26. Can You Be My Mama

Hendery yang baru saja terbangun beberapa jam lalu nampak tengah terduduk di ranjang rawatnya setelah melakukan pemeriksaan rutin dengan Chanyeol. Masker oksigen yang semula membelenggu wajahnya telah berganti dengan nasal canula yang tertancap di hidung bangirnya. Hendery tengah serius bermain dengan iPad miliknya yang memang dibawakan oleh Johnny beberapa hari yang lalu. Saat tengah sibuk dengan benda persegi empat yang menurutnya menarik itu, tiba-tiba saja pintu ruang rawatnya terbuka. Ten menyembul dari balik pintu dengan senyuman secerah matahari. Dokter cantik itu telah dengar dari Chanyeol jika Hendery baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Dan dengan semangat Ten menuntaskan semua pekerjaannya sebelum bertemu dengan anak dari kekasihnya itu.

"Dery…." Ucap Ten, ia sedikit berlari menghampiri Hendery dengan paper bag di tangannya.

"Imo bogoshipoyo…." Ucap Hendery manja, ia merentangkan tangannya seolah meminta Ten untuk memeluknya.

"Aigoo…. Imo juga sangat merindukan Dery." Ucap Ten seraya mengelus lembut surai hitam Hendery

"Coba lihat imo bawa apa…. Tada…." Ucap Ten dengan bangga menunjukkan stroberi miliknya.

"Woah ddalgi." Ucap Hendery, mulut kecilnya membulat lucu saat melihat buah stroberi yang terlihat besar dan bersih.

"Dery boleh coba?" Tanya anak kecil itu.

"Coba tanya daddy dulu." Ucap Ten.

"Boleh ya dad?" Ucap Hendery ia mulai memohon dengan puppy eyes andalannya.

"Tentu saja boleh." Ucap Johnny seraya terkekeh.

Hendery mulai menyantap stroberi yang Ten berikan. Mata bulatnya sesekali mengerjap pelan saat manisnya stroberi mulai membasahi tenggorokannya. Ten dan Johnny yang memperhatikan Hendery sejak tadi hanya terkekeh melihat tingkah anak kecil itu. Rasanya tertidur dua hari lamanya benar-benar membuat Hendery kekurangan asupan makanan, pikir mereka.

"Ini enak. Tidak seperti yang daddy belikan." Ucap Hendery.

"Tidak enak tapi dihabiskan." Ledek Johnny.

"Daddy…." Hendery terlihat merengek saat Johnny mulai meledeknya.

Ten hanya terkekeh melihat tingkah polah ayah dan anak di hadapannya itu. Setidaknya melihat Johnny yang merasa puas saat meledek Hendery akan lebih baik dibandingkan melihat Johnny yang terjebak dalam kesedihan yang berlarut-larut seperti beberapa hari lalu.

"Dery mau pulang." Ucap anak itu tiba-tiba.

"Disini dulu ya, istirahat dulu. Kalau sudah sembuh pasti dokter Chanyeol akan izinkan Dery pulang." Ucap Ten berusaha memberikan perhatian pada Hendery. Hendery hanya terdiam dan kembali sibuk dengan stroberi miliknya. Sepertinya anak kecil itu sudah sangat hapal jawaban orang-orang disekitarnya saat ia merengek ingin pulang dari rumah sakit.

Ten memilih menjauh dari Hendery saat anak kecil itu mulai sibuk menatap ke arah jendela kamarnya. Dokter cantik itu memilih untuk duduk di samping Johnny yang sibuk dengan laptop miliknya. Ten jelas mengerti kekasihnya itu bukanlah orang biasa, bisa dibilang kesibukan Johnny tak ada yang bisa menandingi dan Ten tetap takjub dengan Johnny yang dengan mudahnya membagi waktu demi mengurus segala keperluan Hendery.

"Dery belum boleh keluar?" Tanya Ten.

"Sepertinya belum. Chanyeol hyung masih memantaunya beberapa hari kedepan. Lihat itu." Ucap Johnny, mata tajamnya menunjuk ke arah pulse oksimeter yang masih menjepit ibu jari kecil Hendery dan tersambung langsung dengan monitor yang berada tak jauh darinya.

