47. Haechan's New Adventure (1)

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa Haechan si balita gembul yang menggemaskan telah memasuki umur lima tahun. Anak kecil itu baru saja mendaftarkan diri di TK, tentu saja bersama dengan Sungchan dan Shotaro. Untuk Hendery, ia telah memasuki tingkat ketiga masa SMA nya, ia mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan terlebih harus menyiapkan diri untuk masuk ke universitas.

Pagi ini Haechan terlihat bersemangat, ia telah mengenakan seragam sekolah dan menggendong tas di punggungnya. Jangan lupakan juga rambutnya yang dikuncir dua menambah kesan imut pada dirinya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah, Ten yang akan mengantarnya sampai TK dan memastikan anak kecil itu dapat beradaptasi dengan baik disana.

"Oppa sama…." Ucap Haechan, ia nampak menunjukkan pakaian yang ia kenakan pada Hendery yang tengah sibuk menikmati sarapannya.

"Hum, kan Channie sudah sekolah." Ucap Hendery. Haechan mengangguk semangat dan kembali menyantap makanannya dengan selai stroberi yang nampak berantakan di sudut bibirnya.

Johnny dan Hendery telah pergi terlebih dahulu, menyisakan Ten dan Haechan yang nampak sudah siap untuk melaju ke sekolah. Di sepanjang perjalanan Haechan nampak menyanyikan lagu kesukaannya, ia terlihat begitu semangat dan antusias terlebih saat Ten mengatakan ia akan menemui banyak teman baru nantinya. Anak itu terlihat makin tak sabar. Berbeda dengan Hendery yang cukup pemalu saat kecil, Haechan sungguh sangat jauh berbeda, anak perempuan itu sangat mudah berbaur dengan orang lain. Bahkan Ten dan Johnny kerap kali mewanti-wanti anak mereka supaya tidak mempercayai orang asing, karena dengan sifat Haechan yang amat terbuka merupakan target empuk bagi para penjahat di luar sana.

"Taro!" Teriak Haechan saat baru turun dari mobil dibantu sang mama. Ia melambaikan tangannya pada Shotaro yang nampak menggenggam tangan Winwin erat-erat

"Taro datang cepat sekali." Ucap Haechan semangat.

"Hum, tadi Taro ke sekolah Nana eonni jadi datang cepat." Ucap anak perempuan bermata sipit itu.

"Iya tadi aku mengantar Nana terlebih dahulu jadi sekalian saja ke TK nya Taro." Ucap Winwin, sedangkan Ten hanya mengangguk menanggapi perkataan temannya itu.

Ten dan Winwin mengantarkan anak mereka ke ruang kelas, tak disangka disana sudah ada Taeyong yang tengah menggenggam erat tangan Sungchan. Anak laki-laki itu nampak ketakutan karena banyak orang asing yang baru ia temui. Dengan berani Haechan menghampiri Sungchan dan menggenggam sebelah tangannya yang bebas. Ia mengajak Sungchan bergabung dengan Shotaro dan yang lainnya. Sungchan nampak menurut dan mengikuti langkah kecil Haechan, setelahnya ia terlihat mulai tenang, duduk di kursinya dengan Haechan dan Shotaro yang ada di sisinya.

"Channie menggemaskan sekali." Ucap Taeyong.

"Hum, seandainya anakku laki-laki, pasti sudah kuminta menikahi Channie." Ucap Winwin tiba-tiba.

"Tidak bisa, Channie sudah aku persiapkan untuk jadi menantuku." Ucap Taeyong tak terima. Kedua wanita itu berdebat di hadapan Ten yang hanya diam menyaksikan anaknya yang dijadikan bahan rebutan.

Setelah memastikan Haechan duduk dengan tenang dan dapat beradaptasi dengan baik di kelasnya, Ten kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Tentunya ia telah berpesan pada Haechan untuk menunggunya datang menjemput dan melarangnya pulang dengan orang lain. Haechan tentu saja menurut, ia menganggukkan kepalanya sampai rambutnya bergerak lucu dan berhasil membuat Ten gemas.

Haechan memulai hari pertama sekolahnya dengan semangat. Ia bahkan terlihat antusias dan beberapa kali menjawab pertanyaan dari guru. Haechan yang menggemaskan dan ramah membuatnya mudah mendapatkan teman, lihat saja baru sehari masuk TK ia sudah dikelilingi dengan murid-murid lain yang nampak ingin berkenalan dengannya. Sudah dipastikan saat besar nanti Haechan akan jadi social butterfly dan jangan salahkan Johnny jika nantinya ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menjaga anak perempuannya itu.

