35. A New Habit (2)

Saat ini kehamilan Ten telah memasuki trimester ketiga. Jika sebelumnya wanita cantik itu amat menempel pada hendery kali ini ia tak bisa terpisahkan dengan Johnny. Pria tinggi itu sama sekali tak masalah, ia malah cenderung senang. Namun lama-kelamaan kebiasaan aneh Ten mulai semakin menjadi. Wanita cantik yang berstatus sebagai istrinya itu menjadi sangat rewel, bahkan ia bisa menangis amat keras saat Johnny hendak meninggalkannya ke kantor. Hendery yang melihat tingkah sang mama sampai keheranan, seolah mood Ten benar-benar berputar seperti roller coaster.

Seperti pagi ini, wanita itu kembali merajuk pada Johnny yang baru saja tiba semalam setelah perjalanan bisnisnya ke Busan selama tiga hari lamanya. Ten benar-benar mendiamkan Johnny sejak semalam, bahkan saat Johnny memasuki kamar mereka Ten terang-terangan masuk ke kamar Hendery dan kembali bergabung di bawah selimut tebal sang anak. Johnny hampir frustasi melihat tingkah Ten, terlebih saat wanita itu mulai mengambil cuti dari pekerjaannya ada saja tingkah polah Ten yang membuat pusing kepala.

"Ten, sampai kapan akan mendiamkanku begini…." Bujuk Johnny saat mereka berdua tengah berada di ruang keluarga.

"Ayolah, aku kan tetap menghubungimu selama tiga hari kemarin." Jelas Johnny saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari istri tercintanya.

"Hiks…. Kau jahat, bagaimana bisa hanya menghubungiku sebanyak dua kali dalam sehari, hiks…. Tidak tahu apa aku dan beruang kecil kita benar-benar merindukanmu hiks…." Ucap Ten disertai tangisan yang terdengar memilukan bagi wanita hamil itu.

"Aish…. Jadi karena itu, maaf ya aku tidak sering menghubungimu." Ucap Johnny seraya mengelus lembut punggung sempit sang istri dan membiarkan Ten bersandar di bahunya.

"Mau ke kebun binatang, hiks…." Ucap Ten disela tangisnya.

"Hah? Tiba-tiba?" Tanya Johnny keheranan.

"Hum…. Mau lihat hewan." Ucap Ten disertai puppy eyes andalannya.

Demi memperbaiki hubungannya dengan Ten, hari ini Johnny mengajak istrinya itu ke kebun binatang. Mulanya ia dan Ten mengajak Hendery namun anak laki-laki itu menolak karena Mark dan San akan datang ke rumah mereka dan tiga anak laki-laki itu sudah memiliki rencana untuk bermain bersama. Berakhirlah Ten dan Johnny yang pergi ke kebun binatang berdua, anggap saja seperti saat mereka berkencan. Tapi pasangan mana yang berkencan di kebun binatang, pikir Johnny.

"Woah…. kupikir selama ini jerapah makan rumput." Monolog Ten saat melihat jerapah yang tengah menikmati dedaunan dari tanamn tinggi yang ada di hadapannya. Johnny tak dapat lagi menahan tawanya saat mendengar perkataan polos sang istri, bahkan ia tak peduli jika sebagian pengunjung kebun binatang menatap keheranan ke arah mereka berdua.

"Kau jadi dokter tidak menyogok kan Ten?" Ucap Johnny disela-sela tawanya.

"Yak, jaga bicaramu ya. Saat kecil juga pasti kau mengira jerapah makan rumput, kan? Mengaku saja." Ucap Ten seraya menatap tajam wajah suaminya.

"Tentu saja tidak, aku sudah cerdas sejak kecil." Bangga Johnny.

"Alasan…." Ucap Ten seraya berlalu dari hadapan sang suami.

Setelah puas melihat jerapah mereka berdua memutuskan untuk menari beruang, Ten nampak kegirangan saat melihat beruang besar yang ada di dekat mereka. Johnny sampai heran sendiri dengan tingkah istrinya itu, sepertinya ini efek samping dari menonton channel National Geographic, pikir Johnny.

