50. The Only Hope
Ten menangis dalam dekapan Johnny malam itu, setelah sebelumnya sempat berbincang dengan Chanyeol, akhirnya malam ini dilakukan pemasangan RVAD di jantung Hendery demi menunjang hidup remaja tampan itu sebelum datangnya jantung baru. Johnny berusaha menenangkan Ten yang amat terguncang, ia berulang kali menyalahkan dirinya sendiri setelah kejadian detak jantung Hendery yang hampir flatline siang tadi.
"Bukan salahmu, sudah jangan menangis lagi." Ucap Johnny, ia mengecup pucuk kepala sang istri dan menghapus air mata yang mengalir dari manik indah Ten dengan ibu jarinya.
Setelah tangis Ten mereda keduanya hanya terdiam, tak ada yang bicara. Hanya saling menggenggam tangan satu sama lain dan berusaha menyalurkan kekuatan seraya sesekali merapalkan doa demi keselamatan orang yang dicintainya. Jika sebelumnya Tuhan sudah amat baik pada keluarga kecil mereka, bisakah kali ini Tuhan juga melakukan yang sama.
Setelah berjam-jam menyala, akhirnya lampu ruang operasi yang menjadi perhatian Ten dan Johnny padam juga. Tak lama Chanyeol nampak keluar dari sana. Gurat lelah jelas terpancar dari wajah dokter tampan itu dan jangan lupakan pula peluh yang membasahi keningnya. Bukankah itu telah menggambarkan jika pertempuran yang baru saja ia lalui cukup berat.
"Operasinya berhasil, Dery akan dipantau di ruang ICCU sampai kondisinya stabil. Setelah itu kita akan lihat perkembangan jantungnya dan memastikan tubuhnya tak menolak RVAD yang tertanam di jantungnya." Jelas Chanyeol. Baik Ten dan Johnny hanya mengangguk, setelahnya mereka membungkuk sedikit di hadapan dokter tinggi itu yang dibalas Chanyeol dengan senyuman hangat sebelum pamit undur diri dari pasangan suami istri yang ada di hadapannya.
Ten dan Johnny menatap Hendery yang terbaring lemah di ranjangnya dengan banyak alat yang menempel pada tubuhnya. Jangan lupakan pula ventilator yang membelenggu wajah tampannya untuk memastikan remaja itu tetap bernafas. Johnny hanya terdiam, ia nampak memejamkan matanya saat kilasan peristiwa yang amat memilukan kembali terulang dalam hidupnya. Disampingnya Ten nampak kembali berderai air mata, bahu sempitnya bergetar sebagai tanda akan tangisnya yang kian deras. Johnny merengkuh bahu wanita yang dicintainya dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang, seraya berdoa semoga kedepannya hal-hal yang membentang akan indah untuk mereka.
Ten dan Johnny benar-benar membagi waktunya sebaik mungkin untuk Hendery yang tengah terbaring di rumah sakit dan Haechan yang terus menanyakan keberadaan sang kakak. Bocah kecil itu kerap kali menangis saat Ten menjelaskan padanya jika untuk sementara waktu ia tak bisa menemui sang kakak, terlebih saat melihat Hendery yang masih belum tersadar hingga sekarang. Jika dihitung ini sudah hari keempat sejak pemasangan RVAD di jantungnya dan remaja tampan itu belum berniat membuka matanya. Dua hari lalu ia bahkan sempat membuat gempar ICCU saat tiba-tiba saja mengalami henti nafas. Ten yang saat itu tengah berada di rumah sakit hanya bisa menangis berusaha menggapai sang anak manakala para perawat berusaha menenangkannya.
Hari ini kondisi remaja tampan itu kian membaik dan terlihat sudah stabil, Chanyeol memutuskan untuk memindahkannya ke ruang rawat biasa meskipun alat-alat penunjang medis masih digunakan untuk menopang hidupnya. Ten dan Johnny tersenyum kala mendapati anak mereka yang baru saja memasuki ruang perawatan. Ten membungkuk sekilas pada para perawat yang telah membawa Hendery masuk ke ruang rawatnya, setelahnya ia bergegas mendekati sang anak yang masih terpejam dan mengelus lembut keningnya, meninggalkan Johnny yang tengah berbincang dengan Chanyeol di depan ruang rawat sang anak.
