46. Family Time

Di akhir pekan yang cerah Hendery nampak masih betah berlama-lama dalam balutan selimut tebalnya. Pemuda itu nampak masih beradu dengan alam mimpinya sampai tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya dengan cukup keras.

"Oppa oppa oppa!" Itu Haechan, balita itu dengan susah payah menaiki kasur Hendery dan meloncat-loncat di sana. Menyisakan sang kakak yang mulai berdecak sebal karena tidur indahnya terganggu.

Dengan malas Hendery mulai duduk dan membuka selimutnya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali sampai akhirnya Haechan menghujamnya dengan banyak ciuman di seluruh penjuru wajah tampannya. Balita gembul itu nampak begitu bersemangat membangunkan Hendery. Bahkan piyama bermotif babi kesayangan Haechan masih melekat di tubuh mungilnya.

"Oppa ileonaseyo…. Movie date oppa." Ucap anak kecil itu. Hendery baru ingat jika semalam Johnny berjanji pada keluarganya untuk mengajak mereka keluar bersama, untuk sekedar belanja ke mall atau movie date bersama karena kebetulan sekali film kesukaan Haechan baru saja ditayangkan di bioskop.

"Channie ini masih pagi. Movie date nya kan nanti malam." Ucap Hendery seraya menguap lebar, ia berniat kembali berbaring di kasur empuknya namun Haechan melarang keras dan menarik-narik lengan piyama Hendery.

"Channie mau sekalang oppa." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Mana ada mall yang buka sepagi ini. Tidur lagi saja yuk…." Ucap Hendery ia mulai memeluk erat tubuh gembul Haechan dan membawanya ikut berbaring di sampingnya. Yang dipeluk hanya terkekeh, bahkan bulir air mata mulai mengalir dari sudut mata Haechan karena tertawa saking kerasnya.

"Masih belum berniat bangun…." Kakak beradik itu menghentikan kegiatannya kala suara merdu Ten terdengar dari ambang pintu. Wanita cantik itu nampak menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap lekat kedua anaknya.

"No mama. Oppa bilang tidul lebih enak." Ucap Haechan polos. Ten yang gemas lantas menggelitik anak perempuannya itu sampai tertawa keras, Hendery juga ikut tertawa manakala melihat sang adik yang memelas meminta pertolongan untuk dilepaskan dari dekapan sang mama.

"Daddy dimana, ma?" Tanya Hendery.

"Lari pagi, entah perempuan mana lagi yang mau dia goda." Ucap Ten seraya memutar bola matanya malas.

Bukan hal aneh jika Johnny selalu menghilang di pagi hari. Pria tinggi itu kerap kali keluar untuk sekedar memutari komplek rumahnya sekalipun berakhir dengan digoda para gadis atau wanita dewasa yang kebetulan lewat. Pria tampan itu juga kerap kali datang ke gym untuk membentuk tubuhnya, terkadang Hendery sampai minder sendiri saat bersebelahan dengan sang ayah, karena pria itu terlihat amat bugar sekalipun usianya tak bisa dibilang muda.

"Memangnya ada perempuan yang sehebat mama sampai membuat daddy tergoda?" Ucap Hendery meledek sang mama. Ten memasang tatapan jahil pada putra sulungnya dan mulai menggoda Hendery yang kian menjauh.

"Bisa saja baby nya mama yang satu ini." Ucap Ten seraya mencubit pipi Hendery.

"Ah mama, sakit tahu." Ucap Hendery tak terima.

"No! Yang baby Channie mama, bukan oppa." Sahut Haechan tak terima. Ten yang gemas dengan putri bungsunya lantas mengecupi seluruh wajah Haechan dan dibalas kekehan yang keluar dari mulut kecil anak perempuan tersebut.

Setelah sarapan bersama, Hendery nampak tengah menemani Haechan yang tengah sibuk mewarnai di buku gambarnya. Bocah kecil itu bahkan terlihat antusias saat memilih warna yang akan digunakan.

"Kemalin Channie main dengan Talo." Ucap anak kecil itu tiba-tiba.

"Talo?" Ucap Hendery, ia nampak memandang Haechan dengan tatapan bingung.

