27. Confession

Ten memutuskan untuk membawa masuk Hendery ke ruang rawatnya karena khawatir anak kecil itu akan kedinginan diterpa angin malam. Terlebih Hendery hanya menggunakan pakaian rawat pasien ditambah dengan sweater tipis yang membalut tubuhnya. Setelah melalui perdebatan panjang karena Hendery yang bersikeras ingin tetap berada di taman, akhirnya Ten berhasil membujuk anak kecil itu dan mendorong kursi roda yang ia kenakan sampai ke ruang rawatnya.

Sesampainya mereka ke ruang rawat Hendery, nampak Johnny masih belum kembali. Hanya ada Seohyun yang tengah sibuk memasukkan beberapa buah-buahan ke dalam kulkas kecil yang ada di ruang rawat Hendery. Seohyun menoleh saat mendapati keponakan kesayangannya kembali datang. Ia mengelus lembut pipi Hendery yang terasa mendingin dan membantunya untuk kembali berbaring di kasur.

"Ten, terima kasih sudah menjaga Dery. Johnny itu benar-benar, kemana perginya anak itu?" Tanya Seohyun sedikit emosi.

"Ah tidak apa-apa eonni tak perlu sungkan begitu. Johnny bilang ada urusan penting yang harus ia lakukan tadi." Ucap Ten, bukan bermaksud membela kekasihnya dari omelan sang kakak namun Ten hanya mencoba mengulang kembali apa yang Johnny katakan beberapa jam yang lalu.

"Ah begitu. Kau tidak pulang Ten? Bukankah jam kerjamu telah selesai?" Tanya Seohyun.

"Mama peluk Dery dulu…." Ucap anak kecil yang masih terbaring di ranjangnya. Seohyun nampak terkejut mendengar perkataan sang keponakan, sepertinya Hendery selangkah lebih maju dibanding ayahnya, pikir Seohyun.

Ten mendekat ke arah Hendery dan memeluknya erat-erat. Merasakan aroma tubuh anak kecil itu yang terasa harum semerbak. Sesekali Ten mengelus lembut surai hitam Hendery dan membisikkan kata-kata penenang di telinga anak kekasihnya itu.

"Mama harus pulang dulu. Besok kita bertemu lagi, Dery jangan sedih." Ucap Ten. Hendery hanya mengangguk dan tetap sibuk dengan pelukannya.

Tak lama berselang Ten memutuskan untuk berpamitan pada Seohyun dan Hendery. Seohyun mengantar Ten sampai ke depan pintu ruang rawat Hendery, setelahnya ia kembali menemui sang keponakan yang nampak masih duduk terdiam di ranjangnya.

"Dery suka mama Ten?" Tanya Seohyun seraya mengelus lembut surai hitam Hendery.

"Suka. Dery sayang mama Ten, imo." Ucap anak kecil itu dengan senyuman cerah. Seohyun tersenyum teduh, ia amat bahagia melihat Hendery yang mulai menganggap Ten sebagai mamanya, bukankah ini sebuah kesempatan emas bagi Johnny untuk melancarkan aksinya, pikir Seohyun.

Sebulan sudah Hendery memanggil Ten dengan sebutan mama, dan Johnny masih belum mengetahui panggilan baru anaknya itu pada kekasihnya. Pasalnya saat ia tengah bersama Hendery, Ten kerap kali disibukkan dengan pasien-pasiennya sehingga intensitas pertemuan mereka sedikit berkurang. Malam ini Johnny berniat menemui Ten di salah satu restoran yang biasa mereka datangi sejak awal berkencan. Johnny tentu saja telah menitipkan sang anak pada Seohyun yang terlihat baru sampai di rumah sakit sore itu. Hendery yang sadar jika Johnny akan meninggalkannya nampak gusar dan memaksa untuk ikut sejak tadi. Tentu saja Johnny tak akan membiarkan anaknya ikut, karena anak kecil itu masih belum diperbolehkan pergi keluar oleh Chanyeol.

