25. Wake Up

Lampu ruang operasi yang meredup menandakan Chanyeol baru saja menyelesaikan pertempurannya. Johnny bangkit dari duduknya menunggu Chanyeol Menyampaikan berita baik yang sudah ia tunggu berjam-jam lamanya. Ten tersenyum kala melihat Chanyeol keluar dari ruangan operasi. Pria tinggi itu tampak baru saja melepas maskernya, ia menghampiri Johnny dan bersiap menyampaikan kabar terbaru pada pria tinggi itu.

"Berhasil…. Dery benar-benar ksatria kuat seperti yang Kun katakan beberapa tahun silam." Ucap Chanyeol. Ia menyentuh bahu kokoh Johnny dan mengelusnya lembut.

"Dery akan dipindahkan ke ruang ICU dan dipantau kondisinya selama beberapa jam kedepan. Jika sudah cukup stabil akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jelas Chanyeol.

"Gomawo hyung…." Lirih Johnny, ia jelas tak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang membuncah di hatinya setelah menunggu tanpa kepastian berjam-jam lamanya.

"Tidak perlu begitu, memang sudah tugasku." Ucap Chanyeol seraya tersenyum teduh.

Chanyeol pamit dari hadapan Johnny dan Ten. Setelah kepergian Chanyeol, Johnny tanpa sadar memeluk Ten erat-erat seolah ingin menyalurkan kebahagiaan yang tengah dirasakan.

"Benar kan, Dery pasti bertahan." Ucap Ten lirih. Johnny mengangguk seraya sibuk memeluk tubuh mungil wanita dihadapannya malam itu.

Setelah Hendery dipindahkan ke ruang ICU, Johnny memutuskan untuk menunggu di ruang rawat anaknya dan membiarkan Ten kembali ke rumah. Mulanya Ten menolak, namun Johnny terus berucap panjang lebar dan berhasil membuat Ten pulang ke rumah.

Keesokan paginya Johnny terbangun karena seseorang mengguncang bahunya, dengan malas ia membuka matanya dan nampak terkejut saat mendapati kedatangan sang kakak yang terlihat membawa berbagai jenis makanan di tangannya.

"Bersihkan dulu wajahmu, setelah itu kita makan." Ucap Seohyun.

"Noona kapan datang?" Tanya Johnny, ia dengan malam bangkit dan menuju ke kamar mandi.

"Baru saja, kukira kau akan sulit dibangunkan." Balas Seohyun.

"Semalam Ten menghubungiku, bahkan wanita itu yang memberitahu mengenai keadaan Hendery. Kau adik macam apa sih?" Tanya Seohyun kesal.

"Aku lupa." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Aish, benar-benar tidak berguna. Setelah ini jangan lupa mandi. Aku membawa beberapa pakaianmu." Ucap Seohyun. Johnny hanya mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatannya.

Setelahnya hanya terdengar suara alat makan yang saling beradu. Sesekali kakak beradik itu terlihat bercanda dan saling meledek satu sama lain seperti yang biasa mereka lakukan. Dan jangan lupakan Seohyun yang berkali-kali menanyakan hubungan asmara sang adik dengan dokter cantik yang sudah sangat ia kenal.

"Jadi bagaimana? Sudah ada perkembangan?" Tanya Seohyun.

"Perkembangan apa?" Ucap Johnny dengan wajah tanpa dosa.

"Hubunganmu dengan Ten bodoh. Aku jadi merasa kasihan melihat Ten harus bersanding denganmu." Balas Seohyun.

"Noona…." Panggil Johnny tiba-tiba.

"Hum…." Seohyun berucap tanpa menoleh ke arah sang adik, ia masih sibuk dengan makanannya.

"Mau tahu apa permintaan Hendery sebelum operasi?" Tanya Johnny. Seohyun yang terlihat mulai tertarik dengan perkataan sang adik lantas menatap lekat ke arah Johnny.

"Dery memintaku menikah dengan Ten." Ucap Johnny.

"Jinjja?" Tanya Seohyun tidak percaya. Johnny hanya mengangguk pagi itu.

"Tapi bukankah itu bagus, selama ini kau selalu risau dan khawatir jika Dery tidak suka punya mama baru." Ucap Seohyun.

"Tapi itu terdengar seperti permintaan terakhirnya…." Ucap Johnny.

"Yak, kau ayah macam apa sih." Seohyun yang kesal lantas memukul kepala Johnny dengan sendok yang ia pegang.

"Aish…. Noona kenapa memukulku." Ia mengaduh kesakitan dan tak terima dengan perlakuan sang kakak.

"Kau benar-benar bodoh, seharusnya kau senang Dery bicara begitu. Memangnya aku tidak tahu, kau sudah membeli cincin dan menyimpannya di laci meja kerjamu kan?" Tanya Seohyun.

"Bagaimana bi-"

"Apa sih yang tidak aku ketahui." Balas Seohyun, ia jelas membaca ekspresi keterkejutan dari wajah sang adik.

"Ikuti saja perkataan Dery, lagipula kalian berdua memang saling mencintai. Aku juga sangat menyukai Ten, eomma dan appa juga. Apa kau lupa sesenang apa eomma saat kau membawa Ten ke rumah beberapa bulan lalu." Ucap Seohyun. Johnny hanya tersenyum sekilas dan kembali menyantap makanannya.

"Apa semua ayah akan seperti itu? Berusaha menenangkan anaknya padahal hatinya gundah gulana. Jangan pikirkan yang aneh-aneh, Dery pasti bertahan bersama kita disini, kau jangan takut John." Ucap Seohyun lagi.

