51. The Last Hope
Pernah dengar ungkapan setelah kesulitan akan ada kemudahan, mungkin itulah yang tengah dirasakan Johnny dan keluarga kecilnya. Setelah banyak badai kesulitan yang mereka lalui bersama nyatanya hari ini secercah harapan kembali menghampiri mereka. Kemarin Chanyeol si dokter tampan mengabarkan jika ada pasien yang mengalami mati otak di rumah sakit mereka. Entah kebetulan atau tidak ternyata nama pasien tersebut terdaftar di KONOS sebagai pendonor organ dan Hendery berkesempatan menjadi salah satu penerima organ milik sang pasien yang berhati mulia.
Kabar tentang Hendery yang akan mendapatkan jantung baru disambut baik oleh ketiga sahabatnya. Mereka kerap kali mengunjungi Hendery atau sekedar berbincang lewat panggilan video. Seperti hari ini keempat remaja itu nampak tengah berkumpul di ruang rawat Hendery. Ten yang melihat Hendery tersenyum cerah juga ikut tersenyum pagi itu, setidaknya pemandangan di hadapannya jauh lebih indah dibandingkan beberapa hari lalu yang membuatnya menangis meraung-raung.
"Kurasa aku akan Wajib militer jika tak diterima di universitas manapun." Ucap San seraya menyantap jeruk yang baru saja ia kupas. Wajah remaja tinggi itu terlihat amat frustasi dan begitu tegang kala mengingat tentang hasil tes CSAT yang akan diumumkan dalam beberapa jam kedepan.
"Ternyata San-ku pejantan sejati." Kekeh Mark.
"Yak, jaga ucapanmu Jung Minhyung." Kesal San. Xiaojun nampak tertawa kala mendengar perdebatan kedua temannya.
"Kau bagaimana? Sudah merasa jauh lebih baik?" Tanya San.
"Hum, cukup baik." Jawab Hendery singkat.
"Bagaimana dengan jantung barunya?" Tanya Xiaojun.
"Masih dilakukan tes untuk memastikan kecocokannya." Jelas Hendery.
"Aku yakin cocok 1000% pasti cocok." Ucap Mark percaya diri, Hendery hanya tersenyum simpul kala mendengar kekehan teman-temannya. Nyatanya ia juga berharap demikian, tapi tetap saja banyak pikiran buruk yang menyangkut di otaknya.
Sore ini Hendery hanya seorang diri di kamarnya karena ketiga sahabatnya telah pulang ke rumah serta kedua orang tuanya tengah menemui Chanyeol dan berbincang tentang operasi besar yang akan segera dilakukan. Beberapa jam lalu hasil tes kecocokan baru saja mereka terima dan tentunya hasilnya amat baik, jantung tersebut cocok untuk anak mereka. Hendery lantas memainkan ponselnya untuk sekedar mengisi kebosanan. Tiba-tiba saja rasa nyeri kembali menghujam dadanya, rasa yang biasa ia rasakan namun terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya. Sekuat tenaga remaja itu mencoba bangkit dan menjangkau tombol emergency yang ada di samping ranjangnya. Dengan nafas tersengal dan rintihan yang terdengar kian menyakitkan Hendery mengulurkan tangannya, namun tepat saat tombol merah itu berhasil ditekan ia juga ikut ditelan oleh kegelapan, masuk kedalam lingkaran hitam hampa dan tanpa ruang, yang jelas ia sendirian disana.
Tombol itu mengarah langsung ke stasiun perawat yang berada tak jauh dari ruang rawat Hendery. Chanyeol yang baru saja keluar dari ruangannya bersama sepasang suami istri yang nampak berbinar lantas mengikuti langkah besar para perawat yang menyerobot masuk ke ruangan Hendery. Ten dan Johnny jelas ketakutan, Johnny ikut berlari meninggalkan Ten yang nampak hanya terpaku di tempatnya. Sampai di depan ruang perawatan pintu itu telah tertutup rapat, Ten menghampiri Johnny yang terlihat amat gusar dan duduk di kursi yang ada disana. Sejujurnya Ten amat takut, perkataan Hendery beberapa hari lalu kembali berputar di otaknya, mungkinkah anak itu sudah benar-benar menyerah saat mereka hampir mencapai kemenangan.
Di dalam ruang VIP itu seorang perawat tengah berusaha menekan dada Hendery, memberikan CPR dan berharap adanya secercah harapan yang amat mereka nantikan. Chanyeol nampak menyuntikkan obat di infus pasiennya namun tak kunjung ada perubahan yang ia dapatkan. Detak jantung pasiennya amat lemah bahkan hampir menghilang, CPR dan hujaman di dada dari defibrillator nyatanya tak selamanya membuahkan hasil yang memuaskan.
