38. Brother and Sister (2)

Johnny menunggu di depan ruang UGD seraya merapalkan doa dalam hatinya dan berharap semua kebaikan akan datang padanya. Tak lama berselang Chanyeol nampak datang menghampiri Johnny dan mengajak pria itu berbicara. Chanyeol bilang Hendery sepertinya sedang banyak pikiran atau tertekan, berat badannya juga cukup berkurang. Mendengar penjelasan dari Chanyeol, Johnny sontak bertanya-tanya apa yang tengah dipikirkan Hendery sampai jadi seperti itu, pikirnya

"Biarkan Dery istirahat disini untuk beberapa hari kedepan. Kali ini akan benar-benar kupulangkan saat sudah sehat." Jelas Chanyeol seraya terkekeh, pasalnya ia cukup hafal dengan tabiat pasiennya itu. Hendery pasti akan memaksa dipulangkan sekalipun kondisinya belum pulih benar dan itu selalu berhasil membuat kedua orang tuanya khawatir.

"Gomawo hyung…." Ucap Johnny.

"Hum…. Sana temui anakmu dan pastikan kali ini ia tak meminta dipulangkan lebih awal seperti yang sudah-sudah." Ucap Chanyeol. Johnny hanya tersenyum canggung mendengar balasan Chanyeol, pria itu jelas sudah sangat hafal dengan tabiat sang anak. Dalam hati ia merasa bersyukur jika kali ini Chanyeol benar-benar akan menahan anaknya lebih lama disini.

Johnny masuk ke ruang rawat Hendery, remaja tanggung itu telah mengenakan pakaian rumah sakit lengkap dengan masker oksigen yang membelenggu wajah tampannya. Johnny tersenyum kecut melihat kondisi sang anak, benaknya mulai bertanya-tanya seolah ada banyak hal yang Hendery sembunyikan dan luput dari jangkauannya dan hari ini adalah puncaknya, remaja laki-laki itu tak kuat jika harus menelan semua bebannya bulat-bulat dan berakhir dengan dirinya yang tertidur di ranjang pesakitan.

Johnny yang tengah termenung merasakan ponselnya berdering, ada pesan masuk dari sang istri. Wanita cantik itu bilang ia akan segera menuju kemari, tentunya setelah menitipkan Haechan pada orang tua mereka. Johnny jamin putri kecilnya itu pasti sudah menangis keras manakala mendapati kakak favoritnya terlihat tak berdaya beberapa jam yang lalu.

"John…." Itu suara Ten, wanita itu baru saja sampai setelah menempuh perjalanan dari rumah ke rumah sakit dengan mobil miliknya.

"Channie bagaimana?" Tanya Johnny.

"Dia menangis dan terus menyebut nama Dery, tapi dia sudah tertidur lelap saat ku tinggal kemari. Di rumah ada eomma dan appa yang menjaganya." Jelas Ten. Johnny hanya mengangguk menanggapi perkataan istrinya itu.

"Makan dulu, kau belum mengisi perutmu sejak pulang dari kantor tadi." Ucap Ten, ia mulai menaruh beberapa kotak makanan yang disiapkan untuk Johnny.

"Aku tidak lapar." Ucap Johnny singkat.

"Jangan begitu, Dery akan sangat marah jika tahu kau melewatkan makan malammu." Ucap Ten.

"Dery banyak berubah, banyak hal yang disembunyikan dari kita." Ucap Johnny tiba-tiba.

"Jangan begitu John, Dery sudah beranjak dewasa. Ia pasti butuh ruang privasi untuk dirinya sendiri. Dery sama sekali tak berubah, ia masih anak kita." Jelas Ten.

"Aku memang tak tahu pertumbuhan Dery sejak awal seperti apa, aku juga tak tahu apa yang biasa kau lakukan dengannya dulu, tapi aku jelas tahu jika kau sangat menyayanginya, begitupun Dery, ia sangat menyayangimu." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny menatap lekat netra indah sang istri, seulas senyuman mulai muncul di wajah tampannya. Ten yang ditatap justru mulai bergidik ngeri melihat tingkah suaminya itu.

"Aish…. Kau disuruh makan saja sulit begini, jelas sekali sifat Dery yang malas makan itu turun darimu. Sudah cepat habiskan." Ucap Ten seraya menyodorkan sumpit di hadapan Johnny.

Setelah memastikan Johnny melahap makanannya, Ten mendekat ke arah Hendery. Ia tersenyum kala mendapati sang anak yang tertidur lelap, Ten tak bisa membayangkan sesakit apa nyeri yang menghujam dada remaja itu beberapa jam lalu sampai ia ambruk tak tertahan. Seandainya ia berada disana saat kejadian, pikir wanita itu. ten mengelus lembut surai hitam Hendery yang terasa basah karena keringat, wanita itu kemudian beralih ke meja nakas yang ada di dekat ranjang rawat sang anak dan mulai menyesuaikan suhu ruang rawatnya.