"Iya Talo, adiknya Nana eonni." Ucap anak kecil itu.

"Ah Shotaro, Taro Channie bukan Talo." Ucap Hendery.

"Ih kan Channie bilang Talo oppa, bukan Talo." Ucap anak kecil itu tak mau kalah. Hendery hanya menghela nafas dan kembali mendengarkan semua ocehan Haechan pagi itu.

Jadi Shotaro adalah sepupu Xiaojun dan Jaemin, lebih tepatnya ia anak dari kakak Yuta. Saat Shotaro masih kecil dan orang tuanya sibuk dengan bisnisnya, bayi mungil itu dititipkan pada Winwin. Winwin yang suka sekali dengan anak-anak tentu saja mengiyakan sekalipun awalnya Yuta cukup keberatan. Dan sampai sekarang Shotaro masih tinggal di rumah keluarga Nakamoto, anak kecil itu malah akan menangis keras saat diajak orang tuanya kembali ke Jepang. Kebetulan usianya sama dengan Sungchan dan Haechan jadi mereka kerap kali bermain bersama. Sebenarnya yang bermain hanya Shotaro dan Haechan, Sungchan hanya akan menonton seraya mendekap Taeyong erat-erat.

"Channie main apa dengan Taro?" Tanya Hendery.

"Banyak, menyanyi, menggambal, mewalnai, apa lagi ya Channie lupa. Ah nonton kaltun juga dengan Jun eonni, Jun eonni tempeli tangan Channie dengan stempel dinosaulus. Sepelti ini oppa…." Jelas Haechan, ia mulai memperagakan bagaimana caranya Xiaojun mengecap tangannya kemarin. Bicara soal stempel dinosaurus Hendery jadi teringat dengan kertas-kertas yang selalu tertempel di lokernya, apa mungkin? Hendery menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan segala pemikiran yang bersarang di otaknya. Tidak mungkin Xiaojun yang melakukan itu, lagi pula mereka berdua bersahabat sejak kecil untuk apa saling menyemangati dengan kata-kata romantis, pikir Hendery.

"Oppa pelmen oppa tinggal sedikit. Channie bilang mama ya, nanti dibelikan yang balu." Ucap Haechan, bocah kecil itu amat sering melihat Ten yang memberikan obat baru pada Hendery jadi dengan mudahnya kalimat seperti itu terlontar dari mulut kecilnya.

Hendery tersadar dari lamunannya entah sejak kapan botol obatnya berada di tangah gembul sang adik. Dengan cepat Hendery menghampiri Haechan dan bergegas mengambil obatnya sebelum ia menemui sang mama yang tengah sibuk di dapur.

"Hush…. Jangan beritahu mama. Channie lanjutkan mewarnai lagi yuk." Ucap Hendery berusaha membujuk sang adik. Haechan lantas menurut ia kembali duduk dan memilih pensil warna miliknya. Hendery bergegas memasukkan kembali obatnya ke kantong celananya dan kembali menikmati tontonan yang tersaji di hadapannya. Sebenarnya mau saja Hendery mengabari sang mama jika stok obat penyambung nyawanya sudah menipis, namun nanti pasti ia akan dihadiahi dengan puluhan pertanyaan, terlebih saat mengetahui jika selama ini sesaknya lebih sering kambuh saat di sekolah. Bisa-bisa Johnny berbuat nekat dan tak mengizinkan Hendery kembali kesana.

Haechan yang mulai bosan ikut menyusul sang kakak yang tengah berbaring di sofa. Bocah gembul itu mulai menaiki tubuh sang kakak dan duduk di perut Hendery, memainkan wajahnya, dan menggerakkan hidungnya kesana-kemari.

"Jangan…. Jangan keatas disini saja." Ucap Hendery saat mendapati sang adik yang hendak berpindah ke bagian dada Hendery.

"Channie mau dengal dug dug oppa." Ucap Haechan polos. Anak kecil itu mulai memposisikan diri berbaring di atas tubuh Hendery dengan telinga yang tepat menghadap ke arah dada sang kakak.

"Oppa dug dug nya lambat, tidak sepelti punya mama." Ucap Haechan. Hendery hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan adiknya itu.

