45. Envy

Ujian kenaikan kelas telah usai, saat ini semua murid nampak menikmati hari-hari mereka seperti biasanya. Dan hari ini seluruh nilai hasil ujian akan dipajang di aula utama sekolah mereka. Awalnya Hendery nampak keheranan mengapa hal seperti itu perlu dilakukan, namun Mark dan San mengatakan jika itu adalah hal yang wajar untuk sekolah mereka. Bahkan kedua sahabat Hendery itu telah terbiasa dengan hal tersebut sejak masih SMP. Setelah jam istirahat beberapa murid di tingkat pertama mulai berkumpul di aula, beberapa diantara mereka terlihat tergesa-gesa untuk melihat siapa yang akan jadi peringkat pertama kali ini. Mengingat ujian kemarin adalah ujian pertama untuk mereka, Hendery nampak berjalan dengan Hyunjin dengan santai mereka berniat menyusul Jeongin dan Seungmin yang telah lebih dahulu berada disana.

"Kau tahu kita punya juara baru." Ucap Seungmin saat mendapati Hyunjin dan Hendery tiba di aula. Remaja tinggi itu mulai berpindah ke samping hendery dan merangkul bahu kurus temannya.

"Kau bicara apa?" Tanya Hyunjin.

"Dery jadi yang pertama, dan nilainya jauh diatas Changbin." Ucap Jeongin sedikit berteriak. Hendery yang disebut nampak tidak percaya, begitupun Hyunjin. Ia mulai menepi ke tempat papan pengumuman dan benar saja nama Hendery berada di urutan paling atas disusul dengan Changbin yang berada di bawahnya.

"Woah…. kau orang pertama yang berhasil mengalahkannya, luar biasa." Ucap Hyunjin. Ia mulai bertepuk tangan dan menatap kagum ke arah temannya itu.

"Kau benar, setelah semasa SMP tak ada yang mengalahkannya. Akhirnya rekornya pecah juga." Ucap Jeongin.

Di kelas seluruh murid nampak heboh dan memberikan selamat pada Hendery. Remaja tampan itu memilih untuk bersikap biasa saja dan sedikit merasa tak enak pada Changbin yang nampak tengah duduk di kursinya dengan airpods yang menempel di telinganya. Pasti berat rasanya setelah bertahun-tahun selalu jadi yang pertama tiba-tiba saja pindah ke posisi kedua, pikir Hendery. Tiba-tiba saja netra mereka saling bertemu pandang, Hendery yang kikuk langsung mengarahkan matanya ke sudut lain dan dihadiahi decihan sebal dari Chanbin saat itu.

"Dery…. Ada Mark, San, dan Xiaojun di bawah, cepat keluar." Ten nampak memanggil anaknya yang tengah berada di kamar sore itu. Hendery menuruti perkataan Ten dan bergegas turun ke bawah, ia mendapati ketiga sahabatnya yang tengah duduk di ruang keluarga dengan berbagai jenis makanan yang mereka bawa.

"Bukankah ini waktunya berpesta." Ucap San seraya menggoyangkan cola yang ia bawa.

Tak butuh waktu lama ruang keluarga itu telah disulap jadi arena makan oleh keempat remaja tersebut dan jangan lupakan Haechan yang memaksa ikut dan memilih duduk di pangkuan Xiaojun seraya menikmati ayam gorengnya.

"Pasti Changbin tengah meratapi nasibnya." Ucap Mark tiba-tiba.

"Kau benar. Kau ingat wajahnya saat Dery datang ke aula, auranya suram sekali." Timpal San.

"Kenapa semua orang sangat tertarik saat Changbin di posisi kedua?" Tanya Hendery.

"Ah kau belum tahu ceritanya ya." Ucap San.

"Jun…. ceritakan! Perempuan biasanya sangat detail saat mencari kesalahan orang lain." Ucap Mark pada Xiaojun, sedangkan perempuan itu nampak mendengus sebal menanggapi perkataan Mark. Andai saja Haechan tidak berada di pangkuannya pasti sudah ia tending wajah si Jung junior itu, pikir Xiaojun.

