33. A Good News
Ten pulang ke rumah dengan sedikit keragu-raguan yang membuncah di hatinya. Saat pulang tadi ia menyempatkan diri untuk membeli test pack di salah satu apotek, rencananya besok pagi ia akan mengecek langsung demi mendapatkan kepastian atas semua pertanyaan yang bersarang dalam pikirannya. Ten sampai di rumah tepat sore hari, keadaan rumah besar mereka tampak sepi. Bahkan Hendery yang biasanya menonton televisi tiap sore hari nampak tak berada di tempatnya. Tak mau ambil pusing, ten memilih untuk masuk ke kamarnya. Saat membuka pintu wanita cantik itu merasa hatinya menghangat kala melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Hendery dan Johnny tengah tertidur lelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Ten memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu untuk Selanjutnya bergabung dengan keluarga kecilnya di atas kasur. Ten yang baru saja selesai mandi bergegas mendekati Hendery dan menciumi pipi putih sang anak berkali-kali, Hendery yang merasa ada seseorang yang mengganggu tidurnya mulai menggerakkan mata bulatnya. Detik berikutnya mata indah itu berhasil terbuka dan Hendery mendapati sang mama yang ada di sampingnya.
"Nyenyak tidurnya?" Tanya Ten seraya kembali mengecupi pipi Hendery.
"Eugh…. Mama, jangan begitu…." Rengek Hendery, ia mulai melakukan peregangan dan bersamaan dengan itu Johnny nampak telah membuka matanya.
"Kau tidak menghubungiku? Apa sudah lebih baik?" Tanya Ten dan mendekat ke arah Johnny.
"Hum…. Sudah lebih baik dari tadi pagi." Balas Johnny.
"Mama ah lepaskan…." Rengek Hendery karena sejak tadi Ten masih sibuk memeluknya.
"Tidak mau, mama mau peluk sampai malam nanti." Ucap Ten, ia nampak suka sekali meledek sang anak.
"Sepertinya tadi saat tidur ada yang memeluk daddy erat-erat dan tak mau melepaskannya, siapa ya?" Monolog Johnny.
"Tidak tahu…." Ucap Hendery, ia memalingkan wajahnya dari sang ayah dan tak berniat menatap netra tajamnya.
"My baby kenapa jadi gengsi begini." Ledek Ten membuat wajah Hendery semakin memerah.
"Mama…." Rengek Hendery, ia merasa malu karena semakin digoda oleh kedua orang tuanya. Ten dan Johnny hanya terkekeh menanggapi tingkah sang anak yang menurut mereka menggemaskan itu, terlebih Hendery yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Hendery kecil yang selalu bersikap manis dan bermanja pada semua orang.
Setelah makan malam, para anggota keluarga mulai masuk ke ruangan masing-masing. Hendery masuk ke kamarnya sedangkan Ten dan Johnny beristirahat di kamar mereka. Saat ini dua insan itu tengah bersandar di kasur besar mereka, Ten sibuk dengan bukunya sedangkan Johnny sibuk dengan laptop miliknya.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?" Tanya Ten penuh selidik.
"Hum… aku sehat, kau bisa lihat sendiri kan?" Jelas Johnny. Ten hanya mengangguk sekalipun ia masih sedikit ragu dengan perkataan Johnny pasalnya pagi tadi pria tinggi itu benar-benar tidak berdaya seolah kehilangan semua tenaganya dan malam ini ia terlihat segar bugar seperti orang yang tidak merasakan sakit sebelumnya.
"Besok pagi Dery ikut bersamaku ya?" Ucap Ten.
"Besok jadwal kontrolnya kan? Aku akan menyusul nanti." Jelas Johnny.
"John, sebenarnya aku mengkhawatirkan sesuatu." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny menutup laptopnya dan menatap lekat netra indah sang istri yang terlihat begitu gusar.
"Kenapa sayang?" Tanya Johnny.
