40. Happy Mother's Day
Hendery tengah bermain dengan ponselnya di ruang keluarga, menyisakan Haechan yang menikmati semangkuk sereal dalam pangkuan sang kakak. Balita gembul itu memiliki nafsu makan yang luar biasa, seingat Hendery adiknya itu baru beberapa menit yang lalu memakan semangkuk sup ayam buatan maid mereka ke perutnya dan sekarang anak kecil itu tengah menikmati semangkuk besar sereal tentu saja hasil memohon dan beraegyo pada sang kakak. Hendery membuka aplikasi SNS yang ada di ponselnya, laman explore menampilkan beberapa gambar lukisan indah sampai sebuah postingan menyadarkan Hendery akan suatu hal. Dua hari lagi adalah hari ibu. Jika diingat lagi rasanya sudah lama ia tak merayakan hari ibu, bahkan saat Ten resmi menjadi mamanya ia hanya mengucapkan selamat pada wanita itu tanpa memberikan hadiah apapun.
"Channie tahu tidak sebentar lagi hari ibu?" Tanya Hendery pada sang adik yang masih sibuk dengan sereal miliknya.
"Ulang tahun mama?" Tanya anak kecil itu.
"Bukan, mama kan sudah ulang tahun." Jelas Hendery seraya terkekeh.
"Di hari ibu anak-anak akan memberikan hadiah pada ibu mereka, Channie mau beri hadiah untuk mama tidak?" Tanya Hendery.
"Tapi Channie tidak punya uang, hanya punya ini." Ucap anak kecil itu, ia mengeluarkan lembaran uang mainan dari tas kecilnya. Sontak Hendery terkekeh saat melihat tingkah sang adik, benar-benar anak kecil yang polos, pikirnya.
"Bagaimana jika kita beli hadiah sama-sama?" Tawar Hendery.
"Hum…. Gomawo oppa…." Ucap Haechan, ia bangkit dan mengecupi wajah tampan sang kakak dengan mulutnya yang penuh noda susu.
"Ih Channie jadi lengket kan…." Kesal Hendery, sang tersangka utama hanya terkekeh dengan wajah tanpa dosa, disaat seperti ini siapa yang bisa memarahi anak kecil itu terlebih dengan tatapan menggemaskan yang ia berikan sekarang.
Haechan yang kekenyangan mulai merengek karena mengantuk. Hendery membawa sang adik ke kamarnya. Hari ini baik Ten ataupun Johnny sama-sama tak berada di rumah, Ten tengah pergi ke rumah sakit karena ada pasien darurat sejak pagi tadi sedangkan Johnny harus pergi ke kantor karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Berakhirlah kakak beradik Seo itu di rumah besar mereka dengan seorang maid yang sibuk sejak tadi. Haechan yang mengantuk adalah hal paling menggemaskan di dunia, anak perempuan itu tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh tinggi sang kakak. Tangannya bergelayut manja di leher Hendery dengan wajah yang ia benamkan ke ceruk leher kakaknya. Saat dirasa sang adik benar-benar telah terpejam Hendery melepas pelukan Haechan dan memindahkan balita gembul itu ke kasur, menyelimutinya, dan memastikan sang adik tidur dengan nyaman.
Saat Haechan tertidur lelap, Hendery mulai membuka laptopnya, ia menjelajahi halaman e-commerce yang beberapa waktu lalu sempat Xiaojun ceritakan saat remaja perempuan itu baru saja membeli barang baru. Xiaojun memang cukup rutin menghubungi Hendery, bahkan intensitasnya melebihi Mark dan San. Hendery sampai heran sendiri dan tak menyangka jika Xiaojun yang mulanya ia kenal pendiam ternyata amat cerewet dan banyak bicara. Namun Hendery tak masalah, selama apa yang Xiaojun ucapkan cukup menarik untuknya ia akan menimpali semampunya, atau paling tidak hanya mendengarkan ocehan perempuan itu sampai ia tertidur lelap.
