22. Four Leaf Clover

Hari ini keluarga Nakamoto kembali datang ke Korea setelah tujuh tahun penuh menetap di Jepang. Taeyong nampak antusias menyambut kedatangan orang yang telah lama ia rindukan. Wanita cantik itu sejak pagi terlihat sibuk berkutat di dapur dan memasak beberapa makanan. Bahkan Mark sampai terheran-heran melihat ibunya yang sudah terlihat sibuk di pagi-pagi buta. Taeyong nampak tersenyum cerah saat mendapati dua putra kecilnya baru saja sampai di dapur. Jeno terlihat mengucek mata sipitnya dengan tangan gembulnya yang berada di genggaman Mark sejak tadi.

"Eomma, hari ini jadi Mark boleh menemui Dery kan?" Tanya Mark pada Taeyong yang masih terlihat sibuk di dapur.

"Hum. Bagaimana kalau diganti besok saja. Hari ini Xiaojun dan Jaemin datang dari Jepang." Ucap Taeyong berusaha memberikan pengertian pada sang putra.

"Tapi kemarin eomma sudah janji kan? Eomma bilang hari ini Mark boleh kunjungi Dery." Balas anak kecil itu, bibirnya mulai mengerucut dan matanya terlihat berkaca-kaca.

"Mark…. Dengarkan eomma ya, Dery juga harus istirahat disana, kalau Mark ajak main terus Dery bisa sakit." Jelas Taeyong.

"Besok saja ya kita kesana, nanti kita ajak Xiaojun dan Jaemin juga. Dery pasti senang melihat mereka." Timpal Taeyong. Mark hanya mengangguk dan kembali menjauh dari dapur bersama dengan Jeno. Mereka berdua duduk di kursi meja makan dan mulai sibuk memakan buah-buahan yang telah Taeyong siapkan.

"Eomma, Xiaojun itu siapa?" Tanya Mark penasaran.

Taeyong terkekeh, ia hampir lupa jika pertemuan terakhir Xiaojun, Mark, dan Hendery terjadi saat mereka berumur satu tahun. Tentu saja Mark pasti tidak mengingat dengan jelas peristiwa tersebut. Taeyong mulai mendekat ke arah meja makan dan duduk di samping Mark, ia mulai menjelaskan pada kedua anaknya tentang siapa yang akan datang berkunjung hari ini.

"Xiaojun dan Jaemin itu anaknya Yuta samchon dan Winwin imo." Jelas Taeyong. Mark menatap lekat ke arah ibunya, ia nampak memasang pose berpikir, rasanya pernah dengan nama dua orang dewasa itu, pikir Mark.

"Yuta samchon yang pernah kirim mainan untuk Mark?" Tanya anak itu. Taeyong mengangguk semangat dan mengelus lembut surai lebat Mark. Setelahnya Mark hanya ber oh ria dan kembali melanjutkan agendanya menyantap potongan buah.

"Mulai hari ini Xiaojun dan Jaemin akan tinggal di Korea. Nanti Xiaojun akan masuk ke sekolah yang sama dengan Mark." Jelas Taeyong.

"Woah. Ada teman baru." Ucap anak kecil itu.

Setelah menyelesaikan semua masakannya dan membersihkan diri, Taeyong beralih ke akmar anak-anaknya. Memastikan kedua jagoannya telah bersiap untuk menyambut tamu-tamu mereka. Tak lama kemudian tamu yang mereka tunggu telah datang. Mark dan Jeno nampak begitu semangat saat mendapati teman baru datang ke rumah mereka.

"Annyeonghaseyo Mark Jung imnida, ini Jeno adiknya Mark." Ucap anak kecil itu.

"Woah. Mark pintar sekali, ayo Jun kenalkan diri pada samchon dan imo." Ucap Winwin. Xiaojun nampak malu-malu dan bersembunyi dibalik kaki jenjang sang ibu. Iya menatap takut-takut ke arah Mark dan Jeno yang ada di hadapannya.

"Ah masih malu-malu rupanya." Ucap Winwin seraya mengelus surai panjang Xiaojun yang dihiasi bando berwarna putih.

"Ayo duduk dulu, tak baik terlalu lama berdiri." Ucap Taeyong disertai kekehan dan mengajak tamu-tamunya duduk di sofa ruang keluarga.

Berbeda dengan Xiaojun yang masih nampak malu-malu, Jaemin terlihat telah berbaur dengan Jeno dan Mark. Bahkan balita perempuan itu nampak mulai memonopoli mainan puzzle milik Jeno. Jeno yang merasa miliknya direbut orang jelas saja tidak terima, namun Mark berusaha menahan amarah adiknya mengingat Jaemin adalah tamu di rumah mereka.