"Hum, mulai dari mana ya. Changbin itu anak yang paling pintar di kelas semasa SMP, semua kegiatan sekolahnya telah diatur oleh eomma nya. Jadi bisa dibilang Changbin tak menikmati masa remajanya dengan baik karena hidup dibawah kendali orang tuanya. Pernah saat kita berada di tingkat kedua nilai Changbin lumayan turun tapi dia tetap di peringkat pertama dan kau tahu apa yang terjadi? Felix memergoki eomma Changbin tengah memukulnya padahal masih di toilet sekolah. Sejak saat itu Changbin makin menutup diri dan membuat beberapa siswa lain memandang aneh pada dirinya." Jelas Xiaojun panjang lebar.

"Jadi hanya karena itu ia dijauhi?" Tanya Hendery.

"Bukan dijauhi, lebih tepatnya dia yang menutup diri. Dulu juga saat di tingkat tiga kami pernah mengajaknya berteman, beberapa murid di kelas juga. Namun Changbin sama sekali tak mengindahkan, ia malah memandang rendah kami karena menurutnya kami tak sepintar dirinya." Sambung Xiaojun.

"Sekarang aku tak tahu apa yang akan terjadi padanya jika eomma nya tahu dia berada di peringkat kedua." Ucap San.

"Benar, semoga dia baik-baik saja." Ucap Mark.

"Oppa…." Haechan mulai berpindah ke pangkuan Hendery dan merengek seraya menunjuk jus semangka yang ada di hadapan Mark.

"Jangan, itu punya Mark oppa bukan punya Channie." Ucap Hendery.

"Channie mau ini?" Tanya Mark, ia menatap adik sahabatnya itu seraya menunjuk jus miliknya. Haechan yang mengangguk semangat lantas bangkit dari duduknya dan berpindah ke pangkuan Mark.

"Channie mau boleh?" Tanya anak kecil itu dengan mata bulat yang mengerjap lucu.

"Tapi cium oppa dulu." Ucap Mark, ia mulai menyodorkan pipinya ke hadapan Haechan dan berharap mendapat ciuman dari anak kecil itu.

"Pedofil menjijikan." Ucap San.

"Yak, apa katamu? Kalau kau lupa adikku juga seusia dengan adiknya Dery." Ucap Mark tak terima. Hendery dan Xiaojun hanya terkekeh melihat perdebatan dua sahabat mereka sore itu, dan jangan lupakan dengan Haechan yang mulai menciumi setiap penjuru wajah Mark sampai membuat Xiaojun gemas.

Jadi satu tahun lalu keluarga Jung memutuskan untuk merawat Sungchan, anak dari kakak Jaehyun yang baru saja meninggal karena kecelakaan. Mark dan Jeno sama sekali tak masalah jika ada anggota keluarga baru di tengah-tengah mereka, mereka justru senang karena sejak kedatangan Sungchan ke rumah mereka kadar kecerewetan sang eomma jadi sedikit berkurang. Hanya saja Sungchan masih amat menutup diri dari dunia luar, ia masih memiliki trauma pasca kecelakaan bersama kedua orang tuanya, jadi ia hanya mau berinteraksi dengan keluarga Jung untuk saat ini. Bahkan beberapa hari lalu Sungchan sempat menangis keras saat Haechan hendak memeluknya.

Hendery tiba-tiba saja terdiam, ia jadi terpikir soal nasib Changbin. Jika diingat dari pembicaraan Xiaojun beberapa menit lalu, mungkin saja orang tuanya bisa lebih marah saat mengetahui anak mereka berada di peringkat kedua setelah selama ini selalu berada di posisi teratas.

Sore itu Hendery nampak tengah duduk di depan halte sekolah, ia tengah menunggu kedatangan supir keluarganya. Halte yang Hendery duduki cukup sepi karena jam sekolah telah usai sejak beberapa menit lalu. Para siswa juga sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Samar-samar Hendery mendengar suara seorang wanita berteriak cukup kencang, Hendery menjelajah pandangannya di sekitar halte tapi tak ada satupun orang disana. Sampai akhirnya matanya bertemu pandang dengan seorang wanita dewasa berpakaian rapi dan nampak tengah memukuli seseorang. Hendery sedikit mendekat seraya sembunyi agar tak ketahuan. Remaja tampan itu nampak terkesiap saat mendapati sosok remaja yang tengah dipukuli oleh wanita itu adalah Changbin teman kelasnya. Baru saja Hendery hendak mendekat namun mobil keluarganya telah sampai di depan halte dan mau tak mau ia mengurungkan niatnya itu. Mungkin esok hari akan langsung ia tanyakan pada Changbin.

