41. New Wish

Hari ini Hendery jatuh sakit, remaja laki-laki itu baru saja menyelesaikan ujiannya sejak dua hari lalu dan semenjak itu ia demam. Remaja tampan itu menghabiskan hari-harinya dengan meringkuk di kasur. Mengabaikan sang adik yang memandangnya dengan tatapan sedih dan penuh harap karena ingin bermain bersama. Pagi ini juga Haechan terlihat memasuki kamar sang kakak ia mendapati Hendery yang tidur membelakanginya dengan tatapan sendu. Netra indah Haechan yang biasanya terlihat berbinar cerah kini tampak berkaca-kaca karena lagi-lagi ia harus menelan harapannya untuk bermain bersama sang kakak.

"Channie sedang apa disini? Bukannya kartun kesukaan Channie sedang tayang di bawah?" Tanya Ten, ia baru saja masuk ke kamar anak sulungnya dan membawa makanan serta obat penurun demam untuk anak tercintanya.

"Channie mau sama oppa…." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang melengkung ke bawah.

"Oppa masih sakit, masih perlu istirahat yang banyak. Main dengan mama dulu bagaimana?" Tanya Ten pada sang anak. Haechan hanya terdiam dan mulai menaiki kasur Hendery dengan kaki kecilnya ia memeluk sang kakak dari belakang dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Hendery yang terasa menghangat.

Ten nampak tersenyum melihat tingkah anak perempuannya itu, ia bergegas menaruh nampan yang berisi makanan di meja nakas Hendery dan duduk di tepi kasur sang anak, mengelus rambut Hendery dengan sayang yang diikuti dengan tangan gembul Haechan dan sontak berhasil membuat Ten terkekeh gemas.

"Dery…. Bangun sebentar, makan dulu…." Ucap Ten sedikit berbisik di telinga sang anak.

"Eugh…." Hanya lenguhan yang keluar dari mulut Hendery, remaja tampan itu nampak belum berniat membuka mulutnya.

"Oppa makan dulu…. Mama sudah buat makanan yang enak suapaya oppa cepat sembuh." Celoteh Haechan polos, ia masih sibuk membelai surai lebat sang kakak yang terasa sedikit basah karena keringat. Perlahan Hendery mulai membuka matanya, yang ia dapati pertama kali adalah Haechan sang adik yang menatapnya dalam jarak dekat dengan mata yang membulat dan pipi yang menggembung lucu. Anak kecil itu seolah tengah memastikan jika sang kakak benar-benar terbangun dari tidurnya.

"Channie sedang apa?" Tanya Hendery saat tengah berusaha bangkit dari tidurnya.

"Tunggu oppa bangun." Ucap anak kecil itu, Haechan berpindah posisi ke sebelah Hendery dan mulai bersandar manja di lengan sang kakak.

"Makan dulu ya, setelah itu minum obatnya." Ucap Ten ia mulai menata beberapa makanan di atas meja kecil yang ia letakkan di kasur Hendery.

"Tidak mau ma, mual…." Ucap remaja tampan itu.

"Dery mual karena perutnya kosong, semalam kan hanya makan sedikit. Sekarang makan ya, nanti istirahat lagi." Ucap Ten.

"Oppa mau Channie suapi?" Tawar Haechan penuh percaya diri. Hendery dan Ten hanya terkekeh mendengar ucapan anak kecil itu. Dengan malas Hendery mulai menyantap makanannya dan jangan lupakan Ten yang tetap duduk disana demi memastikan Hendery benar-benar memakan makanannya. Setelah berhasil menghabiskan semua makanan yang Ten bawa dan meminum semua obat-obatannya Hendery kembali berniat berbaring namun sosok kecil Haechan terlihat tak terima jika lagi-lagi sang kakak harus tertidur lelap.

"Oppa ayo main, jangan tidul telus." Ucap Haechan tak terima, ia mulai menarik tangan Hendery yang tengah berbaring dan berhasil membuat sang kakak berdecak sebal.

