34. A New Habit (1)
Setelah berhari-hari beradu dengan pemikirannya sendiri, Ten akhirnya menyadari jika ia tengah berbadan dua. Tentunya berkat testpack yang sempat ia gunakan beberapa hari lalu dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Ten nampak begitu bahagia, begitupun Johnny. Ia tampak tak sabar untuk segera bertemu dengan buah cintanya dengan Ten. Bahkan Johnny mulai bersikap tak wajar, ia amat cerewet terhadap semua kegiatan yang Ten lakukan. Ten sampai kesal sendiri dibuatnya karena Johnny mulai membatasi setiap pergerakannya.
Siang ini Ten dan Johnny tengah berkumpul di ruang keluarga, Ten nampak bersandar manja di bahu kokoh Johnny dengan tangan besar pria itu yang nampak mengelus perut ratanya. Hendery napak baru saja turun dari lantai dua, anak laki-laki itu berniat pergi ke dapur dan mengambil beberapa cemilan untuk menemaninya membaca buku. Ten menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang ada di dekatnya, ia tersenyum cerah saat mendapati sang anak yang hendak kembali lagi ke atas dengan susu kotak yang ada di tangannya.
"Dery…. Jangan di kamar terus. Ayo sini mama sangat merindukan Dery." Ucap Ten. Hendery nampak menurut dan menghampiri sang mama, ia duduk di sebelah Ten dan setelahnya wanita itu bersandar manja di bahu sempit sang anak.
"Mama berat…." Ucap Hendery.
"Tentu saja berat kan perut mama ada isinya." Ucap Ten.
"Makanan kan?" Tanya Hendery.
"Baby…." Ucap Ten semangat sampai Johnny yang berada di sebelahnya dibuat terkekeh.
"Maksudnya?" Tanya Hendery tak paham.
"Ada baby nya…. Sebentar lagi Dery jadi kakak." Jelas Ten semangat.
"Jinjja?" Teriak Hendery, ia nampak tak percaya mendengar perkataan sang mama.
"Hum…. Are you happy?" Tanya Ten seraya mengangguk semangat.
"Hum…. Terima kasih ma-" Hendery yang hendak memeluk Ten terpaksa menghentikan kegiatannya karena rasa nyeri yang tiba-tiba saja mengungkung dadanya.
"Dery…. Tidak apa-apa?" Tanya Ten, ia mulai panik dan menangkup wajah pucat sang anak yang terlihat mengernyit kesakitan. Johnny yang semula duduk di sebelah Ten pun mulai berpindah posisi ke samping sang anak dan memastikan tidak ada hal gawat yang perlu ditakutkan.
"Dery baik-baik saja, ma." Ucap Hendery setelah berhasil menormalkan rasa sakit di dadanya.
"Jangan bohong? Ayo bilang pada mama tadi kenapa?" Ucap Ten posesif.
"Dia tidak pernah dengar kabar bahagia setelah sekian lama ma, jadi sedikit terkejut." Ucap Hendery, ia membawa jemari lentik sang mama untuk menyentuh dadanya yang nampak berdetak beraturan. Ten tersenyum simpul saat merasakan detak jantung sang anak, hatinya sedikit tenang setelah mengingat mengenai penjelasan dari Chanyeol beberapa waktu yang lalu tentang mengapa jantung Hendery kerap kali berdebar kencang. Dan sekarang anak laki-laki itu nampak lebih baik setelah Chanyeol menambah obat baru yang harus dikonsumsinya. Sekalipun gurat pucat di wajahnya masih terlihat jelas, setidaknya baik Ten dan Johnny masih bisa bernafas lega.
"Jangan sembunyikan apapun dari mama dan daddy lagi ya, mengerti?" Ucap Ten seraya memeluk tubuh kurus sang anak. Hendery hanya mengangguk pasrah, lagipula pergerakannya amat terbatas karena baik Ten dan Johnny sama-sama memeluknya dari segala arah dan itu berhasil membuat Hendery mendengus sebal.
Setelah Hendery mengetahui tentang kabar kehamilan sang mama, tingkahnya tak jauh beda dengan Johnny. Hendery mulai bersikeras untuk melakukan semua hal sendiri, bahkan beberapa hari lalu Johnny hampir memarahinya karena Hendery melukai tangannya sendiri saat menggunakan pisau. Anak laki-laki itu juga amat protektif pada sang mama, ia akan sangat sering menghubungi Ten saat tengah bekerja, jelas jauh berbeda dengan Hendery yang sempat cuek dan gengsi seperti beberapa waktu lalu.
