43. Back to School

Kabar Hendery yang akan kembali ke sekolah telah sampai ke telinga ketiga sahabatnya. Tiga remaja itu bahkan terlihat lebih antusias daripada Hendery. Bahkan sejak kemarin mereka mulai membantu Hendery menyiapkan keperluan sekolahnya. Mark, San, dan Xiaojun melanjutkan SMA mereka di sekolah yang sama dengan saat SMP. Beberapa murid dari SMP mereka kebanyakan melanjutkan SMA di sekolah yang sama pula, jadi bukan hal yang sulit bagi ketiga remaja itu untuk beradaptasi nantinya. Hendery bahkan terlihat antusias saat ketiga remaja itu menceritakan soal sekolah mereka, dan apa saja yang akan terjadi disana.

"Nanti kau pasti akan menemui teman yang menyebalkan, yang tidak mau kalah, apalagi saat tahu bahwa kau pintar." Ucap Xiaojun pada Hendery. Keempat remaja itu tengah menikmati akhir pekan mereka di rumah San karena orang tua dari remaja tinggi itu tengah pergi ke luar kota, Mark memutuskan untuk menginap di rumah San sedangkan Xiaojun dan Hendery baru saja datang beberapa menit yang lalu.

"Benar apa yang Jun katakan, kau pasti akan menemui makhluk yang seperti itu." Ucap Mark, ia tak menoleh pada Hendery karena tengah fokus dengan game yang ia mainkan.

"Kudengar di Mr. Perfect juga masuk ke sekolah yang sama dengan kita." Ucap San, ia baru saja kembali dari dapur setelah menyiapkan cemilan untuk teman-temannya.

"Jinjja?" Tanya Xiaojun penasaran bahkan remaja perempuan itu mulai mengubah posisinya menjadi duduk tegak setelah sebelumnya terlihat bermalas-malasan.

"Aku sih sudah menduga, lagipula sekolah kita cukup bagus. Dan kudengar ibunya benar-benar terobsesi untuk membuat dia masuk ke SKY." Ucap Mark.

"Ewh…. Sejak kapan kau suka sekali bergosip Mark?" Tanya Xiaojun pada sahabatnya itu.

"Kau tahu sendiri Yeri dan Mina kalau sudah berkumpul berisiknya seperti apa? Kau kan pemimpin mereka." Balas Mark seraya terkekeh, Xiaojun hanya memutar bola matanya malas mendengar ocehan temannya itu. Ia kembali menyantap makanan yang baru saja San sajikan untuk mereka.

"Keluarganya juga kaya raya kan?" Tanya Mark lagi. San yang ada di sebelahnya nampak menganggukkan kepala menyetujui ucapan sahabatnya itu.

"Tapi aku berani jamin, kekayaan daddy nya Hendery lebih melimpah." Ucap San penuh keyakinan. Hendery yang merasa namanya ikut terseret dalam obrolan hangat ketiga sahabatnya hanya terkekeh. Sepertinya Mr. Perfect adalah orang yang menarik, pikir Hendery.

"Gelangmu baru ya?" Tanya San saat mendapati lengan putih Hendery yang dihiasi gelang hitam yang cukup kontras dengan warna kulitnya.

"Hum…. Ini semacam kartu AS, daddy tak akan mengizinkanku keluar tanpa menggunakan ini." Ucap Hendery setelah menghabiskan jus miliknya. Mark yang penasaran mulai mendekat pada Hendery dan melepas gelang tersebut, menatapnya lekat dan mulai membaca tulisan yang berada di lempeng perak gelang.

"Seo Hendery, Heart disease patient. Ini nomor John samchon?" Tanya Mark saat melihat deretan nomor yang tertera di sana.

"Hum…." Ucap Hendery.

"Kali ini apa yang kau lakukan sampai John samchon setuju?" Tanya Xiaojun penasraan.

"Ceritanya panjang, sepertinya tak akan cukup sampai malam menjelang." Kekeh Hendery.