"Channie, oppa masih harus istirahat. Main sama mama saja yuk…." Ucap Ten, ia paham jika anak sulungnya mulai terganggu dengan Haechan yang mulai melonjak-lonjak di kasur Hendery dan menarik-narik tangannya.

"Mau sama oppa…." Ucap Haechan dengan bibir yang mencebik lucu.

"Channie besok saja ya, oppa masih pusing. Istirahat sebentar boleh?" Ucap Hendery dengan suara paraunya. Haechan yang mendengar suara sang kakak nampak antusias, ia kembali duduk dan mendekati Hendery yang tengah berbaring.

"Tapi besok oppa janji halus sudah sembuh ya?" Ucap anak kecil itu, bahkan ia mulai menangkupkan wajah Hendery dengan tangan gembulnya. Hendery hanya mengangguk dan dibalas banyak ciuman dari sang adik. Setelahnya anak perempuan itu kembali keluar dari kamar sang kakak diikuti dengan sang mama yang menyusul di belakangnya.

"Hua…. Mama kartun kesukaan Channie sudah hilang…." Tangis anak kecil itu saat melihat tayangan televisi yang menampilkan after credit dari tontonan kesayangannya. Ten gemas sendiri padahal ia telah mengingatkan Haechan tentang kartun kesukaannya itu tapi balita gembul itu masih saja menangis keras saat mendapati tontonannya telah usai.

"Jangan menangis sayang…. Sini kita tonton disini ya." Ucap Ten ia membawa sang anak dalam pangkuannya dan membuka laman penelusuran dengan televisi besar keluarga mereka.

"Hua…. Klong mama hiks…." Tangis Haechan, ia masih tidak rela melewatkan tontonan pororo kesukaannya.

Setelah sebelumnya hanya bisa berbaring di kasur selama berhari-hari, hari ini Hendery tampak lebih sehat sekalipun wajahnya masih terlihat pucat. Kemarin juga ia baru saja menemui Chanyeol di rumah sakit melakukan konsultasi rutin seperti bulan-bulan sebelumnya. Sejauh ini kondisi jantung Hendery nampak baik-baik saja ya walaupun belum bisa dibilang sembuh dan membuatnya mengkonsumsi semua obat-obatan miliknya, setidaknya saat tahu kondisinya tidak mengkhawatirkan Hendery jauh lebih tenang. Haechan kembali sibuk membuntuti sang kakak kemanapun Hendery pergi, terlebih kegiatan homeschooling yang diikuti remaja tampan itu tengah libur jadi ada banyak hal yang bisa ia lakukan di rumah dan Haechan selalu berada di belakangnya sampai membuatnya gemas.

"Channie mau sereal?" Tawar Hendery, saat ini ia tengah berada di dapur dengan Haechan yang mengikutinya.

"Hum…. Memangnya boleh?" Tanya anak kecil itu polos. Hendery hampir lupa beberapa hari lalu Ten memarahi Haechan karena mendapati anak perempuan itu menumpahkan semua sereal Hendery ke lantai dan memakannya dengan semangkuk besar susu yang entah bagaimana cara ia mengeluarkannya dari kulkas.

"Tentu saja boleh, asal tidak berantakan dan makannya dihabiskan." Ucap Hendery.

"Hum, Channie mau. Pakai mangkuk yang besal ya oppa." Ucap anak perempuan itu. Hendery hanya terkekeh, baru saja dinasehati sudah mulai lagi, pikirnya.

Haechan menyantap serealnya dengan semangat bahkan ia juga menghabiskan potongan buah yang sempat Hendery suguhkan di meja makan. Melihat nafsu makan Haechan yang benar-benar menggila membuat Hendery penasaran, apakah dia dulu juga seperti adiknya. Tapi rasanya tidak mungkin apalagi melihat ukuran tubuhnya yang cukup kurus saat ini.

"Setelah ini boleh main sama oppa?" Tanya anak kecil itu.

"Memangnya mau main apa?" Tanya Hendery.

