29. Ohana

Mark dan San yang baru saja selesai membersihkan diri terlihat telah berdandan rapi, menyisakan Hendery yang masih bergelung dalam selimut tebalnya sejak beberapa menit yang lalu. Ia sudah cukup sehat berkat plester penurun demam yang menempel di dahinya hanya saja tetap merasa malas untuk mandi sepagi ini.

"Dery sampai kapan seperti itu?" Ledek Mark.

"Sampai tertidur lagi." Lirih Hendery.

"Yak…. Kau sudah tertidur sangat lama dan tetap mengantuk. Yang benar saja?" Ucap San seraya memutar bola matanya malas.

Setelahnya tak ada lagi pembicaraan. Mark dan San kembali sibuk dengan game yang tengah mereka mainkan. Begitupun Hendery, anak laki-laki itu kembali memejamkan mata seolah terbuai dengan kehangatan selimut yang ia gunakan. Tak lama kemudian Mark dan San bangkit, mereka berpamitan pada Hendery karena ayah San telah menunggu di lobby hotel dan Mark berniat pulang bersama. Lagipula setelah ini Hendery masih memiliki kegiatan lain bersama orang tuanya, pikir mereka.

"Terima kasih sudah mau datang." Ucap Hendery.

"Tenang saja, bukan masalah besar. Jangan lupa minum obatmu, sampai ketemu lagi." Ucap Mark. Hendery hanya tersenyum simpul dan membiarkan kedua sahabatnya itu meninggalkan kamar hotel yang mereka gunakan.

Hendery yang ditinggal seorang diri memutuskan untuk mandi. Setelah selesai Hendery mulai mengenakan pakaiannya. Anak laki-laki itu nampak tengah memasang kancing kemeja yang ia gunakan saat tiba-tiba saja pintu kamar hotelnya terbuka dari luar.

"Morning boy…." Itu suara Johnny, pria tinggi itu nampak terlihat lebih segar dan jangan lupakan senyum sumringah yang menghiasi wajah tampannya.

"Morning dad." Balas Hendery.

"Mark dan San sudah pergi?" Tanya Johnny yang saat ini tengah merapikan rambut Hendery.

"Hum. Ayah San sudah menjemputnya tadi, lalu Mark ikut pulang bersama." Jelas Hendery. Johnny hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Hendery, setelahnya ia mengajak anaknya itu untuk keluar sekedar mengisi perut mereka yang telah berbunyi karena hampir melewatkan jam sarapan.

"Mama!" Teriak Hendery di depan kamar hotelnya saat melihat Ten yang berjalan cukup lambat pagi itu. Johnny nampak terkekeh sedangkan Ten memberikan tatapan tajam pada pria itu, jangan lupakan kejadian di pagi hari yang membuat amarah Ten memenuhi kamar mereka.

"Mama sakit ya? Kenapa jalannya seperti itu?" Tanya Hendery polos.

"Mama baik-baik saja kok, Dery tenang saja." Ucap Ten seraya mengelus lembut surai hitam Hendery.

"Mama bohong. Kalau tidak sakit kenapa terlihat begitu saat berjalan. Kita makan di kamar saja ya ma, Dery tidak mau mama tambah sakit. Ya? Ya?" Ucap Hendery, ia mulai merengek dan bergelayut di lengan Ten, menggoyangkannya kesana kemari seperti anak TK yang minta dibelikan permen oleh ibunya.

"Baiklah tapi di kamar Dery saja ya." Ucap Ten final, sekalipun ia sedikit malu namun setidaknya dengan adanya permintaan Hendery ia bisa mengurangi sedikit pergerakannya. Sedangkan Johnny yang nampak berdiri tak jauh dari mereka terlihat memutar bola matanya malas karena lagi-lagi harus mengalah pada sang anak.

Johnny yang baru saja selesai menghubungi layanan home service nampak memainkan ponselnya menyisakan Hendery yang memeluk Ten posesif di atas kasur miliknya. Ten tentu saja tidak masalah dipeluk seperti itu oleh anaknya, lagi pula ia amat menyukai aroma tubuh Hendery seperti sesuatu yang amat menenangkan di hatinya.