Titttt…
Sampai akhirnya bunyi panjang itu menyadarkan mereka semua, menyadarkan seorang perawat yang tengah melakukan CPR nya atau menyadarkan Chanyeol yang telah siap dengan defibrillator di tangannya. Ksatria mereka telah benar-benar pergi, pergi dengan damai saat hampir mencapai kemenangannya.
Chanyeol terdiam, ia masih terpaku di tempatnya. Setelah bertahun-tahun pertarungan yang mereka berdua lakukan nyatanya mereka harus berpisah saat hampir mencapai kemenangan. Sentuhan lembut di bahu Chanyeol dari seorang perawat berhasil menyadarkannya, tentang apa yang seharusnya ia lakukan Selanjutnya.
"Tetapkan waktu kematiannya, dokter."
"Hendery Seo, 18 tahun, waktu kematian xxxxxxx"
Chanyeol melangkah keluar bersama beberapa perawat, begitu tiba di ambang pintu ia disambut oleh sepasang suami istri yang terlihat amat gusar dengan air mata yang nampak menggenang di pelupuk mata mereka. Tanpa perlu banyak bicara Johnny telah mengerti apa yang terjadi, ia lantas masuk ke dalam ruang rawat sang anak. Yang ia dapati adalah Hendery yang nampak damai dalam tidurnya dan tak berniat membuka matanya, nyatanya mata itu benar-benar telah tertutup sempurna, netra indah berbinar yang selalu Johnny lihat telah benar-benar menghilang.
Johnny terdiam meratapi tubuh pucat sang anak, ia berlutut dan berusaha menggapai Hendery dengan kedua tangannya. Pria itu menangis deras, ia sadar jika sang putra benar-benar merindukan mamanya dan tak sanggup menahan rindunya lebih lama. Ten nampak menangis kencang, ia bahkan memarahi Chanyeol dan beberapa kali meminta pada dokter tampan tersebut untuk menyelamatkan anaknya. Seolah masih ada secercah harapan dari kesedihan yang mereka rasakan.
"Sunbae-nim, selamatkan Dery." Tangis Ten seraya memukul dada bidang Chanyeol. Dokter tinggi itu hanya terdiam, ia tak punya pilihan lain selain menenangkan juniornya, memeluknya erat-erat sekalipun wanita mungil itu memberontak.
Siang itu ruang VIP yang biasa diisi dengan kecerian harus diisi dengan kesedihan dengan banyaknya derai air mata yang harus tumpah setelah kepergian ksatria kesayangan mereka.
"Mark, ayo bersiap…."
Mark nampak bingung mendengar perkataan sang ibu, seingatnya hari ini keluarga mereka tak memiliki janji temu dengan seseorang. Mark menatap keheranan pada sang ibu yang nampak mengeluarkan setelan jas formal dari dalam lemarinya, jika dilihat lebih teliti lagi nampak jelas jika netra indah itu tampak memerah dengan air mata yang nampak masih menggenang di pelupuk matanya.
"Eomma, ada apa. Kita harus bertemu siapa." Ucap Mark, ia menahan tangan Taeyong yang tengah mengacak lemarinya.
"Mark, Dery- Dery- sudah pergi." Ucap wanita itu seraya menyentuh lembut bahu sang anak. Mark lantas menghempaskan tangan ibunya, ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terucap dari mulut wanita yang melahirkannya itu. Ia jatuh terduduk di kasurnya dengan air mata yang mulai menggenang.
"Mark baru bertemu dengan Dery, tidak mungkin kan Dery pergi secepat ini." Ucap Mark tak percaya. Taeyong lantas duduk disebelah sang anak dan membawanya dalam dekapannya.
"Dery benar-benar pergi Mark…." Ucap Taeyong, ia kembali menangis saat mendengar sang anak yang menangis deras.
"Eomma…." Lirih Mark dalam tangisannya, tangisan yang terdengar amat memilukan sore itu.
"Hyung menangis." Ucap Jeno pada sang ayah, mereka berdua telah rapi dengan setelannya dan tengah berdiri di depan pintu kamar Mark.
"Hum, hyung kehilangan teman terbaiknya." Lirih Jaehyun dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimanapun juga Hendery bukan orang lain dalam keluarganya, jadi jangan salahkan dia bila kesedihan ikut menjalar di hatinya.
Sore itu nyatanya bukan hanya Mark yang ikut terguncang, San dan Xiaojun merasakan hal yang sama. San bahkan menangis keras sampai sang ayah ikut turun tangan untuk menenangkannya, sedangkan Xiaojun, remaja perempuan itu lebih pandai menutupi perasaannya. Ia hanya diam, bahkan di sepanjang perjalanan ke tempat penghormatan terakhir ia tetap diam. Winwin tahu jika putri cantiknya amat terguncang mendengar kabar duka sore itu, kabar duka yang tak pernah mereka kira akan menghampiri mereka.
