21. About a Man's Feeling
Namanya Johnny, pria tampan yang memutuskan untuk menikah di usia yang cukup muda. Menikah dengan wanita yang ia cintai dan idam-idamkan sejak lama adalah keinginan terbesar Johnny. Dan Tuhan seolah mendengar segala doa nya, mengizinkannya bersanding dengan Irene yang telah dicintai sejak lama. Indahnya kehidupan rumah tangga menjadi hal indah yang selalu Johnny dambakan. Menghabiskan waktu bersama dengan Irene adalah hal yang paling Johnny sukai saat itu. Namun Tuhan hanya meminjamkan Irene dalam waktu yang singkat. Irene harus pergi tepat di tahun pertama pernikahan mereka. Johnny yang masih dimabuk cinta merasa dunianya runtuh seketika, merasa bumi berhenti bergerak dan tak tahu harus kemana.
Pria tampan itu terlarut dalam kesedihan sampai akhirnya suara tangisan bayi menyadarkannya, bayi kecil yang berjuang seorang diri di inkubator demi kelangsungan hidupnya. Sejak saat itu Johnny tersadar, ia harus bangkit dari keterpurukan karena ada nyawa lain yang membutuhkannya.
Hendery, bayi kecil yang Irene hadiahkan untuk Johnny hari itu. Bayi kecil yang amat rapuh bahkan membuat Johnny ketakutan untuk menyentuhnya. Ia takut tangan besarnya akan melukai kulit Hendery yang masih memerah. Hendery pulang dari rumah sakit setelah sebulan lamanya tertidur di inkubator, di tahun pertama kehadiran Hendery, Johnny memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya. Meninggalkan sementara rumah lama yang penuh kenangan indah antara ia dan Irene di dalamnya.
Mengurus Hendery sebagai orang tua tunggal cukup memakan banyak waktu Johnny. Pikirannya terpaksa harus terbagi antara Hendery dan kesibukannya. Beruntunglah Johnny memiliki banyak orang baik di sekitarnya, setidaknya sedikit bebannya akan terangkat. Di masa awal pertumbuhan Hendery begitu banyak badai menerjang, namun itu tak bertahan lama karena lama-kelamaan pelangi yang indah mulai menyinari mereka. Saat Hendery berusia tiga tahun untuk pertama kalinya Johnny kembali menginjakkan kakinya di rumah lama mereka. Masih terlihat sama, dengan sentuhan Irene di dalamnya dan terlihat begitu bersih karena Johnny selalu menyewa orang untuk membersihkannya.
Hendery yang mulai cerewet kerap kali bertanya tentang banyak hal. Terlebih saat ia melihat foto Irene yang terpajang di meja nakas kamar mereka.
"Itu siapa dad?" Tanya bocah kecil itu.
"Mama." Ucap Johnny singkat.
Hendery mengerjapkan matanya berkali-kali, ia tak tahu apa itu mama. Yang ia tahu hanya sebatas eomma dan imo atau harabeoji dan halmeoni yang kerap kali menemaninya. Johnny menjelaskan secara perlahan tentang apa itu mama, kemana mama pergi, dan mengapa mama harus pergi lebih dulu meninggalkan mereka. Hendery sama sekali tak menangis, mungkin itu adalah hal yang begitu sulit dipahami untuk anak seusianya.
Hari terus berganti dan manusia kian menua. Tepat di usia Hendery yang keempat tahun ia menangis untuk pertama kalinya saat sadar jika keluarganya tak seperti milik teman-temannya. Dan hari itu Johnny kembali mengulang penjelasannya, Hendery yang menangis dengan hidung yang memerah mulai mengerti jika sang mama telah menjadi salah satu bidadari di atas sana. Sejak saat itu Johnny rutin membawa Hendery mengunjungi rumah abu Irene. Untuk sekedar menyapa atau melepaskan rindu yang dipendam ayah dan anak itu sejak lama.
Hari-hari indah yang Johnny lalui bersama Hendery nyatanya tak bertahan lama. Tepat di usia Hendery yang kedelapan Johnny mendapatkan mimpi buruknya. Hendery yang mengeluh sesak sampai tak sadarkan diri nyatanya membuat Johnny bertambah khawatir, hari itu Hendery divonis memiliki Ventrikel yang lemah. Johnny sedih bukan kepalang, ia merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya, tapi nyatanya Tuhan masih saja mengujinya.
Hari kian berganti dan baik Johnny ataupun Hendery mulai menerima kenyataan yang ada. Dan bersamaan dengan itu Johnny bertemu dengan orang baru dalam hidupnya. Seorang dokter wanita yang sempat menenangkan Hendery yang rewel beberapa hari lalu. Dan setelah sekian lama Johnny merasa ada yang aneh dengan dirinya, tentang jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar kencang kala melihat senyuman indah yang terpatri di wajah cantik lawan bicaranya.
