31. Moving
Pagi harinya keluarga kecil itu terlihat sibuk karena jasa pengangkut barang mulai berdatangan ke rumah mereka. Hendery nampak telah berada di mobil dengan tas ransel yang ia gendong sejak tadi, tak butuh waktu lama Ten dan Johnny menghampiri anak mereka dan mulai melajukan mobil menuju ke rumah baru mereka. Di sepanjang perjalanan keluarga kecil itu terlihat saling bercanda, bahkan Hendery sesekali terlihat tertawa karena lelucon yang diceritakan oleh sang mama.
"Woah…." Monolog Hendery saat baru saja keluar dari mobil.
"Dery suka rumahnya?" Tanya Johnny yang tengah merangkul sang anak.
"Hum, tapi apa tidak terlalu besar dad?" Tanya Hendery polos.
"Tentu saja tidak." Jawab Johnny. Ten yang berada di sebelah Johnny hanya mengedikkan bahunya tanda tidak peduli. Selanjutnya ia menarik Hendery untuk melihat suasana di dalam rumah dan memperkenalkan anak laki-laki itu pada kamar barunya.
"Kajja Dery kita lihat kamarnya." Ucap Ten, ia melenggang pergi bersama Hendery dan meninggalkan Johnny yang masih terpaku di tempatnya.
"Yak…. Kebiasaan sekali kalau sudah dengan Dery aku dilupakan. Ten! Tunggu…." Ucap Johnny, ia sedikit berteriak dan menyusul Ten. Tentu saja Ten dan Hendery yang melihat Johnny merajuk hanya terkekeh dan kembali melanjutkan kegiatan home tour mereka.
Setelah semua barang selesai dipindahkan dan rumah sudah dirapikan, Ten dan Johnny nampak duduk di sofa besar yang ada di ruang keluarga mereka. Johnny nampak bersandar manja di bahu sempit sang istri sedangkan Ten, ia tengah sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia mendengus sebal karena besok akan kembali sibuk di rumah sakit setelah mengambil cuti dan menukar jadwal dengan teman-temannya. Hendery telah masuk ke kamarnya, anak laki-laki itu mendapatkan kamar dengan ukuran yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Dan jangan lupakan fasilitas mewah yang melimpah di dalamnya. Ten saja sampai melongo dibuatnya, Hendery sama sekali tidak peduli, yang anak itu lihat hanya tumpukkan buku bacaan baru yang sempat Johnny belikan. Sepertinya mereka harus menambah rak buku baru, pikir Hendery.
"Mama!..." Teriak Hendery, ia baru saja turun dari lantai dua dan berniat meminta makanan karena perutnya sudah mulai berisik sejak beberapa menit yang lalu.
Ten dan Johnny yang semulanya sedang berciuman di depan televisi cukup terkejut mendengar teriakan Hendery, dengan sangat terpaksa Ten menjauhkan Johnny dan memukul dada bidang pria itu supaya melepaskan pagutan di bibir mereka. Detik berikutnya sepasang suami istri itu terlihat salah tingkah karena Hendery yang memasang ekspresi terkejut dengan mata yang membulat sempurna.
"Mama, tadi sedang apa? Kenapa begitu dengan da-"
"Sudah ya, Dery kenapa panggil mama?" Ten memotong ucapan sang anak dan menariknya menjauh dari ruang keluarga, menyisakan Johnny yang tersenyum jahil dan berusaha menahan tawanya.
"Lapar ma, ada sereal tidak?" Tanya Hendery.
"Tentu saja ada, kajja mama juga lapar." Ucap Ten.
Saat ini Ten dan Hendery duduk berhadapan, Ten tengah menikmati jus miliknya seraya menonton sang anak yang sibuk dengan serealnya. Tiba-tiba saja kegiatan makan Hendery terhenti, ia menatap lekat wajah cantik sang mama dengan mata bulat yang bersinar indah.