"Kau benar-benar terobsesi dengan hewan?" Tanya Johnny penuh selidik.

"Iya, memangnya kenapa? Nasib baik aku tak memintamu mengajakku pergi ke savana di Afrika." Ucap Ten dengan nada kesal yang ia buat-buat.

"Tidak percaya, kau kan takut cuaca panas. Musim panas di Korea saja membuatmu heboh apalagi jika kita ke Afrika." Canda Johnny.

"Jadi jika aku tak heboh saat musim panas kau benar-benar akan mengajakku ke Afrika?" Tanya Ten penuh harap.

"Tentu saja tidak sayang, haha…." Balas Johnny seraya kembali tertawa keras.

Setelah puas melihat binatang-binatang dia area outdoor, sepasang suami istri itu memasuki area indoor lebih tepatnya untuk melihat pertunjukan lumba-lumba dan singa laut. Ten terlihat begitu terhibur di sepanjang pertunjukan, berbeda dengan Johnny yang lebih banyak diam karena sebenarnya ia kurang suka dengan keramaian.

"John, apa bedanya anjing laut, singa laut, dan walrus?" Tanya Ten tiba-tiba saat mereka tengah berjalan keluar dari arena pertunjukkan.

"Mana aku tahu." Ucap Johnny sedikit frustasi, makin lama perkataan yang keluar dari mulut Ten semakin tidak masuk akal, pikir Johnny.

"Kupikir kau tahu, kan katamu kau cerdas sejak lahir." Ucap Ten seraya menikmati popcorn miliknya. Johnny hanya mengedikkan bahunya tanda tidak peduli, ia kembali melajukan mobilnya untuk menuju ke akuarium besar yang tak jauh dari kebun binatang. Salahkan saja Ten yang tiba-tiba merengek untuk pergi ke akuarium besar dan mau tak mau Johnny harus menuruti semua keinginannya sebelum terjadi perang dunia ketiga.

"John, kalau kacanya pecah lalu airnya berhamburan dan kita masih disini bagaimana?" Ucap Ten tiba-tiba saat mereka tengah berjalan beriringan di dalam terowongan yang berbentuk akuarium besar.

"Kau pikir kaca ini sama dengan kaca di rumah kita, tentu saja berbeda sayang…." Jelas Johnny seraya mengelus lembut rambut Ten. Wanita itu hanya mengangguk dan kembali menyedot minuman yang sempat ia beli di luar arena akuarium.

"Mereka keren ya John, bisa tahan berlama-lama di air." Ucap Ten saat melihat orang yang berkostum putri duyung berenang di sebelah mereka.

"Hum…. Keren sekali." Ucap Johnny, ia juga terlihat cukup terpana dengan kemampuan orang-orang berkostum putri duyung itu.

"John, tahu tidak. Seharusnya kita berciuman disini lalu meminta Dery memotret kita, sayang sekali anak itu menolak diajak pergi." Ucapan Ten yang tiba-tiba berhasil membuat Johnny tersedak minumannya, ia tak habis pikir kenapa Ten mudah sekali mengganti topik pembicaraan.

"Dulu kau memarahiku saat Dery memergoki kita berciuman di ruang keluarga, sekarang kau malah meminta anak itu mengabadikan potret ciuman kita. Kasihan sekali anakku itu ia bisa krisis identitas karena mamanya binal." Canda Johnny.

"Yak, kau bilang apa pak tua…." Balas Ten dengan suara yang cukup memekakkan telinga.

"Aku bercanda sayang…." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Candaanmu tidak lucu tahu." Balas Ten dengan bibir yang mulai melengkung ke bawah.

Mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan menjelajah penjuru terowongan. Ten nampak bergelayut manja di lengan kekar Johnny. Terlebih saat ia mendapati mata-mata genit para pengunjung wanita yang menatap Johnny dengan tatapan tak biasa, benar-benar tak tahu diri, pikir Ten. Bukankah seharusnya perut buncit Ten yang terekspos sempurna membuat mereka mengerti bahwa Johnny adalah suaminya, pikir wanita itu.