"Memangnya punya mama seperti apa?" Tanya Hendery.

"Punya mama dug dug nya kencang seperti punya Channie." Jawab anak kecil itu polos.

"Channie sayang oppa." Ucap anak kecil itu tiba-tiba.

"Oppa lebih sayang Channie." Jawab Hendery, ia hanya terkekeh saat Haechan mulai mengalungkan lengan gembulnya di lehernya.

Haechan terus menempel pada Hendery sepanjang hari, bahkan saat ini balita gembul itu tampak tertidur dalam pelukan sang kakak. Bibir Haechan yang bergerak lucu membuat Hendery gemas, jadilah ia mengecupi seluruh penjuru wajah Haechan sampai membuat anak kecil itu merasa tidurnya terganggu.

"Ma, kita jadi keluar?" Tanya Hendery, ia baru saja memindahkan Haechan ke kasurnya dan menghampiri Ten yang tengah memakan cemilannya di ruang keluarga.

"Sepertinya jadi, Channie berisik terus sejak tadi. Kalau batal pasti dia menangis." Ucap Ten, ia menyodorkan toples biskuit miliknya pada Hendery yang duduk disampingnya.

"Kenapa hum?" Tanya Ten saat mendapati Hendery bersandar di bahunya.

"Tidak, hanya mau seperti ini saja." Ucap Hendery, tangannya bahkan mulai memainkan ujung baju Ten persis seperti yang sering ia lakukan saat kecil dulu.

"Mama tidak mau tambah adik untuk Channie?" Tanya Hendery tiba-tiba. Ten yang cukup terkejut dengan perkataan anaknya itu hanya terkekeh dan mengacak surai hitam Hendery.

"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Ten.

"Hanya bertanya, kasian Channie kalau terus bermain sendirian nantinya." Ucap Hendery. Ten lantas menangkup wajah tampan sang anak dan menatap netra bulat Hendery. Dari jarak dekat ia dapat melihat kantung mata yang mulai terlihat di bawah mata sang putra dan jangan lupakan wajah pucatnya yang terlihat jelas.

"Dery bicara apa? Channie tidak akan sendirian, kan ada Dery?" Ucap Ten, ia lantas mengecup kening sang anak dan memeluk tubuh kurus itu erat-erat.

"Kan hanya bertanya ma." Balas Hendery seraya terkekeh.

Sore itu keluarga kecil Johnny nampak baru saja tiba di mall, Haechan terlihat begitu semangat. Balita gembul itu mengenakan celana jeans putih yang dipadukan dengan sweater ungu serta rambut yang dikepang dua. Saat di rumah ia sempat merajuk karena sang mama berniat memakaikannya rok. Alhasil ia kabur ke kamar Hendery dan bersembunyi di dalam lemari sampai membuat Ten kesal dan berakhirlah dengan anak kecil itu yang memilih celana jeans putih untuk digunakan.

"Ma mau naik itu ya? Boleh ya?" Tanya Haechan, ia nampak menggoyangkan tangan sang mama seraya menunjuk ke area permainan yang ramai dengan pengunjung seusianya.

"Nanti dulu ya, tadi katanya Channie mau movie date. Daddy sudah beli tiketnya loh, masa dilewatkan begitu saja." Ucap Ten berusaha membujuk sang anak.

Berakhirlah keempat anggota keluarga itu disini, di sebuah teater yang menampilkan film kesukaan Haechan. Anak kecil itu bahkan sudah mendekap erat-erat popcorn miliknya, katanya meniru apa yang selalu dilakukan sang mama saat menonton drama. Penjuru teater nampak dipenuhi oleh anak-anak seusia Haechan, maklum saja film ini agaknya sudah sangat ditunggu oleh anak-anak di Korea. Keluarga kecil itu baru saja keluar dari teater, Haechan yang berada dalam gendongan Johnny nampak tak henti-hentinya mengoceh menceritakan alur film. Hendery hanya menatap sang adik keheranan pasalnya mulutnya tak berhenti mengoceh sejak tadi persis seperti burung beo yang dipelihara oleh harabeoji mereka.