"Yak kalian merusak suasana, seharusnya kita menyambut bocah ini. Kapan lagi dia bergantung pada kita setelah selama ini kita selalu menerornya dengan soal-soal yang sulit." Ucap San, ia merangkul Hendery dan memukul kecil kepalanya yang dibalas kekehan dari sang pemilik kepala.

Waktu yang Hendery tunggu akhirnya tiba juga, hari ini adalah waktunya ia pergi ke sekolah untuk pertama kalinya. Remaja tampan itu terlihat telah rapi dengan seragamnya dan nampak tengah menikmati sarapan yang disajikan. Tentu saja dengan Haechan yang berada di sampingnya, balita itu memandang sang kakak dari ujung kaki hingga kepala dan bertanya-tanya akan pergi kemana Hendery sepagi ini dengan seragam yang begitu rapi.

"Oppa mau pelgi?" Tanya Haechan. Hendery hanya mengangguk dan kembali menikmati sarapannya.

"Channie boleh ikut, ma?" Tanya anak kecil itu pada sang mama yang duduk di hadapannya.

"Tidak, hari ini Channie di rumah dengan mama. Oppa akan pergi ke sekolah." Jelas Ten pada putri bungsunya.

"Woah…. sepelti Malk oppa dan Jun eonni?" Tanya anak kecil itu lagi. Hendery dan Ten hanya terkekeh melihat reaksi Haechan yang amat menggemaskan itu.

Johnny yang terlihat baru keluar dari kamarnya bergegas menghampiri Hendery, mengecek tas sang anak dan melihat apa saja yang ia bawa. Johnny memastikan tak ada barang penting yang tertinggal terutama obat yang harus Hendery konsumsi setiap saat.

"Daddy jangan begitu, Dery bukan anak kecil tahu…." Ucap Hendery, ia mulai jengah pasalnya sejak semalam Johnny telah mengecek isi tasnya berulang kali.

"Hum…. Oppa big, Channie yang baby dad." Timpal Haechan dan sontak berhasil membuat semua orang yang berada disana terkekeh gemas.

"Ingat jangan terlalu memaksakan diri, jika terjadi sesuatu segera hubungi daddy…." Ucap Johnny sebelum Hendery turun dari mobilnya. Hari ini Johnny mengantar Hendery ke sekolah dan saat pulang nanti akan dijemput oleh supir pribadi keluarga mereka. Awalnya Hendery menolak karena ingin mencoba berangkat bersama Xiaojun dan Mark yang naik bus ke sekolah namun sepertinya usaha Hendery sia-sia karena Johnny benar-benar melarangnya.

"Iya…. Daddy kenapa jadi cerewet begini sih." Kesal Hendery, setelah berpamitan pada sang ayah Hendery bergegas turun dari mobil dan memasuki area sekolahnya.

Hendery menjelajahi lorong besar sekolahnya. Seperti yang dikatakan ketiga sahabatnya sekolah ini memang luar biasa, dengan fasilitas yang melimpah ruang, dan banyak piala yang berjejer rapi di sepanjang koridor sekolah. Hendery memasuki ruang kelasnya, tidak ada yang menarik namun ia mendapati segerombolan anak perempuan yang nampak menatap ke arahnya dan sesekali terdengar seperti berbisik. Hendery berada di kelas terpisah dengan ketiga sahabatnya, ia sama sekali tidak masalah lagipula bukankah nanti ia akan menemui banyak teman baru.

"Annyeong…." Sebuah suara menyadarkan Hendery yang tengah memainkan ponselnya, ia menoleh dan mendapati seorang perempuan dengan rambut sebahu duduk di hadapannya.

"Kau Hendery kan? Temannya Xiaojun?" Ucap perempuan itu.

"Ne, darimana kau tahu?" Tanya Hendery keheranan.

"Ah perkenalkan aku Yeri, teman sekelas Xiaojun, Mark, dan San saat SMP dan sekarang aku sekelas denganmu. Ternyata kau lebih tampan saat dilihat langsung daripada di foto. Pantas saja mereka berbisik terus sejak tadi." Ucap Yeri panjang lebar, Hendery yang diajak bicara hanya bisa ternganga mendengar perkataan perempuan di hadapannya itu.

