44. Mama's Boy

Hendery nampak masih menatap layar laptopnya saat tengah malam. Ia beberapa kali terlihat mencoret kertas yang ada di mejanya demi memecahkan soal matematika yang cukup membuat pusing kepala. Hendery yang malam itu lupa mengunci pintu malah mendapati sang ayah yang masuk ke kamarnya tiba-tiba. Johnny terlihat melipat tangannya di depan dada dan berdecak pada sang anak. Ini kali kesekian ia menangkap basah Hendery yang tidur melebihi jam tidurnya. Sebenarnya bukan masalah besar jika itu dilakukan oleh anak lain seusianya, namun untuk Hendery yang jelas memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik hal itu akan sangat berdampak nantinya. Entah ia yang tiba-tiba pingsan saat di rumah, demam, atau mimisan, Johnny sudah hafal semua yang terjadi pada anaknya itu di luar kepala.

"Dery mau sampai kapan? Cepat tidur." Ucap Johnny.

"Tapi dad ini masih belum selesai-"

"No, tidak ada penolakan, kali ini harus benar-benar tidur. Lanjutkan besok saja ya, besok kan libur." Ucap Johnny, ia menarik Hendery menuju kasurnya dan memastikan sang anak berbaring dengan nyaman disana.

Setelah memastikan Hendery benar-benar tertidur lelap, Johnny kembali ke kamarnya. Ia mendapati Ten yang tengah memeluk balita gembul mereka. Haechan sedikit demam sejak kemarin. Anak itu jadi lebih manja dan tak mau lepas dari sang mama.

Hendery yang baru saja selesai sarapan bergegas berangkat ke sekolah bersama Johnny. Terlebih dahulu ia mengganggu Haechan yang masih nampak lemas dalam dekapan sang mama. Rasanya aneh sekali melihat Haechan terdiam karena biasanya anak perempuan itu akan berlari kesana-kemari seharian.

"Hua…. Mama, oppa nakal…." Tangis Haechan, ia yang lemas tentu saja tak memiliki tenaga untuk membalas Hendery yang baru saja menciumi pipi gembulnya. Ten hanya terkekeh dan kembali berusaha menenangkan Haechan sebelum tangisan anak kecil itu semakin menjadi-jadi.

Lagi-lagi Hendery mendapati kertas yang tertempel di lokernya lengkap dengan sebuah permen karet yang masih terbungkus rapi dan stempel dinosaurus di bagian kanan bawah kertas tersebut. Ini kesekian kalinya Hendery mendapati hal seperti itu, beberapa hari lalu bahkan ia mendapatkan coklat, pernah juga Hendery mendapatkan makanan yang sepertinya tidak di jual di Korea. Tak mau ambil pusing remaja tampan itu menarik kertas dari lokernya dan menyimpannya ke dalam tas. Setelahnya ia kembali masuk ke dalam kelas dan mendapati teman-temannya yang nampak serius membaca buku sekalipun baru sampai di sekolah.

Minggu ujian kenaikan kelas akan segera datang. Semua siswa di penjuru sekolah seperti orang yang siap berperang. Siswa yang sebelumnya tak pernah ke perpustakaan bahkan jadi amat rajin berkunjung dan membuat para pustakawan disana keheranan. Mark, San, dan Xiaojun juga nampak gusar terlebih jadwal mereka semakin padat karena sejak masuk SMA para orang tua mendaftarkan mereka ke tempat les demi mendapatkan universitas terbaik di masa depan.

Hendery yang baru saja kembali dari perpustakaan dengan sebuah buku di tangannya nampak tengah melewati area lapangan. Remaja itu tak sadar jika di dekatnya ada para senior yang tengah mengoper bola. Tanpa aba-aba bola dengan kecepatan lumayan kencang mengenai bahu kanan Hendery sampai sang pemilik tersungkur ke depan, silahkan saja tubuhnya yang kurus. Mungkin jika ada angin ribut Hendery akan ikut terbang ke awan. Sang tersangka pelempar bola yang merasa tak enak bergegas menghampiri Hendery, remaja itu terlihat merintih kesakitan seraya memegangi bahu kanannya.

"Dery…. Kau baik-baik saja?" Itu suara Jeongin, entah sejak kapan ia ada di dekat lapangan. Hendery hanya mengangguk dan meraih bukunya yang ikut kotor terkena serpihan debu lapangan.

"Maafkan aku, aku benar-benar tak sengaja. Apa perlu ke rumah sakit?" Ucap salah seorang senior bertubuh tinggi dengan bola basket di tangannya.