Di jam istirahat Hendery nampak tengah memainkan ponselnya, tiba-tiba saja Seungmin mendatanginya dan meminta pada Hendery untuk melakukan sesuatu karena ia harus segera bergegas menemui wali kelas mereka beberapa menit lagi.

"Dery…. Kau tak sibuk kan? Bisa tolong berikan ini pada Changbin di ruang kesehatan? Aku harus menemui Min ssaem." Ucap Seungmin.

"Ini apa?" Tanya Hendery saat ia menerima paper bag berwarna putih dengan ukuran kecil dari tangan Seungmin.

"Changbin ada di ruang kesehatan, hari ini dokter Lee tak datang, jadi Lee ssaem membelikan obat untuk Changbin dan memintaku memberikannya, tapi aku harus buru-buru. Sudah ya Dery aku pergi dulu." Ucap Seungmin, setelahnya ia mulai berlari pontang-panting ke ruang guru sebelum Min ssaem menunggunya lebih lama.

Hendery yang memang tak memiliki kegiatan apapun lantas bergegas menuju ke ruang kesehatan, tiba-tiba saja ia teringat dengan kejadian kemarin. Mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakan pada Changbin selagi mereka hanya berdua.

"Ini…. Ada titipan dari Lee ssaem." Ucap Hendery seraya menyodorkan obat-obatan yang ia pegang. Changbin yang mulanya nampak terpejam lantas membuka matanya, ia merampas bungkus obat dari tangan Hendery dengan kasar dan duduk disamping remaja kurus itu.

"Terima kasih. Kau boleh pergi." Ucap Changbin dengan nada dingin yang terdengar jelas.

"Kau tidak tuli kan? Kenapa masih disini." Ucap Changbin, pasalnya Hendery sama sekali tak berpindah dari tempatnya, malah fokus menatap Changbin lekat-lekat.

"Boleh kita bicara?" Ucap Hendery hati-hati.

"Cepat. Aku tak punya waktu." Balas Changbin.

"Kau terlihat seperti membenciku." Ucap Hendery.

"Terlihat jelas ya? Padahal aku berusaha menyembunyikannya." Ucap Changbin dengan seraya tersenyum sinis.

"Wanita yang kemarin itu ibumu?" Tanya Hendery lagi. Changbin lantas membulatkan matanya ia mendekat ke arah Hendery dan mencengkram kerah kemeja pemuda tersebut, sedikit menyeretnya sampai bahu sempitnya beradu dengan tembok ruang kesehatan yang dingin. Hendery tentu saja amat terkejut, ia tak menyangka jika Changbin akan bereaksi seperti ini setelah ia mengungkit peristiwa kemarin.

"Jangan coba-coba katakan pada siapapun soal apa yang kau lihat kemarin." Ucap Changbin menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hendery hanya diam, ia mulai kesulitan mengambil nafas karena cengkeraman Changbin yang amat kuat dan jangan lupakan dadanya yang terasa amat bergemuruh bersamaan dengan peluh yang kian membasahi keningnya.

"Chang- bin le- pas aku tak bisa na- fas." Ucap Hendery, ia menggenggam tangan Changbin dengan kedua tangannya dan meminta remaja tinggi itu melepaskan cengkramannya.

Changbin melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Hendery, detik itu juga si pemuda kurus luruh ke lantai bersamaan dengan tangannya yang sibuk merogoh saku celananya. Mencari butiran obat penyambung nyawanya yang biasa ia bawa kemana-mana. Changbin yang masih berdiri di hadapan Hendery hanya terpaku di tempat, ia mulai memandangi tangannya dan berpikir yang tidak-tidak. Apa mungkin beberapa menit lalu ia hampir saja membunuh Hendery, pikirnya.

"Kau hampir membuatku mati sialan!" Ucap Hendery dengan nafas yang sedikit tersengal, nyeri yang menghujam dadanya sudah sepenuhnya menghilang namun menyisakan nafas Hendery yang terasa tersengal dan berat.

"Kau- kau kenapa membenciku?" Tanya Hendery tiba-tiba.

"Kau mengalahkanku." Ucap Changbin, ia baru saja menghabiskan sebotol air mineral setelah berfikir hampir saja membunuh Hendery.

"Hanya karena itu?" Tanya Hendery, ia benar-benar tak percaya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Changbin.

"Kau punya banyak teman dan keluargamu bahagia, kurasa itu yang tak aku miliki." Ucap Changbin.