Jam pelajaran telah dimulai, Hendrey nampak begitu antusias kala mendengar penjelasan guru dan jangan lupakan ia yang berhasil mendapatkan cukup banyak teman tentu saja karena bantuan Yeri si perempuan cerewet yang ada di hadapannya itu. Jam istirahat tiba para murid terlihat berhamburan dan bergegas ke kantin untuk mendapatkan jatah makan siang mereka. Yeri terlihat menyeret Hendery yang nampak malas-malasan siang itu, entah kenapa tiba-tiba saja ia mengantuk dan tak berniat pergi ke kantin.

"Ayo Dery…. Kita harus cepat nanti tidak kebagian susu pisang." Ucap Yeri semangat, Hendery nampak tak habis pikir bagaimana bisa hanya karena sekotak susu pisang Yeri menyeretnya bagaikan domba.

"Hei disini!" Itu suara Xiaojun, perempuan itu terlihat berteriak dan memanggil Yeri dan Hendery yang nampak berdiri mencari kursi kosong sejak tadi. Dengan semangat mereka berdua menghampiri teman-temannya dan mulai menyantap makanan mereka.

"Bagaimana hari pertamamu?" Tanya Mark pada Hendery.

"Lumayan juga." Balas Hendery singkat.

"Yak…. Kalian tahu aku dan Dery sekelas dengan Mr. Perfect." Ucap Yeri semangat. Ucapan Yeri dihadiahi tatapan terkejut dari Xiaojun, Mark, dan San. Berbeda dengan Hendery yang nampak kebingungan.

"Ah dia sekelas dengan kita?" Tanya Hendery penasaran.

"Ah iya aku hampir lupa kau kan tidak mengenal Mr. Perfect. Hum, kau ingatkan Seo Changbin, dia itulah si Mr. Perfect." Ucap Yeri pada Hendery. Hendery hanya mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatan makannya.

"Lalu sekarang dia dimana?" Tanya San pada Yeri.

"Seperti yang kalian tahu." Jawab Yeri.

"Makan bekal di kelasnya lalu pergi ke perpustakaan, benar?" Tebak Xiaojun.

"Benar sekali." Ucap Yeri.

Tak terasa tiga bulan sudah Hendery menjalani masa sekolahnya. Ia memiliki banyak teman di kelas karena Hendery cukup pintar dan kerap kali mengajari teman-temannya yang kesulitan. Seperti hari ini beberapa anak laki-laki dan perempuan nampak mengerubungi meja Hendery karena ada PR matematika yang cukup sulit untuk dipecahkan. Kerumunan itu akhirnya kembali ke tempat mereka masing-masing kala sang guru mulai memasuki kelas. Sang guru meminta tolong pada Mina untuk membagikan hasil ulangan beberapa hari lalu. Dengan semangat perempuan itu menjelajahi meja teman-temannya dan membagikan kertas ulangan mereka.

"Woah…. Dery kau dapat 100, keren sekali." Ucap Mina saat meletakkan selembar kertas di atas meja Hendery.

"Changbin ini milik-"

"Terima kasih, tidak perlu dilihat." Balas Changbin, ia menarik paksa lembar kertas dari tangan Mina dan hampir saja membuat perempuan itu terjatuh karena terkejut.

Hendery kerap kali mengajak teman-temannya berkunjung ke rumah karena beberapa dari mereka meminta diajari beberapa mata pelajaran yang belum mereka pahami. Awalnya mereka mengajak Hendery pergi di luar seperti café atau perpustakaan kota namun mengingat akses Hendery keluar rumah yang masih begitu dibatasi oleh sang ayah akhirnya ia mengundang teman-temannya ke rumah. Lagipula Johnny dan Ten sama sekali tak masalah, mereka justru senang saat mengetahui sang anak memiliki begitu banyak teman.