"Dery sudah tidak demam?" Tanya Ten seraya mengelus lembut kening Hendery, yang ditanya hanya menggeleng dan tetap fokus memeluk Ten tanpa mau melepaskannya.

"Mama yang obati Dery semalam kan?" Tanya Hendery. Ten cukup terkejut pasalnya ia dan Johnny belum bercerita pada anak laki-laki itu jika semalam mereka mengendap-endap datang kemari.

"Dery tahu darimana?" Tanya Ten penuh selidik.

"Suara daddy besar sekali semalam, tapi Dery terlalu malas buka mata." Ucap Hendery polos. Ten dan Johnny hanya terkekeh dan kembali fokus dengan kegiatan mereka.

Tak butuh waktu lama makanan yang mereka pesan nampak telah datang. Keluarga kecil itu mulai menikmati makanan mereka namun dihiasi dengan agenda complain Hendery yang menolak makan ini dan itu sampai Johnny pusing dibuatnya.

"Dery jangan begitu, jangan karena ada mama jadi manja begini." Ucap Johnny, bahkan tanpa sadar ia meninggikan suaranya. Ten menatap tajam ke arah Johnny, seolah tak habis pikir perkataan seperti itu terucap dari mulut Johnny sedangkan pria itu hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli. Selanjutnya Hendery hanya terdiam dan menelan bulat-bulat brokoli yang berada di piringnya. Percayalah brokoli adalah sayuran yang paling ia benci dan hari ini dengan sangat terpaksa sayuran itu akan berakhir di perutnya.

Hendery yang masih terlihat kesal pada Johnny hanya terdiam dan tak banyak bicara bahkan sampai ia menghabiskan sarapannya. Anak kecil itu memilih untuk duduk di sofa seraya memainkan games yang ada di iPad nya tanpa peduli dengan wajah keheranan Johnny yang menatapnya sejak tadi.

"Salahmu sendiri, kenapa bicara seperti itu pada Dery. Pasti sekarang ia sedang kesal." Ucap Ten hampir terdengar seperti berbisik.

"Kurasa aku tidak salah, memang Dery terlalu menempel padamu sejak tadi." Balas Johnny.

"Aku tahu. Tapi anak-anak paling tidak suka jika direndahkan begitu, kau lihat Dery langsung terdiam sejak kau berucap tadi." Ucap Ten, ujung matanya nampak menunjuk ke arah Hendery yang masih sibuk dengan iPad nya.

"Mama, Dery mau pulang saja boleh?" Ucap Hendery tiba-tiba. Ten nampak tersentak ia yakin suasana hati anak laki-laki itu sudah amat buruk.

"Kenapa? Dery tidak suka disini?" Tanya Ten, ia mulai menghampiri Hendery dan duduk disampingnya. Dery hanya menggeleng dan menundukkan wajahnya.

"Hanya bosan. Boleh ya? Dery mau minta jemput Seo imo boleh?" Tanya Hendery hati-hati.

"Dery tidak suka bersama mama?" Tanya Ten mulai berdrama.

"Suka, Dery suka sekali. Tapi Dery mau pulang, apa tidak boleh?" Ucap Hendery. Ten menatap ke arah Johnny seolah meminta persetujuan pria itu. Johnny hanya diam dan tak lama kemudian pria itu mulai mengangguk, sepertinya Hendery membutuhkan sedikit waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Selama dua belas tahun selalu dimanjakan oleh Johnny tentu saja Hendery bisa terkejut dengan perlakuan Johnny yang begitu berbeda sejak kemari. Ditambah suasana hati anak laki-laki itu mudah sekali berubah-ubah seolah terombang ambing dibawa oleh roller coaster.

Setelah dihubungi, tak butuh waktu lama Seohyun telah tiba di lobby hotel. Ten dan Johnny nampak mengantar kepergian Hendery pagi itu. Ten mengelus lembut surai hitam Ten dan mengecupnya dengan sayang, namun sata giliran Johnny, anak laki-laki itu sedikit menyingkir dan memilih untuk merapatkan diri pada Seohyun. Si wanita tinggi merasa ada yang aneh, tak biasanya keponakannya itu bersikap demikian pada sang ayah. Seolah paham dengan Hendery yang mulai tidak nyaman Seohyun memilih untuk melajukan mobilnya meninggalkan sepasang pengantin baru yang masih dimabuk asmara.