"Apa Dery pernah bercerita padamu tentang apa yang dia rasakan akhir-akhir ini?" Tanya Ten.
"Maksudmu?" Tanya Johnny mulai nampak serius.
"Beberapa hari yang lalu aku berkali-kali mendapati Dery terduduk dan memegangi dadanya, nafasnya juga terdengar sedikit berat meskipun tidak sampai sesak. Dan kemarin aku memaksanya bercerita, dia bilang akhir-akhir ini dadanya selalu berdebar kencang. Dery sudah mulai besar John, dia mulai bisa menyembunyikan banyak hal dari kita. Aku hanya- hanya khawatir." Lirih Ten. Johnny merengkuh pundak ramping sang istri dan membawanya dalam pelukannya.
"Terima kasih…." Ucap Johnny.
"Untuk apa?" Balas Ten.
"Kau benar-benar menyayangi Dery." Lirih Johnny.
"Kau bicara apa sih, Dery kan anakku. Jelas saja aku tak mau hal buruk terjadi padanya." Ucap Ten, suaranya mulai terdengar parau dengan netra indahnya yang terlihat berkaca-kaca.
"Dery pasti baik-baik saja, bukankah kita selalu memberikan yang terbaik untuk anak itu. Kau kan selalu mengingatkanku untuk berprasangka baik pada apapun yang membentang di hadapan kita, apa kau sudah lupa?" Ucap Johnny.
"Aku- aku hanya khawatir. Aku tidak mau melihat Dery seperti beberapa tahun lalu." Lirih Ten. Johnny semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil sang istri, berusaha menenangkannya atau setidaknya menghilangkan semua ketakutan yang membayangi alam bawah sadarnya.
Keesokan paginya Ten terbangun bukan lagi karena alarm miliknya, melainkan suara gaduh Johnny yang berasal dari kamar mandi. Dengan malas Ten bangkit dari kasur dan menyusul Johnny, mata sipitnya membulat sempurna saat melihat sang suami sedang memuntahkan isi perutnya di wastafel. Dengan lembut Ten memijat tengkuk Johnny yang terlihat masih sibuk memuntahkan apapun yang ia bisa.
"Kau kenapa? Salah makan apa?" Tanya Ten saat Johnny baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tidak tahu, sepertinya aku masuk angin." Jelas Johnny.
"Kan sudah kubilang semalam jangan terlalu memaksakan diri." Ucap Ten.
"Ya sudah istirahat lagi saja. Sebaiknya hari ini kau istirahat lagi, tidak perlu pergi ke kantor." Ucap Ten.
"No, pekerjaanku bisa berantakan." Jelas Johnny.
"Yak… kau pikir bisa berkonsentrasi dengan keadaan seperti ini. Aku tidak mau tahu pokoknya kau istirahat lagi sampai benar-benar sembuh." Jelas Ten final.
Setelahnya Ten kembali sibuk memasak dan menyiapkan bekal yang akan ia bawa karena Hendery akan ikut ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatannya seperti yang bisa dilakukan anak laki-laki itu. Hendery nampak telah bersiap ia mengenakan celana jeans dengan kemeja berwarna biru dan jangan lupakan Ten yang memakaikannya jaket tebal karena cuaca diluar mulai dingin.
"Daddy tidak ikut?" Tanya Hendery saat baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Daddy masih sakit, butuh banyak istirahat. Hari ini pergi dengan mama ya." Ucap Ten, Hendery hanya mengangguk dan membiarkan Ten menggandeng tangannya membawanya masuk ke mobil untuk Selanjutnya melesat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Ten terlihat membalas sapaan memerapa dokter dan perawat yang terlihat cukup ramah. Hendery semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang mama, entah kenapa sekalipun sudah sering menghabiskan waktu di rumah sakit sejak kecil tetap saja ia merasa tak nyaman berada disana. Saat tiba di ruangan Chanyeol, ibu dan anak itu bergegas menemui si dokter tampan. Chanyeol nampak menyapa Hendery dengan senyuman khasnya dan dibalas oleh anak itu dengan senyuman. Chanyeol memulai pemeriksaan pada pasiennya, sedangkan Ten nampak menunggu di salah satu kursi dengan tangan yang sibuk memainkan ponselnya, ia harus mengabari Johnny tentang kondisi terkini Hendery.