Ten dan Johnny menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menjaga Hendery yang belum mau membuka matanya. Saat ini sepasang suami istri itu tengah tertidur di sofa, Ten bersandar di bahu kokoh sang suami dengan Johnny yang merengkuh pinggang ramping Ten posesif. Mereka berdua terbangun karena pancaran sinar mentari yang menembus melalui jendela ruang rawat Hendery. Ten berusaha mengumpulkan nyawanya, ia mengerjapkan netra indahnya berkali-kali untuk menyesuaikan diri dengan ruangan yang tiba-tiba saja terang-benderang. Kegiatan sepasang suami istri yang tengah mengumpulkan nyawa itu terhenti karena ponsel Ten yang berdering nyaring, ada panggilan masuk dari nyonya Lee, pasti Haechan telah terbangun dan mencarinya, pikir Ten.

"Yeoboseyo eomma…." Ucap Ten.

"Channie terbangun, dia mencari Dery sejak tadi." Balas nyonya Lee dari seberang sana.

"Ah kukira anak itu mencariku." Balas Ten seraya terkekeh.

"Hua…. Mama…. Mau Dely oppa…. Hiks…." Samar-sama Ten mendengar tangisan sang anak yang cukup nyaring, pasti ayah dan ibunya hampir tuli mendengar tangisan Haechan, pikir Ten.

"Aku akan kembali ke rumah sebentar lagi, ne eomma terima kasih sudah menjaga Channie semalaman." Balas Ten sebelum mengakhiri panggilan teleponnya. Lantas ia menatap ke arah Johnny yang baru saja keluar dari kamar mandi, meminta izin pada suaminya itu untuk menemani Haechan sementara kedua orang tuanya kembali ke rumah.

"Channie mencari Dery terus sejak bangun tidur." Ucap Ten.

"Apa mau bawa dia kemari?" Tanya Johnny.

"Kurasa lebih baik tunggu Dery bangun terlebih dahulu, aku akan kembali ke rumah dan memberi pengertian pada Channie." Ucap Ten.

"Kau jangan lupa mandi, baju gantimu ada disana." Jelas Ten pada Johnny, pria tinggi itu hanya terkekeh mendengar penjelasan sang istri. Setelahnya Ten benar-benar pergi meninggalkan Johnny yang menemani anak mereka pagi itu.

Ten baru saja sampai di rumah, kedatangannya disambut oleh tangisan Haechan yang masih memeluk neneknya erat-erat. Ten mengambil alih sang anak dari pelukan ibunya dan berusaha menenangkan tangisan Haechan yang terdengar tersedu-sedu. Setelah kedua orang tua Ten pamit undur diri, wanita itu membawa sang anak ke ruang keluarga, menyalakan televisi dan membiarkan Haechan menikmati tontonan favoritnya.

"Mama…. Ayo susul Dely oppa." Ucap Haechan dengan suara parau karena terlalu lama menangis.

"Channie rindu Dery oppa? Kan baru ditinggal semalam?" Tanya Ten seraya mengelus lembut surai hitam Haechan.

"Oppa tidak bangun. Channie takut, ma…." Ucap anak kecil itu. Ia jelas melihat kondisi sang kakak semalam saat tim layanan darurat membawanya masuk ke dalam ambulance.

"Tapi Channie harus berhenti menangis dulu kalau mau bertemu oppa. Masa anak cantik menangis terus." Ucap Ten. Haechan bergegas menyeka air mata dengan tangan gembulnya, ia bersusah payah menyingkirkan jejak air mata sampai membuat Ten terkekeh gemas pagi itu.

"Channie sudah tidak menangis ma, ayo kita menyusul Dely oppa." Pinta anak kecil itu.

"Hum, tapi kita harus mandi dan sarapan terlebih dahulu baru nanti pergi menyusul oppa dan daddy." Jelas Ten, Haechan mengangguk semangat dan bangkit dari pangkuan sang mama, ia berlari ke kamarnya dan meminta Ten memandikannya. Wanita cantik itu hanya terkekeh melihat tingkah sang anak, ia bergegas menyusul Haehan dan memandikan anak kecil itu.

Ten dan Haechan baru saja selesai sarapan, ia juga menyiapkan bekal makan siang untuk dinikmati bersama keluarga kecilnya. Tak lupa Ten juga menyiapkan buah-buahan kesukaan Hendery, karena ia ingat betul jika Hendery akan sangat benci makanan rumah sakit, lebih baik ia menyantap banyak buah-buahan dibandingkan harus menelan makanan rumah sakit bulat-bulat. Haechan juga sudah rapi dengan tas gendongnya. Kali ini ia mengisinya dengan buku mewarnai dan pensil warna, serta jangan lupakan susu kotak dan beberapa cemilan. Ten sampai bingung sendiri melihat tingkah putri kecilnya itu, entah inisiatif dari mana Haechan memasukkan banyak makanan ke tas gendongnya, membuatnya menggembung dan ia terlihat kewalahan saat menggendongnya.

