32. The Little One?

Sudah hampir enam bulan lamanya Ten dan Johnny mengarungi bahtera rumah tangga. Sepasang suami istri itu terlihat menempel satu sama lain dan seolah tak dapat terpisahkan. Hendery sampai heran melihat sang ayah yang bisa bersikap begitu manja saat tengah bersama sang mama. Bahkan sudah berkali-kali Hendery memergoki kedua orang tuanya tengah bermesraan di banyak penjuru rumah, mulai dari berpakaian sampai berciuman, rasanya Hendery sudah sangat hafal. Pantas saja dulu Mark selalu mengeluh dengan rutinitas kedua orang tuanya.

Pagi ini Ten terlihat begitu berbeda, di akhir pekan yang cerah wanita itu nampak bergelayut manja di lengan kekar sang suami yang tengah menikmati acara olahraga favoritnya. Ten bahkan mengendus aroma tubuh Johnny yang terkesan maskulin karena baru saja selesai mandi, Johnny yang sejak awal amat senang menempel pada Ten tentu saja tak masalah dengan tingkah istrinya itu.

"John, kau wangi. Ini parfum apa?" Tanya Ten tiba-tiba, ia masih sibuk mengendus aroma tubuh Johnny dan membenamkan wajah cantiknya di ceruk leher sang suami.

"Kau lupa? Ini kan kau yang belikan." Ucap Johnny.

"Jinjja? Tak kusangka benar-benar cocok di tubuh besarmu." Monolog Ten. Johnny hanay terkekeh ia kembali menikmati acara favoritnya tanpa peduli dengan Ten yang masih bergelayut manja di lengannya.

"Johnny…."

"Hum…."

"Johnny…."

"Kau kenapa?" Tanya Johnny, pasalnya Ten kembali terdiam dan tak berniat melanjutkan perkataannya.

"Johnny Johnny yes papa, eating sugar? No papa, telling lies? No papa." Ucap Ten tiba-tiba.

"Yak, kau aneh sekali. Cepat katakan mau apa, kau tak cocok bertingkah seperti itu." Ucap Johnny yang nampak kesal.

"Tidak ada, aku hanya bernyanyi." Ucap Ten. Johnny hanya terkekeh dan kembali melanjutkan acara menontonnya.

Akhir pekan ini diisi dengan keluarga kecil itu dengan bermalas-malasan seharian setelah lelah bekerja selama berhari-hari. Hendery nampak masih mengurung diri di kamar, anak laki-laki itu nampak sibuk membaca buku seraya berbaring di kasur. Sedangkan Ten dan Johnny, akhir pekan ini mereka melakukan banyak hal tak berguna. Bahkan saat ini sepasang suami istri itu tengah beradu game dengan ponsel mereka, tentu saja itu adalah peristiwa yang cukup langka dan berterima kasihlah pada Ten yang dengan paksa menginstal game kesukaannya di ponsel Johnny dan berhasil membuat pria tampan itu ketagihan.

Keesokan harinya Ten terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang memekakkan telinga. Ia berniat pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, namun Ten sedikit keheranan karena pagi ini tidak dihiasi dengan drama Johnny yang tak mau melepaskan pelukan seperti hari-hari sebelumnya. Ten menoleh ke sisi lain kasurnya, ia mendapati Johnny yang membalut tubuh besarnya dengan selimut tebal. Ten cukup keheranan dengan tingkah suaminya yang cukup aneh itu, ia mendekati Johnny dan cukup terkejut saat melihat sang suami yang tengah menggigil kedinginan.

"Johnny kau sakit?" Tanya Ten seraya menyentuh kening sang suami. Suhu panas nampak menguar dari sana namun Johnny terus bergumam jika ia kedinginan. Seingatnya kemarin Johnny terlihat baik-baik saja, namun hari ini terlihat begitu tidak berdaya.

"Dingin sekali Ten…. Bisa matikan AC nya?" Pinta Johnny.

"Aku bahkan sudah mematikannya sejak tengah malam, kau kenapa? Apa salah makan sesuatu?" Tanya Ten. Johnny hanya menggeleng dan tetap meringkuk di balik selimut tebalnya.

"Kau disini saja, akan aku siapkan sarapan." Ucap Ten.

"Hum…." Lirih Johnny.