"Jadi ciuman itu seperti tadi ya, ma?" Ucap Hendery tiba-tiba. Ten hampir saja tersedak jus miliknya mendengar perkataan anak laki-laki itu.
"Mark juga sering cerita pada Dery kalau dia pernah lihat eomma dan appa berciuman, bahkan sampai mengeluarkan suara aneh. Mama tadi tidak bersua-"
"Dery habiskan dulu serealnya ya, tidak baik bicara saat makan." Ucap Ten mengalihkan perhatian. Dalam hati ia sudah mengutuk Johnny yang mengajaknya berciuman di ruang keluarga, ia tak akan membiarkan otak cerdas anaknya tercemar oleh setitik pikiran kotor.
"Mau tambah lagi?" Tanya Ten saat mendapati mangkuk sereal Hendery sudah kosong.
"Tidak mau. Sudah kenyang." Balas anak laki-laki itu.
"Dery suka kamarnya?" Tanya Ten lagi.
"Suka sekali, daddy juga siapkan buku baru." Ucap anak laki-laki itu.
"Dery suka sekali dengan buku ya?" Tanya Ten, pasalnya ia cukup heran sejak kecil anak laki-laki itu amat tergila-gila dengan buku. Bahkan saat di rumah sakit beberapa tahun lalu Hendery pernah marah pada Johnny karena tidak membawakannya buku.
"Suka sekali, ma." Ucap Hendery dengan kepala yang mengangguk lucu.
"Mau mama belikan lagi?" Tawar Ten.
"Tidak ma, bukunya masih banyak yang belum Dery baca." Balas anak laki-laki itu seraya terkekeh dan menunjukan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Hum, baiklah. Jangan sungkan ya, katakan pada mama apapun yang Dery mau." Ucap Ten seraya mengelus lembut rambut sang anak. Hendery mengangguk semangat dan memberikan senyuman terbaiknya pada sang mama siang itu.
"Ma, Kun samchon tidak akan kembali lagi ke Korea ya?" Tanya Hendery.
"Kenapa? Dery rindu Kun samchon?" Ucap Ten.
"Sedikit…." Ucap anak laki-laki itu, Ten hanya terkekeh dibuatnya. Ia yakin Hendery amat merindukan Kun, dokter yang menemaninya sejak lama. Sekalipun sudah ada Chanyeol tetap saja Hendery tetap merindukan kehadiran sosok Kun dalam hidupnya.
"Kun samchon pasti akan kembali ke Korea, Dery tunggu saja ya. Atau nanti malam kita melakukan panggilan video dengan Kun samchon?" Usul Ten. Hendery nampak mengangguk semangat namun detik berikutnya ia terdiam dan berhasil membuat Ten bingung.
"Tidak apa-apa kan, daddy tidak marah kan, ma?" Tanya Hendery.
"Astaga. Tenang saja Dery. Jangan khawatir begitu." Kekeh Ten.
Di sore harinya keluarga kecil itu bergegas pergi ke salah satu mall yang ada di Korea, rencananya mereka akan membeli beberapa barang untuk mengisi rumah baru yang terlihat masih sepi. Ten juga berniat mengisi kulkasnya dengan berbagai bahan makanan, setelah selama ini hanya dapat membayangkan belanja bulanan bersama keluarga kecilnya akhirnya hari ini mimpi indah Ten jadi kenyataan. Wanita itu nampak sangat semangat menggandeng tangan Hendery yang saat itu berbalut jaket tebal, meninggalkan Johnny yang berada di belakang mereka dengan troli yang sudah terisi hampir setengahnya.
"Ma, masih belum juga?" Tanya Hendery. Saat ini ia tengah berjalan beriringan dengan Johnny yang ada di sebelahnya.
"Sebentar lagi ya, mama janji sebentar lagi saja…." Ucap Ten. Hendery hanya mengangguk dan bergelayut manja di lengan kekar sang ayah.
