37. Brother and Sister (1)

Haechan telah dibawa pulang ke rumah sejak dua hari yang lalu. Bayi gembul itu menjadi bintang saat di rumah, semua orang sibuk memperhatikan Haechan begitupun dengan orangtua Ten dan Johnny yang sempat berkunjung kemarin. Sebenarnya Ten cukup khawatir, ia takut Hendery akan merasa tersaingi dengan kehadiran sang adik. Namun semua dugaan Ten salah karena nyatanya Hendery tak merasa iri dengan adik bayinya, bahkan Ten dan Johnny bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban anak laki-laki mereka itu.

"Dery tidak masalah ma, kemarin juga perhatian mama dan daddy hanya untuk Dery. Apa salahnya berbagi dengan Haechan sekarang." Jelas Hendery saat itu.

Jarak usia yang amat jauh antara Hendery dan sang adik membuat ia amat menyayangi Haechan, anak laki-laki itu kerap kali berkunjung ke kamar kedua orang tuanya hanya untuk berbaring di kasur dan mencium perut gembul Haechan yang beraroma khas bayi atau membantu Ten menjaga Haechan sementara wanita itu melakukan semua urusan rumah tangga. Seperti hari ini Haechan terlihat berada di kamar Hendery, bayi gembul yang genap berusia enam bulan itu berputar kesana-kemari dan berusaha mendudukkan dirinya sendiri. Hendery yang melihat tingkah sang adik sontak gemas dan menerjang pipi gembul Haechan dengan ciuman. Yang dicium hanya terkekeh dan tidak menangis, ia yang belum mengerti cara membalas ciuman sang kakak malah membuka mulutnya lebar-lebar seolah akan menelan rahang Hendery bulat-bulat.

Hendery yang baru saja selesai dari kegiatan homeschooling nya nampak berbaring di sofa ruang keluarga dengan Haechan yang berada di dekatnya. Bayi gembul yang genap berusia Sembilan bulan itu nampak tengah bermain dengan boneka beruangnya seraya menatap ke arah televisi yang menyajikan tontonan favoritnya. Johnny yang hari ini tidak pergi ke kantor nampak baru saja bergabung di tengah anak-anaknya, ia mengelus lembut surai hitam Hendery kala melihat sang anak yang memejamkan mata, ia juga membawa Haechan ke pangkuannya dan balas dengan kekehan dari bayi gembul itu.

"Dery kalau mau tidur di kamar, nanti pegal kalau tidur di sofa begitu." Ucap Ten saat ia baru saja bergabung dengan keluarga kecilnya.

"Humm…." Gumam Hendery, sebenarnya ia tidak mengantuk hanya saja sedikit lelah dan merasa ingin memejamkan mata sejenak.

"Ppwahhh…. Pwahh…." Ucap Haechan tiba-tiba. Johnny yang terkejut dengan kata pertama yang keluar dari mulut anaknya itu nampak menatap serius ke arah Haechan yang masih terus bergumam selagi mencoba memasukkan potongan mangga kecil ke mulutnya.

"Ppwahh…. Pwahh…." Ucap Haechan lagi.

"Ten, coba dengar! Haechan memanggilku appa." Pamer Johnny.

Ten yang sedari tadi duduk di sebelah Hendery seraya mengelus lembut surai hitam anak laki-laki itu lantas bangkit dan menghampiri putri bungsunya. Ia merasa tak terima karena selama ini Ten yang selalu bersamanya tapi kata pertama yang keluar dari mulut anak kecil itu malah semua hal tentang Johnny sang ayah.

"Ppwahh…. Pwah…." Ucap Haechan seraya terkekeh.

"Lihat kan dia panggil appa!" Bangga Johnny sekali lagi.

"Sebentar John, di rumah ini bahkan tak ada yang memanggilmu appa." Kekeh Ten, detik itu juga Johnny tersadar dan mulai merasa kehilangan harapan. Ia membawa bayi gembulnya ke hadapannya dan menatap lekat, yang ditatap hanya memasang wajah polosnya dan berhasil membuat semua orang yang berada di sana memekik gemas.

"Channie tadi bicara apa? Ayo katakan lagi." Ucap Johnny pada sang anak. Haechan yang tak mengerti perkataan sang ayah hanya mengerjapkan matanya lucu namun detik berikutnya ia kembali berucap.