Hari pertama sekolah telah usai, Haechan nampak duduk di bangku panjang yang ada di depan kelasnya seraya menunggu Ten datang menjemputnya. Tak butuh waktu lama sang mama nampak melambaikan tangannya dan berlari kecil menghampiri Haechan. Di perjalan pulang Haechan tak henti-hentinya mengoceh, ia menceritakan semua kejadian di kelasnya pada sang mama dan berhasil membuat Ten tersenyum senang. Saat Hendery baru saja sampai di rumah orang yang pertama kali menghampirinya adalah Haechan, anak kecil itu dengan bangga menceritakan pada sang kakak apa yang telah ia lakukan. Hendery yang nampak kelelahan setelah pulang sekolah hanya mengangguk menanggapi setiap ucapan sang adik sampai berhasil membuat Haechan kesal. Ia merajuk dan menghentakkan kakinya karena merasa tak didengarkan sore itu.

"Oppa! Kan Channie sedang bercerita." Ucap Haechan tak terima, ia nampak menyilangkan tangannya di depan dada dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Oppa mengantuk. Tidur saja yuk." Ucap Hendery, Haechan yang masih merajuk perlahan naik ke kasur sang kakak dan ikut berbaring di sebelahnya. Sontak Hendery terkekeh melihat tingkah sang adik, pasalnya tak lama kemudian Haechan memejamkan matanya lengkap dengan dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Rupanya si kecil juga lelah setelah seharian bercerita pada banyak orang yang ada di rumahnya.

Tak terasa sebulan sudah Haechan menjadi murid TK. Hari ini ia ditugaskan membawa gelas plastik, kapas, dan kacang hijau. Haechan nampak bersemangat menyiapkan semua keperluannya, bahkan ia berhasil menumpahkan persediaan kacang hijau milik sang mama di dapur hanya untuk beberapa butir kacang hijau yang ia butuhkan. Hari ini para murid TK akan belajar menanam pohon dan tumbuhan dengan berbagai media dan Haechan mendapatkan bagian kacang hijau yang akan ditanam dengan media kapas. Haechan menatap dengan seksama semua petunjuk yang gurunya berikan. Setelah dirasa telah melakukan apa yang diperintahkan dengan benar Haechan memamerkan pada sang guru apa yang baru saja ia lakukan. Sang guru terkekeh gemas, pasalnya Haechan memasukkan begitu banyak butir kacang hijau ke dalam gelas sampai bagian kapasnya tertutupi dengan sempurna. Dengan sabar guru cantik itu membenahi hasil tanaman Haechan, dan setelah terlihat lebih rapi Haechan membungkukkan tubuhnya untuk berterima kasih dan meletakkan gelas berisi kacang hijau dan kapas di atas mejanya.

Tanaman kacang hijau yang baru saja ditanam akan dibawa kembali ke sekolah seminggu kemudian. Selama berhari-hari Haechan memastikan kacang hijaunya hidup dengan sehat dan mendapat cukup asupan air seperti yang gurunya jelaskan saat di kelas. Tiba-tiba saja Haechan teringat dengan halmeoni nya yang biasa menyiram tanaman di depan rumah. Dengan ide briliannya Haechan mengambil air minum dan menuangkannya ke gelas berisi kacang hijau miliknya sampai setengah batas gelas tersebut. Seolah bangga dengan apa yang baru saja ia lakukan Haechan nampak tersenyum cerah dan melenggang pergi begitu saja.

Di hari ketiga semuanya masih sama, Haechan masih memantau perkembangan kacang hijaunya. Anak kecil itu bahkan menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan gelas percobaannya dan menatap si kacang hijau dengan pandangan hangat. Saat sore hari Johnny yang baru saja pulang dari kantornya nampak memandang aneh ke arah gelas plastik yang berisi kacang hijau mengambang. Ia pikir itu adalah mainan Haechan karena anak kecil itu kerap kali bereksperimen menggunakan bahan makanan yang ada di rumahnya. Dengan wajah tanpa dosa Johnny membuang kacang hijau itu ke wastafel dapur dan Haechan yang melihat apa yang dilakukan sang ayah lantas berteriak keras, ia mulai menangis dan meratapi nasib kacang hijaunya.

"Hua…. Kacang hijau Channie hiks…. Mama…." Teriak Haechan, ia mulai menangis dan berteriak memanggil sang mama yang tengah sibuk membersihkan diri.

"Dery pul-"

"Hua…. Oppa, kacang hijau Channie dibuang." Ucap Haechan, ia menerjang tubuh tinggi sang kakak dan mulai mengadu pada Hendery. Hendery yang kebingungan lantas menatap lekat pada sang ayah yang dihadiahi gelengan kepala seolah ia tak melakukan kesalahan.

"Channie kenapa? Coba ceritakan pelan-pelan. Kacang hijau apa?" Tanya Hendery, ia membawa Haechan ke ruang keluarga dan memangkunya selagi ia duduk di sofa.

