30. Happy Family

Setelah kembali dari rangkaian acara bulan madu dan menjemput Hendery di rumah keluarga Seo, hari ini keluarga kecil Johnny mulai sibuk berbenah. Rencananya besok mereka akan pindah ke rumah baru yang telah Johnny siapakan. Dan yang cukup mengejutkan ternyata rumah tersebut berada di komplek yang sama tempat Yuta dan Jaehyun tinggal, seolah tiga serangkai itu memang ditakdirkan untuk berkumpul bersama.

"Dery, sudah ya lebih baik istirahat saja, biar mama yang bereskan." Ucap Ten, ia cukup risau pasalnya sejak tadi Hendery nampak sibuk membenahi barang-barang yang ada di kamarnya.

"Tidak mau, nanti mama kelelahan. Buku Dery kan banyak, mainannya juga." Ucap anak laki-laki itu seraya menunjuk ke arah kardus-kardus yang telah tertata. Rencananya sebagian mainan dan pakaian Hendery yang telah tak terpakai akan mereka donasikan ke panti asuhan. Sebenarnya itu bukanlah hal asing untuk Hendery, pasalnya Seohyun cukup sering mengajak keponakannya itu berkunjung ke panti asuhan dan berbagi dengan anak-anak yang ada disana.

"Okay, tapi pakai maskernya. Disini banyak sekali Debu." Ucap Ten, ia khawatir kesehatan Hendery akan semakin memburuk setelah menghirup debu-debu yang bertebaran dan tak terlihat. Hendery hanya mengangguk dan mulai menggunakan masker yang Ten berikan.

Sesuai dengan perkataan Ten beberapa menit lalu, Hendery nampak mulai kelelahan. Keringat mulai membanjiri keningnya dengan napas yang sedikit memburu. Ten yang paham dengan kondisi sang anak bergegas menghampiri Hendery dan menuntunnya untuk bersandar di kasur.

"Sudah ya, jangan dipaksakan. Dery istirahat saja." Ucap Ten, ia mengelus lembut dada Hendery yang bergerak naik turun dan membiarkan anak laki-laki itu bernapas dengan teratur. Hendery yang merasa tubuhnya tak lagi bisa diajak kompromi hanya mengangguk mendengar perkataan Ten, setelahnya ia mulai berbaring dan berusaha memejamkan matanya. Mungkin saja setelah terbangun keadaannya akan lebih baik, pikir anak laki-laki itu.

"Ten! Sudah selesai?" Tanya Johnny sedikit berteriak. Ten memposisikan jari telunjuknya di depan bibirnya seolah memberi isyarat pada Johnny jika anak mereka baru saja tertidur lelap.

"Dery kenapa?" Tanya Johnny, ia mulai bergabung dengan Ten melanjutkan mengemasi barang-barang milik Hendery.

"Dia kelelahan, sejak tadi terus memaksa ikut membantuku." Jelas Ten, Johnny hanya mengangguk dan mulai mengangkut kardus-kardus besar ke depan kamar Hendery.

Setelah merapikan barang-barang Hendery, Ten memutuskan untuk memasak makan malam. Ini pertama kalinya Ten masak di dapur Johnny. Jujur saja wanita itu cukup takjub melihat tatanan dapur yang begitu rapi, benar-benar ciri khas Johnny, pikir wanita mungil itu.

"Aku benar-benar tak percaya selama ini kau mengurus dapur seorang diri." Ucap Ten.

"Kau belum pernah coba masakanku kan? Coba tanya Dery, anak itu saja sampai tergila-gila." Bangga Johnny.

"Terserah kau saja." Ucap Ten seraya memutar bola matanya malas.

"Kau mau kumasakkan apa?" Tanya Ten lagi, ia nampak menjelajahi kulkas besar yang dipenuhi dengan bahan makanan.

"Kau sudah bisa masak?" Tanya Johnny.

"Yak…. Masih senang meledekku rupanya, kau sama saja seperti eomma." Ucap Ten kesal.