Nyatanya acara playdate keluarga kecil itu dinikmati dengan baik oleh Ten dan Haechan. Mereka berdua sibuk kesana-kemari sejak tadi. Sedangkan Hendery hanya mengekor dengan malas bersama dengan Johnny yang nampak membawa paper bag berukuran cukup besar. Mood Hendery tiba-tiba saja berubah, ia juga terlihat tak bersemangat hari itu.

"Oppa ayo cepat. Nanti tidak dapat mobilnya…." Ucap Haechan, ia menarik tangan Hendery dan mengajaknya mengantri di arena bumper car yang dipenuhi anak kecil.

"Tidak akan kehabisan Channie, pelan-pelan saja. Aduh…. Jangan lari nanti hilang…." Ucap Hendery, ia mulai kewalahan mengikuti Haechan dengan energinya yang begitu menumpuk malam itu.

Setelah memastikan sang adik duduk di mobil dengan baik, Hendery lantas mulai mengamati Haechan yang nampak senang mengendarai mobilnya. Netra indah Hendery menjelajah ke sekeliling arena permainan, Ten dan Johnny belum juga menampakkan batang hidungnya. Dua orang dewasa itu beberapa menit lalu menepi sejenak ke sebuah toko pakaian, dan karena Haechan yang sudah merengek ingin ke arena permainan akhirnya Johnny meminta Hendery menemani sang adik sampai mereka kembali.

"Oppa!" Teriak Haechan, ia telah selesai dengan bumper car miliknya dan tengah berdiri di hadapan sang kakak.

"Mau itu…." Tunjuk si balita gembul pada toko es krim yang terlihat ramai pengunjung.

"Tunggu mama dan daddy dulu ya, nanti kesana bersama. Channie main yang lain dulu saja." Ucap Hendery, sebenarnya ia bisa saja mengajak Haechan ke toko es krim namun entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya pusing dan butuh duduk lebih lama.

"Oppa…. Sekalang…. Channie mau sekalang…. Ayo oppa…." Ucap anak kecil itu, ia mulai menarik Hendery dan mau tak mau yang lebih dewasa jadi beranjak dari duduknya.

Haechan melonjak kesana kemari saat berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Saat ini kakak beradik itu tengah menuju ke toko pakaian untuk menyusul Ten dan Johnny. Kedua orang dewasa itu nyatanya masih asyik memilih beberapa pakaian di toko yang cukup besar itu.

"Oppa kopi!" Teriak Haechan seraya menunjuk ke arah hidung Hendery. Sontak Ten dan Johnny yang berada di sana pun menoleh dan mendapati hidung anak sulung mereka yang berdarah. Hendery sibuk menyeka darah yang keluar dari hidungnya dan berlalu ke toilet yang berada di toko tersebut. Johnny ikut menyusul sang anak menyisakan Ten yang menatap mereka berdua dengan tatapan khawatir.

"Dery…." Ucap Johnny saat melihat Hendery berdiri di depan wastafel toilet seraya membersihkan hidungnya.

"Kenapa tidak bilang kalau demam?" Ucap Johnny, ia baru saja meraba kening Hendery dan merasakan sensasi panas yang menguar dari sana.

"Tadi tidak begini dad, Dery juga bingung. Ah…. Kapan berhentinya sih…." Ucap Hendery, ia mulai kesal pasalnya darah dari hidungnya tak kunjung berhenti untuk keluar. Johnny pun turun tangan untuk membantu mengelap darah yang mengalir dari hidung sang anak, setelah selesai keluarga kecil itu bergegas meninggalkan mall. Haechan yang masih tak tahu apa yang terjadi tentu saja menurut dan tetap tenang dengan es krim miliknya.

"Mama…. Oppa tidul." Ucap Haechan, ia duduk di baby car seat nya dan menatap Hendery yang bersandar di kursi mobil dan mulai memejamkan mata. Ten memandang Haechan dari cermin mobil dan memberikan isyarat pada anak kecil itu untuk tetap tenang dan jangan mengganggu tidur sang kakak.