Hendery cukup terkejut saat melihat halaman e-commerce yang ia buka, kepalanya tiba-tiba saja pusing saat melihat barang apa saja yang terpampang di sana. Hendery sama sekali tak memiliki ide soal hadiah untuk wanita, ia sama sekali belum pernah membeli hadiah untuk lawan jenis. Mungkin pernah untuk Seohyun imo kesayangannya, namun itu beberapa tahun lalu dan Johnny yang pilihkan hadiahnya jadi ia tak ikut andil dalam pemilihan hadiah. Merasa cukup frustasi dengan apa yang ia lihat Hendery berinisiatif menghubungi Xiaojun, mungkin saja wanita itu bisa memberikan solusi atas semua masalahnya, pikirnya.
"Hua…. Dery…. Sudah lama kau tak menghubungiku…." Teriak Xiaojun lewat ponselnya siang itu.
"Kenapa harus teriak sih?" Kesal Hendery.
"Hehe…. Ada apa? Tumben sekali kau menghubungiku duluan?" Tanya Xiaojun.
"Bisa bantu aku pilihkan hadiah?" Tanya Hendery.
"Untuk perempuan atau laki-laki?" Tanya Xiaojun, nada bicaranya mulai terdengar serius kali ini.
"Perempuan." Balas Hendery singkat.
"Pasti untukku, iya kan?" Ucap wanita itu penuh percaya diri.
"Untuk mama." Balas Hendery meluluhkan harapan Xiaojun seketika.
"Hum… begitu…. Kurasa akan cukup sulit kalau aku pilih lalu kukirimkan gambarnya padamu. Bagaimana kalau kita pilih bersama? Aku akan ke rumahmu, eomma juga punya hadiah untuk Channie, hua…. Sudah lama aku tak bertemu bayi beruangku." Teriak Xiaojun. Hendery sampai heran sendiri dengan semua ucapan Xiaojun jangan lupakan suara melengkingnya yang cukup mengganggu saat ditelepon.
"Baiklah, aku tunggu di rumah. Bayi beruang mu sedang tidur siang, kututup ya. Terima kasih Jun." Balas Hendery sebelum benar-benar menutup panggilan teleponnya.
Tak lama berselang Xiaojun terlihat datang ke rumah Hendery dengan paper bag ukuran besar yang ia genggam sejak tadi. Perempuan itu bilang jika sang ayah baru saja kembali dari Jepang dan membelikan sedikit oleh-oleh untuk Haechan. Xiaojun berbaring di sofa panjang yang ada di ruang keluarga, jangan tanyakan kenapa perempuan itu bertingkah demikian di rumah sahabatnya. Baik Mark, San, ataupun Xiaojun telah menganggap rumah Hendery sebagai rumah kedua mereka, mengingat betapa seringnya mereka bertiga datang kemari. Bahkan rasanya tiga remaja itu bisa menjelaskan dengan baik tumbuh kembang Haechan karena terlalu sering bertemu.
"Hum…. Menurutku lebih baik kau berikan barang yang pasti Ten imo gunakan." Jelas Xiaojun, setelah menenggak habis jus yang Hendery suguhkan. Maklum saja perempuan itu mengayuh sepedanya untuk sampai kemari, sekalipun rumah mereka hanya berjarak beberapa blok tapi mengayuh sepeda di bawah terik matahari cukup menguras tenaga.
"Kurasa daddy telah memberikan semuanya untuk mama." Ucap Hendery polos.
"Yak, kau cerdas tapi bodoh juga ternyata. Setiap orang tua pasti akan sangat senang diberikan hadiah oleh anaknya, sekecil apapun hadiah itu. Coba pikirkan lagi apa yang selalu Ten imo gunakan." Jelas Xiaojun.
"Pakaian?" Tanya Hendery.
"Kau harus tahu ukurannya, nanti tidak jadi kejutan." Ucap Xiaojun.
"Sepatu?" Tanya Hendery lagi.
"Lebih baik kau diam, kau benar-benar bodoh Dery." Jelas Xiaojun.
"Tapi kan aku bisa melihat ukuran sepatu mama yang ada di rak sepatu." Jelas Hendery tak mau kalah.
"Tapi sepatu hanya dipakai sebentar, pasti lama-kelamaan akan kekecilan dan using." Ucap Xiaojun.
