28. When We Were Us

Hendery yang telah menjalani waktu berminggu-minggu di rumah sakit akhirnya diizinkan pulang, anak kecil itu nampak ceria dan berjalan riang menuju mobil sang ayah seraya tangan kecilnya menggenggam jemari lentik Ten erat-erat. Ten yang melihat Hendery kembali ceria tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mengingat Hendery yang sempat terjebak dalam suasana hati yang buruk selama beberapa hari terakhir.

"Nanti mama tinggal sama Dery kan?" Tanya anak kecil itu. Ia nampak telah duduk di kursi penumpang dengan sekantong cemilan yang sempat Johnny belikan beberapa menit lalu.

"Hum, bagaimana ya? Sepertinya mama belum bisa tinggal bersama Dery." Ucap Ten berusaha memberikan pengertian pada Hendery.

"Yah…. Kenapa begitu, bukannya daddy dan mama harus tinggal sama-sama." Ucap Hendery.

"Belum waktunya Dery, daddy janji sebentar lagi mama pasti akan tinggal bersama kita." Ucap Johnny seraya melirik ke arah Ten yang nampak memutar bolamatanya malas.

Setelah itu tak ada lagi rengekan dari Hendery, keluarga kecil itu mulai melaju ke kediaman mereka. Lebih tepatnya Ten ditarik paksa oleh Hendery untuk menemaninya pulang. Johnny bisa apa? Ia hanya diam saja, lagi pula ia suka jika Ten ada disisinya.

Seperti yang Johnny katakan sebulan lalu tentang rencananya pernikahan mereka yang akan dilakukan secepatnya, hari ini Ten terlihat begitu sibuk. Sudah sejak pagi hari ia mengurus semua keperluan pernikahannya dengan Johnny. Saat mereka akan menikah, Ten baru tersadar jika calon suaminya itu amat kaya raya. Bahkan Ten dibebaskan menggunakan black card milik Johnny untuk membeli apapun yang ia suka sejak sebulan yang lalu. Ten telah berada di dalah satu butik tempat ia dan Johnny memesan baju pernikahan. Ten berulang kali melirik ke arah jam tangannya, Johnny yang ia tunggu sejak tadi tak kunjung datang padahal ia sudah sangat bosan menunggu di butik.

Ten tersenyum miring saat siluet Johnny nampak memasuki butik. Pria itu terlihat sedikit berantakan, jasnya terlihat disampirkan di lengan dengan kemeja yang nampak keluar dari celana yang membingkai kaki jenjangnya. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk memarahi Johnny mengingat penampilang pria itu yang amat kacau, bisa-bisa ia yang dimangsa, pikir wanita itu.

"Ten aku benar-benar minta maaf, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan tadi." Ucap Johnny.

"Tidak apa-apa. Bisanya juga seperti itu kan?" Ucap Ten, ia mulai sedikit menyindir dan berdiri meninggalkan Johnny yang masih terpaku di tempatnya.

"Jangan marah…." Bujuk Johnny. Saat ini pria itu mulai mencoba setelan miliknya dengan Ten yang berada tak jauh darinya.

"Aku tak marah. Hanya saja sedikit sensitif, mungkin karena sedang datang bulan." Ucap Ten. Johnny hanya mengangguk seraya membenahi pakaiannya, tetap saja pria itu merasa tidak enak karena terlalu sering membuat Ten menunggu.

Ten nampak mencoba gaun pernikahan miliknya, rambutnya yang semula terurai panjang terpaksa ia ikat sementara untuk memudahkan saat mencoba gaun miliknya. Wanita itu masih berada di ruang ganti, ditemani oleh dua orang pegawai butik yang membantunya beberapa menit lalu. Sesekali wanita cantik itu berputar kesana-kemari saat melihat gaun indah yang membalut tubuh mungilnya. Bisa dibilang gaun ini adalah yang Ten impikan sejak lama, dan akhirnya ia bisa mewujudkannya bahkan menggunakannya di pernikahannya.

Tirai pambatas ruang ganti mulai ditarik dan tak butuh waktu lama siluet Ten yang mengenakan gaun indah telah muncul di hadapan Johnny. Pria itu juga nampak gagah dengan tuxedo yang membalut tubuh tegapnya hari itu.