"Aniyo sunbae, aku yang salah. Tidak apa-apa kok, itu hanya luka ringan." Ucap Hendery.

Setelah para senior tersebut pergi Jeongin bergegas menyeret Hendery ke ruang kesehatan. Ia berdecak kesal karena Hendery nampak berpura-pura baik-baik saja padahal ia jelas melihat jika temannya itu tengah kesakitan.

"Aish…. Seharusnya tadi kita terima tawarannya ke rumah sakit, jadi biru begini. Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Jeongin, ia tengah mengompres bahu Hendery dengan rintihan yang keluar dari mulut temannya itu.

"Kau tak perlu masuk kelas, istirahat saja disini." Ucap Jeongin. Hendery tak menjawab, ia nampak diam dan sedikit menunduk sampai membuat Jeongin kesal.

"Jeong- in bisa tolong am- bil jasku." Ucap Hendery terbata. Jeongin yang terkejut dengan keadaan temannya lantas bergegas meraih jas sekolah Hendery yang diletakkan di atas meja tak jauh dari mereka berdua. Hendery merogoh saku jas sekolahnya, mencari botol obat dan mengeluarkan isinya. Ia mulai menelan obat tersebut dan berdiam cukup lama, menunggu rasa sakit di dadanya menghilang dengan nafas yang kian memburu dan sesak.

"Dery kau kenapa?" Tanya Jeongin setelah melihat kondisi Hendery yang nampak lebih baik. Remaja itu hanya menggeleng dan kembali memasukkan botol obat ke saku jas sekolahnya. Belum sempat botol tersebut masuk Jeongin terlebih dahulu merampas apa yang baru saja Hendery genggam. Jeongin terdiam setelah ia membaca apa yang tertera di botol obat tersebut, setelahnya ia meraih tangan kiri Hendery dan menyingkap sedikit lengan kemejanya. Ada sebuah gelang hitam dengan tulisan yang amat mengganggu mata Jeongin.

"Kenapa tak bilang? Kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Jeongin, ia mulai merogoh ponselnya dan berniat menghubungi supir pribadi keluarganya namun tangan kurus Hendery jauh lebih cepat, ia menahan tangan besar Jeongin disertai tatapan memohon yang sedikit dibuat-buat.

"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan begitu." Ucap Hendery dengan nafas yang terdengar kembali normal.

"Tidak Dery, aku takut terjadi se-"

"Jeongin, kumohon…." Ucap Hendery.

"Baiklah tak perlu ke rumah sakit tapi kau disini sampai jam pelajaran usai." Usul Jeongin. Hendery hanya mengangguk pasrah dengan perkataan temannya itu, setelahnya mereka mulai saling berbincang seraya Jeongin mengompres bahu Hendery.

"Jadi sejak kapan?" Tanya Jeongin tiba-tiba.

"Sudah lama. Sejak aku delapan tahun." Ucap Hendery, ia jelas tahu apa yang menjadi bahan pertanyaan temannya itu.

"Ah pantas saja Yeri bilang ini pengalaman pertamamu sekolah." Ucap Jeongin.

"Hum, begitulah." Balas Hendery

"Kau mengingatkanku pada seseorang." Ucap Jeongin.

"Siapa?" Tanya Hendery, ia terlihat mulai tertarik dengan pembicaraan temannya itu.

"Adikku, aku punya adik. Mereka kembar, yang satu sama sepertimu, tapi nasibnya tak sebaik dirimu." Ucap Jeongin, Hendery nampak tertegun mendengar perkataan sahabatnya itu. Pantas saja beberapa menit yang lalu Jeongin bergegas menyingkap lengan kemeja Hendery begitu ia membaca apa yang tertulis di botol obat berukuran kecil itu.

"Dia sudah pergi?" Tanya Hendery.

"Hum, dua tahun lalu." Jawab Jeongin dengan suaranya yang mulai terdengar parau.

"Kau harus bertahan Dery, jangan menyerah." Ucap Jeongin tiba-tiba.

"Kau tahu kan sebenarnya ini tidak bisa benar-benar sembuh sekalipun aku telah menjalani operasi untuk kedua kalinya, sampai saat ini aku masih belum tahu nasibku akan seperti apa. Bisa saja berakhir seperti adikmu." Ucap Hendery tiba-tiba.