"Benar juga." Ucap Hendery.
"Kalau jam tangan bagaimana, Ten imo kan dokter. Bukankah di drama semua dokter mengenakan jam tangan?" Ucap Xiaojun antusias.
"Mama hanya pakai jam tangan mahal, uangku tak akan cukup." Ucap Hendery.
"Astaga keluarga ini mengerikan sekali." Ucap Xiaojun penuh drama.
"Kalau tas bagaimana? Bukankah akan sangat berguna?" Ucap Xiaojun saat sekelebat ide muncul di kepalanya.
"Boleh juga. Kau yang pilihkan ya, aku tak mengerti selera wanita." Ucap Hendery seraya menyodorkan iPad nya ke hadapan Xiaojun.
"Benar-benar merepotkan, sini berikan." Ucap Xiaojun pasrah.
Jemari lentik Xiaojun mulai menjelajah situs e-commerce tempat ia biasa belanja, sebenarnya ia juga tahu dari sang ibu jika ada situs seperti itu. Namun jelas saja perempuan itu lebih senang pergi ke mall secara langsung daripada harus menunggu barang datang.
"Ngomong-ngomong kau punya uang?" Tanya Xiaojun.
"Hum…. Ada." Ucap Hendery seraya menunjukkan kartu atm nya.
"Ah senangnya, kartuku sedang disita oleh appa karena pergi ke mall diam-diam." Ucap Xiaojun dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Kenapa harus pergi diam-diam." Balas Hendery seraya terkekeh.
"Kau harus mengerti rasanya pergi keluar bersama teman-teman, menghabiskan waktu seharian, dan- ah Dery maaf aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung." Ucap Xiaojun saat baru saja tersadar dengan apa yang ia katakan.
"Tidak apa-apa, aku malah senang kau bercerita begitu. Setidaknya aku memiliki sedikit gambaran dunia luar." Ucap Hendery.
"Kau benar-benar tidak boleh keluar rumah ya?" Tanya Xiaojun.
"Boleh, aku pernah ke rumahmu, Mark, dan San." Ucap Hendery dengan wajah tanpa dosa.
"Maksudku bukan tempat seperti itu bodoh. Tempat ramai seperti mall, restoran, atau pasar malam? Pernah tidak?" Tanya Xiaojun semakin penasaran.
"Tentu saja pernah kau pikir hidupku semenyedihkan itu." Balas Hendery. Xiaojun hanya terkekeh mendengar jawaban dari Hendery Selanjutnya ia kembali fokus dengan iPad yang ada di tangannya dan memilih beberapa koleksi tas yang terlihat menarik.
"Bagaimana kalau ini?" Tunjuk Xiaojun pada salah satu tas berwarna coklat.
"Hum… bagus, terima kasih Jun." Ucap Hendery, ia mengambil iPad miliknya dan bergegas membayar barang pesanannya, dalam hati ia berdoa supaya hadiah itu tidak sampai saat Ten ada di rumah bisa gagal nanti semua rencananya.
"Hanya terima kasih. Kau tak berniat memberikanku sesuatu apa?" Tanya Xiaojun.
"Kau mau apa? Ambil saja di dapur." Balas Hendery.
"Benar ya? Sereal mu masih ada tidak? Aku sebal sekali eomma selalu lupa membelikan sereal untukku." Ucap perempuan itu, ia mulai melenggang ke dapur dan mencuri sedikit sereal Hendery.
"Dery aku bawa pulang ya?" Ucap Xiaojun saat berhasil mengambil tiga kotak sereal ukuran besar yang belum terbuka.
"Yak, itu namanya perampokan." Ucap Hendery.
"Kau bisa beli lagi. Kasihanilah aku yang miskin ini." Ucap Xiaojun penuh drama.
"Ya sudah sana bawa pulang." Ucap Hendery pasrah.
"Yeay…. Terima kasih sahabatku…. Aku pulang dulu, sampaikan salamku untuk Channie saat bangun nanti, jangan lupa berikan oleh-olehku untuknya. Bye Dery…." Teriak Xiaojun dari pintu depan.