"Johnny…. jaga pandanganmu, pokoknya hanya boleh lihat ikan-ikan dan aku." Ucap Ten. Ia sedikit berjinjit dan mengubah arah pandangan sang suami dengan cara menggeser kepalanya kesana-kemari.

"Baik nyonya…. Memangnya apalagi yang bisa aku lihat, disini hanya ada ikan." Ucap Johnny.

"Kau kenapa berpenampilan seperti anak muda sih, lihat bahkan anak-anak SMA itu melihatmu dengan mata genitnya. Ingin ku colok saja rasanya." Ucap Ten gemas.

"Kau kenapa jadi agresif begini, tenang saja aku tak tertarik menjadi sugar daddy." Jelas Johnny seraya terkekeh.

"Bagus, memang harus seperti itu. Kau hanya boleh jadi sugar daddy untukku dan aku jadi sugar baby mu…." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Yak, kau pikir usia kita terpaut puluhan tahun? Bahkan perbedaan usia kita tak sampai lima tahun Ten ingat itu." Balas Johnny sedikit kesal.

Ten hanya terkekeh saat mendengar Johnny yang merajuk. Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menjelajahi terowongan dan berhenti saat melihat ikan pari berukuran cukup besar berada disana. Ten bahkan mengabadikan momen itu dengan ponselnya, sepertinya hari ini ponsel wanita itu sudah jadi penangkaran satwa liar karena dipenuhi dengan foto binatang sejak beberapa jam yang lalu.

"John, kau tak berniat mengajakku ke Amerika?" Tanya Ten tiba-tiba dengan pandangan yang fokus menatap ke arah akuarium.

"Beberapa jam lalu kau bilang mau ke Afrika, apa sekarang sudah tidak tertarik dengan savana?" Tanya Johnny.

"Tentu saja masih, tapi di Amerika ada Georgia Aquarium, kau tahu itu akuarium terbesar di dunia, apa mungkin megalodon bersarang di sana?" Ucap Ten polos.

"Ten- Ten hentikan, perkataanmu semakin tidak masuk akal. Sepertinya aku harus menghilangkan channel NatGeo." Ucap Johnny.

"Berani sampai kau hilangkan? Aku tak akan bicara padamu sampai beruang kecil kita lahir." Ucap Ten dengan tatapan yang tajam.

"Kau tidak kelelahan?" Tanya Johnny, mereka baru saja meninggalkan area akuarium dan saat ini tengah menikmati makanan di sebuah restoran.

"Tidak." Ucap Ten, ia tak menatap Johnny dan sibuk dengan makanan yang tengah ia santap.

"Sekarang bilang tidak, tapi nanti malam kau tak akan mengizinkanku tidur dan menyuruhku memijat kakimu, ah aku sudah hafal dengan tabiatmu itu, sayang…." Jelas Johnny.

"Kan memang kita harus berbagi beban John, memangnya kau pikir membawa anakmu yang besar kemana-mana itu tidak melelahkan. Bahkan tidak hanya kaki, punggung ku juga sering sakit akhir-akhir ini." Keluh Ten.

"Jangan bicara begitu, kau membuatku merasa bersalah tahu…." Ucap Johnny.

"Aigoo…. Lucunya…." Kekeh Ten.

Mereka kembali melanjutkan menyantap makanan mereka, Johnny sampai keheranan karena Ten memesan begitu banyak makanan dan istrinya itu berhasil menghabiskannya. Bahkan rasanya Johnny tak perlu mengisi perutnya karena melihat Ten makan dengan nafsu makan yang mengerikan berhasil membuatnya kenyang. Saat tengah menyantap makanan yang mereka pesan tiba-tiba saja ada deringan ponsel yang berbunyi, baik Ten dan Johnny sama sama mencari keberadaan ponsel mereka dan saat dicek ternyata ponsel Ten yang bordering, pertanda ada panggilan masuk dari sang anak.