"Mama jangan ke rumah sakit ya, mama terlihat tidak sehat. Disini saja ya ma, Dery mohon…." Bujuk anak laki-laki itu setelah melihat Ten memuntahkan makananya di wastafel, Johnny yang melihat tingkah Hendery hanya terkekeh. Ternyata ada yang lebih protective pada Ten melebihi dirinya, pikir pria itu.
"No Dery mama baik-baik saja. Jangan khawatir ya mual-mual seperti tadi sudah biasa kok." Jelas Ten seraya membelai lembut pipi sang anak dan menyingkirkan rambut Hendery yang menutupi keningnya.
"Mama benar tidak apa-apa?" Tanya Hendery lagi.
"Hum…. Mama baik-baik saja, sudah ya Dery harus menurut pada Yixing ssaem, nanti sore kita bertemu lagi." Ucap Ten, Hendery hanya mengangguk dan mulai melepaskan kepergian sang mama pagi itu.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kandungan Ten telah memasuki bulan keempat. Wanita itu masih bekerja di rumah sakit seperti yang biasa ia lakukan dan jangan lupakan dua ksatrianya yang masih sama cerewetnya seperti beberapa bulan lalu. Malam ini Ten tak bisa tidur, perutnya tidak sakit hanya saja ia amat sulit memejamkan mata padahal jam telah menunjukkan tengah malam. Johnny juga nampak sudah terlelap dalam tidurnya setelah sebelumnya sibuk mengelus perut Ten yang mulai menonjol dengan tangan besarnya. Ten memutuskan untuk ke dapur, ia menikmati segelas susu hangat seraya memakan potongan buah yang ada di kulkas, setelah dirasa perutnya cukup penuh, wanita itu bergegas kembali naik ke lantai atas. Kali ini ia tak memasuki kamarnya dan Johnny, melainkan membuka pintu kamar Hendery yang nampak tidak terkunci.
Anak tampan itu terlihat telah terlelap di sisi lain kasurnya, dengan perlahan Ten menaiki kasur sang anak dan ikut bergabung di bawah selimut besar Hendery. Memeluk tubuh anak laki-lakinya dan mengelusnya sayang sampai akhirnya ikut memejamkan mata.
Hendery terbangun di pagi hari karena merasakan adanya pergerakan di kasurnya. Perlahan mata indahnya mulai mengerjap untuk menyesuaikan diri dengan cahaya mentari yang menerobos melalui celah tirai kamarnya. Saat mata bulatnya terbuka sempurna, anak laki-laki itu nampak terkejut ketika mendapati sang mama yang berada di sampingnya dan tengah memandangi wajahnya.
"Mama…. Kenapa ada disini?" Tanya anak laki-laki itu keheranan.
"Mama tidur disini semalam." Jelas Ten.
"Jinjja? Dery kok tidak tahu." Ucap anak laki-laki itu polos.
"Dery tidur terlalu nyenyak, padahal mama sudah bangunkan." Bohong wanita itu, Hendery hanya mengangguk dan setelahnya mereka berdua berjalan beriringan keluar dari kamar besar Hendery menuju ke lantai bawah.
"Oh…. Jadi kau kabur dariku dan tidur dengan Dery." Ucap Johnny saat mendapati Ten yang tengah merangkul sang anak.
"Aku tidak bisa tidur semalam, yasudah lebih baik pindah ke kamar Dery." Ucap Ten tanpa dosa.
Ten dengan kebiasaannya yang masuk ke kamar Hendery terus berlanjut sampai kandungannya berusia enam bulan. Wanita itu benar-benar menempel dengan Hendery dan tak ingin melepaskannya. Bahkan ia pernah mengajak Hendery menemaninya bekerja di rumah sakit dan berakhir dengan Ten yang terkena omelan Johnny karena setelahnya Hendery demam selama tiga hari berturut-turut. Namun Ten tetap tak patah semangat, ia kerap kali menghampiri Hendery bahkan tak jarang ia menyelinap di sesi homeschooling nya dan itu berhasil membuat Hendery keheranan dengan tingkah polah sang mama.
Sekalipun tengah hamil besar, Ten termasuk wanita yang lincah. Ia sangat senang berjalan kesana-kemari, bahkan kerap kali mengajak Hendery melakukan movie date berdua tanpa mempedulikan Johnny yang terlihat amat iri karena tak diajak berpartisipasi.
"Aku bosan denganmu John, sudah sana pergi ke kantor. Hari ini aku dan Dery akan pergi ke mall." Ucap Ten polos.
"Yak…. Kau benar-benar tak mengajakku?" Tanya Johnny keheranan.
"Hum… sudah ya, sana. Aku dan Dery harus segera pergi sebelum anak tampanku itu kepanasan." Ucap Ten.