"Jangan begitu, setidaknya berjuanglah untuk orang-orang disekitarmu. Dan untukku juga, bisakah kau melakukan perjuangan yang tak sempat adikku lakukan?" Ucap Jeongin tiba-tiba. Hendery hanya terkekeh, ia bukan menertawakan perkataan temannya itu namun menertawakan Jeongin yang terlihat mulai menangis sampai hidungnya memerah. Benar-benar tak terlihat seperti Jeongin yang ia kenal di kelas.

"Yak, aku yang hampir mati kenapa kau yang menangis." Kekeh Hendery, ia mengambil alih kompres dari tangan Jeongin dan meletakkannya kembali di atas meja.

"Bisakah kau tak mengatakan kata 'mati' dengan begitu mudah? Padahal mamamu dokter seharusnya kau lebih mengerti hiks…." Ucap Jeongin di sela-sela tangisnya.

"Sudah Jeongin, jangan menangis lagi. Aku janji tak akan menyerah." Ucap Hendery seraya terkekeh.

Tak lama berselang bel tanda jam pelajaran usai telah berbunyi. Para siswa mulai ribut di kelasnya masing-masing dan merapikan barang-barang mereka. Hendery dan Jeongin juga terlihat berjalan beriringan ke kelas mereka, untung saja saat sampai disana keadaan kelas sudah benar-benar sepi setidaknya Hendery tak perlu bersusah payah menjawab pertanyaan yang siap mereka lontarkan padanya.

Setelah berpamitan dengan Jeongin, Hendery kembali ke rumah. Saat sampai disana yang ia dapati pertama kali adalah Haechan yang tengah menangis keras dalam gendongan sang mama. Johnny yang ada di sebelahnya nampak berusaha menenangkan balita kecilnya itu. Memang kebiasaan Haechan jika sedang sakit akan sangat rewel dan tak mau pisah dari kedua orang tuanya. Hendery yang sadar kedua orang tuanya sedang sibuk bergegas naik ke kamarnya, ia langsung membersihkan diri dan berbaring sebentar di kasurnya sekedar melihat apa yang sedang terjadi di laman SNS nya hari ini. Hendery mengubah posisinya menjadi duduk manakala rasa nyeri dari bahunya mulai menjalar dan membuat tak nyaman. Ia bergegas bangkit dan memasuki kamar mandi kamarnya. Membuka kancing piyamanya satu persatu dan berkaca di depan cermin. Remaja tampan itu sedikit mendengus sebal manakala mendapati memar di bahunya yang terlihat cukup besar dengan warna yang membiru.

"Aish…. Kenapa jadi separah ini sih." Monolog Hendery.

Remaja tampan itu menikmati makan malam seorang diri karena kedua orang tuanya nampak sibuk di kamar Haechan yang masih saja rewel sejak tadi. Hendery menikmati makan malamnya dengan tenang dan setelah selesai ia menyempatkan diri untuk mencuci piring yang baru saja digunakan sebelum kembali lagi ke kamar.

Di sisi lain di sebuah rumah besar keluarga keluarga Nakamoto, Xiaojun nampak gusar karena Hendery tak kunjung menjawab panggilan teleponnya. Ia jelas masih ingat perkataan Yeri saat pulang sekolah beberapa jam lalu, tentang Hendery yang harus masuk ke ruang kesehatan dengan Jeongin yang menemaninya.

"Dery terkena hantaman bola saat menuju ke kelas, tadi dia tidak ikut kelas terakhir dan terpaksa beristirahat di ruang kesehatan." Kira-kira begitulah ucapan Yeri sore tadi. Dan malam ini ia mendapati Hendery yang tidak mengangkat teleponnya atau membalas pesannya, hal itu jelas membuat Xiaojun semakin gusar, ia benar-benar khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu, terlebih ia sudah sangat paham bagaimana kondisi kesehatan Hendery.

Dengan berat hati akhirnya Xiaojun memilih untuk menghubungi Ten, menanyakan pada orang tua Hendery tentang keadaan anak mereka, mungkin saja ia akan mendapatkan jawaban yang jelas, pikir perempuan itu.

Ten yang baru saja selesai mengaplikasikan skincare di wajahnya tampak terkejut dengan ponselnya yang berdering tiba-tiba. Pasalnya waktu menunjukkan hampir tengah malam. Dengan cepat Ten meraih ponselnya dan berbicara dengan orang yang menghubunginya, seulas senyum nampak terukir di wajah cantiknya kala mengetahui jika yang menghubunginya adalah Xiaojun, anak cantik keluarga Nakamoto yang kerap kali berkunjung ke rumah mereka.