"Pwahhh…. Ppwahh…. Opp- pwahh…." Ucap anak perempuan itu seraya terkekeh. Hendery yang duduk di sofa tampak tersenyum cerah, ia berpindah ke karpet untuk menemui sang adik yang mulai merangkak ke arahnya menyisakan Ten dan Johnny yang saling pandang, mereka berdua kalah telak karena yang Haechan sebut untuk pertama kalinya adalah "oppa", orang yang sama yang selalu menemani hari-harinya di rumah. Haechan mulai menyuapi potongan mangga yang ada di tangannya pada Hendery bayi perempuan gembul itu bahkan memekik gemas saat Hendery menelan mangga pemberiannya bulat-bulat.

"Ppwahhh aaa…." Ucap Haechan, ia menirukan bagaimana cara Ten menyuapinya. Ten yang berada tak jauh dari mereka pun terkekeh melihat tingkah kedua anaknya itu.

Haechan benar-benar menempel pada sang kakak, Johnny sampai iri melihat kedekatan kedua kakak beradik itu terlebih saat momen ulang tahun Haechan yang kedua beberapa hari lalu anak perempuan itu menyuapkan kuenya untuk Hendery, melupakan Johnny yang berada di dekatnya sejak tadi.

"Oppa…. Aaa…." Ucap Haechan yang mulai lancar berbicara, tangan gembulnya menyodorkan potongan kue pada sang kakak dan diterima dengan senang hati oleh Hendery.

"Terima kasih Channie…." Ucap Hendery, ia berjongkok dan mengelus lembut surai panjang sang adik yang dikuncir dua. Haechan mengangguk semangat dan semakin mendekat ke arah Hendery, mengalungkan tangannya ke leher sang kakak dan menciumi wajah tampannya. Pemandangan itu sontak membuat hati Ten dan Johnny kian menghangat, melihat berapa rukunnya kedua anak mereka cukup membuat pasangan suami istri itu amat bahagia.

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa Haechan telah berusia tiga tahun. Anak perempuan itu sudah mulai mengerti jika Hendery melakukan kegiatan pembelajaran di rumah dengan adanya guru yang datang ke rumah setiap harinya. Pernah suatu hari saat Yixing baru saja sampai di rumah besar Johnny dan Ten, guru wanita itu diserbu Haechan oleh berbagai macam pertanyaan, ia terlihat lebih posesif saat tahu jika sang guru akan pergi mengajar sang kakak.

"Ssaem tidak akan nakal pada Deli oppa kan?" Tanya anak kecil itu penuh selidik dengan tangan yang menyilang di depan dada dan pipi yang menggembung lucu.

"Eh…. Tentu saja tidak." Balas Yixing seraya terkekeh.

"Jeno oppa bilang, dia dimalahi oleh ssaem nya saat di kelas. Ssaem tidak akan begitu kan pada Deli oppa?" Tanya Haehan lagi, anak kecil itu kembali teringat dengan ucapan Jeno yang sempat datang berkunjung beberapa hari lalu dan menceritakan semua keluh kesahnya di sekolah. Haechan yang masih kecil dan polos tentu saja percaya, oleh sebab itu hari ini ia menginterogasi Yixing sebelum membiarkan guru wanita itu mengajari sang kakak.

"Channie…. Kenapa disitu? Yixing ssaem kan mau masuk." Ucap Ten, ia baru saja kembali dari dapur dan mendapati putri kecilnya yang berlagak seolah sedang menginterogasi orang dewasa yang ada dihadapannya.

"Aigoo…. Maafkan anakku ya Yixing-ssi dia memang sangat protektif pada kakaknya." Jelas Ten seraya membawa Haechan dalam gendongannya.

"Ah tidak apa-apa, Channie lucu sekali. Mau lihat ssaem mengajar Dery oppa?" Tawar Yixing pada anak perempuan itu.

"Memangnya boleh. Tapi Channie belum bisa baca dan belhitung." Ucap anak kecil itu disertai ekspresi sedih.

"Tentu saja boleh, nanti kita belajar sama-sama, mau?" Tanya Yixing.

"Mau…. Mama turunkan Channie…." Ucap anak kecil itu, ia mulai berontak dari gendongan Ten yang memaksa wanita itu menurunkan anaknya.

Sejak hari itu Haechan selalu mengikuti semua kelas yang diberikan Yixing untuk Hendery, anak kecil itu akan duduk di kursi kecil yang sudah Johnny dan Ten siapkan di sudut ruangan dilengkapi dengan berbagai macam alat menggambar supaya Haechan tidak bosan saat menunggu sang kakak.

Hari ini Haechan mendapatkan tas pertamanya, sebuah tas gendong berbentuk kepala beruang dengan warna coklat muda. Anak kecil itu berlarian kesana kemari untuk memamerkan pada semua orang yang ada di rumah tentang apa yang baru saja Johnny berikan padanya. Anak kecil itu bahkan menyempatkan masuk ke kamar Hendery dan memamerkan tasnya dengan berlenggak-lenggok kesana kemari. Hendery terkekeh melihat kelucuan sang adik terlebih Haechan yang terlihat amat senang memiliki tas pertamanya.

