1. Kejutan Tak Terduga

Seoul, 2021

"Tanganku ada dua, jarinya lima lima, ayo angkat bersama, mari kita berdoa."

"Adik-adik sebelum makan kita berdoa terlebih dahulu ya."

Seorang wanita cantik terlihat bersemangat saat memimpin sejumlah anak kecil yang hendak menyantap bekal makan siangnya masing-masing. Anak-anak kecil tersebut terlihat antusias dan mengikuti perintah yang diberikan sang wanita cantik seraya mengangguk semangat. Senyum cerah terpatri di wajah menawan sang wanita cantik bersamaan dengan mata sipitnya yang membentuk bulan sabit.

"Ten ssaem, aku tidak bisa buka kotak bekalku…" Seorang anak kecil dikepang dua terlihat sedikit berteriak untuk memanggil si wanita cantik. Ten sang guru cantik bergegas menghampirinya dan membantunya membuka kotak bekal yang dihadiahi senyuman secerah matahari oleh anak kecil tersebut.

Namanya Ten Lee, saat ini ia menghabiskan waktunya dengan mengajar di taman kanak-kanak yang berada di yayasan yang sama dengan panti asuhan yang ia tempati. Wanita cantik ini memang menghabiskan seluruh hidupnya di panti asuhan bahkan sejak ia baru dilahirkan. Dengan teganya kedua orang tuanya menaruhnya di depan pintu panti hanya berbekal sepucuk surat yang berisi nama dan pesan untuk pengurus panti.

"Namanya Ten Lee, 27 Februari 1998. Kumohon jaga dia dengan baik, suatu saat aku akan kembali lagi untuk mengambilnya. Jadilah anak yang baik ya Ten, mama menyayangimu. – Mama."

Kira-kira begitulah bunyi surat yang datang bersama Ten, saat ia berusia 15 tahun suster Kang memperlihatkan surat itu padanya, dan berhasil membuat Ten menangis sepanjang hari. Sejak lama Ten berpikir ia adalah salah satu anak terlantar yang ditemukan oleh pengurus panti saat masih bayi, namun apa yang ia pikirkan selama ini salah, ternyata mama nya sendiri yang dengan tega meninggalkannya di sana dan sampai sekarang belum menepati janjinya untuk membawanya kembali.

Tahun terus berganti dan saat ini Ten telah berusia 23 tahun, ia sudah tak lagi berharap akan ada orang yang menjemputnya dan mengaku sebagai orang tuanya. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan tetap dan bisa segera pergi dari panti asuhan ini, setidaknya ia akan meringankan beban para pengurus panti nantinya. Ten termasuk jajaran penghuni panti asuhan tertua bersama dengan Kim Jungwoo. Mereka berdua sangat akrab dan selalu membantu para suster untuk mengasuh adik-adik yang jauh lebih kecil dari mereka berdua. Jauh dari kesan anak panti asuhan yang terlihat selalu bersedih dan murung, Ten dan Jungwoo terlihat begitu ceria dan menikmati waktu mereka dengan baik. Ten tumbuh menjadi wanita cantik yang berhati lembut. Ten memiliki tubuh yang mungil dengan rambut berwarna hitam yang panjang sebahu. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Seoul University dan saat ini sedang sibuk untuk mencari pekerjaan kesana-kemari. Tak jauh beda dengan Ten, Jungwoo juga tumbuh jadi gadis yang begitu ceria dengan penampilan yang anggun bak putri raja, berbeda dengan Ten yang bertubuh mungil, Jungwoo memiliki tinggi diatas rata-rata dan rambut kecoklatan yang menjuntai indah hampir menyentuh pinggulnya.

Jungwoo tidak lagi menetap di panti sejak lima bulan yang lalu, karena ia sudah mulai bekerja di salah satu rumah mode terkenal yang ada di Seoul. Namun ia selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi Ten dan adik-adik panti setiap akhir pekan. Seperti hari ini, ia terlihat menunggu Ten yang sedang mengajar di depan kelas taman kanak-kanak. Tak beberapa lama kemudian para murid terlihat berhamburan keluar untuk menghampiri orang tua mereka masing-masing, sungguh pemandangan yang indah batin Jungwoo. Ia melangkahkan kaki jenjangnya untuk menemui Ten yang sibuk merapikan beberapa buku di dalam kelas.

"Jungwoo kapan kau datang?" Ten terlihat terkejut begitu mendapati sahabatnya berada di hadapannya saat ini.

"Aku sudah di depan kelas saat kau bernyanyi tanganku ada dua… ah sakit Ten jangan mencubitku." Jungwoo membalas perkataan Ten seraya sedikit meledek.