"Sekarang buka bajunya dulu ya." Ucap Chanyeol saat baru saja selesai mendengar detak jantung Hendery dengan stetoskop miliknya. Hendery yang terduduk di sudut ranjang nampak mengangguk patuh dan mulai membuka kemeja yang ia kenakan, Ten juga nampak berdiri di sampingnya, mengambil kemeja milik Hendery dan menggenggam tangannya erat-erat. Seorang perawat mulai menyiapkan alat yang serupa mesin USG dan menit berikutnya Chanyeol nampak menempelkan elektroda di dada putih Hendery.
"Jangan kaget ya Dery, ini akan sedikit dingin." Jelas Chanyeol. Detik berikutnya Hendery nampak terkesiap saat merasakan gel dingin mulai membelai lembut dada sempitnya. Chanyeol mulai menggerakkan transducer yang ia genggam untuk memantau jantung Hendery. Tiap kali alat tersebut bergeser Hendery merasa ada bunyi seperti sesuatu yang berdesir, namun ia tak tahu apa.
"Dengar suaranya kan? Itu bunyi aliran darah Dery yang mengalir disini." Jelas Chanyeol seraya menunjuk dada sempit Hendery. Ten yang sibuk menggenggam tangan Hendery hanya terkekeh melihat reaksi polos anaknya itu.
"Sekarang tarik nafas panjang…."
"Oke tahan sebentar…."
Hendery yang mengikuti perintah Chanyeol nampak tak nyaman, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang mama dan dibalas dengan sentuhan lembut Ten di punggung tangannya.
"Sekarang coba berbaring ke arah kiri…." Instruksi Chanyeol. Hendery mengikuti tiap perintah sang dokter dengan wajah yang tidak nyaman, karena sejujurnya perintah sekarang terasa amat menyakitkan apalagi saat Chanyeol menekan probe pada area dadanya.
"Tahan sebentar ya Dery, ini akan sedikit tidak nyaman…." Jelas Chanyeol, netra bulatnya nampak menatap lekat ke arah monitor yang menampilkan kondisi jantung Hendery.
"Mama…." Lirih Hendery saat merasa semakin tidak nyaman. Chanyeol yang telah selesai membantu Hendery berbaring terlentang dan menyesuaikan nafasnya, Ten semakin mendekat dan mengelus lembut dada Hendery, berusaha memberikan kenyamanan pada sang putra yang terlihat mulai berkeringat. Saat dirasa kondisinya jauh lebih baik, Hendery mulai duduk di tepi ranjang setelah Chanyeol melepas semua elektroda yang menempel di dadanya. Ten bergegas membantu Hendery memakai kembali pakaiannya dan mengecup lembut kening anaknya.
"Bisa tolong ambilkan holter monitoring…." Perintah Chanyeol pada salah satu perawat di ruangannya. Tak butuh waktu lama perawat tersebut kembali dengan alat seukuran ponsel dengan beberapa kabel elektroda yang menempel di sisinya.
"Mama bilang Dery merasa berdebar beberapa hari terakhir?" Tanya Chanyeol. Dengan ragu Hendery menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sekarang masih terasa berdebar kan?" Tanya Chanyeol lagi.
"Se- sedikit…." Lirih Hendery.
"Baiklah samchon akan berikan ini untuk Dery pakai selama tiga hari kedepan." Ucap Chanyeol seraya menyodorkan alat yang ia pegang di hadapan pasiennya.
"Mama…. Dery tidak mau menginap disini lagi." Ucap anak laki-laki itu, ia mulai bergelayut manja di lengan sang mama. Ten hanya tersenyum canggung, ia juga takut jika Hendery harus kembali menghabiskan waktu di rumah sakit.