"Chanyeol sunbae bilang apa?" Tanya Ten lagi.

"Banyak. Chanyeol hyung bilang Dery akan lebih lama disini. Mungkin sekitar enam atau delapan minggu. Dan aku bingung bagaimana caranya memberi pengertian pada Dery." Ucap Johnny.

"Kukira kau sudah begitu handal mengurus Dery." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Ini jelas kasus yang berbeda, Dery tidak pernah menginap di rumah sakit selama itu." Balas Johnny.

"Aku paham, nanti aku coba beri pengertian pada Dery saat suasana hatinya sudah lebih baik. Lagipula rehabilitasi jantung juga termasuk dalam rangkaian pengobatan, tentu saja Dery tidak boleh melewatkan itu." Jelas Ten, tentu saja ia paham mengapa seniornya itu meminta Hendery menginap lebih lama di rumah sakit.

"Terima kasih." Ucap Johnny.

"Sama-sama, lagi-"

"Uhuk… uhuk…." Ucapan Ten terpotong karena Hendery yang nampak berbatuk dan memegangi dada putihnya.

"Dery…." Ten berlari menghampiri Hendery dan mengelus lembut punggung anak kecil itu.

"Johnny, ambilkan minum." Ucap Ten hampir seperti berteriak, Johnny tersadar dari lamunannya dan bergegas melakukan apa yang Ten perintahkan. Memberikan Hendery minum dan membiarkan anak kecil itu sedikit lebih tenang.

"Pelan-pelan makannya, tidak ada yang akan ambil." Ucap Ten. Hendery hanya terkekeh dan memasang wajah tanpa dosa, tidak tahukah ia bahwa peristiwa beberapa detik lalu membuat dua orang dewasa itu khawatir.

Lima hari sudah Hendery menghabiskan waktunya di rumah sakit. Sejak pagi hari anak tampan itu merengek pada Ten untuk dibawa ke taman, ia sudah sangat bosan dengan pemandangan kamar rawatnya. Dan saat sore hari menjelang Ten memutuskan untuk membawa Hendery ke taman, lagipula Johnny sedang pergi ke luar sejak siang tadi. Jadi tak ada salahnya membawa Hendery melepas penat sejenak, pikir Ten.

"Imo, tidak mau pakai itu. Dery masih bisa berjalan." Ucap Hendery, ia merajuk saat Ten membawa kursi roda ke ruang rawatnya.

"Ingat pesan Chanyeol samchon?" Tanya Ten, pasalnya ia ingat betul jika seniornya itu masih membatasi pergerakan Hendery. Akhirnya dengan pasrah Hendery duduk di kursi roda dan membiarkan Ten mendorongnya sampai ke taman sore itu.

Hendery nampak tersenyum saat berhasil sampai di taman rumah sakit yang ditumbuhi banyak tanaman dan pepohonan. Beberapa pasien juga terlihat menikmati pemandangan sore itu, ada yang sedang melukis ada pula yang hanya bersantai seperti yang ia lakukan saat ini.

"Dery senang disini?" Tanya Ten.

"Hum…. Lebih baik disini, Dery bosan di kamar." Ucap anak kecil itu.

"Sekalipun ada Mark dan San tetap bosan?" Tanya Ten, pasalnya ia ingat jika dua teman Hendery itu baru saja berkunjung beberapa jam yang lalu.

"Hum…. Mark dan San bebas bergerak, tapi Dery hanya duduk di kasur." Ucap Hendery dengan bibir yang melengkung ke bawah. Ten hanya tersenyum menanggapi perkataan Hendery sore itu.

"Imo, Minji sudah pergi ya?" Tanya Hendery. Minji adalah salah satu anak yang cukup dekat dengan Hendery, anak perempuan itu cukup lama menetap di rumah sakit karena sel kanker yang menggerogoti tubuh mungilnya.

"Dery sudah tahu?" Tanya Ten balik. Hendery hanya mengangguk dan terlihat tersenyum sendu.

"Daddy sudah beritahu Dery, kemarin juga eomma nya Minji datang. Lalu peluk Dery erat-erat sambil menangis." Ucap Hendery polos.

"Eomma nya Minji sangat menyayangi Minji." Sambung anak kecil itu.