Hendery sendiri telah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Johnny belum lama menghubungi Ten dan mengatakan jika Chanyeol baru saja keluar dari kamar rawat anak mereka. Saat ini Ten telah sampai di lobby rumah sakit dengan Haechan yang berada dalam gandengannya. Balita gembul itu nampak berjalan riang dan sesekali tersenyum pada dokter dan perawat yang melintasinya. Ten sampai bingung sendiri kenapa putri kecilnya itu sangat senang sekali tebar pesona.

"Oppa!" Teriak Haechan saat Ten baru saja membuka pintu ruang rawat Hendery. Johnny yang tengah duduk di dekat sang anak nampak terkejut mendapati putri kecilnya yang tiba-tiba datang dan berteriak keras.

"Channie bawa apa saja? Kenapa tasnya penuh begini." Tanya Johnny saat tengah menggendong anak perempuannya itu.

"Ih daddy tulunkan Channie, Channie mau sama oppa." Berontak anak kecil itu, ia menggoyangkan kaki kecilnya dan berusaha untuk lepas dari gendongan sang ayah, tangan kecilnya melambai-lambai ke arah Hendery dan hanya dibalas kekehan dari sang kakak yang tengah menikmati pemandangan di hadapannya itu.

"Channie tidak rindu daddy? Semalam kita tidak bertemu loh?" Ucap Johnny seraya memelas.

"Tidak, Channie hanya lindu Dely oppa." Ucap anak kecil itu mantap. Ten yang mendengar jawaban putri kecilnya hanya terkekeh terlebih saat melihat ekspresi kesedihan Johnny yang dibuat-buat.

"Sudah John, turunkan dia. Nanti kalau sudah menangis satu rumah sakit bisa gempar." Canda Ten, ia jelas ingat jika putri kecilnya itu akan sangat berisik jika sudah menangis keras.

"Oppa…." Haechan yang berhasil mendekat ke ranjang rawat sang kakak mengulurkan tangannya, meminta Hendery membawanya ke atas. Sang kakak hanya terkekeh namun ia mengangkat tubuh gembul Haechan ke pangkuannya, detik itu juga Haechan menghujani wajah tampan Hendery dengan ciuman mesra. Anak kecil itu bahkan tak melewatkan penjuru wajah sang kakak. Seolah memberi tanda jika sang kakak hanya miliknya.

"Oppa sakit?" Tanya anak kecil itu, jemari gembulnya menyentuh nasal cannula yang terpasang di hidung bangir Hendery menggantikan masker oksigen yang ia gunakan beberapa jam lalu.

"Tidak." Jawab Hendery singkat seraya tersenyum teduh.

"Oppa jangan sakit, nanti Channie sedih." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang melengkung ke bawah.

"Tidak ada yang sakit." Jawab Hendery seraya terkekeh.

"Aniyo…. Semalam oppa tidul di kamal tak bisa Channie bangunkan. Huwa…. Museowo…. Hiks…." Ucap anak kecil itu, ia bahkan mulai kembali menangis dan berhambur ke pelukan sang kakak, membenamkan wajahnya ke perut Hendery dan berhasil membuat pakaian rawat yang ia kenakan basah.

"Sekarang tidak tidur lagi kan? Sekarang oppa sudah bangun. Channie jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang." Ucap Hendery, ia mengelus lembut surai hitam sang adik dan mengecupnya sayang. Haechan memandang lekat sang kakak dengan mata yang berair dan bibir yang masih bergetar, anak kecil itu mulai bersusah payah menghapus air matanya menggunakan jemari gembulnya. Tak jauh dari mereka Ten dan Johnny hanya menikmati pemandangan kedua anak mereka yang saling berpelukan itu, bahkan Haechan sama sekali tak berniat melepaskan pelukannya dari tubuh Hendery, hal itu sontak membuat Johnny iri, mengingat betapa berontaknya sang anak saat ia peluk beberapa menit lalu.

"Jangan iri begitu, toh yang Channie peluk Dery bukan pria lain." Jelas Ten seolah mampu membaca ekspresi kekecewaan di wajah suaminya.

"Kalau aku memelukmu boleh?" Tanya Johnny tiba-tiba.

"Tidak. Kau pikir aku belum mengenalmu, yang kau sebut pelukan itu pasti berlanjut jadi hal yang tak terduga." Jelas Ten, ia menjulurkan lidahnya dan melenggang meninggalkan Johnny yang masih berdiri dengan raut kekecewaan yang terpancar jelas di wajah tampannya.

"Dery makan dulu ya, mama sudah bawakan makanan dari rumah." Ucap Ten, ia menyodorkan alat makan pada sang anak yang disambut Hendery dengan wajah yang tak antusias.

"Tidak lapar ma…." Ucap Hendery.

"Tidak tidak, sekarang tidak perlu banyak alasan. Sejak semalam Dery belum makan apapun, mana mungkin sekarang tidak lapar. Cepat dimakan sebelum Channie menghabiskannya." Ucap Ten, ia melirik ke arah Haechan yang tengah memasukkan potongan telur dadar ke mulut kecilnya sampai pipinya menggembung lucu. Yang dilirik hanya terkekeh dan kembali melanjutkan aksinya tak peduli jika sang mama mulai menatapnya kesal.