23. After a Long Time

Tak terasa empat tahun sudah sejak kepergian Kun ke Amerika. Hendery telah genap berusia dua belas tahun, anak kecil yang semula amat menggemaskan di mata banyak orang itu, kini tumbuh menjadi remaja tampan. Dengan rambut yang sehitam arang dan kulit putih yang diwariskan langsung oleh ibunya. Hendery masih sering mengunjungi rumah sakit setidaknya sebulan sekali sekedar untuk mengecek kesehatannya. Ia juga semakin akrab dengan Chanyeol yang menjadi dokternya sejak empat tahun silam. Sekalipun fisiknya sudah cukup berubah, namun Hendery sama sekali belum berubah. Hidupnya masih bergantung pada obat-obatan yang sudah ia ingat di luar kepala. Karena tanpa benda-benda bulat itu sejatinya Hendery tak akan bertahan lama. Dan anak itu amat sadar dengan kenyataan yang ada.

Sejalan dengan Hendery yang berubah, Johnny pun demikian. Pria tampan itu terlihat semakin menawan di usia yang menginjak kepala tiga. Tak banyak yang berubah dari Johnny, sifat protective nya masih sama seperti beberapa tahun silam, namun Hendery sama sekali tak masalah. Bukankah itu artinya sang ayah amat menyayanginya. Ten juga terlihat semakin matang, wanita itu jelas semakin menawan sejalan dengan usia yang kian bertambah. Para pasien kecil kerap kali menempel padanya, terkadang Hendery iri dengan anak kecil yang dengan mudahnya bertemu dengan Ten, sedangkan ia harus menunggu sampai Ten datang menemuinya.

Setelah memendam perasaan bertahun-tahun lamanya dengan kedok persahabatan, akhirnya enam bulan yang lalu Johnny menyatakan perasaannya pada Ten. Tentu saja ia sudah berbicara banyak pada Hendery, anak itu terlihat setuju dengan keputusan sang ayah. Lagi Pula yang menjadi kekasih ayahnya bukanlah orang baru, melainkan Ten yang sudah ia kenal sejak lama.

Hari ini Hendery kembali lagi ke rumah sakit untuk mengecek kesehatannya. Seperti biasa ia ditemani Johnny yang senantiasa berada di sampingnya dan Ten juga telah berjanji akan datang ke ruangan Chanyeol nanti setelah ia selesai memeriksa pasiennya. Rencananya akan dilakukan pemasangan VAD di jantung Hendery karena kondisinya yang tak menunjukkan kemajuan apapun dan hari ini ia harus melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum dilakukan operasi.

Hendery yang duduk di ranjang pasien yang berada di ruangan Chanyeol nampak bosan, kakinya yang menggantung di ranjang ia gerakan kesana kemari untuk sekedar mengobati kebosanan yang mulai menghinggapinya. Sejak tadi para perawat telah bermain-main dengan tubuhnya dan mengambil darahnya. Hendery bukan lagi anak kecil yang akan menangis keras jika disuntik seperti beberapa tahun lalu, sekarang ia lebih banyak diam, namun tentu saja setelah meminjam tangan besar sang ayah sebagai pelampiasan rasa sakit ketika jarum panjang itu menusuk kulit putihnya.

"Okay, let's move to the next stage." Ucap Chanyeol, ia bangkit dari duduknya dan mulai mendekati Hendery. Seorang perawat yang ada di dekatnya nampak mempersiapkan alat elektrokardiogram untuk mengecek aktivitas jantung Hendery.

"Dery takut?" Tanya Chanyeol setelah berhasil menempelkan elektroda EKG di dada putih pasiennya.

"Tidak. Bukankah ini yang biasa dilakukan?" Ucap Hendery. Chanyeol tersenyum simpul dan membiarkan alat itu bekerja merekam aktivitas jantung Hendery.

Sementara menunggu, dokter tampan itu memilih berbincang dengan Johnny. Sejak pertemuan mereka empat tahun lalu, dua pria dewasa itu menjadi lebih dekat. Terlebih Chanyeol lebih tua dari Johnny, tentu saja Johnny merasa seperti mendapatkan sosok kakak laki-laki seperti yang ia idamkan sejak dulu.

"Ten tidak kemari?" Tanya Chanyeol.

"Katanya masih ada beberapa pasien, mungkin sebentar lagi datang." Balas Johnny.

"Mau tau kabar terbaru soal Kun?" Tanya Chanyeol, mata bulatnya terlihat berbinar dan menatap lekat ke arah Johnny.

"Ada apa?" Tanya Johnny.

"Kun sedang dekat dengan desainer dari Taiwan. Lega sekali rasanya, kukira Kun akan betah menjomblo sepanjang hidupnya." Ucap Chanyeol seraya terkekeh.

