42. As You Wish

Hendery benar-benar tak mengajak ayahnya bicara sejak insiden di malam ulang tahunnya beberapa hari lalu. Bahkan saat di meja makan remaja tampan itu juga nampak tak tertarik dengan semua obrolan yang Ten lontarkan. Hendery hanya akan membalas secukupnya dan setelahnya ia akan pergi kembali ke kamarnya. Ten yang mendapati perubahan sikap sang anak sejak beberapa hari lalu nampak menatap Johnny dengan kesal. Ia jelas tahu apa yang membuat mood Hendery berubah.

"Kalau terjadi sesuatu pada Dery karena masalah ini jangan tidur bersamaku…." Ancam Ten pada Johnny saat ia tengah membersihkan piring bekas makanan mereka.

Johnny tak menjawab, ia bangkit berdiri dan kembali masuk ke ruang kerjanya, mengurung diri disana dengan tumpukan berkas persis seperti yang biasa dilakukannya.

"Mama…. Dely oppa tidak mau bukakan pintu untuk Channie." Ucap Haechan tiba-tiba, entah sejak kapan ia berada di sebelah Ten yang tengah sibuk membersihkan piring.

"Benarkah? Channie sudah panggil?" Tanya Ten.

"Sudah. Sudah Channie ketuk juga pintunya tapi tak ada jawaban." Jelas anak kecil itu.

"Mungkin oppa mengantuk. Channie main sendiri dulu ya, nanti mama temani setelah selesai cuci piring." Jelas Ten pada sang anak. Haechan hanya mengangguk dan melenggang pergi ke ruang keluarga dengan peralatan masak-masakan miliknya.

Tanpa mereka tahu di dalam kamar Hendery tengah berbaring seraya menyumpal telinganya dengan airpods miliknya. Ia tengah mendengarkan music dengan volume yang cukup keras, jelas saja suara Haechan tak terdengar sampai ke dalam kamarnya. Hendery merubah posisinya menjadi duduk di tepian kasur dan memandang ke arah Jendela. Dedaunan nampak dibasahi oleh tetesan air akibat hujan yang turun semalaman, burung-burung juga nampak baru saja keluar dari peraduannya dan berkicau riang. Terkadang Hendery merasa iri dengan burung-burung di luar sana, mereka bebas pergi kemanapun yang mereka mau tanpa ada rasa ketakutan. Bahkan tak dipungkiri Hendery amat iri dengan Mark, San, dan Xiaojun mereka diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan remaja yang bebas, tak seperti dirinya yang terpaksa berdiam diri di rumah hampir belasan tahun lamanya.

Hendery amat paham jika Johnny mengkhawatirkannya, ia benar-benar mengerti semua ketakutan sang ayah. Tapi tidak bisakah Johnny memberikan kebebasan padanya kali ini saja sebelum ia benar-benar kehilangan semua harapannya. Peristiwa beberapa hari lalu bukan yang pertama kali terjadi untuk Hendery. Namun biasanya semua pertikaian akan selesai setelah Johnny bicara panjang lebar dan Hendery yang memilih pasrah karena tak mau lama-lama berdebat dengan sang ayah. Namun kali ini berbeda, ayah dan anak itu bahkan sama sekali tak berdebat, mereka berdua melakukan perang dingin, tidak saling tegur dan bicara satu sama lain sejak beberapa hari lalu. Hal itu sontak membuat Ten sang ibu rumah tangga khawatir terlebih jika mengingat kondisi kesehatan sang anak.

Sore itu Johnny keluar dari ruang kerjanya dengan pakaian yang cukup santai. Sekilas ia melirik ke arah kamar Hendery yang masih tertutup rapat persis seperti beberapa jam yang lalu. Ia menuruni anak tangga dan mendapati Ten dan Haechan yang tengah bermain berdua. Melihat sang ayah yang berpenampilan rapi Haechan sontak menerjang kaki jenjang Johnny dan menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.

"Daddy mau kemana? Channie ikut ya?" Tanya anak kecil itu.

"Channie disini saja sama mama, daddy harus ke kantor sebentar." Bohong Johnny, ia berjongkok seraya mengelus lembut surai hitam putri kecilnya itu.

"Yasudah Channie main saja sama mama." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang mengerucut lucu.

Ten tersenyum melepas kepergian suaminya. Ia jelas tahu apa yang akan dilakukan Johnny saat tengah berkecamuk dengan pemikirannya sendiri. Pria tinggi itu pasti akan menghabiskan waktu dengan teman-temannya sampai pikirannya benar-benar tenang. Hendery memiliki sifat yang serupa dengan sang ayah, bisa dibilang mereka adalah duplikat. Mungkin itu semua buah pengasuhan Johnny terhadap Hendery beberapa tahun silam. Yang jelas ayah dan anak itu memiliki ego yang sama besarnya, mereka kerap kali saling beradu dan tak mau mengalah. Kontras sekali dengan kepribadian Hendery yang terlihat amat tenang, namun jika tengah kesal dan dihadapkan langsung dengan Johnny, mereka berdua adalah sosok yang sama-sama tak mau mengalah.

