49. Limit

Ujian kelulusan telah usai, akhirnya Hendery, Mark, Xiaojun, dan San bukal lagi murid SMA, mereka telah siap memulai kehidupan baru dan menjadi orang yang lebih dewasa. Jika hari kelulusan dinikmati dengan menyenangkan oleh sebagian murid namun tidak untuk Hendery, pemuda kurus itu nampak tengah berada di rumah sakit. Semalam rasanya seperti malam terberat yang pernah ia lalui sepanjang hidupnya, jantungnya terasa benar-benar berhenti berdetak yang menyisakan rasa amat menyakitkan bagai menyentuh api neraka.

Hari ini pun Hendery hanya bisa berbaring karena kondisinya yang masih cukup lemas, Johnny berada di sampingnya dan setia menemaninya sejak semalam. Sedikit merasa tak enak, mengingat kemarin Johnny baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan perjalanan bisnisnya berhari-hari lamanya. Seharusnya Johnny disambut oleh canda tawa dari keluarga kecilnya malah disambut oleh Hendery yang merintih kesakitan malam itu.

"Sudah bangun?" Tanya Johnny saat mendapati anaknya telah membuka mata setelah tertidur cukup lama.

"Daddy tidak pulang?" Tanya Hendery lirih.

"Kenapa harus pulang?" Tanya Johnny seraya mengelus pucuk kepala sang anak, ia tersenyum teduh pagi itu namun gurat lelah yang terpancar di wajah tampannya jelas terlihat dan tak bisa disembunyikan.

Tak butuh waktu lama Chanyeol datang dengan beberapa perawat untuk memeriksa kondisi pasiennya. Dokter tampan itu nampak tersenyum teduh dan mengacak lembut surai hitam Hendery sekalipun tahu jika remaja tampan itu amat membenci hal tersebut.

"Jangan terlalu lelah. Ujiannya telah selesai kan, kurasa tidak ada lagi yang harus dipikirkan." Ucap Chanyeol pada Hendery.

"Samchon menyebalkan sekali." Ucap Hendery, pasalnya dokter yang menanganinya sejak lama itu memang kerap kali menjadikannya bahan candaan.

"Bisa ikut aku?" Tanya Chanyeol pada Johnny. Pria tinggi itu lantas mengangguk dan mengikuti langkah besar Chanyeol setelah sebelumnya mengecup lembut kening sang anak.

Lagi-lagi Johnny berhadapan dengan hal yang paling ia benci, duduk di hadapan Chanyeol dengan dokter tampan itu yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol tersenyum sekilas ia kembali mengingat awal mula pertemuannya dengan Hendery beberapa tahun silam.

"Sudah lama ya." Ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Begitulah, apa hyung sudah bosan?" Tanya Johnny.

"Tidak." Jawab Chanyeol singkat.

Kali ini ada satu kenyataan pahit yang akan Chanyeol sampaikan. Sebenarnya amat berat mengatakan hal yang demikian pada Johnny yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, namun tak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan.

"Aku benar-benar tak suka mengatakan ini tapi aku harus mengatakannya padamu, soal Dery. Ventrikel kanannya ikut melemah. Singkatnya seperti ini, VAD membantu tugas ventrikel kiri Dery yang sudah rusak agar tetap dapat memompa darah, hal itu mungkin memberikan tekanan pada ventrikel kanan untuk memompa darah dalam jumlah yang sama. Lama-kelamaan ventrikel kanan akan melemah dan tak sanggup mengimbangi kemampuan memompa darah yang dimiliki VAD. Dan itu yang terjadi pada jantung Dery saat ini." Jelas Chanyeol seraya menunjuk alat peraga jantung yang ada di ruangannya.

Johnny hanya diam, ia berusaha sebaik mungkin mencerna semua perkataan Chanyeol yang ada di hadapannya. Seandainya Ten ikut bersamanya mungkin saat ini akan terasa lebih mudah, pikir pria tinggi itu.

"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Johnny setelah terdiam cukup lama.

"Kita butuh jantung baru." Ucap Chanyeol dalam satu tarikan nafas. Johnny yang menunduk lantas mendongak, sepertinya sampai sini ia amat paham akan kondisi sang anak.

"Aku akan memasukkan Dery ke daftar penerima donor jantung di KONOS, tapi aku tak bisa menjamin namanya akan masuk di posisi teratas karena banyak pasien dengan kondisi yang lebih gawat di rumah sakit ini." Jelas Chanyeol.