"Apa aku bilang? Kau lihat kan Dery langsung berubah." Ucap Ten, ia mulai kembali masuk ke hotel, meninggalkan Johnny yang masih terpaku di tempatnya.

"Dery tidak mau cerita pada Seo imo?" Tanya Seohyun berusaha membujuk keponakannya. Hendery hanya menggeleng dan menatap ke arah jendela tanpa mau menatap ke arah Seohyun.

Sesampainya di rumah keluarga Seo, Hendery bergegas masuk ke kamar dan berbaring di kasur. Nyonya Seo menatap keheranan ke arah sang cucu dan meminta penjelasan Seohyun yang baru saja menjemputnya.

"Ten bilang Johnny tak sengaja berteriak pada Dery saat sarapan dan berakhir dengan Dery yang seperti sekarang." Ucap Seohyun.

"Astaga anak bodoh itu masih saja berulah, tapi tak biasanya Johnny memarahi Dery begitu?" Ucap nyonya Seo.

"Aku tidak tahu eomma, Ten belum bercerita dengan jelas. Aku ke kamar dulu eomma, aku takut Dery sedang menangis." Ucap Seohyun.

"Ah iya lebih baik kau temui Dery, anak itu bisa sesak jika menangis terlalu lama." Jelas nyonya Seo.

Sesuai dugaan Seohyun, Hendery benar-benar sedang menangis di kamar yang biasa ia tempati. Seohyun naik ke aras kasur dan mulai merengkuh bahu kecil keponakannya yang bergetar.

"Dery kenapa? Mau cerita sama imo?" Tanya Seohyun.

"Dad- dy tidak sayang Dery lagi ya imo." Ucap Hendery di sela-sela tangisnya.

"Siapa bilang, daddy sangat menyayangi Dery." Ucap Seohyun.

"Daddy hiks… berteriak pa- da Dery." Ucap anak kecil itu

"Bukan berarti daddy tidak sayang Dery, pasti ada alasan kenapa daddy marah. Sudah ya jangan menangis, nanti sesak lagi seperti beberapa hari lalu." Ucap Seohyun. Hendery masih tetap menangis tanpa peduli dengan semua perkataan Seohyun. Dalam hati Seohyun telah menyumpahi Johnny karena telah membuat anaknya sendiri menangis seperti itu.

"Ah iya eonni terima kasih banyak. Tapi Dery baik baik saja kan?"

"Ah begitu, baiklah. Kami titip Dery sebentar ya eonni."

Ten mengakhiri panggilan teleponnya dengan Seohyun, ia duduk disebelah Johnny yang nampak memainkan ponselnya. Jujur saja Ten cukup kesal melihatnya.

"Dery baru selesai menangis, dia sempat sesak selama beberapa menit. Tapi sekarang tidak apa-apa, sudah jauh lebih baik." Jelas Ten. Johnny mengalihkan pandangan dari ponsel miliknya, dan menatap Ten lekat, ia tak menyangka jika perkataannya saat sarapan bisa begitu berefek untuk anaknya.

"Kau sih, sudah tahu suasana hati Dery mudah berubah-ubah." Ucap Ten.

"Lalu aku harus apa?" Tanya Johnny sedikit memelas, ia mulai merasa bersalah apalagi setelah mendengar kabar dari Seohyun tentang anaknya itu.

"Tentu saja minta maaf. Kurasa bulan madunya kita tunda saja, kau yakin mau meninggalkan Dery dalam kondisi seperti itu?" Ucap Ten.

"Tidak bisa, kita tetap harus pergi. Masalah Dery biar aku pikirkan lagi, kau jangan khawatir." Ucap Johnny.

"Terserah saja, tapi jangan salahkan aku kalau Dery semakin marah padamu." Ledek Ten.