"Aku hanya bercanda sayang…. Kau masakkan apapun akan ku makan." Ucap Johnny, ia mulai memeluk sang istri dari belakang dan menikmati aroma tubuhnya.

"Kau tahu apa yang membuatku belajar memasak?" Tanya Ten.

"Untuk menikah denganku?" Tanya Johnny balik.

"Enak saja, percaya diri sekali kau. Aku belajar masak karena Dery suka sekali makan, saat berkunjung ke rumahku ia pasti senang jika eomma mengajaknya membuat cemilan bersama." Ucap Ten mulai mengingat masa lalu.

"Ah, beberapa tahun lalu ya. Sekarang anak itu sudah berubah, malah cenderung malas makan." Ucap Johnny.

"Kau benar sekali." Balas Ten.

"Sudah ah lepas, aku harus masak makan malam sebelum Dery terbangun." Ucap Ten yang mulai melepas paksa tangan kekar Johnny yang melingkar di pinggang rampingnya.

"Eih, lihat saja nanti malam aku akan menghukummu." Ucap Johnny, ia mulai menjauh dari dapur dan memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Coba saja kalau bisa." Balas Ten, ia menjulurkan lidahnya berusaha meledek Johnny yang kian menjauh dari pandangan matanya.

Setelah selesai dengan masakannya, Ten bergegas naik ke lantai atas dan berniat membangunkan Hendery. Saat membuka pintu kamarnya, nampak Hendery yang tengah terduduk dan mengerjapkan matanya beberapa kali, sepertinya anak laki-laki itu baru saja terbangun dari tidurnya.

"Pas sekali. Ayo kita makan malam." Ucap Ten, ia mendekat ke arah Hendery dan mengacak surai hitam anaknya itu.

"Dery tidak lapar, ma." Ucap Hendery.

"Jangan begitu, bahkan sejak tadi siang hanya makan sereal. Dery harus makan setelah itu minum obatnya, mama janji setelah itu tak akan ganggu Dery lagi." Ucap Ten. Dengan pasrah Hendery menurut dan mengikuti Ten yang mulai berjalan ke ruang makan. Disana Johnny telah duduk di salah satu kursi meja makan dan tengah sibuk memainkan ponselnya sejak tadi, bahkan kehadiran Ten dan Hendery tak dihiraukan oleh pria tinggi itu.

"Dery mau apa?" Tanya Ten saat melihat anaknya bangkit berdiri.

"Ini terlalu banyak ma, pasti tidak habis." Balas Hendery.

"No no, itu sudah mama kurangi. Sudah ya, Dery harus makan yang banyak." Ucap Ten, Hendery mulai terlihat kesal mau tidak mau ia kembali terduduk dan mulai menyantap makanannya. Di sisi lain Johnny nampak terkekeh melihat perdebatan ibu dan anak itu, jadi begini yang dirasakan Jaehyun dan Yuta setiap makan bersama keluarga mereka, pikir Johnny.

"Terima kasih makanannya." Ucap Hendery, ia berniat bangkit namun lagi-lagi Ten kembali menahannya.

"Dery, satu suap lagi. Ayo dihabiskan." Ucap Ten.

"Kenyang mama…." Ucap anak laki-laki itu, ia mulai menatap sang ayah seolah meminta pertolongan supaya terbebas dari jeratan Ten yang begitu memaksa.

"Ayo aaa… sedikit lagi Dery, buka mulutnya." Ucap wanita itu, dengan pasrah Hendery kembali membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang mama, sebelum terjadi perdebatan yang cukup panjang.

Saat malam menjelang Hendery telah berada di kamarnya, ia tengah membaca buku yang sempat dibelikan Seohyun beberapa hari lalu. Tiba-tiba perhatian Hendery teralihkan sata tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamarnya. Itu Ten, wanita itu menerobos masuk dengan piyama tidurnya dan sheet mask yang menempel di wajahnya. Hendery terkesiap, ia cukup terkejut dan mundur ke belakang, detik berikutnya ia mengelus dadanya saat sadar jika yang baru saja datang adalah ibunya.