"Johnny dimana? Kukira dia datang ke rumahmu juga." Tanya Yuta setelah meminum jus jeruk yang tersaji di hadapannya.

"Tidak. Dia masih sibuk, entah sampai kapan. Dery juga masih di rumah sakit." jelas Jaehyun. Yuta dan Winwin nampak terkejut seingat mereka Dery sudah di rumah sakit sejak beberapa minggu yang lalu, namun nyatanya anak kecil itu belum diizinkan pulang sampai hari ini.

"Memangnya separah apa?" Tanya Winwin pada Taeyong yang berada di dekatnya.

"Hum…. Kurasa kali ini cukup buruk, tim dokter juga sudah menyarankan operasi lanjutan untuk Dery." Jelas Taeyong, matanya mulai terlihat sendu saat harus kembali mengingat Dery yang kesakitan beberapa hari lalu.

"Astaga, malangnya Dery." Monolog Winwin.

"Mama…." Xiaojun nampak menarik lengan baju Winwin yang berada di sebelahnya.

"Iya? Jun mau sesuatu?" Tanya Winwin. Xiaojun hanya menggeleng dan kembali berucap namun hampir terdengar seperti bisikan.

"Dery mana?" Tanya anak perempuan itu. Winwin tersenyum dan mengelus lembut surai panjang Xiaojun hari itu.

"Dery di rumah sakit, besok Mark akan berkunjung kesana. Iya kan eomma?" Bukan Taeyong ataupun Winwin yang menjawab. Melainkan Mark, anak laki-laki itu nampak semangat saat menjawab pertanyaan Xiaojun. Taeyong hanya mengangguk menanggapi perkataan Mark dan setelahnya anak laki-laki itu kembali sibuk bermain dengan Jeno dan Jaemin.

"Jun masih ingat Dery?" Tanya Taeyong pada Xiaojun, anak kecil itu hanya terdiam dan kembali bersembunyi di balik lengan Winwin.

"Sebelum datang kemari aku membongkar foto lama dan menemukan foto Mark, Xiaojun, dan Dery saat masih kecil. Sejak semalam Jun jadi terus menanyakan soal Dery." Balas Winwin.

"Ah begitu…." Ucap Taeyong.

"Jun mau ikut Mark besok?" Tanya Winwin. Xiaojun mengangguk dalam dekapan ibunya dan berhasil membuat Taeyong dan Winwin tersenyum teduh.

"Kalau begitu besok bisa pergi bersama Mark." Ucap Taeyong yang dihadiahi anggukan kepala dari Winwin yang berada di sebelahnya.

Menjelang malam keluarga Nakamoto mulai berpamitan untuk kembali ke rumah mereka. Namun terjadi sedikit keributan antara Jeno dan Jaemin. Lebih tepatnya Jeno tak terima jika Jaemin membawa pulang hot wheels miliknya.

"Eomma, Nana bawa pulang hot wheels Jeno." Ucap anak berumur empat tahun itu.

"Jaemin bukan Nana." Ucap Taeyong.

"Ah kurasa Jaemin sudah berkenalan dengan Jeno dan meminta Jeno memanggilnya Nana, dia juga seperti itu saat di rumah." Jelas Yuta. Taeyong dan Jaehyun nampak mengangguk dan ber oh ria malam itu.

"Ini, Nana tidak jadi ambil." Ucap Jaemin seraya menyerahkan hot wheels milik Jeno.

Setelahnya keluarga kecil itu mulai meninggalkan kediaman keluarga Jung. Xiaojun dan Jaemin nampak melambaikan tangan pada kedua teman barunya sampai akhirnya mobil itu benar-benar menghilang dari hadapan mereka.

Pagi harinya sesuai janji Mark telah bersiap untuk mengunjungi Hendery. Awalnya ia berniat mengajak San, namun Mark baru ingat jika San masih berada di Busan sejak kemarin. Mark akan pergi bersama dengan Jaehyun, dan Yuta akan pergi bersama dengan Xiaojun. Rencananya Taeyong akan menemani Winwin pergi berbelanja untuk memenuhi dapur barunya, jadi dua wanita itu menunda kunjungan mereka ke rumah sakit.

Mark berjalan riang dengan tangan yang berada dalam genggaman Jaehyun. Ia tak sabar untuk kembali menemui Hendery setelah sekian lama. Jaehyun membuka pintu ruang rawat Hendery, ia cukup terkejut karena Hendery nampak tengah menangis dalam pelukan Johnny yang sibuk menggendongnya pagi itu. Mark juga terlihat khawatir melihat sahabatnya menangis.

"Dery kenapa?" Tanya Jaehyun.