Menjelang waktu makan malam Hendery nampak tengah bercanda dengan Haechan di ruang keluarga. Balita gembul itu tengah menikmati oleh-oleh yang sempat Xiaojun berikan beberapa jam lalu. Jangan tanya seberapa senangnya Haechan, tentu saja balita gembul itu amat gembira melihat berbagai macam cemilan yang Xiaojun berikan. Ten yang berteriak memanggil kedua anaknya membuat Hendery dan Haechan bergegas ke ruang makan. Haechan nampak begitu antusias saat tahu menu yang dibuatkan oleh sang mama adalah bulgogi kesukaannya. Anak perempuan itu sama sekali belum kenyang setelah menghabiskan banyak cemilan yang Xiaojun berikan.
"Mama besok ke rumah sakit lagi?" Tanya Hendery, ia harus memastikan jika sang mama tidak berada di rumah esok hari karena kemungkinan kado yang ia pesan baru akan sampai esok.
"Hum, besok ada jadwal operasi." Jawab Ten seraya sibuk menyuapi Haechan.
"Kalau lusa?" Tanya Hendery lagi.
"Sepertinya tetap di rumah sakit, kenapa? Dery butuh sesuatu?" Tanya Ten, bahkan Johnny sampai menatap lekat sang anak yang begitu tertarik menanyakan jadwal Ten.
"Tidak. Hanya bertanya." Jawab Hendery seraya terkekeh.
"Dery tidak mau tahu jadwal daddy?" Tanya Johnny.
"Tidak." Jawab sang anak singkat. Sontak Ten terkekeh melihat ekspresi kesal yang terpampang jelas di wajah suaminya, dan jangan lupakan senyuman jahil Hendery setelah dirasa berhasil membuat sang ayah kesal.
Hari ini Hendery dan Haechan kembali melalui hari-hari berdua di rumah. Hendery tengah menjelajah iPad nya seraya sesekali menengok sang adik yang tengah sibuk bermain masak-masakan. Remaja laki-laki itu tengah sibuk memilih kue yang akan diberikan untuk sang mama.
"Oppa mau yang itu, yang besal itu…." Hendery menoleh ke samping, ia nampak heran dengan sang adik yang tiba-tiba saja berada di dekatnya.
"Yang ini?" Tanya Hendery, ia menunjuk kue berbentuk persegi panjang dengan berbagai toping diatasnya.
"Hum…. Channie mau yang itu." Ucap Haechan, ia mengangguk semangat dan menunjuk-nunjuk kue yang terpampang di layar iPad sang kakak.
"Tapi itu terlalu besar, yang ini saja bagaimana. Sama kan?" Tanya Hendery. Ia bukannya tak memiliki uang untuk membeli kue dengan ukuran besar. Hanya saja kue itu akan terlalu banyak untuk keluarga kecil mereka yang berjumlah empat orang. Terlebih Johnny tak begitu menyukai makanan manis.
"Mau yang itu…. jangan yang lain." Ucap Haechan, ia mulai merajuk bahkan menghentakkan kaki kecilnya ke lantai. Hendery membawa sang adik dalam pangkuannya dan mengelus suari hitamnya, setelahnya ia benar-benar memesan apa yang diminta Haechan, dan sepertinya ia sudah harus mempersiapkan diri karena Ten pasti akan mengoceh karena ia membeli kue dengan ukuran yang cukup besar.
Setelah memesan kue yang mereka inginkan saat ini sepasang kakak beradik itu tengah berada di ruang belajar Hendery, rencananya mereka akan membuat kartu ucapan. Hendery benar-benar bingung harus menuliskan apa, padahal seingatnya dulu saat kecil ia sering sekali menulis surat untuk Johnny, Seohyun, ataupun sang mama yang telah meninggal dunia. Sepertinya semakin bertambahnya usia Hendery menjadi lebih malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Ten tiba di rumah saat sore hari. Begitu membuka pintu utama rumah mereka, wanita cantik itu dikejutkan dengan Haechan yang menyeretnya ke ruang keluarga. Bocah gembul itu menyuruh sang mama menutup matanya dan dengan perlahan ia menuntun sang mama untuk duduk di sofa. Haechan berteriak cukup keras dan memaksa Ten membuka matanya. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sebuah kue dengan ukuran yang cukup besar dengan hadiah disampingnya. Netra indah wanita itu berkaca-kaca terlebih saat melihat tulisan yang menghiasi kue besar tersebut. Bahkan Ten tak ingat jika sekarang adalah hari ibu.