"Kau cantik." Ucap Johnny.

"Sayangnya aku sudah tahu." Kekeh Ten

"Kau juga cukup tampan." Ten kembali berucap dan dibalas Johnny dengan kekehan kecil.

Setelah selesai dengan baju pernikahan mereka, dua insan itu menepi sejenak ke sebuah restoran Italia yang sukup populer di Seoul. Ten nampak menyantap makanannya dengan semangat seolah tak makan selama berhari-hari, menyisakan Johnny yang melihat dengan tatapan heran, seolah tak percaya jika Ten dengan tubuh begitu mungil bisa menghabiskan makanan begitu banyak.

"Kau seperti tak pernah lihat orang makan." Ucap Ten, sejak tadi ia sadar jika Johnny terus memperhatikannya di tengah aktivitasnya menyantap pasta.

"Kau benar-benar lapar ya?" Tanya Johnny.

"Hum. Berkat kau aku bahkan melewatkan makan siang." Balas Ten.

"Aish…. Masih saja dibahas, kan aku sudah meminta maaf." Ucap Johnny.

"Aku hanya bercanda." Kekeh Ten, memang akhir-akhir ini ia amat senang menggoda Johnny.

Setelah selesai makan malam, Johnny bergegas mengantar calon istrinya itu pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan mereka terlihat saling berbincang dan Ten terlihat cukup terkejut saat Johnny mengatakan jika ia baru saja membeli rumah baru yang rencananya akan mereka tempati setelah menikah nanti.

"Lalu rumahmu yang sekarang bagaimana?" Tanya Ten.

"Baik-baik saja." Ucap Johnny sedikit bercanda.

"Bukan begitu maksudku. Apa akan dibiarkan kosong begitu saja?" Tanya Ten.

"Sepertinya begitu. Lagipula bukankah rumah itu sedikit sempit untuk kita tinggali bertiga." Jawab Johnny.

Ten memutar bola matanya malas. Ia tak habis pikir dengan semua perkataan Johnny. Bahkan rumah yang Johnny tempati bersama Hendery termasuk dengan ukuran besar yang berada di salah satu komplek elit Gangnam, dan dengan mudahnya pria itu berucap telah membeli rumah baru dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Apa orang kaya sangat mudah menghamburkan uang, pikir Ten.

"Rumahmu yang sekarang juga cukup besar. Aku tak keberatan jika harus tinggal disana." Ucap Ten.

"Aku butuh suasana baru, lagipula Dery juga setuju." Balas Johnny. Ten hanya mengangguk menanggapi perkataan calon suaminya itu, daripada perdebatan semakin panjang lebih baik ia diam, pikir wanita itu.

"Sampaikan salamku pada Dery. Eomma juga sudah sangat merindukannya, kurasa lain waktu kau harus ajak Dery kemari." Ucap Ten, saat ini wanita itu telah keluar dari mobil Johnny yang telah sampai di kediaman keluarganya.

"Hum…. Dery juga sudah sangat merindukan keluargamu. Secepatnya akan kukirim Dery." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Memangnya anakku barang, kau kirim sembarangan." Ucap Ten seraya mendengus sebal.

"Anak kita sayang…." Ledek Johnny

"Aish…. Jangan panggil begitu, menjijikan sekali. Sudah sana pergi." Ucap Ten.

"Baiklah, sampaikan salamku pada appa dan eomma. Annyeong baby." Ucap Johnny sebelum melajukan mobilnya. Ten bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan tangan yang sesekali memukuli pipinya karena terasa panas setelah mendengar perkataan Johnny. entah kenapa semua perkataan manis yang keluar dari mulut Johnny selalu berhasil membuat Ten tersipu malu.