Johnny tak kembali ke rumah sampai waktu makan malam tiba. Pria tinggi itu baru saja mengabari Ten jika ia akan makan malam bersama Jaehyun dan Yuta di salah satu restoran yang ada di kawasan Dongdaemun. Ten sama sekali tidak masalah, lagipula apa salahnya membiarkan ketiga sahabat itu saling bertemu untuk melepas penat di sela-sela kerumitan pekerjaan mereka.

Ten berniat naik ke atas dan mengajak Hendery makan malam, pasalnya sang anak sudah cukup lama tak keluar kamar sejak beberapa jam yang lalu. Ten membuka pintu kamar Hendery yang nampak tak terkunci. Saat pintu terbuka dengan sempurna ia mendapati sang anak yang tengah duduk menghadap jendela dengan telinga yang tersumpal airpods miliknya. Ten mendekati Hendery dan mengelus pundaknya dari belakang. Hendery nampak terkejut dengan kedatangan sang mama yang tiba-tiba, ia bergegas melepas airpods nya dan menatap lekat ke wajah cantik Ten yang ada di hadapannya.

"Masih marah pada daddy?" Tanya Ten pada sang anak. Hendery hanya terdiam, ia malah sibuk menatap jemari kakinya yang terasa mendingin malam itu.

"Daddy hanya khawatir pada Dery." Ucap Ten lagi. Kali ini Hendery menoleh pada sang mama sehingga membuat netra indah mereka berdua saling bertemu pandang.

"Mama tidak bisa bujuk daddy? Dery kan sudah besar ma, sudah bisa jaga diri." Ucap Hendery.

"Bujuk daddy ya ma, Dery mohon. Kali ini saja, anggap saja ini permintaan terakhir Dery." Ucap remaja tampan itu. Ten sontak menggeleng mendengar perkatan Hendery malam itu terlebih setelah mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan anaknya.

"No, jangan bilang begitu. Mama akan bujuk daddy, tapi jangan sekali-kali Dery berfikir ini permintaan terakhir. Sejak kapan anak mama begitu ingin menyerah, hum…." Ucap Ten, ia menangkup wajah tampan sang anak dengan kedua tangannya, rasa dingin yang menguar dari kulit wajah Hendery jelas terasa di telapak tangan Ten malam itu. Netra indah Hendery mulai berkaca-kaca, detik berikutnya ia berhambur ke pelukan sang mama dan mulai menangis disana. Ten mengelus lembur surai hitam sang anak seraya mengecupnya dengan sayang. Ia paham jika darahnya sama sekali tak mengalir di tubuh Hendery, namun ia amat menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri terlebih setelah semua hal indah yang mereka lalui bersama bertahun-tahun lalu. Ten jelas semakin menyayangi Hendery dan akan ikut bersedih saat sang anak merasa tersakiti.

"Sudah jangan menangis, nanti kalau Channie lihat bisa diledek loh…." Ucap Ten, ia masih sibuk membelai lembut surai hitam Hendery sedangkan sang anak nampak masih menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya ke bahu Ten.

"Oppa…. Sudah ya, nanti sesak kalau menangis lama-lama. Masa sudah besar masih menangis." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Mama…." Hendery yang tak terima diledek akhirnya melepas pelukannya dan mulai menghapus jejak air matanya.

"Oppa menangis!" Teriak Haechan dari ambang pintu. Anak kecil itu lantas memasuki kamar Hendery dan mulai meledek sang kakak yang baru saja selesai menangis. Hendery yang tak peduli dengan kehadiran sang adik kembali memeluk Ten dari samping dan bersandar manja. Ia bahkan tak sadar jika Haechan mulai memandangnya dengan tatapan iri.

"Mama…. Terima kasih sudah mau jadi mamanya Dery." Ucap Hendery tiba-tiba.

"Aish…. Masih seperti dulu ternyata setelah selesai menangis." Kekeh Ten, ia jelas sudah sangat hapal dengan kebiasaan Hendery yang akan berterima kasih padanya setelah selesai menangis.

"Sama-sama baby." Ucap Ten seraya mengecup kening Hendery.

"No! Dely oppa bukan baby, Channie yang baby mama. Hua…." Teriak Haechan, ia memulai dramanya dan berusaha menjauhkan Hendery yang masih sibuk memeluk Ten.

"Awas…. Ini mama Channie hiks…." Ucap Haechan di sela-sela tangisnya. Hendery yang semakin gemas melihat tingkah sang adik malah menjulurkan lidahnya dan berhasil membuat Haechan menangis keras. Anak perempuan gembul itu menerjang kaki sang mama dan menyembunyikan wajahnya, ia mulai menangis tersedu-sedu disana. Ten yang melihat Haechan menangis malah ikut tertawa, ia membawa Haechan dalam pangkuannya dan mulai menenangkan bayi besarnya itu.

