48. Haechan's New Adventure (2)

Selama berhari-hari Haechan selalu memantau kacang hijau miliknya. Menyiramnya sesuai instruksi yang Hendery berikan dan memandangnya sampai akhirnya ia tertidur karena kelelahan. Siang ini Haechan yang baru saja pulang sekolah dikejutkan dengan kacang hijaunya yang telah tumbuh cukup tinggi, ia bergegas mengambil gelas plastic tersebut dan memamerkannya pada sang kakak yang berada di kamarnya.

"Oppa sudah tumbuh…." Ucap anak kecil itu semangat.

"Woah hebat, Channie pintar sekali merawatnya." Puji Hendery, ia mulai berjongkok dan mengelus lembut surai panjang sang adik sore itu.

"Mau buat lebih tinggi lagi?" Tawar Hendery, Haechan yang bingung hanya terdiam namun detik berikutnya ia menganggukkan kepalanya semangat mendengar tawaran sang kakak.

"Sini, kita taruh disini supaya terkena sinar matahari." Ucap Hendery, ia mengambil alih gelas plastic dari tangan Haechan dan menaruhnya di sudut jendela besar yang ada di kamarnya.

"Kacang hijaunya akan senang mendapatkan sinar matahari. Mulai besok Channie siramnya disini ya." Jelas Hendery, Haechan mengangguk semangat dan lagi-lagi mengecupi wajah Hendery, sepertinya itu adalah caranya berterima kasih pada sang kakak.

Hari berlalu dengan begitu cepat, tak terasa dua hari sudah tanaman kecil Haechan berada di sudut jendela kamar Hendery. Hari ini anak perempuan itu memekik kegirangan saat mendapati tanaman miliknya tumbuh dengan subur dan lebat. Ia memamerkannya pada semua orang yang ada di rumah, tentu saja semua orang ikut senang melihat senyuman manis yang terukir di wajah cantik Haechan siang itu.

Waktu yang ditunggu Haechan sejak lama akhirnya tiba juga, hari ini adalah waktunya memamerkan tanaman miliknya kepada seluruh murid di sekolah TK. Haechan yang diantar oleh Ten ke sekolah bergegas masuk ke kelasnya, dengan percaya diri ia membawa gelas plastic berisi tanaman kacang hijau di tangan gembulnya. Seluruh atensi murid di kelasnya teralihkan saat Haechan datang. Beberapa murid bahkan sampai membulatkan mulutnya manakala menatap tanaman kacang hijau Haechan yang tumbuh amat lebat sekalipun hanya di gelas plastic yang berukuran kecil.

"Woah punya Channie lebat sekali…." Itu suara Shotaro, anak perempuan imut berkuncir dua itu nampak kagum melihat tanaman milik Haechan, begitupun Sungchan ia nampak menatap lekat ke arah tanaman milik Haechan seolah-olah tanaman itu akan kabur jika ia melepaskan pandangannya. Haechan yang dipuji-puji oleh teman sekelasnya tentu saja tersenyum bangga pagi itu.

Murid yang paling pandai merawat tanaman akan mendapatkan bintang, begitulah peraturan yang dikatakan sang guru saat memulai kegiatan menanam seminggu yang lalu. Sebenarnya semua peserta akan mendapatkan bintang supaya adil bagi anak-anak namun yang paling bagus hasilnya akan mendapatkan bintang besar yang bisa dibawa pulang. Dan hari ini Haechan amat senang karena ia dan beberapa temannya berhasil membawa pulang bintang besar ke rumah mereka, dalam hati Haechan sudah berniat menunjukkan bintangnya pada sang kakak sebagai orang yang paling berkontribusi dalam penanaman kacang hijaunya.

