24. Make a Promise
Hari yang telah ditunggu akhirnya tiba. Hari ini Hendery telah berada di rumah sakit dan mengenakan pakaian khas pasien. Ia nampak memandang ke jendela, hari ini cukup panjang bagi Hendery karena beberapa jam lalu ia baru saja menyelesaikan prosedur laboratorium yang harus ia lakukan. Netra indahnya menatap lekat ke arah pemandangan di luar, sesekali ia terlihat tersenyum saat mendapati burung-burung kecil yang menyembul di jendela ruang rawatnya.
Hendery menoleh saat mendengar pintu ruang rawatnya terbuka. Itu Johnny, pria itu baru saja menyelesaikan administrasi dan beberapa surat persetujuan yang harus ditandatangani. Johnny mendekat dan duduk di sebelah Hendery membiarkan sang anak bersandar di bahu kokohnya.
"Takut?" Tanya Johnny.
"Sedikit." Balas Hendery.
"Jangan takut." Ucap Johnny, ia mulai menggenggam erat jemari Hendery hari itu.
"Dad…." Ucap Hendery.
"Hum." Balas Johnny, ia nampak tengah memainkan ponselnya dengan sebelah tangan yang bebas.
"Boleh minta sesuatu?" Tanya Hendery.
"Of course." Ucap Johnny, ia mulai mematikan ponselnya dan menatap lekat ke arah sang anak.
"Jika operasinya berhasil dan Dery terbangun, bisa janjikan sesuatu?" Tanya Hendery ragu-ragu. Ia tahu hal seperti ini adalah topik sensitif bagi sang ayah.
"Hendery Seo. Jangan bicara seolah tak akan ada hari esok." Ucap Johnny tajam.
"Bisa berjanji untuk menikahi Ten imo?" Tanya Hendery dalam satu tarikan nafas. Johnny yang semula berniat memarahi anaknya hanya terdiam, ia bingung harus bereaksi seperti apa dengan perkataan Hendery hari itu.
"Dad-"
"Kenapa?" Tanya Johnny, ia bahkan menahan Hendery yang hendak kembali berbicara.
"Daddy menyukai Ten imo kan? Selama ini daddy terlalu sibuk memikirkan Dery sampai mengesampingkan perasaan sendiri. Dery tidak apa-apa, Dery suka punya mama seperti Ten imo." Ucap Hendery. Johnny hanya terdiam, ia tak menyangka kalimat seperti itu terucap dari mulut anaknya yang baru akan memasuki sekolah menengah.
"Daddy bisa berjanji?" Tanya Hendery lagi.
"Jawab dad, jangan diam saja." Ia mulai mengguncang lengan Johnny yang berada dalam genggamannya.
"Daddy janji, dengan satu syarat. Dery harus hilangkan pikiran buruk dari sini, Dery pasti sembuh." Ucap Johnny seraya mengelus lembut kepala anaknya.
Hendery tersenyum cerah dan kembali memeluk Johnny erat-erat. Seolah meminta Johnny memberinya kehangatan setelah terkurung dalam berjuta ketakutan yang mendalam. Nyatanya permintaan Hendery seperti sebuah kebetulan untuk Johnny. Ia sebagai pria dewasa tentu saja sudah mulai memikirkan kelanjutan hubungannya dengan wanita yang ia cintai, namun terkadang pikiran indah itu teralihkan saat melihat Hendery, ia takut sang anak tak bisa menerima kenyataan yang ada di hadapannya jika ia harus berakhir dengan Ten nantinya.
Johnny membalas pelukan Hendery seraya tersenyum teduh, sepertinya setelah semua perkataan Hendery ini adalah waktu yang tepat untuk membawa hubungannya dengan Ten ke jenjang yang lebih serius. Setelah berbulan-bulan menjadi sepasang kekasih yang dimabuk cinta layaknya anak remaja di luar sana.
Saat sore hari Hendery mulai berpuasa dan tidak diperkenankan menyantap apapun selama beberapa jam ke depan. Saat ini ia tengah terbaring dengan infus yang menancap di tangannya. Di sebelahnya ada Ten yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Sejak tadi wanita itu tampak sibuk menghibur Hendery yang terlihat cukup gusar. Terlebih ia telah mendengar cerita dari Johnny tentang Hendery yang amat ketakutan soal operasinya beberapa minggu yang lalu.
"Imo…." Panggil Hendery. Ten yang merasa dipanggil lantas menoleh dan menatap lekat ke arah anak itu.
"Mark bilang dia sedang jatuh cinta." Ucap Hendery.
"Ya ampun Mark, masih kecil sudah mengerti apa itu cinta." Balas Ten seraya terkekeh, jemari lentiknya masih sibuk mengelus lembut punggung tangan Hendery yang berada dalam genggamannya.
"Mark bilang namanya Mina, dia berteman dengan Xiaojun di kelas. Mark bilang dia suka Mina karena Mina anak yang baik, penurut, dan selalu membantu Mark saat di kelas. Mark bilang Mina juga sangat cantik." Ucap Hendery panjang lebar, ia mengulang perkataan Mark saat bertemu dengannya beberapa waktu lalu.
"Lebih cantik mana sama imo?" Tanya Ten sedikit menggoda.
"Tidak tahu, Dery belum pernah bertemu Mina." Ucap Hendery polos. Ten hanya terkekeh seraya mengusap lembut surai lebat Hendery.
"Daddy juga cinta imo, karena daddy selalu tersenyum saat bersama imo. Dery suka senyuman daddy yang seperti itu. Imo mau kan jadi orang yang membuat daddy tersenyum?" Tanya Hendery. Ten hanya terdiam, namun seulas senyuman nampak muncul di wajah cantiknya. Bukankah itu artinya Hendery sudah membuka jalan besar untuknya, pikir Ten.
"Tentu saja boleh. Tapi Dery mau kan jadi orang yang selalu buat imo tersenyum?" Tanya Ten.
"Hum…." Ucap Hendery seraya menganggukkan kepalanya semangat.
Saat malam menjelang, Hendery mulai masuk ke ruang operasi. Ranjang rawatnya nampak didorong oleh beberapa perawat dengan Johnny yang setia menggenggam tangannya erar-erat. Sebelum ayah dan anak itu terpisah Johnny menyempatkan untuk mngecup kening sang anak dan menatap lekat wajahnya. Johnny tersenyum teduh dan dibalas senyuman Hendery yang tak kalah cerah. Malam itu untuk kedua kalinya Johnny kembali melalui malam yang panjang seperti beberapa tahun silam dan Ten masih berada di sisinya seperti malam itu.
"Berusaha kuat di depan Dery tapi nyatanya seperti ini." Ucap Ten, ia menggenggam erat tangan besar Johnny yang terlihat mengepal kuat. Ten jelas sangat mengerti tentang Johnny setelah berbulan-bulan lamanya memutuskan untuk memadu kasih dengan pria kelewat tinggi itu.
"Dery bicara apa padamu?" Tanya Johnny.
"Banyak dan sama sekali tidak membosankan karena itu Dery." Ucap Ten seraya terkekeh.
"Bisa ceritakan padaku?" Ucap Johnny.
"Rahasia." Balas Ten dengan senyuman jahil.
Malam itu kedua orang dewasa yang terduduk di ruang tunggu berusaha saling menghibur demi menghilangkan rasa ketakutan mereka. Rasa takut akan kehilangan orang yang amat mereka cintai saat mereka belum benar-benar siap melepaskannya.