"Apa setelah melihatku seperti tadi kau masih iri?" Tanya Hendery. Changbin hanya terdiam dan tak berniat menjawab pertanyaan temannya itu.

"Aku juga iri padamu, kau bebas mengikuti jam olahraga, bisa berlari kesana-kemari tanpa takut maut akan mengintaimu. Sedangkan aku hanya bisa duduk dan tak bisa kemanapun." Ucap Hendery tanpa sadar.

"Kau bicara apa?" Tanya Changbin seolah tak mengerti dengan maksud perkataan Hendery. Lantas pemuda kurus itu menyodorkan tangan kirinya ke hadapan Changbin membuat gelang yang ia gunakan terlihat jelas, dan hari itu Changbin merasa makin bersalah telah mencengkeram Hendery erat-erat beberapa menit lalu.

"Mungkin aku bisa berlari kalau aku mau, tapi aku bisa mati tanpa kutahu." Ucap Hendery yang seketika membuat Changbin tertegun.

"Wanita yang kemarin kau lihat itu eomma ku." Ucap Changbin tiba-tiba. Hendery menghela nafasnya, mungkin Changbin sudah mau terbuka padanya, pikir pemuda kurus itu.

Setelahnya kedua pemuda itu mulai berbincang tentang banyak hal. Dari cerita itu Hendery jadi mengerti jika ibu Changbin bukanlah orang biasa, seluruh keluarga ibunya telah merambah ke dunia medis bahkan kakeknya pemilik salah satu rumah sakit besar di Korea. Ayah Changbin juga bukan orang sembarangan, bisnisnya bisa dibilang cukup sukses dan menjalar dimana-mana. Awal mulanya ibu Changbin dijodohkan dengan seseorang yang juga berasal dari dunia medis seperti keluarganya, namun ia menolak dan lebih memilih menikahi ayah Changbin yang bahkan saat itu tak sekaya sekarang.

Saking mengerikannya keluarga sang ibu bahkan kakeknya telah bersumpah tak akan mengakui Changbin sebagai cucunya kecuali ia berhasil menjadi dokter terbaik di Korea. Karena perkataan tersebut ibu Changbin mulai banyak menuntut padanya bahkan sejak ia SMP, ibunya mendidiknya begitu keras seolah tak akan ada hari esok yang menyambangi mereka. Ayah Changbin tentu saja tak setuju, ia tak membiarkan anaknya diperlakukan demikian oleh istrinya sendiri. Sejak saat itu suasana keluarga mereka lebih berantakan, ayah Changbin mulai jarang berada di rumah, bahkan beberapa kali Changbin mendengar ayah dan ibunya saling beradu mulut sampai memecahkan barang mahal yang ada di penjuru rumah mereka. Rumah yang Changbin kecil rasakan seperti surga sekarang malah seperti neraka, itulah sebabnya ia begitu tertutup pada dunia luar.

Pernah suatu hari Changbin mendapati Hendery yang diantar ke sekolah oleh kedua orang tuanya. Mereka terlihat amat menyayangi Hendery dan memberikan limpahan kasih sayang pada anak itu. Sejak saat itu ada sisi lain dalam dirinya yang berontak, ia merasa kalah karena menurutnya hidupnya tak seindah Hendery. Padahal apa yang dilihat di luar belum tentu menjelaskan keadaan di dalam kan?

Hendery mendengar cerita Changbin dengan saksama. Awalnya ia ingin menjelaskan pada Changbin jika ia bahkan tak mengenal siapa ibu kandungnya kecuali hanya dari foto yang ia lihat sejak kecil. Namun Hendery sadar ini bukan saat yang tepat untuk saling mengadu nasib, yang jelas saat ini Changbin amat butuh didengarkan. Ia butuh seseorang untuk meringankan beban berat di pundaknya yang telah ia pikul sejak lama. Dan jika bisa Hendery ingin jadi orangnya.

"Mau jadi temanku mulai hari ini?" Ucap Hendery tiba-tiba. Anggukan kepala Chanbin adalah sebuah jawaban. Dan jawaban itu dihadiahi senyum yang terlukis indah di wajah tampan mereka berdua siang itu.

Hari ini Hendery menambah satu teman baru, setidaknya orang yang akan menangisinya saat ia meninggal nanti akan bertambah, pikirnya seraya tersenyum teduh.