Seperti hari ini Seungmin, Hyunjin, dan Jeongin terlihat tengah berada di kamar Hendery. Ini pengalaman pertama tiga remaja tersebut bertamu ke rumah Hendery dan saat memasuki rumah besarnya mereka sudah dibuat kagum dengan interior yang ada disana. Dan jangan lupakan beberapa mobil sport yang nampak menghiasi garasi rumah besar itu. Saat sampai di kamar Hendery mereka juga dikejutkan dengan lemari kaca penuh hotwheels yang terpajang rapi disana dan jangan lupakan beberapa pigura yang berisi kebersamaan Hendery dengan keluarganya mulai dari foto bersama orang tuanya dengan gaya formal sampai foto dengan sang adik yang nampak menggigit pipi Hendery juga terpajang rapi disana.

"Kukira Yeri dan Mina akan ikut dengan kalian kemari." Ucap Hendery, ia nampak membantu maid di rumahnya meletakkan beberapa makanan yang baru saja dibawa dari dapur.

"Mereka berdua masih di perpustakaan, katanya nanti menyusul." Ucap Hyunjin. Hendery hanya mengangguk, ia terkekeh saat melihat Seungmin dan Jeongin yang baru saja menghabiskan segelas jus sepertinya mereka benar-benar kehausan, pikir Hendery.

"Kau di rumah sendirian?" Tanya Jeongin, ia mulai membuka buku pelajarannya dan nampak tengah memutar pulpen dengan jarinya.

"Tidak, ada adikku. Tapi sepertinya sedang tidur." Jawab Hendery.

"Orangtuamu?" Tanya Seungmin.

"Mama sedang di rumah sakit, daddy masih di kantor." Jawab Hendery.

"Mamamu sedang sakit?" Kali ini Hyunjin yang bicara.

"Ah tidak, mama memang dokter disana." Jawab Hendery. Mulut ketiga remaja itu lantas ternganga saat mendengar ucapan Hendery, benar-benar keluarga yang menjanjikan, pikir mereka.

Mereka mulai mendiskusikan tentang banyak hal bahkan sesekali keempat remaja laki-laki itu nampak bergosip tentang apa saja yang terjadi di kelas. Tiba-tiba saja perhatian mereka teralihkan saat sesosok anak kecil menyembul dari balik pintu kamar Hendery. Itu Haechan, ia masih mengenakan pakaian tidurnya dan sibuk mengucek matanya. Hyunjin memekik gemas setelah mendapati sosok anak perempuan yang ada di hadapan mereka adalah adik Hendery, Haechan yang merasa dikerubungi oleh orang asing lantas merapatkan tubuhnya pada sang kakak dan membenamkan wajahnya ke dada Hendery.

"Gemasnya…. Siapa namanya?" Tanya Seungmin.

"Haechan, tapi dia memang agak pemalu jika bertemu orang baru." Jelas Hendery.

Tak lama berselang Mina dan Yeri tampak baru saja sampai ke rumah Hendery, mereka langsung mengajak Haechan bermain terlebih setelah melihat para laki-laki tengah sibuk belajar. Lagipula Haechan telah cukup akrab dengan Mina dan Yeri karena kedua perempuan itu cukup sering datang ke rumah Hendery sejak beberapa bulan lalu.

Hendery dan Haechan mengantarkan kepergian teman-teman Hendrey sampai ke ambang pintu utama. Para remaja itu sudah harus pulang ke rumah mereka karena hari yang sudah menjelang malam. Hendery terus berdiri sampai mobil keluarga Seungmin menjauh dari kediamannya setelahnya ia kembali masuk ke dalam dengan Haechan yang masih setia mengikutinya. Balita itu baru saja selesai mandi jangan lupakan rambutnya yang dikuncir dua dengan bedak putih yang menghiasi wajahnya, bukankah sangat menggemaskan.

"Malk oppa tidak ikut ya?" Tanya Haechan tiba-tiba.