"Channie dan Dely oppa siapkan ini. Selamat hali mama…." Ucap balita itu, ia menghujan wajah sang mama dengan banyak ciuman dan membuat Ten terkekeh geli.
"Ini…. Tapi tidak tahu mama akan suka atau tidak." Ucap Hendery, ia terlihat malu-malu saat menyerahkan hadiah yang sempat ia pilih bersama Xiaojun.
"Ah romantisnya…. Tidak mau cium atau peluk mama?" Tawar Ten pada Hendery pasalnya ia cukup sulit bergerak karena Haechan yang memeluknya seperti bayi koala.
Hendery mendekat pada Ten dan memeluk sang mama dari samping karena cukup sulit dengan keberadaan Haechan yang ada di hadapannya. Ten tersenyum dengan netra indahnya yang mulai berkaca-kaca, sepertinya mendapat perlakuan yang begitu manis dari anak-anaknya cukup membuat hati Ten menghangat.
"Mama, ayo potong kuenya. Channie mau coba…." Ucap Haechan tiba-tiba. Ia telah melepaskan pelukannya dan tengah berdiri di hadapan kue besar yang mereka pesan.
"Channie itu kan untuk mama." Ucap Hendery tak terima.
"Channie coba sedikit saja oppa." Ucap anak kecil itu meyakinkan. Ten dan Hendery hanya terkekeh, yang dimaksud Haechan sedikit itu sudah jelas amat banyak. Setelahnya mereka bertiga saling bercakap dan menikmati potongan kue yang baru saja Ten sajikan. Wanita itu terlihat amat bahagia dengan anak-anaknya yang mengelilinginya, terlebih ditambah sikap sang putri bungsu yang kian hari kian ajaib itu.
"Ekhm…." Suara Johnny yang berada di belakang mereka membuat ibu dan anak itu menoleh.
"Jadi daddy melewatkan apa?" Tanya Johnny, ia mulai bergabung dengan keluarga kecilnya yang tengah menyantap kue bersama.
"Sekarang kan hali mama dad, masa daddy tak tahu." Ucap Haechan sinis. Johnny sontak gemas dan membawa sang anak dalam pangkuannya. Ia semakin menggoda Haechan terlebih saat anak perempuan itu memasukkan potongan kue dengan ukuran besar ke mulutnya.
"Kalau hari daddy ada tidak?" Tanya Johnny. Haechan memasang pose berfikir lucu dengan pipi menggembung dan jari telunjuk yang ia tempelkan di dagunya bahkan keningnya mulai terlihat berkerut seolah sel-sel di otaknya tengah bekerja keras.
"Sepeltinya tidak ada. Iya kan oppa?" Ucap Haechan ia bahkan bertanya pada sang kakak untuk memastikan. Yang ditanya hanya terkekeh dan memilih tak menanggapi perkataan adiknya.
Malam itu kediaman keluarga Seo terasa lebih menghangat setelah perayaan hari ibu. Menikmati potongan kue bersama dan jangan lupakan dengan drama-drama kecil yang Haechan ciptakan. Membuat suasana kian menyenangkan. Tidak lupa juga Ten yang sibuk menyeka air matanya berkali-kali terlebih setelah membaca kartu ucapan yang ditulis Hendery tentu saja dengan tambahan kontribusi Haechan di dalamnya yang menggambar bola-bola coklat yang menurut anak itu mirip dengan beruang. Jika saja dulu Ten tak menerima ajakan Johnny untuk menikah dengannya mungkin hidupnya takkan berakhir seindah ini, dan hari ini Ten berharap jika kehangatan keluarga kecilnya akan bertahan dalam waktu yang lama dan tak akan luntur sekalipun ada banyak badai yang mungkin akan mereka jumpai kedepannya.
Happy mother's day
Thank you for being the best mom for us
- Dery, Channie