"Oppa oppa…. Nanti disini Channie masukan buku, pensil, coklat, susu, biskuit- hum… apa lagi ya? Channie bingung…." Ucap anak kecil itu seraya memasang pose berpikir.

"Jadi Channie mau sekolah atau mau numpang makan di kelas." Ucap Hendery seraya terkekeh, ia membawa sang adik ke pangkuannya dan menikmati pemandangan indah yang tersaji dari jendela kamar hendery.

"Mau makan…." Ucap anak kecil itu polos dengan senyuman secerah matahari miliknya.

"Masa ke sekolah hanya untuk makan." Kekeh Hendery seraya memainkan surai panjang sang adik.

"Tapi Malk oppa bilang di sekolahnya selalu makan lamen yang enak oppa, Channie mau juga." Balas anak perempuan itu.

"Kalau begitu Channie harus cepat besar supaya bisa pergi ke sekolah." Jelas Hendery.

"Hum…. Nanti pelgi ke sekolah sama-sama ya oppa." Ucap anak kecil itu. Hendery hanya mengangguk dan tersenyum teduh mendengar perkataan sang adik siang itu.

Hendery merasa tubuhnya kurang bersahabat setelah bermain dengan sang adik saat siang hari. Setelah mengantarkan Haechan yang tertidur pulas ke kamar Ten dan Johnny, Hendery kembali masuk ke kamarnya dan berbaring dengan nafas yang cukup berat. Netra indahnya menatap ke arah atap dengan tangan kanannya yang mencengkeram dadanya erat-erat. Keringat sebesar biji jagung mulai membanjiri keningnya, perlahan ia bangkit dan mengambil sebutir obat yang ada di laci meja nakasnya, menelannya bulat-bulat sampai rasa sakitnya mereda. Perlahan rasa sakit itu menghilang namun menyisakan nafas Hendery yang masih terdengar cukup berat.

Remaja yang akan memasuki usia ke lima belas itu mulai kembali berbaring di kasurnya. Kembali mengingat perkataan Chanyeol beberapa minggu lalu. Seingatnya Chanyeol tak menyinggung tentang penyakitnya yang semakin parah atau apapun itu, namun entah mengapa akhir-akhir ini ia amat sering merasa sesak tiba-tiba dengan jantung yang seolah diremas kuat dari dalam. Hendery bukan lagi anak kecil yang bisa dengan mudah dibodohi oleh Ten dan Johnny soal penyakitnya, remaja tanggung itu mulai memahami semua ucapan yang keluar langsung dari mulut sang dokter pribadi sejak beberapa tahun lalu. Dan satu hal yang ia pahami, ternyata apa yang bersarang dalam tubuhnya tidak benar-benar bisa disembuhkan, istilahnya Hendery hanya perlu menunggu sebelum bom waktu meledak. Dan sejak hari itu ia lebih takut akan sampai mana kehidupannya, remaja itu jadi lebih pendiam. Bersyukurlah ada Haechan yang selalu menghiburnya dengan celoteh polosnya. Menyadarkan Hendery jika ia masih memiliki hal indah yang patut disyukuri dibalik semua drama kehidupannya.

Hendery menghabiskan waktunya di atas kasur seraya memainkan ponselnya. Beberapa menit lalu ia baru saja mengakhiri panggilan videonya dengan Mark dan San. Dua sahabat Hendery itu kerap kali menanyakan masalah pelajaran padanya. Silahkan saja Hendery yang terlalu pintar, terlebih Yixing sang guru terlihat amat antusias dan kerapkali melakukan percepatan untuk materi-materi belajar Hendery. Hendery yang sadar jika ia berada terlalu lama di kamar bergegas bangkit dan berniat ke lantai bawah, karena jam menunjukkan waktu makan malam untuk keluarganya. Saat Hendery bangkit lagi-lagi rasa sesak yang mengungkung dadanya kembali lagi. Dengan susah payah ia duduk di sisi ranjangnya dengan wajah yang mengernyit menahan sakit. Dengan nafas yang memburu Hendery bangkit dan berusaha menggapai meja nakasnya, mengamil kembali obatnya dan bergegas meminumnya untuk meredakan rasa sakit yang mengungkung dadanya. Namun belum sempat obat itu mendarat di mulutnya, kegelapan lebih dahulu menelan Hendery bulat-bulat, memasuki sebuah ruangan hampa udara dengan dinding hitam menyelimutinya. Yang jelas tak ada satupun yang bisa ia lihat disana.