Setelah meninggalkan hotel, pasangan baru itu bergegas memulai rangkaian acara bulan madu mereka. Alasannya sederhana, karena baik Ten dan Johnny sama sama sibuk akan sangat sulit mencari waktu lain, dan jalan satu-satunya adalah dengan langsung melakukan bulan madu setelah pernikahan mereka. Mereka memilih Jepang sebagai lokasi tujuan, setidaknya dua insan itu akan berada disana sekitar dua minggu lamanya sebelum akhirnya pulang dan kembali beraktivitas.

Ten benar benar menikmati waktu liburannya terlebih ia sudah sangat lama tidak pergi ke Jepang. Seingatnya terakhir ia datang ke negeri matahari terbit itu saat awal perkuliahan bersama teman-temannya. Dan hari ini ia kembali datang dengan Johnny yang telah resmi menjadi suaminya.

"Kau sesenang itu kita datang kemari?" Ucap Johnny. Saat ini mereka berdua tengah berada di balkon hotel dan disuguhi pemandangan yang amat memanjakan mata setelah lelah mengitari kota seharian.

"Tentu saja, dan tepat sekali kita datang saat bunga sakura bermekaran." Ucap Ten, ia nampak menikmati sentuhan lembut Johnny yang memeluknya dari belakang.

"Kau sudah hubungi Dery?" Tanya Ten penuh selidik.

"Sudah, dia sudah mau bicara lagi denganku. Dan kau tau apa yang Dery katakan?" Ucap Johnny.

"Apa?" Tanya Ten.

"Dia minta dibawakan kitkat, katanya ingin mencoba semua rasa kitkat yang dilihatnya di video." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Lucu sekali." Kekeh Ten.

"Apa daddy nya tidak lucu?" Tanya Johnny.

"Jangan begitu, kau menjijikan." Ucap Ten, detik berikutnya Johnny malah menggendong Ten dan membawanya ke kasur mereka. Bukankah saat bulan madu adalah kesempatan emas untuk sepasang pengantin baru melakukan this and that, pikir Johnny.

Dua minggu sudah Ten dan Johnny menghabiskan waktu di Jepang, mereka nampak baru saja sampai di Korea dan bergegas pergi ke rumah keluarga Seo untuk menyusul Hendery yang menginap disana dua minggu lamanya. Hendery nampak tengah bermalas-malasan di sofa ruang keluarga, karena masih dalam masa liburan jadi Hendery hanya berdiam diri di rumah tanpa perlu menerima pelajaran seperti yang biasa ia lakukan. Ia menatap ke arah televisi yang menyajikan acara survival yang biasa ditonton Seohyun sang imo. Sampai hari ini Hendery belum tahu dimana letak keseruan acara itu dan kenapa imo nya begitu menggilainya.

"Dery minta oleh-oleh apa pada mama?" Tanya Seohyun pada keponakannya yang sedang menikmati semangka.

"Kitkat." Ucap Hendery.

"Lalu?" Tanya Seohyun.

"Tidak ada, hanya kitkat." Ucap Hendery polos.

"Kenapa hanya minta itu, daddy pasti akan belikan jauh lebih banyak jika Dery memintanya." Jelas Seohyun seraya terkekeh.

"Dery tidak tahu mau apa lagi, Mark bilang kalau ke Jepang harus coba kitkat." Balas Hendery polos.

"Mark sudah pernah ke Jepang?" Tanya Seohyun.

"Sudah, Jeno juga, San juga. Bahkan Xiaojun juga." Balas Hendery.

"Kan ayah Xiaojun memang orang Jepang Dery." Ucap Seohyun. Hendery hanya tersenyum seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Hendery nampak tengah fokus dengan iPad miliknya dengan kepala yang bertumpu di meja yang ada di kamarnya. Ia nampak fokus menonton acara kartun melalui iPad nya tanpa sadar jika seseorang telah masuk ke kamarnya dan berdiri di hadapannya.

"Berapa kali daddy bilang, kalau menonton jangan seperti itu." Itu Johnny, pria itu nampak menyingkirkan iPad Hendery dan berhasil membuat anak laki-laki itu cukup terkejut.