Tiga puluh menit berlalu sejak rengekan Hendery, anak laki-laki itu kembali terlihat bosan dan menggoyangkan kakinya yang nampak menggantung karena saat ini ia tengah duduk di sebuah kursi panjang yang berada di area mall. Meninggalkan Ten dan Johnny yang masuk ke toko pakaian di hadapannya sejak tadi.
"Dad…. Mau pulang…." Lirih Hendery. Johnny hanya terkekeh melihat tingkah anaknya itu, pasti kakinya sudah sangat pegal setelah berjalan seharian. Dan jangan lupakan wajah putihnya yang mulai terlihat lesu dan sedikit pucat dengan keringat yang menghiasi keningnya.
"Iya sudah selesai, setelah ini kita pulang." Ucap Johnny, Tak lama Ten yang baru saja selesai membayar belanjaannya terlihat bergabung dengan mereka berdua. Keluarga kecil itu bergegas memasuki mobil, sebelumnya Johnny sempat mengajak istri dan anaknya mengisi perut terlebih dahulu namun Hendery menolak, ia semakin merengek dan menarik tangan Ten untuk menjauh dari Johnny.
"Astaga merajuk terus…." Ucap Johnny setelah Hendery menghilang dari pandangan mereka.
Saat memasuki mobilnya Johnny sedikit terkekeh karena mendapati Ten yang duduk di kursi belakang bersama dengan Hendery yang bersandar manja padanya.
"Jadi hari ini aku jadi supir pribadi kalian." Kekeh Johnny seraya menatap ke arah cermin mobilnya.
"Hum… cepat jalan tuan, anakku sudah kelelahan." Canda Ten. Johnny hanya mendengus sebal dan mulai melajukan mobilnya. Hendery yang terlihat amat kelelahan mulai tertidur dan menjadikan paha Ten sebagai bantalnya. Ten tersenyum teduh, ia mulai mengelus lembut surai hitam Hendery yang nampak dibasahi keringat.
Ten yang telah menjadi ibu rumah tangga mulai bergegas memulai pagi harinya. Ia nampak tengah memasak, setelah melalui perdebatan panjang dengan Johnny yang tak mau melepaskan pelukan dari tubuh mungilnya. Karena hari ini ia sudah mulai kembali ke rumah sakit, Ten terpaksa mengubah semua rutinitas paginya dan jangan lupakan juga Hendery yang kembali memulai kegiatan homeschooling nya sehingga membuat Ten harus menyiapkan kebutuhan anak laki-laki itu.
Setelah selesai memasak Ten bergegas kembali ke kamarnya, ia berniat membangunkan Johnny yang masih nampak tertidur lelap. Semalam pria tinggi itu baru tidur saat dini hari karena harus menyelesaikan pekerjaannya setelah tak menyambangi kantor selama lebih dari dua minggu lamanya.
"John…. Bangun…." Ucap Ten. Johnny tak menjawab ia masih nyaman dalam tidurnya seolah tak menyadari kehadiran Ten yang ada di dekatnya.
"Johnny…. cepat bangun…." Ucap Ten, ia mengguncang tubuh Johnny dan berhasil membuat suaminya itu mengerjapkan matanya.
"Kau harus bekerja sayang, cepat bangun." Ucap Ten seraya mengecup pipi sang suami.
"Disini juga…." Ucap Johnny seraya menunjukkan bibirnya.
"Aish…. Sudah cepat bangun, aku harus bangunkan Dery." Ucap Ten. Johnny nampak bangkit dari tidurnya dan menyambar pipi putih sang istri setelahnya ia berlalu menuju ke kamar mandi, ia harus membersihkan diri sebelum memulai aktivitasnya hari ini.
"Dery bangun…. Hari ini mulai sekolah lagi." Ucap Ten, ia berbisik lembut di telinga sang anak dan mengguncang bahunya pelan. Hendery yang mulai merasa tidurnya terganggu nampak mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang mulai menerobos masuk karena Ten yang baru saja menyingkap tirai kamar anaknya.
"Hum…." Hendery masih nampak bermalas-malasan di kasur dan berhasil membuat Ten terkekeh.