Saat Ten tengah memasak tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kedatangan Hendery, anak laki-laki itu nampak membuka lemari penyimpanan sereal dan menuangnya ke mangkuk yang berukuran cukup besar. Nafsu makan Hendery memang amat berubah-ubah, kadang ia sulit sekali makan namun kadang ia bisa makan sampai tak terkendali, seperti sekarang. Di pagi yang gelap anak laki-laki itu sudah memenuhi mangkuk besarnya dengan sereal.

"Dery lapar?" Tanya Ten pada Hendery yang tengah menyantap serealnya.

"Mama buat bubur? Untuk siapa?" Tanya Hendery saat melihat kepulan asap dari panci yang sempat ia intip beberapa menit lalu.

"Untuk daddy, Dery mau?" Tawar Ten.

"Tidak mau, buatkan bulgogi boleh ma?" Tanya Hendery, Ten hanya terkekeh dan menganggukkan kepalanya, setidaknya melihat Hendery yang minta dimasakan sesuatu akan lebih baik daripada saat harus memaksa anak itu memasukkan makanan ke mulutnya.

Hendery yang telah selesai dengan sereal miliknya, melanjutkan untuk menyantap bulgogi buatan Ten, saat ini ia nampak seorang diri di ruang makan karena sejak beberapa menit yang lalu Ten telah mengantarkan makanan serta obat untuk Johnny yang masih terbaring di kasurnya.

"Tidak mau, pahit sekali…." Ucap Johnny saat Ten berusaha menyuapkan bubur buatannya pada Johnny.

"Aish…. Kau kan sedang sakit, sudah cepat makan setelah itu minum obat. Tak perlu ke kantor hari ini." Bujuk Ten, Johnny dengan sangat terpaksa menerima suapan dari sang istri dan menelan bubur tersebut sekalipun ia begitu malas.

"Apa yang kau rasakan?" Tanya Ten setelah selesai menyuapi Johnny makanan. Saat ini ia baru saja mengecek suhu tubuh Johnny dan mengompres kening pria tinggi itu.

"Pusing, dingin, mual, lalu tulangku pegal." Ucap Johny.

"Ah, mirip seperti orang paruh baya." Canda Ten seraya terkekeh.

"Yak, kenapa suka sekali meledek." Kesal Johnny.

"Jangan merajuk begitu baby kau sama sekali tidak cocok seperti itu. Aku akan ke rumah sakit, jika nanti siang masih belum ada perubahan cepat hubungi aku." Ucap Ten. Johnny hanya bergumam dan kembali membungkus tubuh tingginya dengan selimut tebal.

"Aku bawa satu sapu tanganmu ya, parfum yang kemarin mana?" Tanya Ten, ia mulai menjelajah koleksi parfum milik sang suami seraya berteriak keras.

"Astaga Ten kau semprotkan berapa banyak, jauhkan itu. Aromanya membuatku mual." Ucap Johnny seraya menjepit hidung bangirnya.

"Ini jelas enak, coba hirup lagi…." Ucap Ten, ia menyodorkan sapu tangan yang sudah ia semprotkan dengan parfum ke depan wajah Johnny.

"Hoek…." Johnny memasang gestur seperti ingin muntah begitu aroma parfum itu menyapa hidung bangirnya.

"Sudah sana berangkat…. Kau benar-benar mengerikan." Ucap Johnny, ia berusaha mengusir Ten dari kamar mereka.

"Bye baby, see you soon!" Ucap Ten setelah memberikan kecupan di pipi Johnny dan benar-benar meninggalkan kamar mereka.

Di rumah sakit Ten kembali memeriksa pasien-pasien kecilnya. Ia juga nampak begitu ceria dan jangan lupakan tentang Ten yang mengantongi sapu tangan Johnny di snelli putihnya. Sebenarnya Ten juga tidak tahu mengapa ia bertindak demikian, namun tiba-tiba saja hari ini ia begitu aneh dan ingin membawa aroma tubuh Johnny pergi bersamanya.

"Aku tidak salah lihat? Kau makan banyak sekali." Ledek Chanyeol yang saat ini tengah bersama Ten di cafetaria rumah sakit.

"Entahlah, sedikit lapar sunbae." Ucap Ten.

"Tapi makanan yang kau makan tak sedikit jumlahnya." Kekeh Chanyeol.