"Daddy balu belikan buku mewarnai. Gambarlnya pololo, kita walnai sama-sama ya oppa." Ucap anak kecil itu dengan semangat. Hendery hanya mengangguk seraya terkekeh mendengar perkataan adiknya itu. Setelah membereskan semua bekas makanan mereka Haechan bergegas meninggalkan sang kakak dan berlari ke ruang bermainnya, mengambil buku gambar yang baru saja Johnny belikan kemarin sore.

"Channie coba…. Hen-de-ry…." Ucap Hendery di depan wajah sang adik. Haechan menatap sang kakak dengan ekspresi wajah yang menggemaskan dengan mata bulatnya yang mengerjap lucu.

"Hen-de-ly… dely…." Ucap anak kecil itu. Hendery hanya terkekeh karena sang adik yang belum bisa mengucapkan huruf R dengan benar.

"R Channie bukan L." Ucap Hendery.

"Channie bilang L oppa bukan L." Ucap anak kecil itu tak mau kalah. Hendery hanya tertawa menanggapi adiknya yang mulai terlihat emosi itu.

"Nama oppa siapa?" Tanya Hendery tiba-tiba kala sang adik tengah sibuk mewarnai gambarnya.

"Hendely." Ucap anak kecil itu.

"Nama Channie siapa?" Tanyanya lagi.

"Channie." Ucap anak kecil itu semangat.

"No, itu nama panggilan." Ucap Hendery.

"Hae- Hae- Hae- Chan." Ucap anak perempuan itu setelah bersusah payah berfikir.

"Good job. Kalau nama daddy siapa?" Tanya Hendery.

"Daddy. Namanya daddy itu daddy, namanya mama itu mama." Ucap anak kecil itu penuh keyakinan. Hendery semakin terkekeh mendengar penjelas sang adik, akan merepotkan kalau sang adik tiba-tiba menghilang di jalanan, pikir Hendery.

"No, nama daddy itu Johnny, nama mama itu Ten." Ucap Hendery.

"Johnny dan Ten?" Tanya Haechan dengan ekspresi wajah yang lucu.

"Ten, as a numbel?" Tanya anak kecil itu lagi.

"Hum." Balas Hendery.

"Woah…. cool." Ucap anak kecil itu, sepertinya ia tak menyangka jika sang mama memiliki nama sekeren itu.

Setelah makan malam, keluarga kecil itu nampak berkumpul di ruang keluarga namun tanpa kehadiran Ten karena wanita itu masih sibuk di dapurnya sejak beberapa menit lalu. Entah apa yang tengah ia lakukan selama itu. Saat Hendery dan Haechan tengah asyik bercanda tiba-tiba saja Ten mengejutkan mereka dengan kue tart di tangannya, lengkap dengan lilin yang berbentuk angka lima belas di atasnya. Hari ini tepat ulang tahun Hendery, bahkan remaja tampan itu tak ingat sama sekali.

"Woah…. oppa bilthday…. Oppa palli make a wish." Ucap Haechan semangat. Ten dan Johnny hanya terkekeh, yang berulang tahun siapa tapi yang heboh siapa, pikir mereka.

Hendery memejamkan matanya dan menangkupkan kedua tangannya, membuat permintaan yang kali ini amat ia inginkan, dalam hati ia berharap jika Johnny benar-benar memberikan kesempatan kepadanya kali ini. Tidak seperti sebelumnya yang kerap kali berakhir dengan adu mulut antara ayah dan anak itu sampai Ten pusing sendiri.

"Oppa…. Oppa, Channi yang peltama, aaa…." Ucap anak perempuan itu saat mendapati Hendery memotong kue ulang tahunnya, ia membuka mulut kecilnya lebar-lebar dan berharap sang kakak benar-benar menyuapi potongan kue untuknya. Hendery yang jahil memutar arah sendok yang ia pegang ke hadapan sang mama, Haechan yang tak terima sontak bangkin dan memutar tangan Hendery sampai sendok tersebut memasuki mulut kecilnya. Tingkah polah Haechan berhasil membuat semua orang yang berada disana terkekeh terlebih setelah melihat bagaimana anak kecil itu menikmati potongan kue yang disuapkan untuknya.