Ten dan Hendery baru saja membeli beberapa perlengkapan untuk bayi perempuan. Dokter bilang anaknya dan Johnny berjenis kelamin perempuan, tentu saja mereka amat bahagia, bukankah artinya kebahagiaan mereka telah lengkap dengan hadirnya sepasang anak laki-laki dan perempuan. Mata indah Ten berbinar saat mendapati mangkuk besar es krim tersaji di hadapannya dengan berbagai toping manis yang melengkapinya.
"Mama, kan daddy bilang mama tidak boleh banyak makan makanan manis." Ucap Hendery polos.
"Ush…. Dery jaga rahasia ya, hari ini saja. Setelah ini mama tak akan makan lagi, janji." Bujuk Ten.
Mereka berdua berhasil menghabiskan semangkuk besar es krim tanpa sisa, lebih tepatnya Ten yang hampir menghabiskan semuanya disaat Hendery hanya memakan sepertiganya. Setelah berlama-lama di mall dan mendapatkan semua yang mereka cari sepasang ibu dan anak itu bergegas kembali ke rumah sebelum sang tuan rumah marah.
"John, yang benar pijatnya. Iya disana ke atas sedikit. Iya benar…." Itu suara Ten, setelah puas seharian bermain bersama Hendery malam harinya ia akan memonopoli Johnny dan meminta pria tampan itu memijat kakinya, lebih tepatnya area betis karena terasa sedikit pegal dan tegang setelah berjalan seharian.
"Kau mengajak Dery bersenang-senang dan memberikan ampasnya padaku, istri macam apa sih kau Ten?" Gemas Johnny.
"Jangan begitu daddy, beruang kita hanya mau aku pergi dengan Dery bukan denganmu, iya kan sayang…." Ucap Ten seraya mengelus perut besarnya dan dibalas dengan tendangan dari kaki kecil di dalam sana.
"Lihat bahkan bear setuju jika aku pergi dengan Dery." Jelas Ten seraya menjulurkan lidahnya.
"Sudah John, aku mengantuk. Mau ke kamar Dery." Ucap Ten yang perlahan mulai bangkit berdiri.
"Yak…. Tidak-tidak malam ini tidur denganku, tidak ada lagi tidur dengan Dery." Ucap Johnny kesal.
"Tapi bear mau ti-"
"Jangan banyak alasan, mana mungkin anakku tidak mau tidur denganku. Malam ini tidur dengan daddy ya bear…" Monolog Johnny seraya mengelus lembut perut besar Ten dan dihadiahi tendangan halus dari dalam sana.
"Lihat kan bear setuju dengan perkataan ku." Bangga Johnny.
"Bear, kita seharusnya bekerja sama." Ucap Ten menatap ke arah perut besarnya.
"Ah-"
"Sudah kubilang jangan macam-macam. Lihat kan bear saja tidak setuju dengan idemu." Ucap Johnny, ia menuntun Ten menuju ke kasur besar mereka. Wanita cantik itu nampak meringis kesakitan karena beruang kecil mereka menendang cukup keras dari dalam perutnya.
Johnny membantu Ten menyamankan posisi tidurnya, sesekali ia nampak mengelus pelus besar sang istri yang terasa cukup kencang setelah tendangan besar dari dalam beberapa menit yang lalu.
"Kau sih terlalu banyak berulah." Ledek Johnny,
"Bisa diam tidak sih…." Ucap Ten sedikit kesal, ia masih berusaha menormalkan nafasnya yang cukup memburu malam itu.
"Kasihan sekali Dery tidur sendirian." Lirih Ten.
"Jangan berlebihan, bahkan sejak usia delapan tahun Dery sudah tidur sendiri di kamarnya." Jelas Johnny.
"Kau benar-benar orangtua yang kejam." Ledek Ten.
Setelah cukup lama berbincang dan dirasa perutnya telah lebih baik, perlahan netra indah Ten mulai memberat dan lama-kelamaan menutup seiring dengan mulutnya yang menguap lebar. Johnny tersenyum melihat Ten yang mulai terlelap dalam tidurnya, ia nampak mengecupi pipi gembul sang istri dan tak lupa memberikan kecupan untuk beruang kecil mereka yang terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Sebenarnya Johnny sama sekali tidak masalah mau selama apapun Ten memilih tidur dengan Hendery dibanding dengannya. Namun tak dipungkiri rasa rindunya kian membuncah terlebih harus berpisah dari sang istri setiap malam. Seperti ada yang mengganjal di hatinya sekalipun ia tahu jika Ten hanya berada tepat di sebelah kamarnya.