"Dery? Memangnya Dery kenapa?" Tanya Ten saat mendengar pertanyaan Xiaojun.

"Yeri bilang tadi Dery tidak mengikuti jam pelajaran terakhir karena harus beristirahat di ruang kesehatan, apa Dery sudah lebih baik imo?" Tanya Xiaojun dari seberang sana. Air muka Ten sontak berubah, bahkan Johnny yang tengah sibuk dengan laptopnya nampak menatap sang istri lekat-lekat malam itu.

"Ah baik terima kasih Jun, sebentar ya imo tengok dulu ke kamarnya. Mungkin saja Dery sedang tidur." Balas Ten sebelum benar-benar mengakhiri panggilannya.

"Dery kenapa?" Tanya Johnny serius.

"Sepertinya anak kita terluka." Ucap Ten ia bergegas bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar Hendery, meninggalkan Johnny yang masih sibuk melepas kacamatanya. Ten nampak begitu mengkhawatirkan anak sulungnya itu, pasalnya ia sama sekali belum menyapa Hendery sejak ia kembali dari sekolahnya karena sejak tadi Ten sibuk sendiri dengan Haechan yang terus menerus rewel karena tengah sakit.

Hendery yang tengah berdiri di depan cermin kamar mandi dan bersusah payah menempelkan Pereda nyeri di bahunya nampak terkejut kala mendapati kedua orang tuanya telah berdiri di ambang pintu. Dengan cepat ia memakai kembali piyamanya dan berusaha menghadapi Ten dan Johnny setenang mungkin seolah tak ada hal apapun yang terjadi beberapa detik lalu.

"Buka lagi piyamanya." Perintah Johnny saat Hendery baru saja duduk di tepi kasur. Yang diperintah hanya terdiam dan tak berani menatap sang ayah yang berdiri di hadapannya dengan mata yang nampak berkilat.

"Kenapa tidak bilang kalau terluka." Ucap Johnny, akhirnya ia sendiri yang membuka piyama sang anak dan mendapati memar cukup besar di bahu kanan Hendery.

"Ah dad pelan-pelan sakit." Lirih Hendery.

"Kenapa bisa begini?" Tanya Johnny, ia nampak meraba memar yang ada di bahu Hendery dan dihadiahi ringisan yang keluar dari mulut pemuda itu.

"Dery yang tidak hati-hati tadi saat berjalan di lapangan." Jelas Hendery.

"Kenapa tidak bilang pada mama Dery, kan tadi bisa langsung diobati sepulang sekolah." Ucap Ten, ia mulai duduk dan mengolesi obat di memar Hendery yang nampak berbaring tengkurap.

"Tadi kan Channie sedang rewel, ma. Nanti makin repot." Ucap Hendery.

"Kenapa bicara seperti itu sih? Sejak kapan orang tua merasa direpotkan oleh anaknya sendiri." Ucap Johnny, ia malah mengacak gemas surai hitam Hendery yang sama lebatnya seperti miliknya.

"Aish daddy kenapa sih usil sekali." Teriak Hendery, ia tidak terima karena rambutnya yang jadi berantakan.

"Sudah. Jangan tengkurap begitu tidurnya, nanti sesak." Ucap Ten saat selesai mengobati memar Hendery.

"Kalau perlu sesuatu panggil mama ya, sekarang cepat tidur sudah malam." Ucap Ten lagi, ia bergegas pergi setelah sebelumnya mengecup pucuk kepala sang anak dan memeluknya erat-erat.

"Jangan begadang lagi, awas saja kalau tertangkap basah seperti kemarin." Ancam Johnny pada sang anak. Hendery hanya mengangguk dan mulai menyamankan posisi tidurnya.

Hendery terbangun di pagi hari dan mendapati sekujur tubuhnya terasa nyeri serta bagian tangan kanannya amat sulit digerakkan karena rasa nyeri yang menjalar dari bahunya amat mendominasi. Pemuda itu pun memutuskan untuk kembali berbaring seraya membungkus tubuh kurusnya dengan selimut, ia tak peduli jika nantinya Ten dan Johnny akan memarahinya yang terlambat bangun dan tak bisa pergi ke sekolah. Yang ia butuhkan pagi ini hanya waktu istirahat tambahan.

"Dery…. Belum bangun? Dery kan harus sekolah, cepat mandi!" Ucap Ten, ia mulai menarik selimut tebal Hendery dan menyisakan tubuh kurus sang anak yang nampak masih meringkuk di atas kasurnya.