"Tidak. Channie rindu Mark oppa?" Tanya Hendery, ia sudah hafal jika Haechan akan menempel terus menerus pada sahabatnya itu jika ia tengah berkunjung kemari.

"Hum, lindu." Ucap anak kecil itu dengan senyum mengembang di bibirnya.

Hendery tengah membantu Hyunjin yang nampak kerepotan dengan buku-buku di tangannya. Beberapa menit lalu guru kelas mereka memerintahkan Hyunjin untuk mengembalikan buku-buku ke perpustakaan karena ia kepergok tidur saat jam pelajaran. Hyunjin yang tidak mau membuat Hendery repot hanya membagi sedikit buku yang ada di tangannya pada Hendery, Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke perpustakaan seraya sesekali berbincang.

Bruk…

Semua buku di tangan Hendery berhamburan karena seseorang menabraknya dengan cukup kencang sampai ia tersungkur ke belakang. Orang itu bergegas membantu Hendery memunguti bukunya, laki-laki itu nampak menunduk dan tak menatap Hendery, ia sibuk menata buku-buku yang berhamburan karena merasa tidak enak pada orang yang baru saja ia tabrak.

"Ah maaf aku tak-"

"Changbin." Ucap Hendery saat melihat siapa yang baru saja menabraknya. Changbin yang merasa terpanggil pun menoleh dan menatap kesal ke arah Hendery. Buku yang telah ia tata dengan rapi nampak kembali ia jatuhkan dari tangannya, remaja laki-laki itu bergegas bangkit dan menatap tajam netra bulat Hendery yang berbinar.

"Kalau jalan lihat-lihat, menggangguku saja." Ucap Changbin, setelahnya ia berlalu begitu saja dan berhasil membuat Hyunjin menghadiahinya dengan tatapan kesal.

"Dery kau baik-baik saja?" Tanya Hyunjin, ia nampak panik karena Hendery hanya berdiam diri sejak tadi dengan tangan yang berada di dadanya. Hendery kembali tersadar dari lamunannya dan mulai membereskan buku-buku yang berjatuhan. Setelahnya ia dan Hyunjin kembali melanjutkan perjalanan ke perpustakaan seperti rencana awal mereka.

Hendery pergi meninggalkan Hyunjin terlebih dahulu, ia bergegas masuk ke dalam toilet dan merogoh saku celananya. Sejak insiden tabrakan tadi dadanya mulai terasa bergemuruh, Hendery mengeluarkan butir obat dari dalam sana dan mulai menelannya bulat-bulat. Ia duduk di atas closet seraya bersandar dan memejamkan matanya. Sekalipun sudah amat biasa dengan nyeri yang kerap kali datang tiba-tiba tetap saja rasanya begitu menyakitkan bagi Hendery. Ini kali kesekian Hendery bersembunyi di kamar mandi dan meminum obatnya, hanya berdiam diri dan membiarkan rasa nyeri yang mengungkung dadanya menghilang. Baik Ten dan Johnny ataupun teman-teman Hendery belum mengetahui jika remaja laki-laki itu kerap kali merasa kesakitan saat di sekolah, ia berhasil menyembunyikannya dengan baik agar tak ada satu orangpun yang merusak masa sekolahnya.

Setelah dirasa lebih membaik Hendery keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang kelasnya. Di sepanjang lorong sekolah ia kembali memikirkan perkataan Changbin yang terkesan menusuk beberapa menit lalu. Sebenarnya sejak awal Hendery berada di sekolah ia telah merasa jika Changbin tak menyukainya, apalagi dengan semua tatapan tajam yang selalu ia berikan saat Hendery tengah mengobrol bersama yang lainnya. Namun Hendery berusaha tak peduli, lagi pula menurutnya ia tak membuat kesalahan apapun. Remaja laki-laki itu terus berjalan menuju kelasnya, melupakan tatapan tak mengenakkan yang mengarah padanya sejak keluar toilet beberapa menit lalu. Mungkinkah kali ini semua hal akan kembali berjalan sesuai dengan keinginannya atau malah sebaliknya.