"Mama, Channie panggil oppa ya?" Tawar anak perempuan itu pada sang mama saat mereka hendak menyantap makan malam.

"Aigoo…. Pintarnya anak daddy." Puji Johnny seraya mengelus lembut surai hitam sang anak.

"Daddy jangan dilusak, sudah dilapikan sama mama." Ucap Haechan, anak perempuan itu mencebik lucu saat mendapati tatanan rambutnya berantakan karena tangan besar Johnny yang menyentuhnya. Johnny dan Ten hanya terkekeh melihat tingkah putri mereka, memang sejak beberapa hari lalu putri kecil mereka itu mulai terobsesi untuk menguncir rambutnya terlebih saat melihat Jaemin datang dengan gaya rambut yang menurutnya lucu.

"Oppa…. Sudah waktunya makan malam." Ucap anak kecil itu saat baru saja membuka pintu kamar Hendery. Yang didapati anak kecil itu adalah sosok Hendery yang tergeletak di lantai dengan butiran obat yang berantakan di sekitarnya. Berulang Kali Haechan berusaha membangunkan sang kakak karena ia berpikir sang kakak tengah tertidur lelap, namun lama-kelamaan ia kesal karena tak kunjung mendapatkan respon yang berarti dari lawan bicaranya. Dengan wajah kecewa Haechan kembali ke ruang makan, Ten yang sadar dengan ekspresi kecewa anak perempuannya lantas bertanya kenapa sang kakak tak ikut turun bersamanya.

"Channie kenapa? Dery oppa mana?" Tanya Ten.

"Dely oppa tidul." Ucap anak kecil itu singkat. Ten dan Johnny sontak berpandangan, tidak bisanya anak laki-laki tidur di waktu makan malam, pikir mereka.

"Tidur?" Tanya Johnny berusaha meyakinkan.

"Hum, oppa tidul di lantai, Channie sudah bangunkan berkali-kali tapi tidak bangun-bangun. Tubuh oppa juga dingin, lalu pelmen yang biasa oppa makan juga belantakan ma." Jelas Haechan.

Johnny yang tersadar dengan perkataan anak bungsunya bergegas mengambil langkah besar dan menuju ke kamar Hendery. Ten bergegas menyusul sang suami menyisakan Haechan yang duduk dan menyantap makanannya dengan wajah kebingungan.

"Channie habiskan dulu makanannya ya." Ucap Ten sebelum benar-benar meninggalkan putri bungsunya.

Ten membuka pintu kamar Hendery dan mendapati sang suami yang berusaha menyadarkan anak mereka. Netra indah Ten menjelajah, benar apa yang dikatakan Haechan beberapa menit yang lalu, obat yang biasa Hendery konsumsi saat sesak menderanya terlihat berhamburan dimana-mana. Ten berjongkok dan memeriksa denyut nadi anak laki-lakinya itu.

"Nadinya lemah John, kita harus bawa Dery ke rumah sakit." Jelas Ten, gurat kepanikan jelas terpancar dari wajah sepasang suami istri itu.

Tak butuh waktu lama layanan darurat yang mereka hubungi sampai di rumah mereka. Hendery dibawa oleh tim medis diikuti oleh Ten dan Johnny yang berjalan di belakangnya. Haechan yang terkejut karena nyatanya sang kakak belum juga tersadar terlebih dengan adanya keramaian di rumahnya mulai menangis histeris. Ten bergegas menghampiri putri kecilnya itu dan menenangkannya, meninggalkan Johnny yang baru saja masuk ke dalam mobil bersama Hendery dan petugas layanan darurat yang ada di dalamnya.

"Mau sama oppa…. Hiks…." Tangis anak kecil itu.

"Sudah ya jangan menangis lagi nanti kita susul oppa dan daddy." Ucap Ten, ia berkali-kali mengecup pucuk kepala sang anak dan membisikkan kata-kata penenang.

Di dalam ambulance, Johnny benar-benar tak bisa tenang, ia menggenggam erat tangan Hendery kala tim medis berusaha memberikan pertolongan pertama pada anak laki-laki itu. Tim medis terlihat mulai melakukan CPR dengan ambu bag yang terpasang indah di wajah tampannya. Kilas balik kejadian bertahun-tahun lalu saat ia menemukan Hendery dalam kondisi tak sadarkan diri kembali berputar di otaknya. Johnny menggeleng berkali-kali berusaha menyingkirkan semua pikiran buruk yang menghinggapinya malam itu. Dalam hati ia benar-benar berharap supaya Tuhan kembali mengabulkan semua doanya seperti beberapa tahun lalu, karena sejatinya pria tinggi yang terlihat tegar itu amat takut jika harus kehilangan buah hatinya.