"Syukurlah…." Balas Johnny.

Setelah selesai, Chanyeol mendekati Hendery dan membiarkan anak tampan itu memasang kembali kancing bajunya. Setelahnya ia memilih untuk duduk di samping sang ayah seraya bersandar manja. Sepertinya aktivitas hari ini cukup melelahkan untuknya.

"Setelah ini bisa melakukan CT scan dan rontgen dada." Ucap Chanyeol setelah membaca elektrokardiogram milik Hendery.

"Kenapa tidak besok saja?" Ucap Hendery yang tiba-tiba saja buka suara.

"Why?" Bukan Chanyeol yang menyahut, melainkan Johnny yang nampak menatap lekat ke wajah sang anak. Hendery hanya menggeleng dan tak berniat menjawab pertanyaan Johnny siang itu.

Setelah berdebat cukup lama di ruangan Chanyeol akhirnya Hendery kembali berjalan beriringan dengan sang ayah. Tentu saja untuk melakukan CT scan dan rontgen dada seperti yang telah Chanyeol katakan. Setelah berjam-jam berada di rumah sakit akhirnya Hendery bisa bernapas lega setelah berhasil menyelesaikan semua pemeriksaannya. Ia nampak menenggelamkan wajahnya di meja cafetaria seraya menunggu Johnny yang tengah sibuk menunggu pesanannya.

"Hey boy, something wrong?" Hendery mendongak kala mendengar suara yang amat familiar di telinganya. Itu Ten, wanita itu baru saja bergabung bersama mereka setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.

"Tidak ada. Hanya lelah." Jawab Hendery.

"Jangan bohong. Dery sembunyikan sesuatu dari imo kan? Ayo ceritakan!" Ucap Ten, ia terlihat semangat dan semakin mendekat ke arah Hendery.

Hendery mengubah posisinya menjadi bersandar di bahu sempit Ten selagi mereka menunggu Johnny kembali. Anak itu tetap terdiam dan tak berniat membuka mulutnya. Ten tahu ada sesuatu yang salah, ini jelas bukan Hendery yang ia kenal, pikir wanita itu.

"Dery sakit?" Tanya Ten.

"Kan Dery sudah sakit sejak lama imo." Ucap Hendery.

"Dery sedang memikirkan sesuatu kan? Coba cerita. Imo janji tak akan beritahu daddy." Goda Ten.

"Tidak tahu harus mulai darimana." Balas Hendery.

"Hey, jangan seperti itu. Cukup katakan apa yang sedang Dery pikirkan." Ucap Ten.

"Dery bingung. Nanti saja imo." Ucap Hendery, ia mulai merubah posisi duduknya terlebih saat melihat Johnny berjalan ke arah mereka berdua.

Ten dan Johnny terlihat banyak bicara hari itu. Sesekali mereka terlihat tertawa dan bertukar cerita, di sisi lain Hendery tetap terdiam dan tak berniat membuka mulutnya. Ia bertingkah seolah tengah sibuk dengan makanannya tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya.

"Ayo pulang dad." Ucap Hendery, ia mulai terlihat lesu dan tak bersemangat.

"Secepat itu? Tadi katanya rindu Ten imo?" Tanya Johnny seraya mengelus lembut surai hitam Hendery.

"Sudah peluk tadi." Balas Hendery, Ten hanya terkekeh saat mendengar ucapan dari anak kekasihnya itu.

"Lebih baik kau pulang, sepertinya Dery mengantuk." Ucap Ten. Ia jelas mengerti jika Hendery sedang dalam suasana hati yang buruk hari itu.

"Ah baiklah. Kami pulang dulu, nanti malam kau jadi datang?" Tanya Johnny.

"Hum. Sepertinya. Eomma telah membuat banyak makanan untuk kalian, katanya dia sudah sangat merindukan Dery." Ucap Ten.

Hendery yang terlihat semakin muram hanya terdiam dan memilih untuk menjauh dari cafeteria. Johnny terlihat keheranan melihat sikap anaknya hari itu. Akhirnya ia berpamitan pada Ten dan mengejar anaknya yang mulai menjauh.

Di perjalanan pulang Hendery tetap terdiam dan tak berniat bicara. Ia menyandarkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Tak dipungkiri Hendery memang merasa kantuk mulai menderanya terlebih setelah obat-obatan menyambangi perutnya. Saat sampai di rumah, Hendery bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Tentu saja Johnny semakin dibuat bingung dengan tingkah anaknya, namun ia memilih untuk membiarkan Hendery menenangkan diri terlebih dahulu dan membiarkan anak itu bicara saat berhasil berdamai dengan dirinya sendiri.