Ten mengelap tubuh Hendery dengan kain basah, membersihkan setiap penjuru yang dapat ia lihat dan kembali mengelus lembut tangannya. Ia menggenggam tangan Hendery dan kembali meminta pada remaja tampan itu untuk terbangun dari tidur panjangnya. Seolah Hendery mendengar semua perkataan Ten, jemari yang sejak tadi Ten genggam mulai bergerak. Ten yang terkejut lantas menekan tombol emergency dan segera mengabari Johnny yang tengah berada di cafeteria.
"Ma…." Lirih Hendery setelah berhasil membuka matanya.
"Mama disini." Ucap Ten, seraya mengecup kening sang anak.
Tak butuh waktu lama Chanyeol terlihat memasuki ruang rawat pasiennya. Ia bergegas memeriksa Hendery dan senyuman indah terukir sempurna di wajah tampannya kala mendapati kondisi pasiennya yang terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"You are such a great fighter." Ucap Chanyeol seraya mengelus kening Hendery, tak ada jawaban yang ia dapatkan. Hanya senyum seulas yang diberikan oleh Hendery pada sang dokter, senyum seulas yang bahkan hampir tak terlihat dari balik masker oksigennya.
Johnny baru saja datang dengan segelas kopi di tangannya. Nafasnya nampak terengah seolah baru saja lari berkilo-kilo jauhnya. Pria itu lantas mendekati sang anak mengecup keningnya, dan membisikkan kata terima kasih ke telinga Hendery sampai netra tajam itu mengeluarkan air mata.
"Don't cry, dad." Bisik Hendery lirih. Nyatanya Johnny tak peduli lagi biarkanlah kali ini Hendery melihatnya menangis, lagipula tangisannya amat bahagia, bukan lagi tangis kesedihan seperti yang biasa ia sembunyikan. Ten tersenyum melihat pemandangan di hadapannya ia jelas paham dengan apa yang Johnny rasakan. Setelah mengikuti rentetan perjalan panjang ayah dan anak itu Ten jadi paham, tentang bagaimana perjuangan mereka berdua. Tentang Johnny yang berusaha keras agar anaknya tetap berada di sisinya atau tentang Hendery yang berusaha bertahan semampunya.
Waktu berlalu begitu cepat. Kondisi Hendery terlihat makin baik dari hari kehari. Hari ini Johnny yang menemaninya, mereka berdua baru saja melakukan panggilan video dengan Haechan yang nampak merajuk karena ditinggal sang ayah ke rumah sakit. Saat ini Johnny nampak tengah menyuapi Hendery makanan, jika diingat kembali sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menyuapi Hendery.
"Apa memimpin perusahaan menyenangkan?" Tanya Hendery tiba-tiba.
"Tertarik?" Tanya Johnny seraya tersenyum teduh.
"Hum, tidak tahu. Mungkin bisa dicoba, bukankah daddy akan mengajarkannya." Kekeh Hendery.
"Tentu saja." Jawab Johnny yakin.
"Dad, Dery rindu mama." Ucap Hendery.
"Mama selalu disini tidak kemana-mana." Balas Johnny, ia belum mengerti arah pembicaraan sang anak hari itu.
"Bukan mama Ten, Dery rindu mama Irene." Ucap Hendrey lirih, jika diingat lagi memang sudah sangat lama mereka berdua tak mengunjungi makam Irene.
"Apa Dery sudah boleh bertemu mama?" Tanya anak itu tiba-tiba. Johnny yang semula terdiam lantas menatap lekat ke netra bulat anaknya.
"Boleh, tapi tidak sekarang." Jelas Johnny, ia bahkan tengah mati-matian menahan air matanya.
"Dery lelah dad." Ucap Hendery.
"Bertahan sebentar lagi ya, untuk daddy. Kita berjuang lagi." Jelas Johnny, ia mulai menggenggam tangan sang anak yang ada di hadapannya.
"Daddy tahu kan tak semua perjuangan berbuah keberhasilan?" Ucap Hendery, lidah Johnny seolah kelu. Tak ada lagi yang bisa diucapkan untuk membalas perkataan sang anak. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan ruang rawat sang anak sampai akhirnya sentuhan dari tangan Hendery kembali menahannya.