Johnny masuk ke rumahnya yang terlihat gelap, ia menyalakan beberapa lampu dan bergegas mengecek keadaan Hendery yang sepertinya sudah berada di kamarnya sejak berjam-jam yang lalu. Sejak beberapa bulan yang lalu Johnny memang menyewa maid untuk mengurus rumahnya hanya saja tidak sampai menginap, cukup datang setiap hari, membersihkan rumah, dan menyiapkan makanan untuk Hendery jika ia sedang sibuk. Hendery sendiri sudah lebih mandiri, ia sudah bisa ditinggal seorang diri di rumah, walaupun masih sedikit manja, namun setidaknya Johnny cukup bangga melihat anaknya yang mulai berkembang pesat.

Johnny memasuki kamar Hendery, disana terdapat dua rak besar yang berisi buku bacaan. Sejak memutuskan untuk memulai homeschooling beberapa tahun silam memang Hendery memiliki lebih banyak waktu luang, dan anak itu kerap kali menghabiskan waktu dengan membaca buku. Johnny senang-senang saja, lagipula itu merupakan kegiatan yang baik untuk Hendery dan tak sampai berpengaruh pada kesehatannya. Terlebih dahulu Johnny menjelajah meja belajar anaknya, ia menyempatkan diri untuk merapikan beberapa buku yang berserakan. Setelah itu ia beralih ke meja nakas Hendery, Johnny membuka laci dan mendapati kotak obat bersekat yang telah kosong di tiga bagian, Johnny tersenyum simpul. Setidaknya ia tahu jika Hendery meminum obatnya dengan baik selama ia tak berada di rumah. Setiap sebelum beraktivitas Johnny selalu menyempatkan diri untuk mengelompokkan obat Hendery dan memastikan anak itu meminumnya dengan baik. Karena setelah dilakukan operasi beberapa bulan lalu obat yang harus Hendery konsumsi kian bertambah demi mencegah efek buruk yang akan muncul pasca dilakukan operasi besar pada tubuh kurusnya.

Johnny beralih ke kasur yang dihiasi oleh seonggok manusia yang membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Hendery terlihat sudah tertidur lelap bahkan ia terlihat amat damai dalam tidurnya. Johnny sedikit mendekat dan mendaratkan kecupan di kening Hendery, dengan perlahan ia beranjak meninggalkan kamar tersebut dan mulai membersihkan diri sebelum akhirnya mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah setelah seharian beraktivitas di luar.

Hari ini adalah hari pernikahan Ten dan Johnny, setelah diwarnai banyak drama sejak beberapa hari lalu akhirnya dua insan itu resmi bersatu dalam ikatan pernikahan. Ten nampak cantik dengan gaun miliknya, bahkan Taeyong dan Winwin tak henti-hentinya memuji kecantikan wanita itu. Sedangkan Johnny terlihat berada di ruangan terpisah, disana ada Hendery yang juga terlihat tampan dengan setelan yang ia kenakan.

"Daddy tampan." Ucap Hendery pada sang ayah.

"Tentu saja boy." Canda Johnny, ia bahkan mulai merangkul Hendery dan memeluknya dengan sayang.

"Dery senang?" Tanya Johnny.

"Sangat." Ucap anak itu singkat.

"Terima kasih ya sudah menerima Ten imo menjadi mamanya Dery." Ucap Johnny.

"Ah daddy membuat Dery sedih. Sudah ah Dery mau keluar saja, San dan Mark sudah menunggu di depan." Ucap anak itu, setelahnya ia mulai melesat dan menemui kedua temannya yang telah berada di luar dengan penampilan yang tak kalah rapi. Hendery yang semakin dewasa menjadi sedikit gengsi saat harus mengutarakan perasaannya pada sang ayah, jauh berbeda dengan Hendery beberapa tahun silam. Johnny sangat paham dengan sifat sang anak sekalipun sesekali ia mengeluh karena Hendery mulai menyembunyikan banyak hal darinya, sepertinya Hendery membutuhkan sedikit ruang privasi seiring bertambahnya usia, pikir Johnny.