"Hyung mau anakku mati?" Tanya Johnny tajam.

"Kita bisa gunakan cara lain John, bukan berarti anakmu akan berumur pendek." Ucap Chanyeol.

"Aku akan meresepkan obat-obatan untuk meningkatkan fungsi ventrikel kanan Dery dan mungkin kita akan lakukan pemasangan RVAD sampai Dery mendapatkan jantung barunya." Ucap Chanyeol lagi.

"Apa itu akan menjamin Dery bertahan?" Tanya Johnny.

"Keputusannya untuk bertahan atau tidak ada pada dirinya sendiri, nyatanya jika aku dan kau sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Dery tak berniat bertahan untuk apa? Kau harus selalu memantaunya, pastikan ia tidak tertekan. Kondisinya sekarang jelas jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Stress sedikit saja akan mudah membuatnya terguncang." Jelas Chanyeol.

Setelah menghabiskan waktu cukup panjang di ruangan Chanyeol, Johnny bergegas keluar. Tepat saat ia membuka pintu sosok cantik sang istri yang mengenakan snelli putih telah berdiri disana. Sepertinya Ten baru akan masuk ke ruangan Chanyeol tepat saat Johnny berniat keluar.

"Sudah selesai?" Tanya Ten lembut. Tanpa menjawab pria tinggi itu menggenggam erat jemari lentik sang istri dan menjauh dari sana.

Ten memutuskan untuk mengajak Johnny ke taman rumah sakit. Taman yang sama yang amat sering Hendery kunjungi beberapa tahun silam. Johnny hanya terdiam, pria itu mulai berkutat dengan pikirannya sendiri. Semua perkataan Chanyeol seolah berputar kembali di otaknya bagaikan kaset rusak yang tak bisa dihentikan. Ten yang paham akan Johnny yang gusar lantas menggenggam erat tangan besar sang suami, mengelusnya lembut sampai akhirnya netra indah keduanya saling bertemu pandangan.

"Dery-" Lirih Johnny.

"Aku tahu, tak perlu kau jelaskan aku mengerti apa yang terjadi." Jelas Ten. Ia membawa bahu kokoh Johnny dalam pelukannya dan berharap apa yang ia lakukan akan mengurangi sedikit beban yang tengah dipikul oleh suaminya.

Kenyataan jika Ten adalah seorang dokter sama seperti Chanyeol adalah hal yang paling dibenci oleh wanita cantik itu saat ini. Ten mampu menangkap semua penjelasan dokter tinggi itu dengan mudah. Tentang semua hal yang terjadi pada anaknya, dan seberapa buruk kondisinya. Bahkan saat ini Ten amat benci mengetahui fakta-fakta baru yang menurutnya amat menyakitkan.

"Apa aku gagal?" Tanya Johnny tiba-tiba.

"Tidak, kau bertahan sejauh ini untuk Dery adalah hal yang hebat dan kau adalah hal terbaik yang Dery punya." Jelas Ten, ia amat mengerti hati suaminya yang gusar. Tanpa perlu penjelasan lebih jauh Ten jelas amat paham tentang bagaimana perjuangan yang telah Johnny lakukan hanya untuk membuat Hendery bertahan. Membuat remaja tampan itu berada di dekat mereka tanpa membenci keadaan yang ada.

"Kau boleh menangis jika kau mau, aku ada untukmu John. Kita bisa membagi kesedihan berdua jika kau lupa." Ucap Ten, detik itu juga air mata berhasil menerobos dinding pertahanan yang telah Johnny buat. Tangisan mulai terdengar dari sana, tangisan pilu tentang seorang ayah yang amat risau tentang nasib buah hatinya. Untuk kali ini biarkan Johnny terlihat sedikit lemah, toh ia akan kembali berubah saat bertemu dengan sang anak, kembali membangun dinding yang amat tebal dan kokok seolah tak terjadi apa-apa.

Setelah puas saling bercerita di tengah hamparan taman yang indah, sepasang suami istri itu kembali menemui anak mereka. Tepat saat mereka membuka pintu pemandangan yang mereka dapati adalah Hendery yang tengah duduk di ranjangnya dan menghadap ke jendela, melihat hamparan bunga yang mulai bermekaran dihiasi dengan burung-burung yang nampak berterbangan kesana kemari. Ten lantas mendekat ke arah sang anak dan duduk di sebelahnya. Kedatangan Ten yang menurutnya agak tiba-tiba cukup membuat sang anak terkejut dan menoleh padanya.