Siang ini Haechan dijemput oleh Ten, tak seperti hari-hari sebelumnya sang mama nampak tergesa-gesa hari ini. Ia bahkan membawa mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sesampainya di rumah dan setelah menurunkan Haechan dari mobilnya, sang mama bergegas menggandeng tangan Haechan dan membawanya masuk ke dalam. Yang didapati anak kecil itu adalah Hendery yang tengah meremas dadanya kuat-kuat dalam dekapan sang ayah. Haechan ikut panik, anak kecil itu bahkan menjatuhkan bintang besarnya dan berpindah ke samping sang kakak dan menggenggam tangannya erat-erat.

"Dad- se- sak-" Hendery yang baru saja menelan obatnya nampak masih merasa kesulitan hanya untuk mengambil nafas.

"John bawa dia ke kamar." Ucap Ten, dengan cepat Johnny menggendong tubuh ringkih sang putra dan membawanya ke lantai atas. Disusul oleh Ten yang masih tak menyadari jika Haechan ikut berlari di sampingnya.

Setelah membaringkan Hendery di kasurnya Ten bergegas memasangkan masker oksigen ke wajah sang anak yang nampak kesulitan hanya untuk sekedar menggapai udara. Sejak beberapa bulan lalu tabung oksigen lengkap dengan maskernya memang sudah berdiri kokoh di penjuru kamar Hendery, untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat seperti sekarang ini. Dan nyatanya tabung itu cukup sering bekerja sesuai dengan fungsinya, walaupun amat pahit bagi semua orang yang ada disana namun mau bagaimana lagi, bukankah itu salah satu kenyataan yang harus mereka terima.

Perlahan Ten mengelus lembut dada Hendery yang bergerak naik turun dengan teratur, nafas remaja itu juga mulai terdengar sedikit membaik sekalipun masih agak berat. Ten melepas satu persatu kancing kemeja Hendery dan mulai mendengar detak jantungnya. Jadi remaja tampan itu sempat masuk ke ruang kesehatan di pertengahan jam pelajarannya karena pusing yang tiba-tiba saja menyerang dan Johnny yang mengetahui kabar tersebut dari Mark bergegas menjemput sang anak dan membawanya pulang. Saat di rumah malah terjadi hal yang tak terduga dan yang amat tak Johnny suka. Melihat Hendery yang merintih kesakitan adalah hal yang paling ia benci sejauh ini.

Ten menyingkap rambut Hendery yang terlihat basah oleh keringat. Remaja itu sudah sepenuhnya terpejam, ia tertidur setelah meminum obatnya beberapa menit lalu. Samar-sama Ten mendengar suara tangisan anak kecil, saat ia menoleh ternyata Haechan ada di dekatnya tengah mengelus lembut punggung tangan sang kakak yang nampak damai dalam tidurnya.

"Channie…. Kenapa disini?" Tanya Ten, ia membawa sang anak dalam pangkuannya dan mengelus lembut surai hitamnya.

"Oppa sakit hiks…. hiks…." Tangis anak kecil itu, ia mulai membenamkan wajahnya ke dada sang mama dan menangis disana.

"Channie mau sama oppa." Ucap anak kecil itu.

"Ganti baju dulu ya, setelah itu makan siang baru nanti temani oppa." Bujuk Ten. Haechan hanya menggeleng dan kembali membenamkan wajahnya ke dada sang mama.

Ten berhasil membujuk Haechan, anak perempuan itu nampak baru saja selesai menyantap makan siangnya. Kaki kecilnya bergegas melangkah ke kamar sang kakak dengan boneka beruang yang ada di tangannya. Ia perlahan naik ke kasur Hendery dan ikut berbaring disana seraya menyentuh lembut tangan sang kakak yang matanya masih nampak terpejam. Tak butuh waktu lama netra bulat Haechan ikut terpejam dengan tangan yang memeluk tubuh sang kakak dari samping.