"Gomawo noona…." Lirih Johnny.

"Aku tak salah dengar? Adikku berterima kasih padaku." Ucap Seohyun sedikit meledek.

"Aish…. Menyebalkan sekali, aku mandi dulu." Johnny beranjak dan masuk ke kamar mandi, ia tak sanggup jika harus berlama-lama dengan sang kakak, bisa jadi bulan-bulanan nantinya.

Johnny yang baru saja selesai membersihkan diri nampak terkejut saat mendapati Ten yang telah duduk bersama sang kakak dan menyantap beberapa hidangan yang Seohyun bawa. Seohyun juga terlihat begitu senang saat bertemu dengan Ten, mereka terlihat saling bercanda dan membahas tentang banyak hal, tentu saja obrolan para wanita. Johnny berdehem pelan lantas Seohyun dan Ten menoleh ke arahnya dengan tatapan keheranan.

"Kau akan ke kantor?" Tanya Seohyun saat melihat Johnny mengenakan pakaian yang rapi padahal ia telah menyiapkan pakaian santai untuk adiknya itu.

"Hum. Hanya sebentar, mengambil beberapa berkas lalu kembali lagi kesini." Ucap Johnny.

"Lama juga tidak apa-apa, aku yang akan menjaga Dery, kau tenang saja." Ucap Ten.

"Tapi kan kau harus bekerja." Balas Johnny.

"Setidaknya jika terjadi sesuatu, aku berada di dekat Dery." Ucap Ten, Johnny hanya mengangguk mengiyakan omongan kekasihnya itu.

"Aigoo…. Adik iparku memang yang terbaik." Ucap Seohyun.

"Eonni…." Ten yang merasa malu hanya menunduk, namun semburat merah yang muncul di pipinya nampak terlihat jelas oleh Johnny dan Seohyun.

Setelah Johnny pergi ke kantornya dan Seohyun kembali pulang ke kediaman keluarga Seo, Ten kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia nampak baru saja menyambangi beberapa pasien kecilnya, bahkan saat ini tangannya terlihat menenteng paper bag yang berisi buah-buah stroberi dari salah satu pasiennya. Melihat stroberi Ten kembali mengingat Hendery, beberapa hari lalu anak itu sempat merengek pada Johnny dan minta dibelikan stroberi, mungkin Ten akan berbagi pada Hendery saat sudah bangun nanti.

Code blue code blue ICU code blue….

Code blue code blue ICU code blue….

Ten menajamkan telinganya, ia jelas tahu apa arti peringatan itu, ia teringat Hendery yang baru saja masuk ICU semalam. Ten berjalan cepat ke arah ruang ICU seraya merapalkan doa di dalam hatinya.

"Seonbae!…." Teriak Ten saat melihat Chanyeol berlari mendahuluinya.

"Kita bicara nanti Ten, ada keadaan darurat." Ucap Chanyeol balas berteriak. Detik itu juga Ten ikut berlari dan berusaha mengimbangi langkah besar Chanyeol. Begitu pintu ruang ICU terbuka Ten bergegas mencari Hendery. Ten menghembuskan napas lega saat melihat Hendery yang terlihat baik-baik saja, ternyata Chanyeol dan beberapa perawat berlari untuk menemui pasien lain yang tengah berada dalam keadaan darurat.

Ten berdiri di depan ruangan Hendery, dari jendela kaca yang besar terlihat jelas jika Hendery masih damai dalam tidurnya. Anak itu masih sibuk memejamkan mata dan tak tahu kapan akan terbuka.

"Cepat bangun Dery, imo punya stroberi dan daddy sangat menunggu Dery." Ucap Ten sebelum ia pergi meninggalkan ruang ICU.

Setelah dua hari berada di ruang ICU, hari ini Hendery dipindahkan ke ruang rawatnya. Banyak orang yang menyambutnya dengan sukacita. Sekalipun Hendery belum terbangun dari tidur panjangnya setidaknya mereka semua tahu jika Hendery sudah baik-baik saja. Johnny tersenyum teduh dan memandangi wajah tampan anaknya, tangan besarnya sibuk mengelus punggung tangan Hendery yang terpasang infus.

Di sore hari, saat langit menunjukkan warnanya yang indah, secercah harapan kembali mendatangi Johnny. Jemari kecil yang ia genggam sejak tadi nampak bergerak, Johnny terkesiap dan menatap lekat wajah sang anak. Bola mata Hendery nampak bergerak seolah akan terbuka setelah sekian lama terpejam.

"Dery…." Ucap Johnny saat sang anak berhasil membuka matanya. Hendery tersenyum di balik masker oksigennya dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan besar sang ayah. Johnny balas tersenyum teduh dan mengecup lembut kening putranya. Setidaknya ia amat bersyukur tentang Hendery kecil yang berhasil memegang teguh janjinya untuk kembali setelah sekian lama tertidur lelap.

"Dad- dy…." Hendery berucap lirih di balik masker oksigennya. Johnny mendekati Hendery dan berusaha mendengar semua perkataan sang anak di balik masker oksigen yang membelenggu wajahnya.

"De- ry sudah te- pati janji. Jangan lu- pa janji dad- dy…." Lirih anak kecil itu. Johnny tersenyum dan menganggukan kepalanya.

"Tentu saja akan daddy tepati." Ucap Johnny sore itu.

Nyatanya Hendery yang kembali terbangun dan menepati janjinya membuat Johnny amat bahagia dan sekarang gilirannya untuk menepati janji yang telah ia buat bersama sang putra. Sebuah janji tentang suatu hal yang kedepannya akan mengubah hidup mereka berdua.