"Apa kalau Dery pergi akan ada yang menangis seperti itu juga imo?" Tanya anak kecil itu.

"Dery bicara apa…. Jangan bicara begitu ya, imo sangat menyayangi Dery." Ten mulai gusar, ia menggenggam erat jemari kecil Hendery dan mengelusnya lembut. Hendery hanya terdiam dan memeluk Ten erat-erat sore itu.

"Mark dan San bilang mereka sudah pindah sekolah. Mereka pergi ke sekolah yang sama bersama Xiaojun juga." Ucap Hendery.

"Hum…. Sekarang kan sudah bukan anak kecil lagi." Ucap Ten seraya mengelus lembut pipi putih Hendery.

"Berarti gurunya Dery akan ganti juga?" Tanya anak kecil itu.

"Tentu." Balas Ten.

"Dery tidak bisa sekolah lagi ya imo?" Ujar Hendery lirih.

"Kalau Dery sudah sembuh dan sehat pasti bisa sekolah lagi. Bisa bertemu teman-teman dan belajar bersama. Jadi Dery harus cepat sembuh ya?" Ucap Ten. Hendery hanya mengangguk semangat dan tersenyum cerah memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Setelahnya Hendery bercerita tentang banyak hal. Mulai dari kegiatan homeschooling nya, sampai apa saja yang biasa ia dan Johnny lakukan saat akhir pekan. Ten sesekali terkekeh saat mendengar cerita Hendery, ia begitu bahagia melihat Hendery yang kembali ceria. Setelah operasi beberapa hari lalu memang mood Hendery amat mudah berubah, kadang anak kecil itu bisa terlihat begitu bahagia namun bisa juga terlihat amat murung seperti tadi pagi.

"Imo sayang Dery tidak?" Tanya anak kecil itu tiba-tiba.

"Tentu saja imo sangat menyayangi Dery." Ucap Ten semangat.

"Sayang daddy juga tidak?" Tanya Hendery lagi.

"Hum…. Sedikit, tetap Dery yang paling imo sayangi." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Daddy juga sangat menyayangi imo." Ucap anak kecil itu. Ten hanya tersenyum dan mengusap lembut surai hitam Hendery.

"Imo mau tidak jadi mamanya Dery?" Tanya anak kecil itu tiba-tiba. Ten tersentak, pertanyaan Hendery cukup membuatnya terkejut sore itu. Seolah tak menyangka perkataan seperti itu bisa keluar dari mulut Hendery yang notabene anak dari kekasihnya.

"Mau ya imo? Boleh kan mulai sekarang Dery panggil mama bukan imo lagi, ya? Ya?" Ucap anak kecil itu, ia mulai mengguncang jemari lentik Ten dan membuat Ten tersadar dari lamunannya.

"Boleh. Boleh panggil mama." Ucap Ten pada akhirnya.

"Woah, gomawo mama. Jadi begini rasanya pelukan mama…." Ucap Hendery, ia mulai memeluk Ten erat-erat di tengah taman yang dihiasi bunga-bunga yang bermekaran.

"Dery bicara apa sih." Ucap Ten, ia mulai terkekeh mendengar perkataan anak kecil itu.

"Mama jangan tinggalkan Dery ya, harus selalu ada untuk Dery." Ucap Hendery, ia mendongak dan menatap Ten dengan netra bulatnya yang mulai berkaca-kaca serta bibir yang mencebik lucu.

"Hum. Janji tak akan pergi kemanapun, mama selalu ada untuk Dery." Ucap Ten seraya mengecup kening Hendery yang masih sibuk memeluknya.

Obrolan mereka terus berlanjut sampai langit mengubah warnanya. Ten merasa ada sesuatu yang amat bergejolak di hatinya seperti dipenuhi oleh segerombolan kupu-kupu yang siap berterbangan. Ten merasa amat bahagia mendengar semua yang Hendery katakan beberapa menit lalu. Bukankah setelah perjalanan panjang yang ia dan Johnny lalui bersama, hari ini artinya ia sudah benar-benar menang. Mungkin sudah waktunya bagi Ten untuk meminta pada Johnny terkait keseriusan hubungan mereka untuk memulai sesuatu yang baru dalam ikatan cinta yang mereka bangun bersama.