"Baru selesai disuntik, jadi sedikit rewel." Jelas Johnny. Jaehyun hanya mengangguk dan memilih untuk duduk di sofa bersama dengan Mark.

"Jangan menangis lagi ya, Mark sudah datang. Masa Dery menangis terus, katanya kemarin mau bermain dengan Mark?" Tanya Johnny.

"Sakit daddy…. Hua…." Bukannya berhenti tangi Hendery malah semakin menggelegar di ruangan VIP itu dan berhasil membuat Jaehyun dan Mark terkejut.

Setelah bermenit-menit akhirnya tangisan Hendery terhenti Johnny mengelus lembut dada putih Hendery supaya anak kecil itu tidak merasakan sesak setelah cukup lama menangis. Mark memilih menghampiri Hendery dan mengajaknya bermain, Hendery yang sejak tadi berada di gendongan Johnny tentu saja luluh dan memilih untuk bergabung bersama Mark.

Saat tengah asyik bermain tiba-tiba saja pintu ruang rawat Hendery terbuka. Disana ada Yuta dan Xiaojun yang datang membawa paper bag dengan ukuran yang cukup besar. Senyuman menghiasi wajah tampan Johnny, ia bergegas menemui Yuta dan memeluknya erat. Menuntaskan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu.

"Jun! Sini…." Mark mengajak Xiaojun bergabung bersamanya dan Hendery yang tengah asyik menyusun puzzle. Xiaojun menghampiri teman-temannya dan duduk di sebelah Mark, di hadapannya ia dapat melihat dengan jelas Hendery yang duduk dengan pakaian rumah sakit yang ia kenakan.

"Dery ini Jun, Jun ini Dery." Mark mulai membuka pembicaraan dan membuat kedua anak kecil yang ia sebut saling bertatapan. Hendery tersenyum cerah, begitupun Xiaojun. Ia terlihat sangat senang mendapatkan teman baru.

Johnny, Yuta, dan Jaehyun memilih untuk mengajak anak-anak mereka ke taman rumah sakit. Lagipula mereka lebih bisa bersantai seraya menikmati segelas kopi dan sedikit mengenang masa lalu. Ketiga anak kecil nampak berada di bawah pohon yang terlihat rimbun. Hendery dan Mark masih sibuk dengan puzzle mereka menyisakan Xiaojun yang terlihat mengorek-ngorek tanah dengan sebatang kayu yang ia temukan.

"Jun, itu kotor. Nanti Yuta samchon marah." Panggil Mark. Namun Xiaojun sama sekali tak menoleh dan kembali melanjutkan kegiatannya.

Mark yang tengah asyik menyusun puzzle tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Mau tak mau ia berlari ke arah Jaehyun yang berada tak jauh darinya dan minta ditemani ke kamar mandi terdekat. Setelah kepergian Mark, Hendery merasa bosan. Ia memilih menghampiri Xiaojun yang masih sibuk dengan batang kayu miliknya.

"Jun, sedang apa?" Tanya Hendery. Xiaojun tidak menoleh sama sekali dan terlihat serius dengan kegiatannya. Hendery memilih untuk duduk di belakang Xiaojun dan menonton anak perempuan yang nampak serius itu.

"Ketemu!" Teriak Xiaojun. Ia menghampiri Hendery dan duduk di hadapannya.

"Itu apa?" Tanya Hendery, ia menatap ke arah tangan kotor Xiaojun yang menggenggam tanaman yang terlihat asing untuknya.

"Ini semanggi berdaun empat. Ojii-san bilang siapapun yang menemukan daun ini akan dapat kebahagiaan." Ucap Xiaojun seraya menunjukkan deretan gigi putihnya.

"Ini untuk Dery." Ucap anak kecil itu.

"Tapi kan Xiaojun yang sudah susah payah cari." Ucap Hendery seraya menggelengkan kepalanya.

"Ini hadiah dari Jun karena Dery harus bahagia. Dery cepat sembuh ya." Ucap anak kecil itu, ia meletakkan tanaman yang didapatkan di telapak tangan Hendery dan dihadiahi senyuman menawan dari anak tampan itu.

"Terima kasih Jun, Dery simpan ya." Ucap anak kecil itu. Xiaojun tentu saja senang apalagi setelah tahu Hendery akan menyimpan hadiahnya.

Adegan menyentuh antara sepasang anak kecil itu mungkin terlihat tak masuk akal. Tapi tentu saja banyak orang yang berharap banyak pada Hendery, tentang ia yang harus selalu bahagia dan kembali melanjutkan hidupnya. Dan sejak hari itu Xiaojun, Hendery, dan Mark hampir tak terpisahkan. Mereka selalu bermain dan menghabiskan akhir pekan bersama. Menikmati masa kecil mereka sebelum akhirnya menjadi dewasa.