalinya, malam itu ia berbincang banyak tentang Hendery, dan dari situ Ten paham jika si kecil belum pernah melihat sang mama secara langsung karena wanita itu telah lama meninggal dunia. Pantas saja Hendery kerap kali bermanja padanya atau pada wanita cantik yang ia panggil eomma.
Sejak kejadian malam itu, rasa sayang Ten terhadap Hendery kian bertumbuh. Bahkan Ten kerap kali mengajak Hendery bermain bersama. Sebenarnya Ten cukup bingung, bagaimana ia bisa begitu mudahnya menyayangi Hendery, memang ia tipe wanita yang mudah menyukai anak-anak namun entah mengapa rasa sayangnya pada Hendery terasa berbeda, seolah ada sesuatu di hatinya yang tak membiarkan Hendery pergi jauh darinya. Bahkan saat Hendery mengeluh dadanya sakit dan nafasnya terengah hingga membuatnya sedikit berontak berhasil membuat Ten ikut menangis. Seolah tak tega saat membiarkan anak manis itu merasakan sakit yang amat menyiksa.
Pertemanan Ten dan Hendery tentu saja berbuah kedekatan antara Ten dan Johnny. Pria dan wanita itu mulai bertukar nomor ponsel, mulanya Johnny meminta nomor ponsel Ten untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Hendery merindukannya. Ten tentu saja setuju, lagi pula ia pasti akan sangat merindukan anak kecil itu setelah ia meninggalkan rumah sakit. Awalnya semuanya berjalan lancar, namun Ten merasa ada yang aneh antara hubungannya dengan Johnny. Niat awalnya mereka bertukar nomor ponsel untuk Hendery namun pada kenyataannya mereka berdua kerap kali bertelepon ria hanya untuk menanyakan kabar satu sama lain, saling bercakap tentang lelahnya hari yang mereka lalui, dan saling menyemangati satu sama lain. Ten masih menganggap semuanya normal, lagi pula ia memiliki banyak teman pria, tentu saja bukan masalah baginya jika harus bertelepon ria dengan Johnny.
Ten terlihat begitu antusias tiap kali mendapat perkembangan Hendery yang Johnny kirimkan. Ia bahkan bercerita pada ayah dan ibunya tentang pasien kecilnya itu. Nyonya Lee sedikit heran, ia paham jika sang anak adalah dokter spesialis anak, namun ini pertama kalinya Ten bercerita tentang seorang anak kecil, dan yang lebih mengejutkan lagi anak itu bukanlah pasiennya. Nyonya Lee nampak tersenyum cerah saat mendengar cerita Ten tentang pertemuan pertamanya dengan anak kecil yang bernama Hendery.
"Eomma tak masalah jika kau menikah dengan duda." Ucap nyonya Lee tiba-tiba. Ten hanya terkekeh dan kembali menikmati acara televisi yang tersaji di hadapannya.
"Kurasa tidak mungkin aku menikah dengannya." Ucap Ten kala itu karena ia menganggap Johnny sama seperti Kun, hanya sahabat dan teman bercerita, tak lebih dari itu.
Di siang hari yang cerah Ten cukup terkejut karena Johnny tiba-tiba saja menghubunginya, menanyakan kabarnya dan pada akhirnya berkata jika Hendery merindukannya. Ten tersenyum cerah, sudah lama juga ia tak menemui Hendery, jadi ia memutuskan untuk datang ke rumah Johnny dan memberi sedikit kejutan untuk Hendery. Hari itu nyonya Lee semakin menggoda putri bungsunya, pasalnya Ten bukan tipe wanita yang mau repot-repot pergi ke kediaman seorang pria apalagi alasannya hanya karena seorang anak kecil merindukannya. Bahkan saat ia kuliah dulu, wanita itu sangat sering memaksa Kun untuk datang ke rumahnya jika hendak mengerjakan tugas, meneror Kun dengan berpuluh-puluh pesan dan panggilan sampai akhirnya pria tampan itu datang ke rumahnya. Dan sejak saat itu nyonya Lee menyadari jika putrinya sedang jatuh cinta sekalipun wanita itu belum menyadarinya.
Ten tersenyum cerah saat bertemu dengan Hendery namun ia sedikit khawatir saat mendapati si kecil demam, dengan sigap Ten merawat Hendery yang terlihat tidak nyaman dalam tidurnya hari itu. Menghabiskan sepanjang hari di kediaman Johnny membuat Ten semakin mengerti tentang kehidupan pria itu. Tentang Johnny yang harus membagi waktunya sebaik mungkin antara pekerjaan dan mengurus Hendery yang membutuhkan perhatian lebih saat ini. Tanpa sadar Ten tersenyum dalam lamunannya, entah mengapa tiba-tiba ia merasa rasa kekagumannya terhadap pria satu anak itu kian bertambah.