"Benar juga, sudahlah Johnny juga tak masalah dengan bentuk tubuhku." Bangga Ten.

"Ah iya besok jadwal Dery ke rumah sakit, jangan lupa." Ucap Chanyeol.

"Hum… besok akan kubawa Dery bersamaku." Balas Ten.

"Bagaimana kondisinya akhir-akhir ini?" Tanya Chanyeol.

"Dia baik, sejauh ini tak pernah melewatkan waktu minum obat. Nafsu makannya juga nampak berkembang pesat. Ah tapi sunbae beberapa hari ini Dery sering mengeluh dadanya berdebar, apa itu tak masalah?" Tanya Ten.

"Begitukah?" Tanya Chanyeol dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

"Apa ada masalah sunbae, jangan membuatku takut." Ucap Ten.

"Aku belum tau Ten, tentu saja Dery harus datang dulu besok." Balas Chanyeol.

Di rumah, Hendery yang baru saja selesai dengan kegiatan homeschooling nya dan mengantar kepergian Yixing bergegas masuk ke kamar kedua orang tuanya, ia mendapati sang ayah yang masih bergelung dalam selimut tebal. Perlahan anak laki-laki itu naik ke kasur dan memeluk Johnny dari belakang. Johnny yang merasa ada tangan kecil yang memeluknya bergegas memutar tubuhnya dan menatap mata bulat berbinar milik sang anak.

"Dery kenapa kesini? Nanti tertular." Ucap Johnny seraya mengelus lembut surai hitam sang anak.

"Mama bilang daddy hanya demam, tidak batuk dan flu. Memangnya bisa tertular demam?" Tanya Hendery polos, Johnny hanya terkekeh dan merapatkan pelukannya pada tubuh sang anak.

"Daddy pasti kelelahan bekerja, makanya jadi sakit begini." Ucap Hendery.

"Kemarin kan hari libur, memangnya siapa yang bekerja?" Kekeh Johnny.

"Daddy jangan sakit, Dery tidak suka." Ucap anak laki-laki itu, ia masih sama saat masih kecil, sangat membenci jika Johnny jatuh sakit.

"Sepertinya sebentar lagi sembuh karena sudah dipeluk Dery." Ucap Johnny sedikit bercanda.

"Daddy…. Dery serius tahu." Ucap Hendery, ia sedikit kesal karena Johnny membalas dengan candaan.

"Aigo…. Jadi ada yang kesal." Ledek Johnny.

"Daddy mau Dery buatkan sesuatu?" Tanya Hendery.

"Memangnya Dery bisa buat apa?" Tanya Johnny.

"Dery bisa goreng telur, kupas buah, buat pudding, minggu lalu juga mama ajarkan Dery buat salad." Jelas anak laki-laki itu.

"Hua…. Jangan terlalu cepat besar Dery." Lirih Johnny sedikit berdrama.

"Daddy…. Dery bukan bayi lagi tahu." Kesal Hendery karena Johnny selalu menganggapnya sebagai bayi kecilnya.

"Tidak, sampai kapanpun Dery tetap bayi kecilnya daddy." Ledek Johnny, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kurus sang anak.

"Daddy sama saja seperti mama." Kesal Hendery.

"Dery sudah minum obatnya?" Tanya Johnny.

"Sudah, Dery tidur siang disini ya dad, boleh?" Ucap Hendery. Johnny hanya mengangguk dan berakhir dengan sepasang ayah dan anak yang tidur bersama siang itu.

Ten yang baru saja menyelesaikan konsultasinya dengan pasien nampak tengah memainkan ponselnya. Tanpa sengaja ia membuka aplikasi yang melacak datang bulannya. Ten hampir saja menyemburkan air mineral yang tengah ia nikmati saat sadar jika datang bulannya telah lewat empat minggu dari yang seharusnya. Wanita cantik itu mulai berkeringat, apa mungkin itu yang menjadi alasan kenapa nafsu makan Ten tak terkendali akhir-akhir ini. Bahkan beberapa hari lalu ia menghabiskan semangkuk besar es krim berdua dengan Hendery sampai membuat Johnny keheranan. Sepertinya ada hal yang harus Ten pastikan, dan berharap apa yang ia pikirkan benar-benar jadi kenyataan. Tentang hadirnya satu anggota keluarga baru di tengah-tengah mereka.