Pernikahan Ten dan Johnny diadakan di salah satu hotel mewah yang ada di pusat kota Seoul. Bahkan Johnny telah menyewa beberapa kamar untuk ditempatinya dan beberapa anggota keluarga yang kebetulan harus menginap. Johnny baru saja memasuki area pernikahan, ia nampak begitu gagah dengan tuxedo yang membalut tubuhnya, tak butuh waktu lama Ten terlihat mulai memasuki altar didampingi Tuan Lee yang nampak tersenyum sumringah saat menemani putri bungsunya melepas masa lajang. Dua insan itu mulai mengucap janji suci pernikahan di hadapan pendeta, setelahnya Johnny terlihat mengecup bibir Ten tanpa peduli jika ada beberapa anak dibawah umur di ruangan itu. Tentu saja hal itu berhasil membuat heboh para tamu undangan yang kian bersorak dan bertepuk tangan.

"Woah…. congrats bro." Ucap San, ia merangkul bahu Hendery yang nampak tersenyum teduh hari itu. Mark juga tak kalah heboh apalagi setelah melihat adegang ciuman yang dilakukan oleh orangtua sahabatnya itu.

Para tamu mulai mencoba hidangan yang telah disediakan. Di salah satu meja bundar nampak Mark, San, Hendery, dan Xiaojun yang tengah menikmati makanan mereka. Xiaojun menjadi satu-satunya perempuan di perkumpulan itu, lebih tepatnya sejak pertama kali datang ke Korea, Mark memaksa anak perempuan itu bergabung bersama mereka.

"Dery, kau baik-baik saja?" Tanya Mark, pasalnya anak laki-laki itu terlihat tak berselera makan dan sibuk mengacak makanannya sejak tadi.

"Iya…. Tidak apa-apa kok." Jawab Hendery.

"Bohong. Kau mau istirahat?" Tanya San, ia mulai memandangi wajah Hendery yang terlihat pucat hari itu.

"Iya sepertinya kau ke kamar saja. Ayo aku temani." Ucap Mark, ia mulai bangkir berdiri dan menarik tangan Hendery.

"Apa tidak apa-apa?" Tanya Hendery sedikit ragu, pasalnya ia takut akan mengecewakan Johnny dan Ten jika tiba-tiba menghilang.

"Tidak apa Dery, nanti aku akan bilang pada mama supaya beritahu John samchon jika kau istirahat di kamar." Timpal Xiaojun seraya tersenyum cerah.

Mark menemani Hendery sampai tiba ke kamar yang mereka tempati bersama San, sebuah kamar dengan ukuran cukup besar dan jangan lupakan play station yang telah Johnny siapkan. Setidaknya sedikit berguna untuk mengusir kepenatan mereka selama terjebak di hotel.

"Aku akan kembali lagi, kau belum makan kan?" Tanya Mark.

"Nanti saja. Aku mengantuk." Ucap Hendery, ia mulai membuka jas yang ia kenakan dan berbaring di kasur.

"Baiklah, aku akan pergi. Jangan sungkan untuk menghubungiku ya Dery." Ucap Mark. Hendery hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya.

Sebenarnya ia mulai merasakan hal aneh terjadi pada tubuhnya sejak beberapa menit yang lalu. Seperti ada yang salah namun Hendery tak tahu dibagian mana. Dan demi menjaga kelancaran pernikahan ayahnya Hendery terpaksa berdiam diri sejak tadi. Namun kedoknya berhasil terlihat oleh teman-temannya dan membuatnya berakhir di kamar hotel seorang diri. Hendery mulai berbaring dan berusaha memejamkan matanya, entah kenapa kepalanya tiba-tiba saja terasa berdenyut dan membuatnya makin mengantuk.

Tak berapa lama kemudian Mark kembali datang ke kamar hotelnya, kali ini ia tidak sendiri, San ikut masuk ke kamar hotel karena ia bilang di bawah sudah mulai membosankan dan ia butuh sedikit hiburan. Mark menoleh ke arah kasur dan mendapati Hendery yang masih memejamkan mata.

"Dery belum minum obatnya." Ucap San, ia menunjuk ke arah kotak obat yang masih terlihat belum berkurang isinya.

"Apa bengunkan saja?" Tanya Mark ragu-ragu, pasalnya ia tak tega jika harus membangunkan Hendery karena anak laki-laki itu terlihat amat damai dalam tidurnya.