Mereka baru saja sampai di rumah. Haechan yang tertidur terpaksa dibawa masuk oleh Johnny dan pria itu bergegas mengganti pakaian si kecil dengan piyama tidur yang nyaman. Sedangkan Hendery yang telah terbangun sejak beberapa menit lalu nampak baru saja keluar dari kamar mandi, ia baru saja berniat bergelung dalam selimut tebalnya saat tiba-tiba saja siluet sang mama terlihat masuk ke dalam kamarnya lengkap dengan stetoskop miliknya.

"Jangan langsung tidur. Sini mama periksa sebentar." Ucap Ten, ia meminta Hendery berbaring dan mulai memeriksa anak sulungnya itu.

"Tadi siang baik-baik saja, sekarang malah demam begini." Kekeh Ten, ia baru saja mengancingi piyama Hendery setelah sebelumnya memeriksa detak jantuk anaknya itu.

"Minum obatnya dulu, setelah itu baru tidur." Ucap Ten, ia membantu Hendery meminum obatnya tak lupa mengecek persediaan obat milik Hendery. Ten nampak berdecak saat mendapati botol obat yang biasa Hendery bawa kemana-mana tinggal tersisa sedikit isinya.

"Kenapa tak bilang pada mama dan daddy kalau sudah mau habis, hum?" Tanya Ten.

"Takut akan diinterogasi ya?" Tanya Ten lagi, ia cukup bisa membaca raut wajah sang anak yang hanya terdiam sejak tadi.

"Dery tidak cerita pada mama kalau sering kambuh." Ucap Ten, ia sibuk mengelus surai hitam Hendery yang masih nampak terdiam sejak tadi.

"Nanti daddy suruh berhenti." Ucap Hendery.

"Siapa bilang. Daddy hanya khawatir, tidak akan sampai seperti itu." ucap Ten.

"Dery merepotkan ya ma?" Tanya anak itu lagi.

"Jangan bicara begitu Hendery, mama tidak suka." Ucap Ten, ia yang memanggil nama lengkap sang anak menandakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

"Dery tidak seperti anak lainnya, daddy juga pasti iri saat melihat teman-temannya olahraga bersama anaknya. Mama juga seharusnya hanya sibuk mengurus Channie tapi malah bertambah karena mengurus Dery yang lemah begini." Ucap Hendery tanpa sadar. Ten dengan manik indahnya yang mulai berkaca-kaca nampak menangkup wajah Hendery, mengelus lembut pipi sang anak dan menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah tampannya.

"Jangan bicara begitu. Mama dan daddy tidak pernah iri dengan kehidupan orang lain, kami bahagia memiliki Dery." Ucap Ten. Tangisnya mulai pecah dan ia memeluk sang anak erat-erat malam itu. Hendery juga nampak membalas pelukan sang mama dengan mata yang berkaca-kaca, sedikit merasa bersalah setelah membuat manik indah itu mengeluarkan lelehan air mata yang tak pernah ingin ia lihat.

"Jangan bicara seolah tak ada hari esok. Dery akan terus disini bersama mama, daddy, dan Channie. Jadi jangan pergi kemana-mana dan tetap disini, bisa?" Ucap Ten lagi. Hendery hanya terdiam, ia tak berniat menjawab dan masih sibuk memeluk Ten erat-erat. Mulutnya amat ingin terbuka dan menjawab dengan penuh keyakinan bahwa ia akan tetap berada disisi keluarganya sampai kapanpun jua, namun ada sesuatu di hatinya yang seolah menahan Hendery untuk mengungkapkan hal tersebut.

Dari balik pintu kamar Hendery, Johnny berdiri dengan tenang, mendengar semua percakapan antara ibu dan anak yang telah berlangsung sejak bermenit-menit yang lalu. Mungkinkah setelah semua upayanya untuk membuat sang anak tetap berada di sisinya, kali ini ia harus mencoba melepaskannya? Tanpa sadar air mata mulai lolos dari manik indah Johnny yang setajam elang. Seolah tak kuat berlama-lama berdiri disana Johnny memutuskan untuk kembali ke kamarnya melewatkan semua obrolan menyakitkan antara ibu dan anak yang masih berlanjut sampai mengantar Hendery memasuki alam mimpinya. Dan jangan lupakan Ten yang ikut terlelap di sampingnya dan memeluk Hendery erat-erat seolah amat takut jika sewaktu-waktu anak itu akan meninggalkannya.