"Daddy kapan datang?" Tanya Hendery.

"Apa seseru itu acaranya sampai tak sadar saat daddy masuk." Ucap Johnny, Hendery hanya menggeleng karena memang ia tak sadar kapan ayahnya masuk ke kamarnya.

"Ini…." Ucap Johnny, ia menyodorkan paper bag berukuran besar ke hadapan Hendery dan diterima dengan ragu-ragu oleh anak tampan itu. Hendery membuka paper bag yang berada di hadapannya dan setelahnya senyuman indah nampak terukir di wajah tampan Hendery karena Johnny membawakan apa yang ia inginkan.

"Terima kasih daddy." Ucap Hendery.

"Hanya terima kasih? Tidak adakah pelukan untuk daddy?" Tanya Johnny. Akhirnya dengan sedikit canggung Hendery menubruk tubuh besar sang ayah dan memeluknya erat-erat. Tak dipungkiri setelah sekian tahun hanya tinggal berdua ini adalah waktu terlama Hendery berpisah dari Johnny, sudah pasti anak laki-laki itu amat merindukan sang ayah. Hanya saja perkara masalah beberapa minggu lalu cukup membuat Hendery menjadi gengsi untuk menuntaskan rasa rindunya.

"Dery masih marah?" Tanya Johnny, saat ini ia sibuk mengelus surai hitam Hendery yang tengah berbaring di pahanya.

"Tidak." Ucap Hendery singkat.

"Daddy…." Ucap Hendery lagi.

"Hum…." Gumam Johnny.

"Dery minta maaf." Ucap Hendery.

"Untuk apa? Dery tidak salah apa-apa." Jawab Johnny.

"Dery tidak menuruti perkataan daddy, pasti daddy kesal kan saat di hotel. Lalu Dery juga pergi tiba-tiba." Ucap anak kecil itu, ia mulai bangkit dari posisi berbaring dan duduk di hadapan sang ayah. Netra indahnya terlihat mulai berkaca-kaca, sepertinya Hendery telah merenungi kesalahannya selama beberapa hari kebelakang.

"Ais…. Itu tidak masalah. Yang penting Dery sudah belajar sesuatu kan, mulai sekarang jangan lari dari masalah. Coba selesaikan masalah itu sebisanya, Dery paham?" Ucap Johnny.

"Hum… paham." Balas Hendery.

"Dery!..." Itu Ten, ia nampak berlari kamar Hendery dan bergegas memeluk anak laki-laki itu.

"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Tanya Johnny pada sang istri.

"Aish… kau lama sekali, kakiku pegal tahu menunggu di depan. Lagipula kalian sudah saling memaafkan kan? Iya kan?" Ledek Ten.

"Mama… Dery malu." Ucap Hendery ia mulai tersipu dan bersandar manja di bahu sang mama.

"Gemasnya…." Ucap Ten seraya mengacak rambut hitam sang anak.

"Dasar kalian berdua ayah dan anak sama saja gengsinya." Kekeh Ten.

Johnny yang semakin gemas dengan Hendery semakin menggoda anaknya itu, sedangkan Hendery semakin merapatkan pelukannya ke tubuh sang mama. Semakin besar usianya anak laki-laki itu mulai merasa gengsi jika terus menerus dicium oleh sang ayah padahal saat kecil dulu hal itu merupakan ritual rutin yang biasa mereka lakukan.

"Daddy jangan cium-cium…." Ucap Hendery.

"Memangnya kenapa? Daddy suka ciumi Dery." Canda Johnny.

"Huaa…. Mama, tolong Dery." Ucap anak laki-laki itu mulai memelas.

"Johnny usil sekali, jangan ganggu anakku." Ucap Ten.

Setelahnya nampak ada suara kekehan dari keluarga kecil yang tengah bercanda riang itu. Semuanya nampak bahagia, Johnny bahagia, Ten bahagia, dan Hendery jauh lebih bahagia karena setelah menunggu lama akhirnya ia dapat tinggal bersama sang mama, memiliki keluarga utuh seperti yang selalu ia dambakan sebagaimana milik anak lainnya di luar sana.