"Dery disini dulu ya, sama Seo imo." Bujuk Johnny. Hendery melipat tangannya di depan dada dan menekuk wajah tampannya, ia amat kesal karena Johnny akan pergi meninggalkannya terlebih Ten yang dianggap sebagai mama tak kunjung menampakkan batang hidungnya sejak pagi tadi.

"Tidak mau, Dery mau ikut daddy." Ucap anak kecil itu.

"Jangan begitu, ingat kan apa kata Chanyeol samchon." Ucap Johnny, Hendery hanya terdiam dengan sudut bibirnya yang mulai menekuk ke bawah.

"Daddy akan tepati janji kita, Dery masih ingat kan?" Tanya Johnny pada anaknya. Hendery mendongak dan menatap lekat ke wajah tampan sang ayah yang nampak sudah berpakaian rapi sore itu.

"Jeongmal?" Tanya Hendery dengan mata berbinar cerah.

"Hum, jadi Dery disini dulu ya dengan Seo imo, Dery bisa kan jadi anak yang penurut." Ucap Johnny.

"Jadi setelah ini mama Ten benar-benar akan jadi mamanya Dery kan dad?" Tanya Hendery memastikan.

"Mama Ten?" Ucap Johnny, ia nampak terkejut kala mendengar panggilan yang diberikan Hendery pada kekasihnya itu.

"Kau tidak tahu ya? Dery sudah memanggil Ten dengan sebutan mama sejak sebulan yang lalu." Jelas Seohyun.

"Jinjja? Dery panggil Ten imo 'mama'" Tanya Johnny yang nampak tak percaya.

"Hum. Ten imo bilang Dery boleh panggil mama, dad." Jelas anak kecil itu. Johnny hanya tersenyum dan mengelus lembut surai hitam Hendery, ia sama sekali tak menyangka jika jalannya untuk memiliki Ten akan semudah ini, pikir pria itu.

"Kalau begitu daddy boleh pergi kan?" Tanya Johnny.

"Boleh, tapi belikan Dery pudding ya dad." Ucap Hendery.

"Tentu. Sampai ketemu nanti malam." Ujar Johnny, ia mulai keluar dari ruang rawat Hendery setelah sebelumnya mengecup lembut kening anak tampan itu.

Ten telah sampai di restoran yang sudah Johnny janjikan. Berkali-kali wanita itu mengecek jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah sekitar sepuluh menit ia menunggu dan Johnny belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Sudah menunggu lama?" Ucap Johnny saat baru saja sampai di hadapan Ten. Ten mendongak dan menatap lekat ke arah kekasihnya itu.

"Lumayan, kau lama sekali." Ucap Ten, ia sedikit merajuk. Pasalnya kakinya cukup pegal setelah menunggu Johnny di depan restoran beberapa menit lalu.

"Dery sedikit rewel. Dia juga menanyakanmu terus." Ucap Johnny seraya membolak-balikkan buku menu.

"Ah, aku jadi merindukan Dery." Ucap Ten.

Tak lama menunggu pesanan mereka mulai berdatangan dan sepasang kekasih itu nampak menikmati makanan yang ia pesan. Sesekali Ten terlihat terkekeh saat mendengar guyonan yang Johnny lontarkan. Ten sama sekali tak menyangka jika pria kelewat tinggi itu memiliki selera humor yang baik. Setelah cukup lama berada di restoran, sepasang kekasih itu mulai mengitari Kota Seoul yang terlihat begitu indah di malam hari. Dan jangan lupakan Johnny yang tak melepaskan genggaman tangannya pada jemari lentik Ten. Dan hal itu berhasil membuat Ten berbunga-bunga.

"Kau sedang banyak masalah? Apa ada sesuatu yang terjadi di perusahaan?" Tanya Ten. Pasalnya ia dan Johnny cukup jarang pergi bersama, kecuali jika mereka merasa perlu melepas penat setelah dipusingkan dengan aktivitas harian yang begitu memuakkan.