"Mama…." Ucap Hendery.

"Serius sekali, memangnya ada apa di luar?" Tanya Ten.

"Tidak ada, hanya bunga dan burung." Jelas Hendery. Ten nampak mengangguk dan mengelus lembut punggung tangan Hendery yang nampak dihiasi jarum infus.

"Channie dengan siapa?" Tanya remaja tampan itu.

"Dengan halmeoni dan harabeoji, pasti dia sedang sibuk memakan pudding sekarang." Balas Ten seraya terkekeh.

"Tapi pudding buatan halmeoni memang yang terbaik." Sambung Hendery, ia kembali mengingat peristiwa beberapa tahun lalu saat ia dan halmeoni kesayangannya menghabiskan waktu untuk membuat puding bersama. Ten hanya tersenyum teduh dan kembali mengelus lembut punggung tangan sang anak, berusaha memberikan kenyamanan disana sekalipun nyatanya hatinya tengah gundah gulana.

Saat sore hari dan Ten telah selesai memeriksa pasiennya, ia menyempatkan diri untuk kembali ke ruang rawat sang anak. Hendery nampak tengah sendirian karena Johnny tengah pulang ke rumah untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat sebentar setelah paksaan dari Hendery pada ayahnya. Ten tersenyum saat mendapati anaknya yang tengah kebosanan, bagaimana tidak ia hanya seorang diri di ruang rawatnya yang cukup besar tanpa ponsel atau benda lain yang bisa menemaninya.

"Ayo makan…. Mama sudah belikan makanan enak untuk Dery." Ucap Ten semangat, ia nampak menunjukkan mandu yang ia beli beberapa menit lalu ke hadapan sang anak.

Sepasang ibu dan anak itu mulai menikmati makanan mereka, bahkan mereka sesekali saling bicara dan tertawa karena lelucon yang Ten ciptakan. Merasa perutnya sudah penuh karena beberapa potong mandu akhirnya Hendery meletakkan sumpitnya dan membiarkan Ten kembali melanjutkan kegiatannya.

"Ma…." Panggilnya tiba-tiba.

"Mama dan daddy tidak lelah?" Sambung remaja tampan itu. Mendengar perkataan sang anak Ten sontak menurunkan sumpitnya dan memandang lekat wajah pucat dihadapannya.

"Kenapa harus lelah?" Tanya Ten, ia berusaha bersikap senormal mungkin dan menyembunyikan suaranya yang mulai bergetar.

"Dery membuat daddy dan mama lelah kan?" Tanya anak itu lagi.

"Tidak. Sama sekali tidak." Ucap Ten tegas.

"Jantung rusak ini tak bisa bertahan lama kan ma?" Tanyanya lagi, seolah tak memperdulikan perkataan sang mama. Kali ini Ten hanya diam, ia tak tahu harus bersikap seperti apa menyingkapi perkataan anaknya. Diamnya sang mama jelas memberikan jawaban untuk Hendery, ia menghela nafas cukup panjang dan kembali berucap. Bahkan apa yang Hendery ucapkan kali ini cukup membuat benteng pertahanan yang telah Ten bangun runtuh seketika lengkap dengan bulir bening yang mengalir dari manik indahnya.

"Boleh menyerah sekarang, ma?" Ucap Hendery.

"No, mama mohon jangan menyerah sekarang. Kita berjuang bersama lagi, bisa? Dery mau kan?" Ucap Ten, ia bangkit dari duduknya dan memeluk Hendery erat-erat bahkan air mata Ten ikut membasahi pakaian yang dikenakan sang anak. Ia amat mengerti jika sang anak begitu lelah dengan apa yang ia jalani sepanjang hidupnya, namun Ten tak akan membiarkan sang anak menyerah, jika bertahan selama Sembilan tahun lamanya bisa Hendery lakukan, bukankah itu artinya hal yang mudah untuk menambah beberapa tahun kedepan.

Setelahnya tak ada lagi pembicaraan, baik Ten dan Hendery sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Ten tersadar jika sang anak telah terlelap, Ten kembali mendekat, mengecup pucuk kepalanya dan mengelus wajahnya dengan sayang. Ten tersenyum sekilas, mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Hendery beberapa tahun silam, jika diingat kembali itu bukanlah satu pertemuan yang indah namun dari pertemuan itulah semua keindahan dalam hidupnya tercipta.

