36. The Sunshine in Our Life

Sejak tengah malam Ten telah berada di rumah sakit karena wanita itu mulai mengeluh jika perutnya kram dengan intensitas yang makin sering. Johnny yang terlalu panik tak sempat membangunkan Hendery yang masih tertidur lelap dan berakhir dengan dia yang meminta Seohyun untuk datang ke kediaman mereka supaya anak laki-laki itu tidak terlalu panik saat mendapati kedua orang tuanya yang tak berada di rumah.

Semakin mendekati waktu persalinan Ten, bayang-bayang Johnny tentang kilasan kejadian masa lalu saat Irene melahirkan Hendery kembali berputar di otaknya. Johnny bahkan lebih panik daripada Ten yang terlihat amat tenang, selain karena profesinya sebagai seorang dokter, Ten juga telah mengikuti banyak kelas persiapkan orang tua sehingga ia lebih dapat mengendalikan dirinya.

Tepat pukul setengah enam pagi pembukaan persalinan Ten telah lengkap sepenuhnya. Johnny setia berada di sampingnya, menggenggam erat jemari Ten dan meminjamkan tubuhnya sebagai pelepas rasa sakit yang dialami sang istri.

"Johnny…. aku tak mau tahu, jangan hamili aku lagi…." Teriak Ten disela-sela kegiatannya mendorong sang bayi keluar dari perutnya. Tim dokter dan perawat yang membantu kelahiran hanya terkekeh seolah tidak percaya Ten seorang dokter anak yang dikenal selalu bersikap lemah lembut pada pasiennya bisa mengeluarkan kata-kata sebrutal itu.

"Aah…. Jangan menarik rambutku, tahan sebentar ya. Sebentar lagi selesai sayang…." Ucap Johnny saat mendapati Ten menarik rambutnya keras-keras.

"Euhng…. Sakit…. eomma…."

Ten yang mengerahkan semua kemampuanya untuk mengeluarkan bayi mereka tiba-tiba saja merasa sangat merindukan sang ibu. Rasanya ia ingin bersujud di kaki ibunya setelah ini, ternyata mengeluarkan seorang bayi benar-benar menyakitkan, pikir wanita itu.

"Oek…. Oek…. Oek…."

Setelah berlama-lama menahan rasa sakitnya akhirnya bayi kecil mereka melihat dunia untuk pertama kalinya. Bayi perempuan gembul itu lahir tepat saat matahari tengah bersinar cerah menyambut pagi hari dengan burung-burung yang berkicau riang. Johnny yang memang belum memiliki ide tentang nama anak perempuan mereka tiba-tiba saja menyunggingkan senyumnya, sepertinya ia tahu harus menamai anak mereka apa, pikir pria tinggi itu.

Ten telah dipindahkan ke ruang rawatnya dan wanita itu tampak tengah menyusui bayi kecilnya. Ten sedikit mendengus sebal, ia merasa tak terima selama Sembilan bulan ia membawa bayi gembul itu dalam perutnya namun wajahnya malah mirip sekali dengan Johnny. Ten hanya mendapatkan sedikit bagian mata, sisanya tak ada yang bisa diharapkan. Johnny masuk ke dalam ruang rawat Ten dan tersenyum cerah saat menghampiri istrinya yang dibalas dengan tatapan tajam dari sang wanita, Johnny jelas tahu arti dari tatapan itu karena ia sudah sering mendapatkannya selama beberapa hari terakhir.

"Jadi sudah memiliki nama untuk anak kita?" Tanya Ten sedikit menyindir.

"Tentu saja sudah." Jawab Johnny bangga, ia membuka kotak kue yang ia bawa dan menunjukkan kue tart mini yang sempat ia beli. Ten menatap lekat ke arah kue tersebut dan membaca tulisan yang ada di atasnya.

"Hae- Chan- Seo Haechan? Woah aku suka, imut sekali…." Ucap Ten semangat, ia mulai mengecupi pipi gembul bayi merahnya dan menghirup aroma khas bayi yang menguar dari sana.

"Haechan" gabungan dari dua kata "Hae" yang artinya matahari dan "Chan" yang artinya penuh. Sangat sesuai dengan waktu kelahiran anak perempuan itu yang dihiasi dengan mentari yang bersinar terang. Dari nama sederhana itu Johnny berharap sang anak akan selalu bisa menjadi cahaya penerang bagi orang di sekitarnya dimanapun ia berada. Ten yang mendengar penjelasan dari Johnny tentang nama anak mereka sampai tak percaya jika sang suami bisa begitu puitis seperti para pujangga yang dimabuk asmara.

"John, kita melupakan Dery. Suruh dia kemari, hari ini juga anak itu libur. Pasti sudah bosan di rumah saat tidak menemukan kita." Ucap Ten di sela-sela kegiatannya menimang Haechan.

"Ah benar juga, akan kuminta Seohyun noona membawanya kemari." Ucap Johnny yang mulai memainkan ponselnya.

Tak butuh waktu lama Hendery terlihat masuk ke ruang rawat Ten ditemani oleh Seohyun yang juga datang menjenguk keponakan barunya. Wanita itu nampak gemas setelah melihat Haechan dengan rambut lebat dan pipi gembulnya. Ten yang menyadari kehadiran Hendery di ruangannya nampak meneriakkan nama sang anak dan memeluknya erat-erat, Hendery juga membalas pelukan Ten dan menikmati setiap sentuhan sang mama.

"Apa Dery bingung saat mama tak ada?" Tanya Ten seraya mengelus lembut surai hitam sang anak.

"Hum, tapi Seo imo bilang adik bayi akan segera keluar, jadi Dery tidak bingung lagi." Jawab anak laki-laki itu.