Ten tengah merapikan tas Haechan yang tergeletak di ruang keluarga, jangan lupakan juga bintang besar yang Haechan bawa lengkap dengan tulisan di baliknya. Disitu dikatakan "si anak baik" karena berhasil menjaga tanamannya selama seminggu. Ten tersenyum teduh, kejadian beberapa menit lalu pasti amat mengejutkan untuk Haechan, terlebih saat harus melihat Hendery yang merintih kesakitan di depan matanya sendiri. Ten jelas masih ingat bagaimana semangatnya Haechan bercerita di sepanjang perjalanan pulang tentang ia yang akan memamerkan bintangnya pada Hendery namun nyatanya saat sampai di rumah malah anak kecil itu disuguhkan dengan pemandangan yang amat mengganggu matanya.

Hendery terbangun dari tidurnya setelah sekian lama, yang ia dapati pertama kali adalah masker oksigen yang membelenggu wajahnya. Perlahan ia melepas benda tersebut dan berniat bangkit dari tidurnya. Namun tangan kecil Haechan nampak menghalanginya. Hendery tersenyum teduh kala melihat sang adik yang memeluknya dengan erat seolah sang kakak akan menghilang jika tak ia genggam. Tak lama kemudian Haechan membuka mata indahnya, ia bergegas bangkit kala melihat siapa yang ada di hadapannya. Sang kakak yang sepenuhnya terlihat lebih baik dari sebelumnya.

"Oppa sudah tidak sakit lagi?" Tanya Haechan seraya menyentuh dada Hendery. Yang ditanya hanya menggeleng dan sibuk merapikan surai hitam sang adik yang berantakan karena baru saja terbangun dari tidurnya.

"Channie takut lihat oppa kesakitan." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang melengkung ke bawah.

"Oppa janji jangan seperti tadi lagi?" Sambung anak kecil itu. Hendery hanya mengangguk dan memeluk Haechan erat-erat, bukankah perkataan sang adik terdengar seperti sebuah janji yang amat sulit untuk ia tepati.

Hendery yang terlihat lebih baik dari sebelumnya terlihat bergabung untuk makan malam bersama anggota keluarganya. Jangan lupakan Johnny yang menatapnya lekat sejak tadi seolah tak akan melepaskannya, jujur saja bulu kuduknya sedikit merinding mendapati sang ayah menatapnya demikian.

"Dad, Dery tidak akan hilang. Berhenti menatap seperti itu." Rengek Hendery, Ten yang berada di samping sang suami nampak terkekeh, pasalnya ia cukup sadar jika sejak tadi Johnny menatap Hendery seperti akan menerkamnya bulat-bulat.

"Setelah ini tidak ada begadang, ayolah Dery bisa dengarkan omongan daddy kan. Tidak perlu seperti itu hanya untuk persiapan ujian." Ucap Johnny, akhirnya pria dewasa itu membuka mulutnya dan berucap panjang lebar. Benar apa yang dikatakan Johnny, sejak beberapa hari lalu Hendery kerap kali tidur larut malam hanya untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Kesibukannya bahkan kian padat mengingat sebentar lagi memasuki ujian tengah semester yang lebih mirip seperti pertempuran daripada sebuah ujian. Oleh karenanya Hendery mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengulang pelajaran tiap malam dan hari ini ia melewati batasnya, ksatria itu akhirnya tumbang juga bahkan sebelum memasuki medan perang.

"Terdengar jelas kan Hendery Seo?" Ucap Johnny, pasalnya sang anak hanya terdiam dan tak berniat membalas ucapan sang ayah.

"Iya dad." Ucap Hendery pada akhirnya.

Johnny yang telah selesai dengan makan malamnya bergegas masuk ke ruang kerjanya meninggalkan Ten dan Hendery yang masih menyantap makanannya. Untuk Haechan, anak kecil itu sudah melesat ke ruang keluarga dan menonton kartun kesukaannya. Ten mendekat pada sang anak dan duduk di sebelah Hendery, ia mengelus lembut bahu sempit sang putra dan merangkulnya dengan sayang.