"Chan-channie disuruh tanam kacang hijau, tapi dad-dy buang hua…. Hiks…. Hiks…." Ucap Haechan, ia kembali menangis dan membenamkan wajahnya di dada Hendery.

Johnny yang merasa bersalah lantas mendekat ke arah dua anaknya dan mengambil alih Haechan dari pangkuan Hendery. Haechan tidak menolak namun ia masih menangis kencang, tak rela jika kacang hijaunya yang ia jaga baik-baik malah berakhir dibuang sang ayah di wastafel dapur mereka. Hancur sudah harapan Haechan untuk melihat kacang hijaunya tumbuh dan berkembang.

"Channie kenapa?" Ten yang baru saja selesai mandi terlihat penasaran dengan seluruh anggota keluarganya yang berkumpul di ruang keluarga dengan Haechan yang menangis keras dalam pelukan Johnny.

"Kacang hijaunya dibuang daddy, ma." Ucap Hendery.

"Tidak sengaja." Potong Johnny tak terima, pasalnya semua orang mulai memandangnya seolah ia amat berdosa.

"Yak, Channie menjaganya dengan amat baik. Bagaimana bisa kau membuangnya?" Tanya Ten gemas.

"Aku tidak tahu, lagi pula di gelas itu banyak sekali air, hampir setengahnya. Kukira itu sampah atau semacamnya." Jelas Johnny.

"Hua…. Daddy jahat hiks…. Mama…." Haechan kembali menangis dan mengulurkan tangannya pada sang mama.

Ten bergegas mengambil alih Haechan dari dekapan Johnny dan berusaha menenangkannya. Anak kecil itu masih terus menangis bahkan sampai malam menjelang. Hendery yang sudah mengganti pakaiannya merasa jengah melihat sang adik yang tak kunjung berhenti menangis, bahkan dibujuk dengan ini dan itu tetap tak berpengaruh.

"Channie sudah ya, jangan menangis terus. Besok kita tanam lagi bagaimana?" Tanya Hendery. Ia duduk di sebelah sang mama yang masih sibuk memangku Haechan. Haechan menoleh ke arah sang kakak dengan wajah yang hampir mengenaskan. Mata bulatnya yang biasa berbinar nampak memerah, lengkap dengan lelehan air mata yang membasahi pipi gembulnya.

"Benarkah?" Tanya Haechan pada Hendery.

"Hum, besok pagi kita tanam lagi. Tapi berhenti menangis dulu." Bujuk Hendery. Haechan lantas mengangguk semangat dan mulai menghapus lelehan air matanya. Ten nampak tersenyum teduh, setelah semua upaya yang ia dan Johnny lakukan untuk membuat anak mereka tenang nyatanya malah sang kakak yang berhasil membujuknya. Dan dengan mudahnya Haechan luluh dengan perkataan Hendery, ia mulai berpindah ke pangkuan Hendery dan memeluk leher sang kakak erat-erat malam itu.

"Tidur sama oppa." Ucap Haechan.

"Kajja kita tidur. Bye ma…." Ucap Hendery, ia bergegas naik ke kamarnya dengan Haechan yang berada di punggungnya.

Seolah janji Hendery semalam amat membekas di ingatan Haechan, hari ini anak perempuan itu bangun begitu cepat. Padahal ini adalah akhir pekan, bukankah akan sangat indah jika kita berlama-lama di dalam selimut untuk sekedar mengistirahatkan badan setelah lelah beraktivitas selama berhari-hari.

"Oppa ireonaseyo…." Haechan mulai mengguncang bahu Hendery yang masih nampak tertidur lelap.

"Eugh…." Tak ada jawaban yang berarti, hanya lenguhan yang keluar dari mulut remaja tampan itu.

"Oppa ayo tanam kacang hijau." Bujuk Haechan, bahkan kali ini ia mengguncang bahu Hendery dengan lebih kencang.

"Eugh…. Nanti siang saja Channie, ini masih terlalu pagi." Ucap Hendery, bahkan netra indahnya masih terpejam dan belum berniat untuk terbuka.

"Sekarang oppa…. Ayo bangun…." Ucap Haechan, ia mulai menarik-narik lengan sang kakak dan memintanya untuk segera bangun. Hendery yang pusing mendengar rengekan snag adik mau tak mau beranjak dari tidurnya. Hendery bangkit dan mengikuti kemana tangan kecil Haechan akan membawanya pergi. Saat ini mereka telah berada di dapur, Haechan mulai berlari kesana-kemari mencari dimana sang mama menyimpan kacang hijaunya setelah insiden setoples kacang hijau yang tumpah beberapa hari lalu.

Hendery yang baru saja keluar dari kamar mandi turut membantu sang adik mencari dimana sang mama menyembunyikan kacang hijau. Setelah berlama-lama mencari akhirnya kacang hijau yang mereka butuhkan ditemukan oleh Hendery di rak yang cukup tinggi. Tentu saja itu bentuk antisipasi yang dilakukan oleh Ten supaya insiden beberapa hari lalu tidak terulang kembali.