"Ini adiknya Dery, lucu kan?" Ucap Ten, ia mengambil alih Haechan dari gendongan Johnny dan menunjukkan wajah menggemaskan sang anak pada kakak laki-lakinya.

"Rambutnya banyak sekali…." Ucap Hendery.

"Daddy bilang dulu juga Dery seperti ini." Jelas Ten.

"Mama, matanya terbuka…." Ucap Hendery semangat saat melihat sang adik mulai membuka mata kecilnya perlahan.

"Woah…. akhirnya Haechan membuka mata, sepertinya dia memang menunggu Dery datang." Ucap Ten bangga.

"Haechan?" Tanya Hendery.

"Hum, namanya Haechan. Dery suka?" Ucap Ten.

"Suka ma, bagus sekali namanya." Balas Hendery. Perlahan ia mengulurkan jari kelingkingnya dan dibalas tautan lemah dari jemari kecil Haechan, Ten dan Johnny yang melihat hanya terkekeh karena Hendery terlihat amat antusias dengan adik kecilnya.

"Dery mau coba menggendong adik?" Tawar Ten, Hendery kontan menggeleng keras. Ia masih belum berani melakukan hal itu.

"Tidak mau, Dery takut melukai Haechan." Balas anak laki-laki itu.

"Tidak ada yang akan terluka, lihat Haechan saja tak mau lepaskan tangan Dery." Ucap Ten seraya menunjuk jemari Hendery yang masih digenggam erat oleh sang adik.

Saat Haechan kembali tertidur lelap, Johnny mengambil alih bayi gembulnya dan memindahkannya ke dalam baby box yang berada tak jauh dari ranjang rawat Ten. Setelahnya Johnny nampak menyiapkan berbagai makanan di ruangan tersebut karena saat membawa Hendery kemari Seohyun bilang jika anak laki-laki itu belum mengisi perutnya karena terus terpikir soal sang mama saat berada di rumah.

"Dery makan dulu, Seo imo bilang Dery belum makan." Ucap Johnny.

"Tidak mau dad, Dery tidak lapar." Balas Hendery, ia masih menikmati sentuhan lembut Ten pada kepalanya yang lama-kelamaan membuatnya mengantuk.

"Dery jangan begitu, mau makan dengan mama?" Tawar Ten. Hendery lantas mengangguk dan membuat Johnny menghembuskan napas lega, setidaknya ada makanan yang akan masuk ke dalam perut anaknya itu.

Saat Ten dan Hendery tengah menyantap makanan mereka tiba-tiba saja keluarga Jung datang berkunjung. Taeyong terlihat amat bersemangat terlebih saat mendengar kabar anak Ten dan Johnny berjenis kelamin perempuan. Maklum saja ia sudah cukup muak dikelilingi para jagoan di rumahnya.

"Aigo…. Gemasnya, siapa namanya?" Tanya Taeyong seraya menatap wajah damai Haechan yang sedang tertidur.

"Seo Haechan." Jawab Ten singkat.

"Rambutnya lebat sekali, mirip dengan Dery saat baru lahir dulu." Jelas Taeyong.

"Ma, apa jeno tidak bisa ditukar dengan Haechan?" Tanya Mark tiba-tiba, Ten hampir tersedak makanannya sedangkan Hendery telah memandangi sahabatnya itu dengan tatapan tajam. Enak saja mau menukar adiknya, pikir Hendery.

"Memangnya Jeno kenapa?" Tanya Ten seraya terkekeh.

"Jeno sangat berisik imo, ia sering ambil alat tulis Mark dan merusak mainan Mark padahal eomma dan appa sudah belikan mainan juga untuknya." Ucap Mark, ia menjelaskan tingkah polah adik kecilnya yang telah berumur delapan tahun itu, kebetulan sekali Jeno tidak datang hari ini, karena anak tampan dengan eye smile itu tengah menginap di rumah sang nenek sejak dua hari lalu. Taeyong tentu saja amat senang setidaknya rumahnya bisa sedikit rapi saat Jeno pergi.

"Ini adiknya Dery, tidak bisa dong ditukar begitu." Jelas Taeyong pada sang anak.

"Kalau begitu eomma dan appa buat lagi saja? Tapi Mark mau yang seperti Haechan." Ucap Mark tiba-tiba, ia nampak asyik memainkan pipi gembul Haechan sampai bayi merah itu menangis keras. Taeyong hanya mampu menghela nafas melihat kelakuan sang anak, sudah besar bukannya makin normal malah tingkah ajaibnya makin menjadi, pikir Taeyong.

"Ayo Tae kurasa aku masih bisa membuahi mu untuk mendapatkan anak selucu Haechan." Ucap Jaehyun tiba-tiba.

"Membuahi itu apa?" Tanya Hendery yang berhasil membuat semua orang dewasa disana menatap ke arah Jaehyun dengan tatapan tajam, bahkan Johnny sudah bersiap mengusir pria berlesung pipi itu.

"Urusan orang dewasa Dery, kita tak perlu tahu." Bisik Mark tepat di telinga Hendery, ia berbisik dengan suara yang cukup keras kontan saja membuat Ten dan Taeyong menahan tawanya mendengar penjelasan Mark.

Setelahnya kedua keluarga itu mulai saling berbincang tentang banyak hal. Dan jangan lupakan Mark dan Hendery yang mengelilingi Haechan yang tengah berada dalam gendongan Taeyong. Wanita itu sampai heran sendiri kenapa Mark melihat Haechan dengan mata amat berbinar seolah ingin menelan Haechan bulat-bulat jika Hendery tak melihatnya.