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa Hendery telah menghabiskan waktu berminggu-minggu di rumah sakit. Pagi ini ia nampak tengah menonton video siaran berita menggunakan ponsel miliknya.

"Sejumlah remaja korea nampak antusias mengikuti CSAT, bahkan diantara mereka sampai menyewa penginapan untuk fokus belajar demi dapat masuk ke universitas impian mereka-"

Kira-kira begitulah bunyi berita yang tengah ditonton Hendery sejak tadi. Pagi ini Korea memang tengah heboh dengan CSAT yang akan dimulai dalam beberapa menit ke depan. Bicara soal CSAT, Hendery teringat pada tiga sahabatnya yang beberapa hari kebelakang seolah tengah menyiapkan pertempuran. Mark dan San yang menyewa penginapan supaya mereka fokus belajar, atau Xiaojun yang sama sekali tak keluar kamar supaya konsentrasi belajarnya tak terpecah. Selama beberapa minggu ini ketiga orang itu belum mengunjungi Hendery, mereka hanya saling berhubungan lewat panggilan video, itupun tidak sering, hanya sekitar dua kali mereka lakukan. Hendery tersenyum miring impiannya untuk ikut CSAT di tahun ini benar-benar sirna, mungkin ia akan berpartisipasi di tahun berikutnya, ya jika ia masih bernafas tentunya.

Johnny datang ke ruang rawat Hendery, ia membawa Haechan yang merengek sejak kemarin ingin menemui sang kakak. Begitu sampai di ambang pintu, anak TK itu meneriakkan namanya dan berlari menerjang tubuh kurus Hendery yang tengah terduduk di ranjang.

"Oppa bogoshipoyo…." Ucap Haechan.

"Jinjja? Oppa juga merindukan Channie." Balas Hendery.

"Apa ini sakit?" Tanya anak kecil itu seraya menunjuk ke arah jarum infus yang masih menempel di tangan Hendery.

"Tidak." Jawab Hendery singkat.

"Cup…. Ini supaya tidak sakit, Channie sayang oppa." Ucap anak kecil itu, ia mengecup tangan Hendery dan mengelusnya dengan lembut seperti yang biasa Ten lakukan. Johnny yang melihatnya dari kejauhan hanya terkekeh, melihat bagaimana Haechan amat menyayangi Hendery nyatanya semakin membuatnya gundah, entah bagaimana jadinya jika Hendery benar-benar pergi meninggalkan mereka, pikir pria tinggi itu.

Haechan mengeluarkan banyak hal dari tas yang ia bawa dan dari semua benda yang dibawa anak kecil itu ada satu hal yang menarik perhatian Hendery. Stempel dinosaurus yang nampak tak asing untuk Hendery sekarang berada di tangan adiknya.

"Channie dapat ini dari mana?" Tanya Hendery.

"Dari Taro, Taro bilang ini dari Xiaojun eonni." Ucap Haechan dengan semangat.

Hendery tersenyum sekilas, apa mungkin sosok dibalik semua kertas yang selalu menempel di lokernya adalah Xiaojun, tapi kenapa harus perempuan itu dari sekian banyak orang di sekolahnya. Mungkinkah Xiaojun menyukainya lebih dari sekedar sahabat, mengingat betapa manis kata-kata yang selalu Hendery temukan tertempel di lokernya.

Hari-hari terus berlalu sejak kunjungan Haechan ke rumah sakit. Sepertinya anak kecil itu harus sering berada di dekat sang kakak mengingat betapa banyak energi positif yang berhasil ia berikan pada Hendery. Hari ini Hendery tengah menunggu kedatangan ketiga sahabatnya yang akhirnya mengunjunginya. Hendery nampak telah rapi dengan pakaian rawatnya yang dilapisi dengan sweater berwarna biru yang sempat Ten bawakan dari rumah beberapa jam yang lalu.

Hendery tersenyum saat pintu ruang rawatnya terbuka, disana San nampak menyembulkan kepalanya seraya menunjukkan apa yang ia bawa. Bukannya bergegas menemui Hendery, remaja tinggi itu malah berbaring di sofa yang tersedia dan membuat Mark yang berada tak jauh darinya berdecak keheranan.

"Jadi bagaimana? Sudah lebih baik?" Tanya Mark.

"Hum, begitulah. Kupikir kalian bertiga sudah botak karena CSAT." Kekeh Hendery.