"Terima kasih dad." Ucap remaja tampan itu. Johnny tak dapat lagi membendung tangisnya, ia lantas memeluk Hendery erat hingga aroma khas dari tubuh sang anak menyambangi penciumannya. Hendery hanya diam, ia berdiam cukup lama sampai akhirnya mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan sang ayah. Mengelus lembut pundak kokoh yang biasanya selalu dijadikan tempat bersandar. Ayah dan anak itu terdiam cukup lama sampai akhirnya Ten menginterupsi kegiatan mereka. Johnny yang terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba nampak menyeka air matanya, seolah tak membiarkan Ten tahu tentang apa yang baru saja ayah dan anak itu lakukan.
Siang itu Johnny memutuskan untuk kembali ke rumah mereka meninggalkan Ten yang menjaga Hendery untuk sementara. Sesampainya di rumah pria tinggi itu menyambangi halaman belakang rumahnya yang dihiasi dengan kursi panjang tempat keluarga kecil mereka biasa berkumpul tiap akhir pekan. Johnny merogoh sakunya, mengambil sebatang rokok yang kerap kali ia konsumsi hanya untuk sekedar melepas penat. Tak butuh waktu lama kepulan asap mulai bersatu dengan segarnya udara dari halaman belakang rumah mereka. Johnny kembali terdiam, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka kembali folder yang telah lama tak dibuka. Foto-foto yang mengingatkan kembali tentang masa lalunya, tak banyak memang karena sebagian telah dihapus sebelum ia memulai kehidupan barunya. Johnny memandangi salah satu foto Irene yang nampak tersenyum cerah, senyuman yang sama yang dulunya selalu berhasil menenangkan hati Johnny yang gundah.
"Kau sudah begitu merindukan anak kita sampai ingin membawanya pergi?" Monolog Johnny seraya memandangi foto Irene.
Kilasan balik masa lalu kembali terbayang di pikiran Johnny, tentang bagaimana ia merawat Hendery sejak masih merah dan mungil hingga sebesar sekarang. Tentang betapa senangnya ia saat Hendery berhasil memanggilnya "daddy" untuk pertama kalinya, atau tentang betapa bahagianya ia saat Hendery berjalan untuk pertama kalinya dan menyambutnya yang lelah bekerja. Semua kebahagiaan itu nyatanya hanya sementara, Tuhan tak selamanya memberikan keindahan pada kehidupannya. Banyak badai yang sempat menyambangi kehidupannya, satu-persatu berhasil Johnny lalui sekalipun banyak rintangan yang menerjang. Dan apakah ia harus menyerah untuk badai yang kali ini kembali datang? Haruskah ia mundur di tengah peperangan.
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri Johnny nampak menginjak puntung rokok yang masih tersisa setengahnya. Ponselnya tiba-tiba saja bergetar, Ten nampak menghubunginya. Dari seberang sana ia dapat mendengar dengan jelas suara Ten yang bergetar dan sarat akan kepanikan, juga jangan lupakan suara berisik yang menjadi latar dari panggilan telepon mereka. Tanpa pikir panjang Johnny kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan pengemudi lain yang berteriak marah padanya.
Johnny berlari di sepanjang lorong rumah sakit untuk mencapai ruang rawat Hendery, yang pertama kali ia lihat adalah Jaehyun bersama Taeyong dan Mark yang tengah duduk di depan ruang rawat sang anak. Mark nampak menangis dengan Taeyong yang berusaha menenangkannya.
"John…. Dokter sedang menanganinya." Ucap Jaehyun, ia berusaha menahan tubuh besar Johnny yang hendak menerobos masuk ke ruang rawat Hendery yang tertutup rapat.
"Kau pikir aku harus diam saja saat anakku sekarat di dalam sana, Jung Jaehyun!" Ucap Johnny, ia bahkan berteriak sampai urat lehernya terlihat jelas, dengan sekali hentakan ia berhasil membuat Jaehyun menyingkir dari hadapannya dan berakhir menerobos pintu ruang rawat sang anak.