"Tidak sekolah dulu ya ma." Lirih Hendery. Ten yang menyadari suara sang anak yang cukup berbeda bergegas mendekatinya, ia menyentuh kening sang anak, sensasi panas nampak menguar dari kening Hendery pagi itu.

"Dery pusing tidak? Apa yang dirasakan?" Tanya Ten.

"Sakit ma, tubuh Dery sakit semua." Ucap pemuda itu dengan mata terpejam. Ten sedikit khawatir namun ia berusaha untuk tetap tenang, akhirnya ia membiarkan Hendery kembali memejamkan matanya sementara ia menyiapkan makanan untuk remaja tampan itu, mungkin nanti siang ia akan membawa Hendery ke rumah sakit jika kondisinya tak kunjung membaik.

Ten bisa sedikit bernafas lega hari ini, setidaknya Haechan sudah nampak lebih baik dari hari kemarin. Balita gembul itu sudah bisa mengacak-ngacak makanan seperti yang biasa ia lakukan. Dan hari ini berganti jadi Hendery yang harus ia rawat, Ten sama sekali tidak masalah lagipula ia sangat suka jika Hendery bermanja padanya dan yang perlu digaris bawahi semua anak Johnny akan sangat manja padanya saat sedang sakit, mereka akan meminta Ten menempelinya seharian sampai kondisinya benar-benar pulih, kadang Ten sampai bingung sendiri.

Ten baru saja selesai menyuapkan bubur pada Hendery dan membantunya meminum obatnya. Wanita itu juga menambahkan obat Pereda nyeri pada Hendery pagi ini, dengan pasrah Hendery menelan bulat-bulat obat yang mamanya berikan, lagipula sudah sejak lama ia terbiasa dengan barang-barang seperti itu, bukan masalah baginya jika Ten hanya menambahkan satu butir obat.

Kabar Hendery yang sakit sampai ke telinga Jeongin, Seungmin, dan Hyunjin. Tentu saja mereka bertiga mendapat kabar dari Mark yang tiba-tiba saja pagi-pagi sekali menghampiri kelas mereka. Dan rencananya di jam istirahat nanti mereka bertiga akan melakukan panggilan video dengan Hendery demi memastikan keadaan si bintang kelas itu sekaligus Jeongin ingin menanyakan sesuatu. Tadi pagi remaja tampan itu menemukan secarik kertas dengan stempel dinosaurus yang tertempel di loker Hendery, jangan lupakan juga sebutir permen coklat yang ada di atasnya. Jeongin hampir saja tertawa membaca pesan yang tertera disana. Ia harus segera segera memberitahu Hendery tentang apa yang baru saja ia temukan pagi tadi.

Di rumah besar keluarga Seo, siang itu Hendery nampak baru saja memejamkan matanya dalam pelukan sang mama. Ten nampak sedikit terkekeh, mungkin Hendery akan sangat malu jika tiba-tiba saja ketahuan oleh teman-temannya tengah tertidur dalam pelukan sang mama. Sejak beberapa jam yang lalu pemuda itu terus mengeluh tubuhnya yang terasa sakit sampai akhirnya terpejam. Ten telah menghubungi Johnny dan rencananya pria tinggi itu akan menghubungi dokter pribadi keluarga mereka atau mungkin nanti sore mereka akan membawa Hendery ke rumah sakit jika tak kunjung ada perubahan.

"Mama…." Itu suara Haechan, balita gembul itu nampak berjalan ke arah Ten yang tengah berbaring di kasur bersama Hendery siang itu.

"Hum, Channie butuh sesuatu?" Tanya Ten. Haechan nampak tengah berusaha menaiki kasur sang kakak dan mulai bergabung di tengah-tengah Hendery dan Ten.

"Oppa tidul?" Tanya anak kecil itu.

"Iya, oppa sedang sakit jadi harus tidur yang banyak." Balas wanita itu. Haechan lantas mengerucutkan bibirnya, baru saja ia berniat mengajak Hendery bermain namun lagi-lagi usahanya sia-sia.

"Oppa jangan sakit, Channie tidak suka." Ucap anak kecil itu, ia mengelus lembut pipi Hendery yang nampak masih damai dalam tidurnya.

"Channie sedih kalau oppa sakit?" Tanya Ten.

"Hum, sad mama." Balas anak kecil itu, ia mulai memeluk Ten dan tiba-tiba saja menangis.