"Mungkin belum, tapi hampir." Kekeh San. Berbeda dengan San dan Mark yang banyak bicara, Xiaojun nampak terdiam hari itu, dan hal itu jelas mengusik Hendery mengingat sosok sahabat perempuannya itu merupakan orang yang paling banyak bicara diantara mereka berempat dan tiba-tiba saja hari ini terdiam seribu bahasa.

"Bisa membawaku ke taman?" Ucap Hendery pada teman-temannya.

"No, aku tak mau ambil resiko, kau tahu kan daddy mu seperti apa." Ucap Mark di sela-sela kegiatannya menikmati bubble tea yang sempat ia beli.

"Ayolah, aku bosan disini." Bujuk Hendery.

"Mark, coba kau hubungi Ten imo. Kasian juga teman kita yang satu ini." Ucap San, mau tak mau Mark menuruti perkataan San dan bergegas menghubungi Ten. Tak butuh waktu lama izin berhasil dikantongi para remaja itu dan mereka bergegas membawa Hendery ke taman.

Mereka berempat duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke kebun bunga yang indah. San nampak ternganga, ia seolah tak percaya jika ada kebun bunga yang seindah ini di rumah sakit yang kerap kali ia datangi. Pantas saja sahabatnya itu merengek sejak tadi, pikirnya. Mark yang merasa cuaca cukup mendukung berinisiatif membeli makanan untuk mereka nikmati bersama. Mark dan San bergegas ke cafetaria rumah sakit untuk membeli beberapa makanan meninggalkan Xiaojun dan Hendery di kursi taman.

"Jun-"

"Dery-"

"Kau duluan saja…." Ucap Hendery entah mengapa suasana berubah menjadi canggung tiba-tiba setelah kepergian Mark dan San.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Xiaojun.

"Seperti yang kau lihat, aku masih bernafas." Balas Hendery seraya bercanda.

"Aku serius Dery, aku benar-benar mengkhawatirkanmu." Ucap Xiaojun.

"Aku juga serius." Kekeh Hendery.

Setelahnya mereka hanya terdiam, tak ada lagi yang berniat bicara satu-sama lain sampai akhirnya Hendery mengeluarkan ponsel dari saku sweaternya dan menunjukkan sesuatu yang berhasil membuat Xiaojun terkesiap.

"Dinosaurus itu kau kan?" Tanya Hendery. Xiaojun hanya diam, ia tak mampu menjawab pertanyaan Hendery, seolah seperti pencuri yang baru saja tertangkap basah.

"Kau menyukaiku?" Tanya Hendery lagi. Xiaojun masih terdiam, ia mulai sibuk memandangi sepatu putihnya yang nampak kontras dengan rerumputan yang tengah ia pijak.

"Jangan menyukaiku Jun, aku hanya akan memberimu luka." Ucap Hendery.

"Apa maksudmu?" Tanya Xiaojun, ia seolah tak terima dengan semua perkataan sahabatnya itu.

"Hidupku memiliki batas waktu Jun, aku tak mau air matamu itu terbuang sia-sia." Ucap Hendery.

"Apa maksudmu, jangan bicara seolah kau tak akan bisa melihat hari esok Hendery Seo." Ucap Xiaojun dengan suaranya yang sarat akan amarah.

"Kau pasti bisa bertahan, jangan menyerah sampai disini." Ucap Xiaojun, kali ini ia terdengar lebih tenang sekalipun suaranya terdengar sedikit parau dibandingkan sebelumnya. Tak ada jawaban dari lawan bicaranya, Xiaojun pun hanya sibuk menatap ke arah rerumputan, sampai akhirnya tubuh Hendery tiba-tiba saja terkulai lemas di sampingnya. Seolah dipaksa bangun dari lamunannya Xiaojun langsung tergerak, ia panik bukan main saat mendapati wajah sahabatnya yang pucat pasi dan tengah memegangi dada kirinya.

"Dery…. Bisa mendengarku…." Tanya Xiaojun, ia mengguncang sedikit bahu sempit Hendery kala netra indah pemuda itu hampir terpejam.

"Jun- sa- kit-" Lirih Hendery, dengan jelas Xiaojun dapat melihat bulir air mata yang lolos dari ekor mata sahabatnya itu, seolah menjelaskan sesakit apa rasa nyeri yang menghujam dadanya.