"Tidak. Aku hanya rindu padamu, apa salah?" Tanya Johnny. Saat ini mereka berdua nampak tengah berjalan beriringan menuju kursi panjang yang dihiasi pemandangan sungai Han yang begitu indah.

"Ais gombal…." Kekeh Ten.

"Kau dan Dery menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tanya Johnny setelah cukup lama terdiam.

"Apa? Kurasa kami tidak menyembunyikan apapun darimu." Ucap Ten, ia berucap polos seraya menikmati harum manis yang ia beli saat menuju ke sungai Han tadi.

"Jinjja? Jadi mama Ten sudah pandai berbohong." Ucap Johnny sedikit meledek.

"Ah itu, kukira kau sudah tahu. Biasanya kan Dery selalu bercerita padamu." Ucap Ten dengan wajah tanpa dosa.

"Kau sama sekali tidak keberatan jika Dery memanggilmu mama?" Tanya Johnny.

"Tentu saja tidak, lagipula hanya panggilan. Pasienku yang lain juga banyak yang memanggilku eonni atau noona. Aku sama sekali tak masalah." Ucap Ten.

"Bagaimana kalau benar-benar menjadi mamanya Dery? Kau tak keberatan kan?" Ucap Johnny seraya mengeluarkan kotak cincin yang sejak tadi ia sembunyikan.

"John kau bercan-"

"Tidak, aku tidak sedang bercanda. Kau mau kan menikah denganku?" Ucap Johnny.

Ten masoh terdiam, ia begitu terkejut dengan perkataan Johnny yang tiba-tiba. Walaupun tak dipungkiri Ten amat menunggu perkataan seperti itu keluar dari mulut Johnny sejak lama, namun tetap saja ia merasa sedikit terkejut, bahkan ia tak sadar jika ada harum manis yang mengotori sudut bibirnya.

"Aku mau…." Ucap Ten seraya mengangguk semangat. Johnny yang duduk dengan dada berdebar sejak tadi akhirnya bisa bernapas lega, ia pikir Ten menolaknya, nyatanya tidak, wanita itu benar-benar menerimanya sebagi pendamping hidupnya.

Setelah menyematkan cincin yang ia bawa ke jari manis Ten, Johnny menatap lekat ke netra indah wanita mungil itu. Perlahan wajah mereka saling beradu dan disaat itulah untuk pertama kalinya Johnny menyambar bibir ranum Ten yang terasa manis karena sisa harum manis yang masih menempel disana.

"Kau ambil ciuman pertamaku, huee…. eomma." Ucap Ten penuh drama saat ciuman mereka terlepas. Ia menyentuh lembut bibirnya sendiri dan merasakan jika ada debaran di hatinya setelah apa yang baru saja Johnny lakukan.

"Payah sekali. Sudah tua baru berciuman." Ledek Johnny.

"Yak, berani-beraninya mengataiku. Kau saja yang menikah terlalu cepat. Bahkan aku dan Kun masih melajang hingga saat ini." Ucap Ten tak mau kalah.

Setelahnya mereka nampak saling meledek satu-sama lain, dan jangan lupakan Johnny yang merengkuh tubuh mungil Ten seraya menikmati pemandangan malam sungai Han yang menyejukkan.

"Bulan depan kita menikah ya?" Ucap Johnny tiba-tiba.

"Yak, kau benar-benar gila. Itu terlalu cepat." Ucap Ten, bahkan ia mulai memukul kecil lengan kekar kekasihnya itu.

"Lebih cepat lebih baik bukan." Ledek Johnny, bahkan ia kembali mengecup bibir Ten dan berhasil membuat si pemilik merajuk dengan semua tingkah Johnny malam itu.

Setelah ini keluarga kecil yang mulanya berisi Johnny dan Hendery akan bertambah dengan kehadiran malaikat di tengah-tengah mereka. Ten yang menjelma sebagai sosok malaikat yang selama ini mereka idam-idamkan, jadi setangguh dan sehebat apapun seorang pria mengurus rumah tangga bukankah akan tetap membutuhkan sentuhan wanita di dalamnya?