39. Brother and Sister (3)
Haechan menghabiskan waktu hampir seharian di rumah sakit. balita itu bersikeras untuk tetap berada disana dan menemani Hendery yang masih belum diizinkan pulang. Hal ini cukup membuat Hendery risau pasalnya sang adik masih terlalu kecil untuk berlama-lama di rumah sakit. Ia hanya khawatir akan ada penyakit yang menghinggapi tubuh kecil adiknya. Dengan bersusah payah Hendery membujuk Haechan supaya pulang ke rumah terlebih dahulu dan datang mengunjunginya lagi esok hari, mulanya Heechan menolak namun pada akhirnya sang adik luluh setelah telah banyaknya tipu daya yang Hendery berikan.
"Channie pulang dulu ya, besok kesini lagi." Bujuk Hendery.
"No, Channie mau tidul sama oppa. Boleh kan ma?" Ucap anak kecil itu, ia bahkan mulai memasang puppy eyes andalannya dan berharap Ten akan mengabulkan keinginannya.
"Channie harus pulang dulu, nanti kalau masih disini teman mama akan datang dan suntik Channie, memangnya Channie mau?" Tanya Hendery, ia menakuti adiknya dengan dokter anak yang sempat membuat Haechan menangis beberapa hari lalu.
"Teman mama yang itu oppa, yang suntik Channie kemalin?" Tanya Haechan memastikan, mata bulatnya mulai mengerjap dengan bibir yang mengerucut lucu. Hendery mengangguk dan mulai memperagakan bagaimana cara dokter itu menyuntik sang adik.
"Hua…. Mama mau pulang saja…." Teriak anak kecil itu, Ten sontak tertawa melihat Haechan yang mulai berdrama setelah ditakuti sang kakak.
"Baiklah mama akan antarkan Channie pulang dulu, Dery tunggu sampai Tae eomma datang ya." Ucap Ten, ia mengecup kening Hendery sebelum akhirnya pergi meninggalkan anak sulungnya itu.
Tersisalah Hendery seorang diri ke di ruang rawatnya karena Johnny yang pergi ke kantor sejak siang tadi. Rencananya Taeyong dan Mark akan mengunjunginya namun sepasang ibu dan anak itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Daripada bermalas-malasan Hendery memilih untuk memainkan game yang ada di ponselnya seraya menikmati pemandangan indah yang tersaji di balik jendela ruang rawatnya.
"Yo Dery…." Setelah cukup lama memainkan ponselnya tiba-tiba saja suara orang berteriak menginterupsi kegiatannya. Itu Mark, ia datang bersama Taeyong yang terlihat membawa paper bag dengan ukuran cukup besar.
"Jadi kali ini jagoan eomma kenapa lagi? Kenapa sampai masuk rumah sakit?" Tanya Taeyong, ia mendekat ke arah Hendery dan mengelus lembut surai lebat anak laki-laki itu.
"Tidak apa-apa eomma, hanya sedikit kelelahan." Balas Hendery seraya terkekeh.
"San tidak bisa datang, ia menitipkan salam untukmu." Ucap Mark, ia mulai duduk dan menikmati cemilan yang ada di ruang rawat sahabatnya itu.
"Hanya salam? Tak ada yang lain?" Tanya Hendery.
"Ya, seperti yang kau tau San memang sedikit pelit. Nasib baik dia mau menitipkan salam untukmu." Kekeh Mark. Bisa ditebak mungkin saat ini San merasa jika telinganya panas karena telah digunjingkan oleh dua sahabatnya itu.
"Xiaojun tidak datang?" Tanya Hendery.
"Kau belum tau ya? Xiaojun sedang dihukum Yuta samchon karena pergi ke mall diam-diam. Winwin imo sampai menangis karena Jun tak pulang-pulang." Jelas Mark, mengingat kembali cerita Xiaojun beberapa hari lalu.
Selanjutnya hanya ada pembicaraan antara Mark dan Hendery serta kekehan dari Taeyong menanggapi perkataan anak-anaknya. Saat malam menjelang Hendery yang mulai mengantuk karena baru saja meminum obat nampak mulai berbaring di ranjangnya. Perlahan mata indahnya mulai terpejam, Taeyong yang mendapati Hendery tertidur lelap nampak tersenyum dan mencium kening remaja tampan itu dengan lembut, Selanjutnya ia kembali bergabung dengan Mark yang tengah menikmati potongan semangka, Taeyong sampai bingung sendiri sebenarnya yang sakit Mark atau Hendery, kenapa malah anaknya yang menyantap semua buah-buahan yang ia bawa untuk Hendery.