Dari pertemuan singkat mereka, Johnny tahu jika wanita itu bernama Ten. Seorang dokter spesialis anak yang bekerja di rumah sakit tempat Hendery dirawat. Mulanya Johnny cukup heran mengapa Hendery begitu menempel pada wanita itu, nyatanya ada satu hal yang luput dari penglihatan Johnny. Ten adalah sosok wanita lembut yang penuh kasih sayang, tentu saja itulah kesempatan emas Hendery untuk bermanja ria padanya. Mereka mulai bertukar nomor ponsel untuk sekedar bertukar kabar atau mengabarkan pada Ten tentang Hendery yang merindukannya.
Setelah kepergian Irene beberapa tahun silam, Johnny benar-benar menutup hatinya. Baik Jaehyun ataupun Yuta sebagai sahabat telah mengenalkan Johnny pada banyak wanita. Nyatanya tak ada satupun yang berhasil bertahta di hati Johnny. Pernah ada satu wanita yang cukup menarik bagi Johnny, namun nyatanya itu tak bertahan lama. Ia begitu sulit menerima Hendery dan dengan sangat terpaksa Johnny meninggalkannya begitu saja.
Kehadiran Ten dalam hidup Johnny berhasil menimbulkan tanda tanya bagi sebagian orang. Pasalnya Ten dan Johnny banyak melalui hari bersama, terkadang mereka pergi berdua hanya untuk melepas penat setelah banyak hal melelahkan yang mereka lakukan. Jaehyun dan Taeyong yang merupakan teman terdekat Johnny saat itu nampak bertanya-tanya. Sebuah peristiwa langkah saat Johnny dengan mudahnya membuka hatinya untuk seorang wanita. Dan itu cukup membuat mereka berdua gembira. Mungkin ini sudah waktunya bagi Johnny untuk membiarkan orang lain bertahta di hatinya, pikir Taeyong kala itu.
Hari kian berganti dan hari ini Ten berkunjung ke rumah mereka, tujuan utamanya adalah menghabiskan waktu dengan Hendery karena anak kecil itu telah merengek semalaman akibat merindukan imo kesayangannya. Semua rencana indah yang Johnny siapkan hari itu nyatanya harus ia kubur dalam-dalam karena sang anak yang tiba-tiba saja demam. Ten mengurus Hendery penuh kasih sayang, dan wanita itu berhasil membuat Hendery tertidur lelap. Samar-sama dari arah pintu Johnny mendengar ucapan polos anaknya hari itu.
Johnny tersenyum mendengar perkataan Hendery, apakah artinya ia telah mendapatkan lampu hijau dari Hendery untuk memulai hal yang baru, pikirnya. Namun Johnny bukanlah tipe pria yang terlalu gegabah, ia terus melanjutkan pertemanan dengan Ten tanpa tahu akan dibawa kemana hubungan mereka nantinya. Bagi Johnny saat ini hidupnya hanya tentang Hendery, terlebih anak kecil itu tak pernah menyinggung soal mama baru untuknya. Dan Johnny amat khawatir jika keputusannya nanti akan membuat Hendery berontak dan malah berbalik membencinya.
Malam itu dunia Johnny terasa runtuh untuk kedua kalinya, ia hampir saja kehilangan Hendery. Johnny mati-matian menahan tangisnya di ruang tunggu sampai akhirnya seorang wanita menepuk pundaknya dengan lembut, itu Ten. Wanita cantik itu seolah mengerti isi hati Johnny, ia memeluk Johnny erat-erat dan mengusap lembut pundak kokoh pria di hadapannya. Dan malam itu akhirnya tangis Johnny pecah juga, di bahu sempit milik Ten ia menceritakan semua kesedihan dan ketakutannya tentang kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan menghampirinya.
Johnny memilih untuk menenangkan dirinya bersama dengan Ten yang terlihat menemaninya. Mereka berbincang tentang banyak hal malam ini, saling mendengar keluh-kesah dan ketakutan masing-masing tentang kehidupan. Johnny lebih banyak bercerita sedangkan Ten lebih banyak mendengar dan sesekali memberikan solusi dari setiap permasalahan yang Johnny alami. Johnny terlarut dalam setiap perkataan yang Ten lontarkan, nyatanya manusia bisa saling menghibur satu sama lain sekalipun itu tak akan menyelesaikan masalah namun itu bisa membantu hati sedikit lebih tenang, dan itu yang Johnny syukuri tentang keberadaan Ten malam itu. Malam itu Johnny semakin yakin jika Ten adalah wanita yang tepat untuk menemaninya dan Hendery kelak. Namun tetap terbesit ketakutan di hati pria dewasa itu, ia takut Hendery tak bisa menerima kenyataan yang ada atau yang lebih menyakitkan mungkin Ten tak pernah mencintainya. Johnny takut ia akan dikecewakan oleh harapan yang ia buat sendiri.
Pada akhirnya baik Ten dan Johnny tetap menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Melanjutkan hubungan pertemanan mereka dan saling bercanda serta bekerja sama untuk merawat si kecil Hendery yang kian hari terlihat lebih baik dari sebelumnya. Nyatanya dua insan itu tak akan pernah tahu kemana takdir akan membawa mereka Selanjutnya.