"Astaga Dery tidak apa-apa? Mama mengagetkan ya?" Ucap Ten, ia nampak menghampiri Hendery yang tengah mengurut dadanya.

"Minum dulu…." Ucap Ten, ia menyodorkan segelas air mineral saat dirasa Hendery sudah jauh lebih baik.

"Malam ini mama tidur dengan Dery ya." Ucap Ten, ia mulai menempel pada Hendery dan mengguncang lembut lengan sang anak.

"Tapi daddy?" Tanya Hendery ragu-ragu.

"Biarkan saja, mama kan belum pernah tidur bersama Dery. Boleh ya?" Ucap Ten dengan nada yang dibuat-buat. Hendery hanya mengangguk dan kembali membaca bukunya.

"Dery sudah malam. Sini tidur…." Bujuk Ten. Lama-lama ia kesal juga karena Hendery tak kunjung naik ke kasur. Hendery menutup bukunya dan mulai tidur di sebelah Ten, Ten memeluk anaknya erat-erat dan mengelus lembut rambutnya.

"Mama…. Jangan begitu." Ucap Hendery, seperti anak laki-laki itu mulai rishi jika dimanja oleh orang tuanya.

"Kenapa? Mama suka." Balas Ten dengan wajah tanpa dosa.

"Dery ingat tidak pertemuan pertama kita?" Tanya Ten tiba-tiba.

"Hum… tiga tahun lalu ya?" Jawab Hendery ragu-ragu.

"Empat, lebih tepatnya empat tahun lalu." Jelas Ten. Hendery nampak mengangguk dalam pelukan sang mama, matanya mulai memberat entah sejak kapan sentuhan lembut Ten membuatnya mudah tertidur.

"Mama…. Terima kasih sudah mau jadi mamanya Dery." Ucap anak laki-laki itu seraya sesekali menguap.

"Tentu saja, terima kasih juga sudah mau jadi anak mama." Balas Ten.

"Hum…." Lirih Hendery, setelahnya tak ada lagi yang berbicara hanya ada suara dengkuran halus yang keluar dari mulut Hendery, menandakan anak laki-laki itu sudah terlelap dalam tidurnya.

"Ten! Ayo ti-"

Teriakan Johnny terhenti saat Ten memberikan isyarat padanya supaya tidak berisik. Johnny mengangguk dan mendekat ke arah Ten dan Hendery, ia mendapati anaknya itu telah tertidur lelap di samping Ten dengan wanita itu yang sibuk mengelus lembut rambut Hendery.

"Aku dimana? Aku mau disebelahmu." Ucap Johnny, perlahan ia mulai naik ke kasur Hendery dan ikut berbaring di sebelah anaknya.

"Jangan merajuk begitu, kau menjijikan." Ledek Ten.

Dan malam itu mereka tidur bersama di kasur Hendery yang berukuran cukup besar. Posisi Ten dan Johnny saling memeluk Hendery yang berada di tengah-tengah mereka. Sesekali Johnny mengganggu tidur anaknya dengan memeluknya erat-erat dari belakang dan itu berhasil membuat Ten kesal karena Hendery mulai terlihat tidak nyaman dalam tidurnya.

"Eughh…." Lenguh Hendery saat Johnny tengah mengganggu tidurnya.

"Sekali lagi mengganggu anak ku akan kutendang kau dari sini." Ucap Ten disertai tatapan tajam.

Nyatanya Johnny hanya sedang bahagia, melihat keluarga kecilnya mampu membuat hatinya menghangat. Rasanya Johnny seperti merasa pernah berbuat kebaikan di masa lalu sehingga Tuhan mengirimkan malaikat untuknya. Lebih tepatnya malaikat yang menjelma menjadi sosok Ten yang akan selalu menemani sepanjang hidupnya.