"Eomma…." Ucap Mark tiba-tiba.
"Hum…." Sahut Taeyong.
"Tahu tidak Dery sedang memikirkan apa sampai sakit begitu?" Tanya Mark, Taeyong yang semula sibuk dengan ponselnya mulai menatap lekat ke arah sang anak. Ia nampak mulai tertarik dengan apa yang Mark bicarakan.
"Dery sepertinya berniat ke sekolah lagi, tapi dia masih takut mengatakannya pada John samchon. Beberapa hari lalu juga Dery sering menanyakan soal sekolah pada Mark dan San." Jelas Mark. Taeyong nampak tertegun mendengar omongan sang anak, jika diingat lagi memang sudah cukup lama Hendery menghabiskan waktu di rumah. Bisa dibilang Johnny benar-benar membatasi kegiatan anaknya itu, seolah ada banyak ketakutan yang menghinggapinya jika membiarkan Hendery berada di luar.
" John samchon masih belum tahu?" Tanya Taeyong.
"Sepertinya belum. Dery juga sudah tidak membahasnya lagi." Ucap Mark.
Setelah seminggu berada di rumah sakit hari ini Hendery diizinkan pulang tentu saja dengan banyak catatan yang Chanyeol berikan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, Hendery sampai pusing sendiri mendengarnya. Hendery baru saja keluar dari mobil, hari ini ia dijemput oleh Johnny karena Ten tengah menjaga Haechan di rumah mereka.
Hendery membuka pintu utama rumah besarnya, saat ia masuk ke dalam seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Ruang keluarga dan ruang tamu terlihat sepi, tak mau ambil pusing remaja tampan itu memutuskan untuk pergi ke kamarnya, tubuhnya masih cukup lelah setelah hanya bisa terbaring di rumah sakit seharian. Saat Hendery membuka pintu kamarnya ia dikejutkan dengan sang adik yang menyembul dari balik pintu, anak perempuan itu melonjak kesana kemari saat mendapati sang kakak yang baru saja sampai.
"Oppa…. Miss you… miss you… miss you…." Itu suara Haechan, anak perempuan itu menyeret Hendery untuk duduk di tepi kasurnya dan memberikan hadiah sepiring pancake yang dilengkapi dengan sirup maple dan potongan stroberi di atasnya.
"Ini Channie yang buat." Ucap anak kecil itu bangga.
"Jinjja?" Ucap Ten setelah mendengar perkataan puti kecilnya itu.
"Hum, eomma bantu sedikit." Ucap anak kecil itu, ia memutar bola matanya malas dan membentuk jemari gembulnya menjadi cubitan kecil yang sontak membuat Hendery gemas. Hendery sontak menciumi pipi chubby sang adik, yang dicium hanya terkekeh dan menikmati apa yang kakaknya berikan. Setelahnya anak kecil itu menangkup wajah tampan sang kakak dan menatap netra indahnya yang berbinar serupa dengan miliknya.
"Oppa jangan sakit lagi, Channie tidak suka." Ucap anak kecil itu, setelahnya ia menyerang balik Hendery dengan banyak ciuman, seolah melupakan Ten yang tengah berada disana.
"Jangan lupa habiskan pancake nya sebelum dingin." Ucap Ten pada kedua anaknya, setelahnya ia bergegas ke ruang keluarga dan menghampiri Johnny yang baru saja masuk ke dalam rumah mereka.
"Oppa kita makan sama-sama ya." Ucap Haechan antusias.
"Jadi Channie tidak buat untuk oppa?" Ucap Hendery, ia mulai berdrama dan memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"Uhm…. Untuk oppa, tapi Channie cicipi sedikit boleh?" Ucap anak kecil itu meyakinkan. Hendery hanya terkekeh dan mengangguk, mereka berdua mulai menyantap pancake tersebut. Dan jangan lupakan Haechan yang katanya hanya cicipi sedikit malah menghabiskan dua per tiga bagian pancake lengkap dengan stroberi di atasnya.
Hendery tersenyum melihat tingkah sang adik, jadi sampai saat ini hanya ada Haechan yang mampu membuatnya melupakan semua pikiran buruk yang sempat menghiasi kepalanya. Mungkin jika tak ada balita gembul itu Hendery sudah ingin menyerah sejak lama.