"Menangislah Jun jangan ditahan, mama disini." Ucap Winwin, ia memeluk sang anak dan mengusap lembut bahu sempitnya. Detik itu juga tangisan Xiaojun pecah, tangisan memilukan itu bahkan berhasil membuat Jaemin dan Yuta yang duduk di kursi depan ikut menangis bersamanya.
Tempat penghormatan terakhir Hendery telah dipenuhi banyak pelayat mengingat betapa luas relasi yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Karangan buka nampak berjejer rapi di depan ruangan sampai membuat siapapun yang melihatnya muak. Johnny hanya terdiam, ia nampak telah mengenakan setelan hitam miliknya sore itu, matanya tampak memerah karena terlalu lelah menangis beberapa jam kebelakang. Ia memandangi wajah tampan sang putra yang terbingkai indah di tengah bunga-bunga yang ada di hadapannya. Mungkin setelah semua perjuangan yang telah mereka lakukan berdua, saat ini adalah hari yang tepat untuk berpisah. Dan Johnny berani menjamin jika sang anak telah bahagia, terlebih dengan adanya sang mama yang menyambutnya disana.
Berbeda dengan Johnny yang hanya terdiam, Ten nampak belum lelah menangis. Ia mati-matian menahan tangisnya sore itu. Berusaha tegar di hadapan puluhan pelayat, namun nyatanya ia tak bisa. Benteng pertahanannya runtuh jua dengan derai air mata yang ikut membanjiri pipinya.
Ketiga remaja itu kini berdiri di hadapan pigura sahabatnya, ketiganya sama-sama menangis. Seolah tak percaya dengan apa yang tengah mereka lihat. Setelah melakukan penghormatan terakhir pada Hendery dan berusaha menenangkan Ten dan Johnny tiba-tiba saja ponsel mereka bertiga bergetar. Sebuah pesan masuk berisi hasil pengumuman CSAT yang mereka tunggu sejak lama. Ketiganya berhasil, jika sebelumnya mereka menduga akan melonjak kegirangan saat diterima di universitas yang mereka inginkan nyatanya mereka malah melakukan hal sebaliknya. Ketiga remaja itu saling berpelukan dan mulai menangis deras, bukankah dunia terlalu kejam jika membuat mereka merasakan kebahagiaan saat orang lain tengah merasakan kesedihan.
Para pelayat sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu. Haechan si anak kecil nampak duduk dengan pakaiannya serba hitam, ia diapit oleh Jeno dan Jaemin yang menemaninya bermain sejak tadi. Haechan masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi, ia tak tahu kenapa semua orang menangis, ia juga tak tahu kenapa kakek dan neneknya mengajaknya kemari beberapa jam yang lalu. Satu hal yang membuat anak kecil itu mengerti, tentang sang mama yang tak berhenti menangis dalam pelukan neneknya atau sang ayah yang hanya terdiam tanpa mampu berkata-kata.
"Oppa pergi…." Lirih anak kecil itu. Jeno dan Jaemin menoleh dan terkejut kala mendapati Haechan yang mulai menangis. Anak kecil itu lantas berlari ke ruang penghormatan terakhir dimana kedua orang tuanya berada. Jeno yang berusaha mengejarnya nyatanya kalah dengan langkah anak perempuan itu yang jauh lebih cepat.
"Oppa pergi, ma. Oppa tinggalkan Channie…." Lirih anak kecil itu, ia mulai menangis kencang dan memeluk kaki sang mama, Ten tak mampu berucap ia ikut menangis dan membawa Haechan dalam pelukannya.
Tangisan Haechan yang amat keras berhasil menyadarkan Johnny dari lamunan panjangnya. Ia lantas mengambil alih sang anak dan membawanya dalam dekapannya. Setelah berjam-jam menahan air matanya, akhirnya pertahanannya kembali runtuh kala mendapati putri bungsunya menangis dalam dekapannya.
"Oppa jahat…. Oppa bilang tak akan tinggalkan Channie, daddy." Tangis anak kecil itu. Semua orang yang tersisa di sana ikut menangis mendengar perkataan Haechan, tentang betapa sedihnya ia setelah kehilangan kakak yang amat dicintainya.
Prosesi pemakaman yang amat menyakitkan bagi semua orang telah usai. Johnny dan keluarganya telah tiba di rumah dengan guci berisi abu Hendery yang berada di tangan mereka. Pria tinggi itu lantas berjalan ke lantai atas dan mengurung diri dalam kamar sang anak. Ten yang membawa Haechan yang terlelap dalam gendongannya hanya terdiam. Ia amat paham dengan apa yang suaminya rasakan, jika ditanya siapa yang merasa paling kehilangan atas kepergian Hendery yang tiba-tiba, maka Johnny lah orangnya. Pria itu jelas amat terluka karena tangan yang biasanya dapat dijangkau dengan bebas nyatanya sekarang berubah menjadi bayangan semu yang tak bisa ia gapai selamanya.
Some souls are too beautiful for this world….
And so they leave.
THE END