Dari tempatnya berdiri Johnny dapat melihat dengan jelas Hendery yang merintih kesakitan dengan tangannya yang menggenggam tangan Ten erat-erat. Ten yang berada di sebelahnya bahkan tak dapat lagi membendung tangisnya. Johnny mendekat ke arah ranjang rawat Hendery dan terlihat jelas bulir air mata mulai meluncur bebas dari manik indah anaknya, menggambarkan sesakit apa nyeri yang ia rasakan.
"Detak jantungnya amat cepat, dokter!"
"Pasien mengalami SVT."
"Bertahan untuk mama Dery…." Lirih Ten tepat di telinga anaknya dengan derai air mata yang membasahi pipinya di tengah suara monitor pendeteksi jantung Hendery yang kian berisik.
"Kita perlu menghentikan jantungnya."
"Kau gila!" Ucap Johnny bahkan ia mulai mencengkram kerah snelli putih yang Chanyeol gunakan.
"Hanya selama beberapa detik, John. Ini akan membantu mesin di jantung Dery bergerak seperti semula, namun sebelum itu kita perlu menghentikannya terlebih dahulu." Jelas Chanyeol di tengah situasi yang semakin bergemuruh.
"Detak jantungnya bertambah cepat."
"Siapkan adenosine." Tak butuh waktu lama vial kecil itu mendarat di tangan Chanyeol, dokter tinggi itu mulai memindahkan isi vial ke dalam suntikannya dan mendekati infus Hendery dan bersiap menyuntikkan cairan tersebut disana.
"Pegang Dery sekuat apapun yang kau bisa, ini akan terasa sangat menyakitkan." Sontak Johnny maju dan mengambil alih posisi Ten, membiarkan wanita itu memandang dari kejauhan.
"Daddy disini, jangan takut…." Bisik Johnny tepat di telinga Hendery, anak itu jelas mengangguk sebagai respon atas ucapan sang ayah dan itu berhasil memberikan sedikit ketenangan di hati Johnny.
Saat cairan itu memasuki tubuh Hendery, Johnny berani bersumpah jika ia ikut menangis. Cengkeraman Hendery kian menguat bersamaan dengan rintihan yang kian terdengar dari balik ventilator yang membelenggu wajahnya. Remaja itu bahkan mulai menangis deras dengan tubuh yang berontak hebat untuk menolak. Tak ada yang bisa Johnny lakukan, ia hanya bisa memegang sang anak sekuat tenaga sesuai dengan apa yang Chanyeol perintahkan sekalipun lelehan air mata mulai membuat pandangannya buram.
Tak butuh waktu lama bunyi flatline yang mereka benci datang, tangis Ten bahkan terdengar kian keras menyatu dengan kebisingan di ruang VIP itu. Johnny benar-benar gusar, ia berulang kali berbisik di telinga Hendery memintanya untuk kembali, dalam hati ia juga ikut menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai bunyi flatline itu berubah.
Titttt…. Tiittt…. Tittt….
Tepat di detik kelima monitor itu kembali menghasilkan bunyi yang menenangkan membuat Ten dan Johnny sama-sama terjatuh lemas. Setelah semua perjalanan panjang yang mereka lalui nyatanya Tuhan masih memberikan mereka kesempatan.
"Detak jantung normal, dokter."
Chanyeol kembali menghela nafas, ini pertempuran kesekian yang berhasil ia lalui dengan pasiennya. Ia tersenyum teduh saat mendapati pasiennya kembali memenangkan pertempuran setelah banyaknya medan berat yang ia lalui beberapa menit lalu.
"Aku menyesal mengatakan ini, tapi tubuh Dery menolak VAD yang terpasang di jantungnya. Jika begini maka jantung Dery akan ikut melemah. Kita benar-benar membutuhkan jantung baru untuknya." Jelas Chanyeol.
"Aku akan segera menghubungi KONOS dan kuharap akan ada kabar baik untuk Dery." Ucap Chanyeol, setelahnya ia pamit undur diri dari ruangan Hendery. Meninggalkan sepasang suami istri yang saling berpelukan untuk sekedar berbagi kesedihan. Dalam hati Johnny berharap jika memang apa yang dikatakan Chanyeol adalah harapan terakhir mereka, maka bisakan Tuhan kembali membuat semuanya berakhir indah seperti biasanya.