"Bangunkan saja. John samchon kan sudah meminta pada kita untuk menjaga Dery." Usul San. Akhirnya Mark mengalah, ia mulai mendekat ke arah Hendery dan mengguncang pelan bahu sahabatnya itu. Hendery terlihat mulai menggeliat karena tidurnya yang terganggu. Perlahan netra indahnya terbuka sempurna dan ia mendapati Mark dan San yang berada tak jauh darinya.

"Makan dulu, kau harus minum obat." Ucap San. Dengan malas Hendery bangkit dari posisi berbaring dan menerima makanan yang sempat Mark bawakan beberapa menit lalu.

Sementara Hendery mengisi perutnya, San dan Mark memilih untuk bermain dengan play station yang tersedia di kamar hotel. Sesekali dua anak laki-laki itu terlihat berteriak dan bercanda satu sama lain. Hendery juga kerap kali terkekeh saat melihat tingkah dua sahabatnya itu.

"Setelah makan mau main?" Tawar Mark pada Hendery.

"Tidak." Ucap Hendery singkat.

"Kau tidak merasakan hal yang aneh kan? Apa dadamu sakit lagi." Tanya San penuh selidik.

"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing." Balas Hendery, ia baru saja menghabiskan makanannya dan bersiap untuk meminum obatnya sat itu.

"Apa perlu aku beritahu John samchon?" Tanya Mark. Hendery menggeleng kuat, ia benar-benar tak setuju dengan saran yang Mark berikan.

"Jangan. Aku sudah lebih baik." Bohong Hendery.

Mark dan San saling berpandangan, kemudian keduanya mengangguk. Mungkin Hendery benar-benar lelah, pikir mereka. Dua anak laki-laki itu pun kembali melanjutkan aktivitas mereka sampai akhirnya suara ketukan pintu membuat konsentrasi mereka terpecah. Mark bangkit untuk membuka pintu. Disana telah terlihat Johnny dan Ten yang terlihat telah berganti pakaian, bahkan Mark baru ingat jika akan diadakan jamuan makan malam.

"Dery di dalam Mark?" Tanya Johnny.

"Iya samchon tapi sudah tidur setelah minum obat." Jelas Mark, ia mempersilahkan sepasang pengantin baru itu untuk masuk ke dalam dan melihat keadaan anak mereka. Johnny cukup terkejut mendapati anaknya tengah tertidur, terlebih akan dilakukan perjamuan makan malam yang diikuti keluarga Ten dan Johnny.

"Dery…. Bangun…." Johnny mengguncang pelan bahu Hendery yang tengah tertidur dengan lelapnya. Hendery mendengus sebal saat lagi-lagi tidurnya diganggu oleh orang lain namun matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapannya.

"Dery lupa kalau ada acara makan malam?" Tanya Johnny, ia terlihat sedikit sebal karena Hendery malah tertidur lelap di saat seperti ini.

"Maaf dad." Lirih Hendery, ia cukup khawatir akan membuat orang tuanya kecewa.

"Dery sakit?" Tanya Ten, ia mulai meraba kening Hendery yang terasa sedikit hangat.

"Hanya pusing sedikit." Ucap Hendery ragu-ragu.

"Kalau Dery disini saja bagaimana dad?" Ucap Hendery.

"Yasudah Dery istirahat saja ya, kalau merasakan sesuatu cepat kabari mama. Atau paling tidak bisa minta tolong pada Mark dan San, jangan diam saja." Ucap Ten, ia cukup kesal karena Johnny hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Hendery.

"Terima kasih mama." Ucap Hendery. Ten mengangguk dan mengecup lembut pucuk kepala Hendery. Setelahnya Johnny mendekat dan memeluk Hendery, sepertinya ia cukup merasa bersalah setelah memarahi anaknya tadi.

Setelahnya sepasang pengantin baru itu mulai mengikuti jamuan makan malam yang diadakan, namun Ten mendapati Johnny yang terlihat tak fokus terlebih saat berbincang dengan anggota keluarganya. Sudah pasti penyebab pria tinggi itu begitu gusar adalah Hendery, terlebih sebelum mereka kemari anak laki-laki itu bilang jika ia merasa tak enak badan. Sudah pasti pikiran Johnny mulai bercabang-cabang.