"Daddy tidak marah, hanya khawatir." Ucap Ten.

"Tidak ada salahnya belajar, yang penting Dery harus tetap jaga kesehatan. Bahkan daddy hampir menangis saat menggendong Dery ke kamar siang tadi." Jelas Ten. Ia jelas mengingat bagaimana netra Johnny yang setajam elang tampak berkaca-kaca saat mendapati sang anak merintih kesakitan. Jadi dibalik sifat tegasnya Johnny tetap memiliki sisi lembut, apalagi untuk Hendery yang benar-benar ia jaga sejak remaja itu masih mungil dan merah. Bukan salah seorang ayah kan jika ia amat takut kehilangan putra yang dicintainya.

Malam ini Haechan kembali tidur dengan sang kakak. Sebelum tidur ia menyempatkan diri untuk memperlihatkan bintang yang ia dapatkan. Anak kecil itu menceritakan apa yang terjadi di kelasnya dengan amat menggebu seolah tak membiarkan sang kakak melewatkan detail sekecil apapun.

"Tapi Channie jangan sombong sama teman-teman kalau sudah jadi hebat." Ucap Hendery pada sang adik.

"Hum, Channie janji akan jadi anak baik, seperti oppa baik pada Channie." Ucap Haechan, ia mendaratkan kecupannya di pipi sang kakak dan tersenyum cerah sebelum mereka berdua benar-benar masuk ke alam mimpi.

Sore ini Hendery yang merasa amat kelaparan setelah pulang sekolah bergegas memasuki dapur dan menyantap sereal miliknya. Saat melewati ruang keluarga ia jelas melihat kedua orang tuanya yang tengah bersandar mesra dan tengah menikmati tontonan televisi yang tersaji di hadapan mereka.

"Hua…. Oppa, daddy makan bibir mama. Hua…." Itu suara Haechan, anak kecil itu berteriak seraya berlari menyusul sang kakak yang ada di dapur.

"Hiks…. Oppa ayo tolong mama. Daddy sedang memakan mama." Ucap anak kecil itu seraya menangis. Hendery hampir saja tersedak sereal miliknya manakala mendengar perkataan sang adik.

"Tidak ada yang dimakan, sudah ya jangan menangis lagi." Ucap Hendery seraya membawa sang adik dalam pangkuannya.

Di sisi lain ruang keluarga sepasang suami istri nampak masih terengah-engah setelah melepaskan pagutan bibir mereka. Setelah memastikan mendapatkan udara yang ia butuhkan Ten menatap tajam ke arah Johnny, detik berikutnya ia menghujam tubuh besar sang suami dengan bantal sofa. Menyalahkan Johnny karena pria tinggi itu amat tak bisa mengendalikan nafsunya. Bahkan tanpa sadar si pria tinggi membuka beberapa kancing kemeja sang istri saat mereka tengah berciuman entah apa maksudnya.

"Kan sudah kubilang tunggu saja nanti di kamar, kau membuat Channie menangis lagi Johnny…." Ucap Ten kesal.

"Tapi kau menikmatinya kan?" Ucap Johnny menggoda sang istri.

"Sudah ah jangan mendekat, aku mau menemui putri kecilku. Kau…. Jangan beranjak sebelum membereskan semua kekacauan ini." Ucap Ten seraya menunjuk ke arah sang suami. Jadi mau tak mau Johnny merapikan ruang keluarga yang nampak sedikit berantakan, dan jangan lupakan bantal sofa yang menyebar di segala penjuru ruangan. Mungkin nanti malam waktu yang tepat untuk membalas dendam, pikir Johnny.

"Hua…. Daddy nakal…." Teriakan Haechan membuyarkan semua angan-angan indah yang Johnny buat. Sepertinya ia harus membatalkan kunjungannya dan membiarkan polisi kecil itu tidur di tengah-tengah mereka.