"No…. Dery tidak akan menginap disini. Dery bisa pulang dan kembali beraktivitas, tentunya setelah samchon memasang alat ini di dada Dery, jadi mau kan?" Bujuk Chanyeol, akhirnya Hendery mengangguk dan Ten bernafas lega setelah mendengar penuturan seniornya itu. Chanyeol bangkit berdiri dan mulai memasang alat tersebut di dada Hendery. Menempelkan elektroda di beberapa penjuru dada setelahnya memasukkan alat yang serupa ponsel itu ke kantong celana yang Hendery kenakan.
Setelahnya Chanyeol mulai berbincang dengan Ten tentang kondisi kesehatan Hendery, dokter tampan itu mengatakan ia khawatir jika anak laki-laki itu mengalami kelainan irama jantung akibat dari pemasangan VAD beberapa waktu lalu. Jadi untuk berjaga-jaga ia memasang holter monitoring di dada sempit pasiennya selama tiga hari kedepan untuk Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lanjutan. Ten mengangguk mengerti, setidaknya ia sedikit mengerti dengan perkataan yang keluar dari mulut seniornya itu.
"Baiklah, untuk hari ini sampai disini dulu. Kita bertemu tiga hari lagi ya Dery." Ucap Chanyeol seraya mengelus lembut surai hitam anak laki-laki itu.
Tak lama setelahnya Ten dan Hendery nampak keluar dari ruangan Chanyeol. Ten mengajak Hendery ke cafeteria untuk menikmati makanannya karena sejak tadi anak laki-laki itu mengeluh lapar, padahal telah sarapan saat di rumah tadi.
Setelah kemarin Ten menunda kegiatan dengan testpack miliknya karena Johnny yang sakit dan Hendery harus melakukan kontrol rutin, pagi ini Ten nampak tengah berdiam diri di kamar mandi. Ia bersiap menggunakan testpack yang ia beli beberapa hari lalu. Tak butuh waktu lama mata indah Ten membulat sempurna saat mendapati dua garis merah yang cukup tebal terpampang nyata di testpack yang ia gunakan. Ia membungkam mulutnya yang siap berteriak kapan saja karena saking senangnya.
"Johnny…. Johnny cepat bangun!" Ucap Ten sedikit berteriak. Johnny nampak bergumam karena seseorang baru saja mengganggu tidurnya.
"Johnny cepat buka mata, lihat ini…." Ucap Ten, ia memaksa Johnny membuka mata dan menyodorkan testpack di hadapan suaminya itu.
"Mwo! Kau hamil?" Tanya Johnny tidak percaya. Ten mengangguk semangat seraya tersenyum cerah.
"Jinjja?" Tanya Johnny yang masih nampak tak percaya.
"Aish…. Kau bisa lihat kan itu ada dua garis." Jelas Ten.
"Hua…. Terima kasih banyak sayang…." Ucap Johnny seraya memeluk erat tubuh mungil sang istri.
"Jangan terlalu senang dulu, sepertinya kita harus memastikan ke dokter kandungan." Ucap Ten.
"Hum…. Biar aku temani. Ayo kita pergi sekarang." Ucap Johnny bersemangat.
"Kau belum mandi tuan, apa kita akan pergi dengan keadaanmu yang seperti ini." Kekeh Ten.
"Masih bisa meledekku rupanya…." Ucap Johnny, ia mulai menciumi seluruh penjuru wajah putih Ten tanpa tahu jika Hendery tengah berdiri di kamar mereka dan mendengar suara aneh dari kamar orang tuanya sejak tadi, anak laki-laki itu mulai berfikir betapa sulitnya menjadi dewasa saat melihat tingkah kedua orang tuanya.
Pagi ini keluarga kecil mereka dihadiahi dengan kabar bahagia, tentang akan hadirnya sosok malaikat kecil di tengah-tengah mereka. Untuk menambah warna baru bagi pelangi yang telah mereka buat bersama.