"Dery baik-baik saja, Mark dan San bersamanya. Kau tenang saja." Ucap Ten sedikit berbisik seraya mengelus lembut bahu kokoh sang suami.

"Eh bagaimana kau-"

"Wajahmu menjelaskan semuanya." Kekeh Ten.

Setelah selesai dengan jamuan makan malam, Johnny bergegas membawa Ten pergi dan melesat menuju kamar tempat Hendery tidur. Johnny mengetuk pintu tersebut beberapa kali namun tak mendapat jawaban, pasti anak-anak itu sudah terlelap, terlebih waktu mulai menunjukkan tengah malam.

"Kita minta kunci cadangannya ya." Usul Johnny. Ten membelalakkan matanya tak percaya, jadi benar Johnny sekhawatir itu pada Hendery.

Setelah berhasil memasuki kamar dengan kunci cadangan, Ten dan Johnny berjalan mengendap-endap supaya tidur tiga anak laki-laki yang berada di sana tidak terganggu. Johnny berpindah ke samping Hendery, anak itu masih nampak tertidur lelap dengan kening yang sedikit berkeringat padahal suhu ruangan cukup dingin malam itu.

"Masih hangat." Ucap Johnny, Ten mengangguk dan menuju ke kotak P3K yang berada tak jauh darinya, ia mengambil plester penurun demam dan menempelkannya ke kening Hendery, anak laki-laki itu nampak menggeliat tak nyaman saat benda dingin menempel di keningnya namun ia sama sekali tak terbangun dan lebih memilih melanjutkan tidurnya.

Saat ini Ten dan Johnny telah berada di kamar mereka, Johnny baru saja selesai membersihkan diri. Pria tinggi itu terkesiap saat melihat Ten yang berdiri di depan cermin dengan pakaian yang cukup menggoda. Wanita itu tampak mengenakan gaun tidur berbahan satin tanpa lengan dengan cardigan tipis yang menyelimutinya. Jujur saja itu cukup membuat Johnny tergoda.

"Kau mau menggodaku ya?" Ejek Johnny, ia sibuk memeluk Ten dari belakang dan mengendus aroma tubuh Ten yang entah sejak kapan menjadi favoritnya.

"Yak… bukan begitu. Aku berani sumpah jika yang dimasukkan ke koper itu piyama tidur biasa, kenapa malah berubah seperti ini. Kurasa eomma mengerjaiku." Ucap Ten, ia sudah menduga jika tersangka penyelundupan gaun tidur adalah ibunya sendiri, karena sejak beberapa minggu sebelum menikah wanita itu menunjukkan pada Ten berbagai macam model gaun tidur.

"Aku suka sekali. Kurasa aku harus berterima kasih pada eomma." Kekeh Johnny.

"Pantas saja eomma sangat suka kau jadi menantunya. Ternyata pemikiran kalian memang sejalan." Ucap Ten polos.

Ten memutar tubuhnya dan menatap Johnny lekat-lekat. Saat ini mereka sama sekali tak berjarak bahkan deru napas satu sama lain saling terdengar. Johnny balas menatap netra indah Ten dengan tatapan yang tak kalah menggoda. Detik berikutnya ia menyambar bibir ranum Ten seolah mengklaim jika bibir itu hanya menjadi miliknya. Bibir mereka saling berada dalam waktu yang cukup lama, jika saja Ten tak memukul dada bidang Johnny pasti mereka sudah kehabisan napas.

"Kau mau membunuhku- yak turunkan aku Johnny…." Ten yang berniat memarahi Johnny malah berakhir dalam gendongan pria itu yang membawanya ke kasur besar mereka.

"Maaf sayang tapi aku tak butuh ini." Ucap Johnny, ia melepas paksa cardigan yang Ten gunakan dan berhasil membuat Ten tersentak. Detik berikutnya permainan khas sepasang pengantin baru di malam pertama mulai mereka lakukan. Saat ini kamar mereka hanya dipenuhi desahan kenikmatan yang didominasi oleh suara nyaring Ten, sebagai pertanda atas bersatunya aku dan kau yang berubah menjadi kita.