"Kau ini bisa tidak sih sehari saja tidak usah meledekku." Ten mencebikkan bibirnya kesal dan kembali fokus untuk merapikan beberapa buku bacaan. Jungwoo hanya tertawa dan mulai mendudukan dirinya disamping Ten untuk membantu pekerjaan sahabatnya itu.

"Jadi bagaimana? Sudah ada panggilan kerja?" Tanya Jungwoo memecah keheningan antara mereka berdua. Ten hanya menggeleng sebagai jawaban, terlihat kekecewaan yang terpancar jelas di wajah cantiknya.

"Kau tau aku sudah mengirim berpuluh-puluh lamaran sejak hari kelulusan, tapi belum ada satupun yang berhasil. Huaaa… aku harus bagaimana Jungwoo…" Ten terlihat mulai frustasi dan menenggelamkan kepalanya di atas meja.

"Jangan menyerah Ten, kau tahu kan perusahaan yang keren menyeleksi pegawainya dengan sangat ketat. Mungkin mereka sedang sibuk membaca CV mu sekarang." Jungwoo berusaha menenangkan sahabatnya itu seraya sesekali mengelus pundak Ten.

"Kau benar, mereka sungguh akan menyesal jika melewatkanku sang lulusan terbaik jurusan administrasi bisnis." Ten terlihat mulai bersemangat dan mulai sibuk mengusap ingusnya yang keluar saat ia menangis tadi. Jungwoo memandang Ten dengan tatapan jijik, dalam hati ia berpikir sungguh Ten tidak berubah sama sekali.

"Kau tidak pergi bekerja? Ini kan hari jumat. Biasanya kau akan kesini setiap akhir pekan saja." Tanya Ten panjang lebar pada Jungwoo.

"Hari ini aku libur." Jawab Jungwoo singkat. Setelah menyelesaikan kegiatan mereka merapikan buku bacaan, kedua wanita itu mulai meninggalkan ruang kelas dan berjalan beriringan menuju taman yang ada di panti asuhan.

Ten dan Jungwoo terlihat sedang menikmati ayam goreng di salah satu gazebo yang berada di taman panti asuhan. Kedua wanita itu terlihat begitu bahagia, anggap saja ini merupakan upaya mereka untuk meredakan stress setelah lelah dengan kesibukan mereka masing-masing. Ten yang sibuk mengajar dan membantu para suster mengurus anak panti asuhan dan Jungwoo yang merasa tertekan karena selalu dikejar-kejar oleh atasannya yang meminta desain baru. Hidup memang memiliki sisi kasar yang tidak bisa kita lewati begitu saja kan?

"Ten sudah berapa lama ya kita di sini?" Jungwoo mulai membuka pembicaraan setelah menghabiskan cola miliknya. Mata indahnya terlihat menatap ke arah langit yang siang ini terlihat begitu cerah.

"Aku datang saat masih bayi, sedangkan kau datang saat berusia dua tahun, jadi aku telah di sini selama 23 tahun dan kau 21 tahun." Ten menjawab pertanyaan Jungwoo dengan santai yang dihadiahi anggukan kepala dari Jungwoo.

Berbeda dengan Ten yang ditinggalkan mama nya di depan pintu panti asuhan, Jungwoo yang saat itu baru berusia dua tahun diantarkan tetangganya ke panti asuhan setelah neneknya meninggal. Saat jungwoo berusia satu tahun kedua orang tuanya pergi bekerja dan menitipkannya pada neneknya yang hidup sebatang kara, setahun kemudian nenek Jungwoo meninggal dunia dan kedua orang tuanya tidak pernah kembali. Tetangganya yang baik hati mengantarkan Jungwoo kecil ke panti asuhan karena saat itu kondisi mereka juga tidak memungkinkan untuk mengasuh Jungwoo. Setelah kejadian itu Jungwoo tidak lagi mengharapkan kehadiran orang tuanya, lagi pula tetangganya sangat peduli padanya dan sering sekali mengunjunginya selama ia tinggal di panti. Sampai sekarang pun Jungwoo tidak pernah melupakan kebaikan hati tetangganya itu, dan beberapa kali Jungwoo mengunjungi keluarga pama Choi yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.

"Kau tahu Woo, dulu saat pertama kali aku tahu mama akan datang menjemputku, aku selalu berharap suatu hari mama benar-benar datang. Tapi setelah kuliah aku tidak lagi mengharapkan kehadirannya, hidupku juga sudah cukup baik sekalipun tanpa mama." Ucap Ten tiba-tiba. Jungwoo menoleh ke arah Ten yang duduk disebelahnya, ia dapat melihat dengan jelas manik indah Ten yang mulai berkaca-kaca saat membicarakan tentang mamanya. Jungwoo mulai merangkul pundak Ten dan membiarkan Ten bersandar di bahunya.