"Channie mau kemana?" Teriak Hendery saat melihat adiknya kembali naik ke lantai atas.

"Ambil kapas mama." Ucap anak kecil itu polos, setelahnya ia kembali melangkahkan kaki kecilnya menuju ke kamar kedua orang tuanya.

Haechan kembali ke bawah dengan dua lembar kapas di tangannya. Hendery saja tidak tahu bagaimana anak perempuan itu menemukan kapas-kapas milik sang mama yang biasa digunakan untuk mengaplikasikan skincare nya.

"Mama sudah bangun?" Tanya Hendery.

"Belum. Mama masih dipeluk daddy erat sekali, daddy juga tidak pakai baju." Ucap Haechan polos. Hendery membelalakkan matanya mendengar ucapan sang adik. Sepertinya setelah ini ia harus memarahi kedua orang tuanya karena tak mengunci pintu kamar setelah melakukan aktivitas malam mereka.

Tanpa banyak bicara Haechan dan sang kakak mulai kembali menanam kacang hijau di gelas plastic yang entah Haechan dapatkan darimana. Dengan saksama anak perempuan itu melihat apa yang Hendery lakukan. Hampir saja Hendery naik pitam saat Haechan berniat mengguyur tanaman kacang hijaunya dengan segelas air mineral. Pantas saja kemarin Johnny membuangnya, kalau airnya sebanyak itu memang lebih terlihat seperti sampah tak berguna, pikir Hendery.

"Siramnya jangan begitu, begini semprot menggunakan ini. Tapi jangan terlalu basah nanti kacang hijaunya busuk. Channie mengerti?" Ucap Hendery. Dengan sabar ia mengajari sang adik bagaimana cara merawat tanaman kacang hijaunya supaya insiden kemarin tidak terulang kembali.

"Hum…. Channie mau siram lagi." Ucap anak kecil itu, tangan gembulnya berusaha menggapai semprotan yang ada di tangan sang kakak.

"No, pagi ini sudah. Nanti siang Channie yang siram, jangan terlalu sering disiram nanti malah mati." Jelas Hendery. Haechan hanya mengangguk seraya ber oh ria.

"Oppa gomawo…. Channie sayang oppa." Ucap anak kecil itu, ia mulai mengecupi seluruh penjuru wajah sang kakak dan berhasil membuat Hendery kegelian.

"Jadi sudah ditanam lagi kacang hijaunya?" Itu suara Johnny, ia nampak baru saja turun dari lantai dua dan merengkuh pinggang sang istri posesif seolah akan ada yang mengambil miliknya.

"Hum, oppa baik tidak seperti daddy." Ucap Haechan seraya menjulurkan lidahnya pada sang ayah. Ten dan Hendery yang menyaksikan perdebatan ayah dan anak itu hanya terkekeh, ternyata peperangan kemarin masih belum usai, pikir mereka.

"Mama sakit?" Tanya Haechan tiba-tiba. Saat ini keluarga kecil itu nampak tengah berkumpul di meja makan dan menyantap roti bakar yang Ten sajikan. Jangan lupakan wanita cantik itu yang masih menggunakan gaun tidurnya dilengkapi dengan cardigan panjang selutut yang ia gunakan.

"Tidak, mama baik-baik saja." Ucap Ten seraya tersenyum.

"Tapi leher mama merah, mama digigit sesuatu?" Tanya Haechan polos. Detik itu juga aktivitas makan dari seluruh anggota keluarga itu terhenti. Ten menatap tajam ke arah Johnny seraya memegangi lehernya yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa seolah tak melakukan kesalahan. Hendery berusaha mengalihkan perhatian adiknya, dalam hati ia benar-benar mengutuk kedua orang tuanya, bukankah ini masih terlalu pagi untuk membiarkan anak sekecil Haechan melihat noda-noda sisa bercinta kedua orang tuanya.

"Mama digigit gorila." Jelas Hendery membuat Johnny menatap tajam ke arah putra sulungnya.

"Tapi semalam gorilanya tidak masuk ke kamar oppa." Ucap Haechan polos.

"Hum, karena ada Channie. Channie kan pembela kebenaran, jadi gorilanya tak masuk ke kamar kita semalam." Jelas Hendery, entah perkataan macam apa yang baru saja ia ucapkan.

"Kalau begitu besok mama tidur dengan Channie ya, nanti gorillanya datang lagi menyerang mama bagaimana?" Ucap anak kecil itu seraya kembali melanjutkan menyantap roti bakar miliknya. Ten hanya mengangguk padahal dalam hati ia tengah bersusah payah menahan malu dan mengutuk Johnny yang sudah menggagahinya semalam.