Setelah memakan sedikit kue ulang tahun Hendery, Haechan terlihat mengantuk dan membuat Ten terpaksa menidurkan anak perempuannya itu. Johnny bergegas masuk ke kamarnya begitupun Hendery, ia terlihat tengah berada di kamar mandi karena baru saja selesai menggosok giginya. Hendery keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, setelah mendengar ada jawaban remaja tampan itu bergegas masuk dan mendapati kedua orang tuanya yang tengah berpelukan di atas kasur.

"Dad…." Ucap Hendery.

"Ada apa? Mau mengatakan sesuatu?" Tanya Johnny.

"Boleh minta hadiah?" Tanya Hendery agak ragu.

"Tentu saja boleh, kenapa takut begitu." Ucap Ten yang ikut bergabung dalam obrolan sepasang ayah dan anak itu.

"Dery boleh sekolah lagi tidak?" Tanya Hendery. Johnny yang semula memasang tatapan teduh pada sang anak sontak menatapnya tajam, ia menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan atas permintaan Hendery yang menurutnya tak masuk akal.

"Ayolah dad, Dery sudah besar. Sudah bisa jaga diri sendiri. Lagipula sekolahnya juga sekolah yang sama dengan Mark. Boleh ya dad?" Ucap Hendery, ia masih berusaha keras membujuk sang ayah sebelum tahun ajaran baru dimulai.

"Tidak Dery, sekali daddy bilang tidak tetap tidak. Jangan membantah!" Ucap Johnny, ia mulai meninggikan suaranya karena terbawa emosi, Ten sampai terkejut melihat sikap sang suami malam itu.

"Tapi dad Dery su-"

"Sudah malam Dery, besok kita bicara lagi ya." Ucap Johnny. Akhirnya dengan ekspresi kesal Hendery keluar dari kamar kedua orang tuanya dan menutup pintu kamarnya sedikit kencang, ia bahkan mengunci pintu kamarnya malam itu.

Ten yang mulanya berniat mengejar sang anak mengurungkan niatnya, ia kembali mendekat kepada Johnny dan mengajaknya bicara.

"John…. Sepertinya sudah saatnya kau membiarkan Dery kembali ke sekolah." Ucap Ten tiba-tiba, ia berucap seraya mengelus pundak kokoh sang suami yang masih sibuk dengan ponselnya.

"Tidak bisa Ten, kau tau kan bagaimana kondisi Dery. Nanti jika terjadi sesuatu di luar sana bagaimana?" Ucap Johnny, ekspresi kekhawatiran jelas terpancar di wajah ayah dua anak itu.

"Aku tahu. Tapi Dery sudah besar, dia pasti bisa jaga diri. Lagipula sekolah yang akan dia datangi adalah sekolah yang sama dengan Mark, San, dan Xiaojun. Kau tak perlu khawatir." Jelas Ten pada suaminya itu.

"Kita sudah terlalu lama membiarkan Dery belajar di rumah, kau tak ingat perkataan Yixing ssaem beberapa waktu lalu. Bukankah menurutnya Dery sudah tak tertarik melanjutkan kegiatan homeschooling nya? Anak kita sudah besar John dia hanya ingin bebas. Bisa pikirkan sekali lagi kali ini? Kumohon…." Ucap Ten lagi.

"Akan kupikirkan lagi." Ucap Johnny pada akhirnya. Ten tersenyum cerah dan memeluk erat suaminya. Dalam hati ia berharap semoga kali ini Johnny benar-benar mengabulkan keinginan anak mereka, Ten jelas ingat apa yang menyebabkan Hendery tumbang dan harus dirawat selama seminggu penuh beberapa bulan lalu. Dan ia tak ingin kejadian itu terulang kembali kali ini, meskipun dalam hati ia juga amat khawatir jika harus melepaskan Hendery namun apa salahnya membuat remaja tampan itu bahagia dengan keinginannya yang sederhana.