"Dery menghubungiku…." Ucap Ten seraya menunjukkan layar ponselnya pada Johnny.

"Dery bahkan tak pernah menghubungiku lagi lewat ponselnya." Balas Johnny dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

"Jangan iri tuan, anakku pasti tahu siapa yang benar-benar menyayanginya." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Yak…. Sudah cepat angkat…." Ucap Johnny sedikit kesal.

"Yeoboseyo Dery, ada apa sayang?" Ucap Ten.

"Mama perginya masih lama tidak?" Tanya Hendery dari seberang sana.

"Hum, sebentar lagi mama dan daddy pulang. Kenapa? Dery sudah merindukan kita ya?" Tanya Ten dengan nada jahil yang ia buat-buat.

"Tidak juga, bisa tolong belikan pizza, ma?" Tanya Hendery sedikit ragu.

"No baby, tidak ada junk food…." Ucap Ten dengan penekanan di setiap katanya. Ten dan Johnny memang benar-benar mengatur pola makan Hendery bahkan apapun yang masuk ke perut Hendery sepertinya mereka berdua tahu.

"Bukan untuk Dery ma, Mark dan San masih disini. Di rumah hanya ada sereal dan buah, dan sepertinya mereka sedikit bosan…." Jelas Hendery.

"Ah, jadi begitu. Baiklah tunggu mama pulang sebentar lagi. Akan mama belikan pizza. Bye boy, mama love you…." Ucap Ten sebelum mengakhiri panggilannya.

"Love you too ma…." Balas Hendery.

"Dery minta dibelikan pizza kat-"

"Tidak, tidak. Sejak kapan anak itu meminta makanan aneh…." Ucap Johnny menyela omongan Ten.

"Yak, dengarkan dulu sampai selesai. Dery minta dibelikan pizza untuk Mark dan San." Jelas Ten dengan penekanan di setiap katanya.

"Ah begitu, jika tamunya bukan mereka berdua pasti sudah kuusir." Ucap Johnny.

Sesuai dengan perkataan Johnny saat di luar tadi, malam ini Ten terus merengek dan meminta Johnny memijat kakinya. Bahkan wanita itu jadi penuh drama saat Johnny ingin ke kamar mandi. Johnny sampai heran sendiri melihat tingkah laku istrinya itu.

"John, cepat pijati kakiku. Kau tega melihatku kesakitan begini, kau jahat sekali John, hiks…." Itu suara Ten, ia mulai berdrama setelah Johnny selesai membersihkan diri. Bahkan wanita itu terlihat mulai menangis, entah air mata sungguhan atau pura-pura, Johnny saja sampai tak bisa membedakannya.

"Iya disitu…. Tanganmu hebat sekali. Geser sedikit John, baiknya suami tampanku…." Monolog Ten di tengah acaranya menikmati pijatan Johnny.

"Sudah sudah. Aku mau tidur…." Ucap Ten, ia mulai berbaring dan menyamankan posisi tidurnya.

"Kau pikir bisa lepas dariku begitu saja." Ucap Johnny, ia mulai menyambar bibir ranum Ten dan menghisapnya dalam-dalam, jika dipikir kembali sudah lama juga mereka tak melakukan peraduan.

"Uhm-" Ten bersusah payah mendorong dada bidang Johnny berusaha menjauhkan suaminya itu.

"Yak, kau gila. Mau membunuh beruang kita?" Tanya Ten dengan nada tinggi setelah mereka melepaskan pagutannya.

"I miss you baby…." Ucap Johnny.

"Tidak tidak, aku malas melakukannya malam ini. Lain kali saja ya, sudah sana cepat tidur." Ucap Ten dan mulai membalut tubuhnya dengan selimut tebal.

Lagi-lagi Johnny harus menelan kekecewaan karena kunjungannya kembali digagalkan oleh sang istri. Padahal ia selalu menantikan waktu kunjungan di setiap malam dan Ten selalu berhasil menggagalkannya.