"Kita sama Ten, aku juga sudah tidak lagi mengharapkan kehadiran kedua orang tuaku, lagi pula keluarga paman Choi sudah sangat baik padaku selama ini, aku bersyukur mereka sama sekali tidak melupakanku." Jungwoo berbicara dengan suara yang terdengar bergetar menahan tangis. Ten mulai melepas rangkulan Jungwoo dan menatap sahabatnya itu.

"Ayolah Woo, bukankah kau kesini untuk menghibur diri. Kenapa menangis begini, dasar cengeng." Ucap Ten, ia berusaha menarik ingusnya yang hendak keluar dari hidung mancungnya.

"Kau yang memulai bodoh." Ucap Jungwoo tak mau kalah dan memukul lembut kepala Ten. Ten hanya tertawa menerima perlakuan Jungwoo dan kembali menyantap ayang goreng yang dibawa oleh Jungwoo sebelumnya. Kedua sahabat itu terlihat berbincang tentang banyak hal dan sesekali terlihat tertawa cukup keras. Mungkin benar jika mereka berdua tidak pernah bertemu dengan orang tua mereka, namun itu bukanlah suatu alasan untuk terjebak dalam kesedihan yang berlarut-larut, setidaknya itu yang mereka berdua pahami, mereka harus bangkit untuk menjalani hidup di negara yang begitu keras seperti Korea Selatan ini.

"Ten! Kesini sebentar…" Dari kejauhan terlihat suster Kang yang memanggil nama Ten seraya melambaikan tangannya.

"Woo aku kesana sebentar ya, atau kau mau ikut juga?" Ten mulai bangkit dan berpamitan kepada Jungwoo.

"Tidak aku di sini saja, sana kau pergi, nanti aku akan menyusulmu." Ucap Jungwoo, Ten mengangguk dan sedetik kemudian mulai berlari untuk menghampiri suster Kang.

"Ibu memanggilku?" Ucap Ten begitu ia tiba di depan suster Kang.

"Benar Ten, ayo ikut keruanganku. Tuan dan nyonya Seo ingin menemuimu." Balas suster Kang dan mulai berjalan di hadapan Ten. Ten sedikit terkejut mendengar perkataan suster Kang, ia mulai bertanya panjang lebar tentang alasan tuan dan nyonya Seo ingin menemuinya.

"Kau ingat kan Ten beberapa bulan yang lalu kau membuat proposal pengajuan dana ke Seo Corp dan kurasa itu berhasil karena hari ini mereka berdua datang sempat berbicara tentang program beasiswa denganku tadi." Ucap suster Kang pada Ten, senyuman terlihat mereka di wajah cantik miliknya yang mulai dipenuhi dengan garis halus itu. Ten merasa sangat senang dengan perkataan suster Kang, ia tidak pernah menyangka ternyata usahanya akan membuahkan hasil, padahal ia sangat berputus asa beberapa bulan lalu karena sangat takut proposalnya ditolak mentah-mentah oleh perusahaan besar seperti Seo Corp.

Setelah cukup lama berbincang, Ten dan suster Kang telah sampai di sebuah ruangan. Sebelum memasuki ruangan tersebut, Ten terlebih dahulu merapikan penampilannya. Dalam hati ia sangat bersyukur jika hari ini ia masih mengenakan pakaian mengajar yang cukup rapih, jadi tidak akan memalukan jika menemui tamu penting seperti tuan dan nyonya Seo. Saat pintu terbuka terlihat sepasang suami istri yang terlihat cukup berumur duduk di sebuah sofa panjang di sudut ruangan. Ten mulai tersenyum ramah kepada mereka berdua, dalam hati ter berpikir mungkin kedua orang tuanya juga seusia dengan mereka.

"Tuan dan nyonya Seo ini Ten Lee yang menyelesaikan proposal kerjasama dengan perusahaan kalian." Suster Kang mulai memperkenalkan Ten kepada tuan dan nyonya Seo.

"Wah jadi ini orangnya, pantas saja proposalnya begitu menarik. Ternyata yang membuat juga secantik ini." Nyonya Seo mulai mendekati Ten dan memujinya, Ten yang dipuji hanya tersipu malu dan menundukan kepalanya.

"Anda berlebihan Nyonya… terima kasih banyak sudah mau membantu panti asuhan kami." Balas Ten seraya membungkukkan tubuhnya di hadapan tuan dan nyonya Seo. Sepasang suami istri itu terlihat tersenyum ramah membalas rasa terima kasih Ten dan mereka berdua terlihat mulai berbincang dengan suster Kang. Ten pamit undur diri dan berniat membuatkan minuman untuk tuan dan nyonya Seo yang dihadiahi anggukan dari suster Kang. Ten bergegas ke pantry yang ada di panti asuhan dan membuatkan jus jeruk untuk para tamu, setelah selesai ia kembali masuk ke dalam ruangan suster Kang dan mulai menyajikan jus jeruk untuk tuan dan nyonya Seo.