"Wake up boy…." Ucap Ten seraya mengecup kening sang anak.
"Masih mengantuk, lima menit lagi ya ma." Ucap Hendery berusaha bernegosiasi dengan sang mama.
"No no. Ayo cepat, mama sudah masak makanan kesukaan Dery." Bujuk Ten, Hendery nampak mulai mengubah posisinya menjadi duduk dan sesekali mengucek matanya yang masih menyipit khas orang bangun tidur.
"Mama tunggu di bawah ya, sudah sana cepat siap-siap." Ucap Ten sebelum melenggang pergi dari hadapan Hendery.
Tak butuh waktu lama Hendery terlihat bergabung dengan kedua orang tuanya, pagi ini ia mengenakan celana panjang yang dipadukan dengan kaos biru muda berlengan panjang yang terlihat sedikit kebesaran di tubuh kurusnya.
"Makan yang banyak ya…." Ucap Ten saat meletakkan semangkuk nasi dihadapan Hendery.
Suasana sarapan itu berlangsung cukup tenang, hanya ada suara sumpit yang saling beradu dengan mangkuk yang mereka gunakan. Hendery juga nampak menikmati makanannya dan tak ada keluhan seperti beberapa hari lalu. Anak laki-laki itu benar-benar menghabiskan seluruh makanan pemberian Ten tanpa diwarnai aksi complain. Setelah selesai dengan agenda sarapannya, anggota keluarga itu mulai kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Ten tampak baru saja keluar dari kamar dengan tangan yang membawa snelli putih miliknya. Ia terlebih dahulu berpamitan pada Johnny dan Hendery sebelum pergi bekerja pagi itu.
"Bye Dery, jangan lupa belajar yang betul. Sampai jumpa nanti sore." Ucap Ten seraya mengecupi pipi sang anak.
Ten dengan pekerjaannya yang begitu terikat tentu saja harus masuk sesuai aturan, biasanya ia akan berangkat pagi-pagi sekali dan membelah kemacetan Kota Seoul dengan mobil miliknya. Sedangkan Johnny, sebagai salah satu petinggi perusahaan ia bebas melenggang kapanpun ia mau dan hari ini rencananya ia akan menunggu sampai guru Hendery datang baru kemudian melesat ke kantornya.
"Daddy berangkat saja, bibi Song sudah datang. Dery bisa sendiri kok." Ucap Hendery.
"Are you okay with that?" Tanya Johnny.
"Hum…. Sudah sana daddy berangkat saja. Dery sudah bukan anak kecil lagi dad." Ucap Hendery.
"No, you are still my little boy." Ucap Johnny seraya mengacak surai hitam Hendery.
"Daddy jangan begitu. Berangkat saja ya, Dery bisa jaga diri kok. Lagipula sebentar lagi pasti Yixing ssaem datang." Ucap Hendery.
"Okay. Daddy akan berangkat sekarang, tapi kalau terjadi sesuatu segara hubungi daddy atau mama. Atau paling tidak beritahu bibi Song, mengerti?" Ucap Johnny.
"Iya…." Balas Hendery.
"Baiklah daddy berangkat dulu, jangan lewatkan waktu minum obat. Bye boy…." Ucap Johnny seraya mengecup dan mengusap gemas pucuk kepala Hendery.
"Daddy… rambut Dery jadi rusak." Ucap anak laki-laki itu. Johnny hanya terkekeh dan detik berikutnya ia terlihat mulai menghilang dari pandangan Hendery dan melajukan mobil hitamnya ke kantor seperti yang biasa ia lakukan.
Hari itu setelah cukup lama memadu kehangatan sebagai keluarga baru, mereka semua mulai kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Mulai kembali ke dunia luar yang cukup memuakkan, namun bedanya kali ini baik Ten dan Johnny amat paham tentang satu hal. Tentang sesuatu yang selalu mengingatkan mereka untuk pulang, rumah mereka yang penuh dengan kehangatan persis seperti yang mereka idam-idamkan sejak lama.