"San…. Dery!" Xiaojun hampir berteriak kala mendapati San yang berjalan ke arah mereka berdua dengan makanan di tangannya. Dengan bantuan Mark, San membawa Hendery di punggungnya, dari belakang sana ia mendengar dengan jelas semua rintihan kesakitan yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Secepat kilat San berlari dan setelah berhasil membaringkan Hendery di ranjang miliknya Mark bergegas menekan tombol emergency dengan brutal terlebih kala mendengar jerit perih dari setiap rintihan yang Hendery ucapkan dan bagaimana pemuda kurus itu mencengkram seprai putihnya erat-erat, seolah menyalurkan semua rasa sakitnya.

Tak butuh waktu lama Chanyeol dan beberapa perawat mengerubungi tubuh kurus Hendery. Ketiga sahabat itu dipaksa menyingkir sejenak, San nampak berusaha menenangkan Xiaojun yang tengah menangis dan Mark nampak memainkan ponselnya dengan jari yang bergetar hebat demi menghubungi Ten.

Hendery yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri nyatanya membuat Chanyeol dan para perawat semakin panik, dengan gerakan cepat seorang perawat memasangkan elektroda di dada Hendery dan dapat terlihat dengan jelas dari monitor bagaimana detak jantungnya yang lemah bahkan hampir tak terlihat. Seorang perawat sibuk melakukan CPR dan berkali-kali menengok ke arah monitor yang berada di dekat mereka.

"Detak jantungnya lemah dokter, hampir flatline. Detakannya lemah sekali." Ucap seorang perawat yang tengah melakukan CPR pada dada Hendery.

"Atropine, suntikan atropine!" Perintah Chanyeol, dengan sigap seorang perawat lain menyuntikkan atropine melalui infus Hendery kala Chanyeol mengambil alih CPR.

"Pasien tidak bisa bernafas, dokter. Darah di VAD nya tersumbat. Kita harus kembali membuka dadanya untuk melakukan pengecekan." Ucap seorang dokter lain yang sejak tadi menemani Chanyeol.

"Kita tak punya waktu untuk itu, siapkan defibrillator cepat!" Perintah Chanyeol, bahkan sadar atau tidak dokter itu sedikit berteriak saat ini. Ruangan VIP itu terasa semakin mencekam bahkan San sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari para tim medis yang tengah sibuk menyelamatkan nyawa sahabatnya itu.

"Charging to 150 joule."

"Clear."

"Shock."

"Tidak ada perubahan, dokter."

"Charging to 200 joule."

"Clear."

"Shock."

"Tetap tidak berubah."

"Lagi, charging to 200."

"Clear."

"Shock."

Tittt…. Tittt…. Tit….

Bunyi monitor yang menenangkan berhasil membuat para tim medis bernafas lega. Chanyeol menyeka keringat yang membasahi kening pasiennya, menatapnya dengan sayang seolah mengatakan terima kasih karena sudah bertahan. Tak hanya para tim medis yang berhasil bernafas lega, ketiga sahabat yang berada disana juga melakukan hal yang sama. San menunduk karena tangisan yang tak dapat dibendung dan jangan lupakan Mark yang sampai menjatuhkan ponselnya saking senangnya. Tepat setelah tindakan selesai dan beberapa perawat berhamburan keluar Ten nampak membuka pintu ruang rawat sang anak dengan tergesa-gesa, ia bergegas mendekati Hendery yang nampak tertidur lelap dengan Chanyeol yang ada di sampingnya. Setelahnya wanita itu menangis kala mendapati Hendery yang masih bertahan untuk mereka.

"Kita harus bicara Ten." Ucap Chanyeol.

"Bisa tunggu sampai Johnny datang." Ucap Ten lirih, ia nampak tengah duduk di kursi seraya mengelus lembut wajah sang anak yang nampak pucat lengkap dengan masker oksigen yang membelenggu wajah tampannya.

"Aku akan kemari lagi nanti." Ucap Chanyeol pada akhirnya, dokter tampan itu undur diri dan memutuskan untuk keluar dari sana, membiarkan Ten menenangkan diri sejenak setelah rentetan peristiwa panjang yang baru saja terjadi pada sang anak.

Xiaojun masih terus terdiam, ia kembali mengingat perkataan Hendery beberapa menit lalu saat mereka tengah berdua. Tentang hidup sahabatnya yang memiliki batas dan tak mengizinkan Xiaojun mencintainya. Xiaojun menggelengkan kepalanya, berusaha menyangkal semua perkataan Hendery beberapa menit lalu. Bukankah Tuhan akan memberikan kebahagiaan bagi orang yang berjuang, jadi tidak bisakah Tuhan memberikan kebahagiaan pada Hendery yang juga telah berjuang sampai sejauh ini?