"Eh kenapa menangis? Oppa saja yang sakit tidak menangis." Ucap Ten seraya mengelus lembut surai hitam Haechan yang sudah cukup panjang untuk anak seusianya. Yang ditanya tak menjawab malah tetap sibuk menangis. Ten tersenyum teduh melihat tingkah anak perempuannya sore itu. Bisa dibilang Hendery adalah segalanya untuk Haechan, bahkan orang yang selalu didatangi Haechan saat ia bangun dari tidurnya setiap pagi adalah Hendery, melupakan Ten dan Johnny yang notabene orang tuanya. Johnny sampai iri sendiri melihat perhatian yang diberikan anak perempuannya itu pada kakaknya, karena jelas berbeda dengan tingkahnya dan Seohyun beberapa tahun silam.

Malam itu keluarga kecil Johnny baru saja tiba dari rumah sakit, tentu saja setelah menemani Hendery memeriksakan kesehatannya. Dokter bilang ia masih butuh istirahat beberapa hari kedepan. Dan saat di rumah benar-benar jadi puncak sifat manja seorang Seo Hendery, ia meminta Ten tidur bersamanya, bahkan Johnny nyaris tertawa mendengar perkataan anaknya itu. Haechan yang tak terima mamanya diambil tentu saja minta bergabung dan Johnny yang tersadar jika ia akan tidur sendirian tentu saja ikut merajuk. Malam itu berakhirlah keluarga Seo yang tidur bersama di kamar utama. Berterima kasihlah pada Johnny yang beberapa tahun silam membeli kasur dengan ukuran besar. Ten tidur diapit kedua anaknya. Hendery memeluknya dari sebelah kanan dan si kecil Haechan nampak mengulurkan tangannya pada tubuh ramping Ten dari sebelah kiri, serta jangan lupakan Johnny yang ikut bergabung di sebelah Haechan meskipun sesekali dihadiahi tendangan kecil dari anak perempuan itu.

"Ih sempit, Channie sih kan daddy jadi ikut bergabung." Ucap Hendery, ia memulai dramanya dan menyalahkan adiknya.

"Daddy besal seperlti golila, jadinya sempit. Tulun dad…." Ucap Haechan, ia yang tak terima disalahkan malah ikut menyalahkan sang ayah dan mulai mendorong tubuh besar Johnny malam itu.

"Kalau daddy gorila berarti Channie anak gorila." Ucap Johnny mulai meledek sang anak.

"No, Channie anak mama." Ucap anak kecil itu.

"Bukan, oppa yang anak mama. Channie anak daddy, berarti Channie anak gorila." Balas Hendery semakin meledek adiknya.

"Hua…. Channie bukan anak golila kan ma? Hiks…." Anak kecil itu mulai menangis dan memeluk sang mama dari belakang. Johnny yang gemas mulai merapatkan tubuhnya pada Haechan dan memeluknya erat-erat.

"Masa anak cantik seperti ini dibilang anak gorila. Tentu saja bukan, Channie anak daddy dan mama." Ucap Johnny, Haechan mengerjapkan mata bulatnya kemudian memeluk Johnny erat-erat. Setelahnya tak ada lagi yang bersuara, baik Hendery dan Haechan sama-sama telah memejamkan mata mereka hanya bersisa Johnny dan Ten yang nampak sama-sama tengah memandang ke arah atap.

"Dery sudah tidur?" Tanya Johnny.

"Hum, sudah terpejam sejak beberapa menit yang lalu. Mungkin pengaruh obatnya juga." Ucap Ten.

"Dasar anak mama, kalau sudah sakit jadi manja begini." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Kau juga kalau sakit sangat menyebalkan John, hanya saja kau tak menyadarinya." Kekeh Ten, sedangkan Johnny ia nampak berdecih sebal mendengar perkataan istrinya itu.

"Jadi Dery benar-benar masih menempel padamu seperti saat kecil dulu." Ucap Johnny.

"Hum, aku suka." Jawab Ten.

"Terima kasih sudah menyukainya dan berhasil membuat Dery jadi mama's boy saat bersamamu." Kekeh Johnny.

Dan malam indah itu ditutupi dengan pembicaraan sepasang suami istri yang terlihat amat bahagia. Ten benar-benar bahagia karena nyatanya Hendery masih sama seperti Hendery kecil yang ia temui beberapa tahun silam. Sesosok anak kecil dengan mata bulat yang berbinar dan selalu menempel padanya, hanya saja kali ini sosok itu telah menjelma menjadi remaja tampan yang siap melindungi Ten dan adiknya kapan saja, bukan lagi sosok anak kecil yang selalu bersembunyi di balik kaki jenjang ayahnya.