"Kau baik sekali Ten, seandainya wanita sebaik dirimu menjadi menantuku suatu saat nanti." Nyonya Seo terlihat sedikit bergurau dan dihadiahi tawa dari tuan Seo dan juga suster Kang.

"Ah nyonya bisa saja…" Ten terlihat tersipu malu mendengar pujian nyonya Seo dan ia bergegas untuk pamit undur diri karena tiba-tiba saja ia teringat akan Kim Jungwoo yang ia tinggalkan seorang diri di gazebo.

"Kim Jungwoo! Jungwoo! Kim Jungwoo…" Ten berlari ke arah Jungwoo dan meneriakan nama sahabatnya itu dengan cukup keras.

"Kau kenapa sih Ten, apa jangan-jangan kau diusir dari panti karena sudah terlalu tua." Jungwoo mulai menerka-nerka apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya itu. Ten terlihat mencebikkan bibirnya dan mulai mendudukan dirinya di sebelah Jungwoo.

"Kau tahu, perusahaan Seo Corp setuju untuk memberikan beasiswa pendidikan pada anak-anak panti, jadi anak-anak panti yang sudah besar bisa kuliah seperti kita juga Woo. Senangnya…" Ten berucap dengan semangat dan dihadiahi tatapan terkejut dari Jungwoo.

"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda kan Ten?" Ucap Jungwoo sedikit tidak percaya.

"Apa wajahku ini penuh dengan kebohongan." Balas Ten seraya menunjuk wajahnya dengan ekspresi datar yang dibuat-buat.

"Hua…. Senangnya." Jungwoo mulai menarik Ten kepelukannya dan dua wanita cantik itu mulai melompat seraya berputar tidak jelas di taman panti. Mungkin bagi sebagian orang kabar seperti ini merupakan hal yang biasa dan tidak begitu istimewa tapi bagi Ten dan Jungwoo ini merupakan berita yang luar biasa karena akhirnya adik-adik kecil kesayangan mereka dapat merasakan pendidikan sampai bangku kuliah. Bukankah melihat orang lain bahagia juga merupakan suatu bentuk kebahagiaan yang dapat kita rasakan?

Sore mulai berganti malam, saat ini Ten dan Jungwoo sedang berbaring di ranjang milik Ten. Keduanya menatap ke arah atap yang dihiasi dengan stiker bulan dan bintang. Tiba-tiba saja ponsel Ten berdering dan menyadarkan Ten dari lamunan panjangnya.

"Yoboseyo…. Iya ini dengan Ten." Ten terlihat serius saat menerima panggilan dari orang diseberang sana. Ekspresi wajahnya terlihat begitu terkejut saat cukup lama bercakap-cakap. Setelah selesai Ten bergegas meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas dan menghampiri Jungwoo yang masih berbaring di ranjang miliknya.

"Jungwoo…. Bagaimana ini? Besok aku diundang interview di perusahaan Seo Corp." Ten berucap pada Jungwoo dengan menggebu-gebu.

"Apa! Kau tidak bercanda kan?" Ucap Jungwoo sedikit terkejut dengan perkataan sahabatnya. Ten menggeleng dan mulai memeluk Jungwoo erat.

"Hua…. Woo setelah aku berputus asa akhirnya aku diterima kerja juga." Ucap Ten penuh drama.

"Selamat ya Ten akhirnya kau berhasil." Jungwoo memberikan semangat seraya mengelus punggung Ten yang saat ini masih sibuk memeluknya.

"Tapi Woo, besok kan hari sabtu, kenapa Seo Corp mengadakan interview di hari sabtu." Ucap Ten sedikit terheran-heran.

"Mungkin perusahaan itu ingin kau memulai pekerjaan di hari senin, makanya sebisa mungkin mereka tidak membuang-buang waktu." Balas Jungwoo seraya melepaskan pelukannya pada Ten.

Ten mengangguk mengerti mendengar jawaban Jungwoo. Ia mulai berbaring di kasur empuk miliknya dan berniat untuk segera pergi tidur. Senyuman tak henti-hentinya lepas dari wajah cantiknya. Ten pikir hari ini tuhan sangat baik padanya karena telah memberikan banyak berita gembira. Jungwoo yang mulai mengantuk terlihat berbaring di sebelah Ten dan mencoba untuk memejamkan matanya.

"Selamat tidur Ten, semangat untuk hari esok." Ucap Jungwoo sebelum memejamkan matanya.

"Humm…" Balas Ten dengan senyuman yang belum luntur dari wajahnya.