Hendery sempat keluar kamar untuk mengisi perutnya, tentu saja setelah Johnny mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Setelah makan malam Hendery kembali lagi ke kamar dan menutup pintu. Ten terlihat datang ke rumah mereka tepat saat malam hari, wanita itu membawa beberapa makanan yang telah dibuatkan oleh nyonya Lee beberapa waktu lalu.

"Sepertinya Dery tengah memikirkan sesuatu." Ucap Ten saat baru saja selesai merapikan makanan yang ia bawa ke kulkas.

"Sepertinya begitu. Sejak di rumah sakit tadi suasana hatinya cukup buruk. Setelah pulang dia seharian mengurung diri di kamar." Jelas Johnny, ia menaruh secangkir coklat panas dan dibalas senyuman manis dari wanita yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

"Sudah coba ajak bicara?" Tanya Ten, Johnny hanya menggeleng.

"Mungkin akan kucoba nanti." Ucap Johnny.

Pembicaraan mereka terus berlanjut tentang banyak hal. Saat malam makin gelap Ten bergegas untuk kembali pulang ke rumahnya. Johnny mengantar wanita itu sampai ke pintu depan. Setelah Ten hilang dari pandangannya Johnny kembali masuk ke dalam. Ia bergegas naik ke lantai atas, memasuki kamar Hendery yang ternyata tidak dikunci. Hendery nampak tengah meringkuk di kasurnya, membelakangi pintu sehingga ia tak sadar akan kehadiran sang ayah.

Johnny mendekati meja belajar Hendery, merapikan beberapa buku dan menoleh sekilas menatap iPad yang masih menyala. Johnny duduk di kursi belajar sang anak dan menyambar iPad milik Hendery. Pikiran liarnya mulai bekerja, ia membuka laman penelusuran dan melihat riwayat pencarian Hendery. Kedua alis tebalnya saling bertaut saat melihat apa yang baru saja Hendery baca. Banyak artikel dan video tentang operasi jantung yang telah Hendery lihat. Pasti itu yang membuat suasana hatinya sedikit berantakan.

Johnny tersenyum sekilas, ia mendekati Hendery yang masih sembunyi di balik selimut tebalnya. Ia tahu jika sang anak belum memejamkan mata. Johnny mengelus surai hitam Hendery dan berhasil membuat sang pemilik terkesiap. Hendery nampak terkejut dengan kedatangan Johnny yang menurutnya tiba-tiba.

"Daddy sejak kapan disini?" Tanya Hendery, ia mulai duduk dan bersandar di kasurnya.

"Sejak Dery sembunyi dibalik selimut." Jawab Johnny. Hendery hanya mengangguk, setelahnya tak ada lagi percakapan antara sepasang ayah dan anak itu.

"Trying to hide something from me?" Tanya Johnny. Hendery menggeleng, namun netra indahnya tak berani menatap lekat netra tajam sang ayah.

"You are not a good liar, son. Tell me what are you thinking?" Johnny berucap seraya menyentuh dagu sang anak, mengangkatnya lembut sampai akhirnya netra mereka saling beradu pandang.

"What- what if I won't wake up again after the surgery?" Ucap Hendery setelah cukup lama terdiam.

Hendery yang semakin besar tentu saja sudah semakin paham tentang penyakitnya, seolah tak ada lagi yang dapat Johnny sembunyikan darinya. Bahkan titik kecil yang Johnny berusaha sembunyikan pasti akan diketahui Hendery pada akhirnya. Dan Johnny sangat membenci Hendery yang berada di hadapannya, Hendery yang terlihat hampir putus asa dan kehilangan harapan.

"Who said that?" Tanya Johnny, ia mulai merengkuh bahu sempit Hendery dan memeluknya erat.

"Tidak ada. Hanya khawatir." Balas Hendery.

"Sudah daddy bilang berkali-kali jangan cari hal-hal yang aneh." Balas Johnny, ia sedikit terkekeh dan mengusap pelan rambut anaknya.

"Please be strong okay. I'm not ready if you go too soon." Ucap Johnny. Hendery hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Johnny.

"Tidur bersama daddy boleh?" Tanya Hendery ragu-ragu.

"Tentu saja boleh." Balas Johnny seraya terkekeh.

Malam itu setelah meminum obatnya, Hendery berbaring dengan Johnny yang ada di sebelahnya. Ia mendekap erat tubuh kokoh sang ayah, bertingkah seolah-olah inilah pertemuan terakhir mereka. Johnny hanya diam, dalam hati ia ikut gusar dengan semua perkataan Hendery. Namun ia selalu berharap jika Tuhan mendengar semua doa nya. Tentang ia yang tak sanggup jika harus kehilangan anaknya.