Setelah makan malam Hendery yang baru saja selesai mandi dikejutkan dengan kedatangan Johnny yang tiba-tiba di kamarnya. Seingatnya beberapa jam yang lalu Ten mengatakan jika Johnny tengah pergi keluar bersama teman-temannya, kenapa bisa tiba di rumah secepat ini, pikir Hendery.

"Bisa bicara sebentar." Ucap Johnny tiba-tiba, ia jelas membaca raut wajah kebingungan yang terukir di wajah tampan anaknya. Hendery hanya mengangguk dan dengan ragu mulai duduk di sebelah sang ayah.

Johnny menatap Hendery lekat, menjelajahi setiap inci wajah sang anak. Mengingat kembali bagaimana bayi kecil yang lemah itu bisa tumbuh menjadi remaja tampan seperti yang ada di hadapannya. Menatap Hendery lekat-lekat membuat Johnny teringat kembali dengan kisah masa lalunya, masa-masa saat ia terpuruk setelah kehilangan orang yang dicintainya atau saat ia tahu jika sang anak hampir saja meninggalkannya.

Johnny menerjang tubuh kurus sang anak, memeluknya erat-erat hingga wangi shampoo yang Hendery gunakan menyapa penciumannya. Johnny juga mengelus lembut pundak Hendery, pundak kecil yang dulu amat sering naik turun karena menangis itu kini bahkan bisa membuat sang pemilik menyembunyikan semua permasalahannya sendiri. Pertahanan yang susah payah Johnny bangun akhirnya runtuh juga, bulir bening mulai menetes dari netra tajamnya manakala memeluk Hendery erat-erat. Yang dipeluk hanya bisa terdiam, Hendery jelas bingung apa yang baru saja terjadi pada sang ayah sehingga tiba-tiba saja memeluknya begitu erat, seolah tak ada hari esok yang akan menyambangi mereka berdua.

"Dery boleh pergi." Ucap Johnny saat pelukan mereka baru saja terlepas. Hendery sontak menoleh karena cukup terkejut dengan perkataan sang ayah malam itu.

"Maksud daddy?" Tanya Hendery.

"Dery mau sekolah seperti yang lain kan? silahkan. Kali ini daddy tak akan melarang." Ucap Johnny. Mendengar ucapan sang ayah sontak membuat Hendery amat bahagia, ia menerjang tubuh besar Johnny dan memeluknya erat-erat. Tak lupa ia mengucapkan banyak terima kasih sampai hampir membuat Johnny tuli saking berisiknya.

"Tapi janji harus bisa jaga diri dan yang paling penting jangan terlalu memaksakan diri." Jelas Johnny. Hendery mengangguk semangat dan kembali memeluk Johnny malam itu.

"Satu lagi…. Jika diluar Dery harus gunakan ini." Ucap Johnny, ia mengeluarkan kotak berwarna biru dari saku jaketnya dan memberikan isi kotak tersebut pada Hendery, memakaikannya di tangan kurus sang putra dan berhasil membuat Hendery keheranan. Itu sebuah gelang, lebih tepatnya medical alert bracelet. Di gelang dengan warna hitam dan lempeng perak itu tertulis jelas identitas Hendery, riwayat penyakitnya, serta nomor darurat yang bisa mereka hubungi jika sewaktu-waktu menemukan Hendery dalam kondisi tak sadarkan diri. Hendery tersenyum simpul kala menatap gelang sederhana pemberian sang ayah, ia jelas hafal nomor itu di luar kepala. Pria itu nyatanya amat mengkhawatirkan sang anak sampai mencantumkan nomor ponselnya sendiri di gelang yang Hendery gunakan.

"Jangan dilepas jika benar-benar ingin ke sekolah." Ucap Johnny seraya mengacak surai hitam Hendery.

"Menyebalkan sekali…. Tidak seperti wanita kan dad?" Tanya Hendery, ia berdecak kesal dan kembali memandangi gelang tersebut. Johnny hanya terkekeh melihat respon Hendery. Nyatanya setelah ia bergolak dengan pemikirannya sendiri beberapa hari lalu akhirnya Ten datang padanya memberikan solusi yang terbaik untuk ayah dan anak itu, Johnny bahkan tak tahu ia akan bersikap seperti apa jika Ten tak ada disisinya.

Malam itu bendera perang antara antara ayah dan anak itu telah diturunkan, tak ada lagi perang dingin antara mereka berdua yang ada hanya kehangatan yang kembali melingkupi keluarga kecil mereka. Dan jangan lupakan sosok Ten yang tengah mengintip dibalik celah pintu, ia nampak tersenyum teduh saat mendapati Hendery kembali bisa bermanja pada sang ayah tanpa adanya rasa kecanggungan antara mereka berdua. Ten harap Kebahagiaan Hendery akan berlangsung lama, walau tak dipungkiri perkataan sang anak beberapa jam lalu masih saja berputar di otaknya.