Di suatu kesempatan, Ten pernah menemani Hendery tidur siang. Mereka bercerita tentang banyak hal dan tiba-tiba saja Hendery menanyakan pertanyaan yang cukup membuat Ten tercekat.
"Imo sayang daddy tidak?" Kira-kira begitulah perkataan anak kecil berkulit putih itu. Ten hanya tersenyum dan tak berniat menjawab pertanyaan Hendery. Berusaha mengingkari hatinya yang saat ini tengah bergejolak hebat akibat pertanyaan anak kecil itu.
Untuk pertama kalinya Ten mengajak sepasang ayah dan anak itu berkunjung ke restoran keluarganya, mencicipi segala hidangan yang ada disana sekaligus menuntaskan rasa lapar mereka setelah seharian berkeliling di sepanjang jalan Myeongdong. Nyonya Lee nampak tersenyum cerah saat mendapati siapa yang ada di hadapannya. Ia memuji habis-habisan Hendery dan Johnny siang itu, sedangkan Ten yang berada di dekatnya hanya terdiam. Ibunya bukan orang yang mudah melontarkan pujian pada orang lain, namun pada Johnny dan Hendery seolah kata-kata tersebut keluar dengan mudah dari mulut sang ibu.
Ten merasa semakin banyak keanehan dalam keluarganya semenjak Johnny dan Hendery datang dalam hidupnya. Pagi itu ia melihat sang ayah yang tengah mengobrol santai dengan Johnny di ruang keluarga, mungkin hal itu terlihat biasa bagi sebagian orang, namun bagi Ten dan keluarganya melihat sang ayah terlihat talkative dengan orang lain adalah peristiwa langkah yang harus diabadikan. Dan yang membuat Ten semakin bingung mengapa harus Johnny orangnya, orang yang sama yang jadi alasan dari senyuman baru yang muncul di wajah ayah dan ibunya.
Hendery dititipkan sementara di rumah keluarga Lee karena Johnny yang harus pergi ke luar kota. Ten membaca pesan dari Johnny tentang bagaimana ia harus bersikap pada Hendery. Ten tersenyum kala membacanya, ia juga merasa hatinya kian menghangat. Hanya lewat pesan singkat itu Ten bisa mengerti betapa Johnny sangat menyayangi sang putra, seolah Hendery adalah harta berharga yang ia punya di dunia.
Ten bukanlah wanita yang hobi berbelanja, dan hari ini ia mendapat tas baru pemberian dari Johnny sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga Hendery tiga hari lamanya. Ten menerima dengan senang hati dan sejak saat itu ia menjadikan tas hitam pemberian Johnny sebagai tas favoritnya, memakainya kemana-mana bahkan sampai pergi bekerja. Ten selalu berharap kebahagiaan akan melingkupi Johnny dan Hendery sepanjang langkah mereka. Namun nyatanya hari ini Ten melihat Johnny yang menangis deras, Ten merengkuh tubuh tegap itu dan membawanya dalam pelukannya, membiarkan Johnny menumpahkan kesedihannya malam itu. Malam itu Ten ikut merasakan beban Johnny, tentang orang tua yang amat takut kehilangan anaknya.
Malam itu tiba-tiba saja perkataan yang tak pernah Ten duga keluar dari mulut Johnny. Ten jelas mendengarnya, tentang pria itu yang seolah mengajaknya untuk menjadi pengganti dari mama Hendery yang telah lama pergi meninggalkan mereka. Ten terdiam, namun tak lama setelahnya Johnny berucap kikuk dan meminta Ten menganggap ucapannya sebagai angin lalu. Dan malam itu, setelah melewati hari yang panjang, Johnny bercerita tentang banyak hal, tentang dirinya dan tentang Hendery yang menjadi harta berharga untuknya.
Hendery yang dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu mau tak mau membuat pertemuan antara dua insan itu semakin sering terjadi. Bahkan Ten dan Johnny terlihat sering bercanda dan melempar ledekan satu sama lain. Mereka berdua juga tak jarang menghabiskan waktu di cafetaria rumah sakit, untuk sekedar menghibur diri setelah banyaknya aktivitas yang telah mereka lalui.
Setelah pertemanan panjang mereka Ten merasa ia menyimpan perasaan lebih untuk Johnny. Lebih dari seorang dokter yang peduli pada orang tua pasiennya, jelas apa yang Ten rasakan jauh berbeda. Namun banyak hal yang Ten takutkan, tentang Johnny yang tak memiliki rasa yang sama untuknya, atau tentang Hendery yang menolak kehadiran Ten dalam hidupnya setelah semua hal indah yang mereka lalui bersama.
