2. Interview
Tring…
Tring…
Tring…
Ten terbangun karena suara berisik dari ponsel miliknya. Ia mulai mengedarkan tangan mungilnya di meja nakas untuk mematikan alarm yang berbunyi sejak tadi. Perlahan Ten mengubah posisinya untuk duduk di tepi ranjang dan mulai mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang menerobos melalui jendela kamarnya. Ten mulai bangkit dari tidurnya dan bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Tentu saja Ten tidak lupa jika ia memiliki jadwal interview hari ini. Setelah selesai membersihkan diri Ten bergegas berganti pakaian dan mengambil sepotong roti isi dari lemari penyimpanan makanan yang ada di kamarnya. Ten mulai menyantap roti miliknya dengan nikmat dan kembali berjalan ke sisi ranjang.
"Woo…. Kim Jungwoo! Bangun hei." Ten beberapa kali mengguncangkan bahu Jungwoo yang masih tertidur lelap.
"Humm…." Tidak ada jawaban yang berarti, hanya gumaman yang diperoleh Ten dari upaya kerasnya membangunkan Jungwoo.
"Cepat bangun Kim Jungwoo! Kau kan sudah janji semalam untuk menggantikanku membantu suster Kang." Ten mulai heboh membangunkan Jungwoo karena ia tidak ingin telat interview.
"Iya Ten aku sudah bangun, bisa kau hentikan kegiatanmu itu." Jungwoo menjawab malas dengan mata yang setengah terpejam. Wanita cantik itu mulai duduk di tepi ranjang dan memandangi Ten dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Wow…. Kau sudah rapi rupanya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat Ten Lee berpakaian seformal ini." Ucap Jungwoo setelah meminum segelas air putih yang ada di meja nakas.
"Sialan kau…. Masih saja meledekku." Balas Ten sedikit emosi yang hanya dihadiahi cengiran dari Kim Jungwoo.
"Baiklah aku rasa sudah waktunya aku berangkat. Jangan lupakan janjimu yang semalam untuk membantu suster Kang. Aku pergi dulu sayang…." Ucap Ten panjang lebar dan memberikan flying kiss pada Jungwoo untuk mengakhiri percakapan mereka.
"Menjijikan…. Cepat sana pergi!" Balas Jungwoo seraya memasang pose ingin muntah atas kelakuan Ten yang begitu random di pagi hari.
Ten mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ke Seo Corp. Saat ini ia terlihat sedang menunggu bus yang melewati perusahaan besar tersebut. Sebelum berangkat interview tentu saja Ten tak lupa menghampiri suster Kang dan memberitahukan berita baik ini padanya. Ten masih ingat dengan jelas ekspresi kebahagiaan yang terpancar dari wajah suster Kang, ia terlihat begitu bangga pada Ten beberapa menit yang lalu. Tak lama bus yang Ten tunggu mulai menepi di halte tempatnya berdiri, Ten mulai memasuki bus tersebut dan memilih tempat duduk yang nyaman. Netra indah miliknya terlihat memandang ke arah gedung-gedung pencakar langit sepanjang perjalanan. Ia melihat beberapa orang berlalu lalang, tentu saja Seoul akan tetap sibuk sekalipun di akhir pekan. Bus mulai menepi di sebuah halte yang berada tepat di depan gedung Seo Corp. Ten keluar dari bus dan bergegas memasuki gedung tinggi tersebut. Ia harus segera menemukan tempat dilangsungkannya interview hari ini.
Ten mengecek ponsel miliknya dan mulai membuka email yang semalam telah dikirim oleh salah satu karyawan Seo Corp, disitu dituliskan jika interview akan diadakan di hall utama milik perusahaan. Ten mulai melangkahkan kakinya dan betapa terkejutnya wanita mungil itu saat mendapati kerumunan orang yang berpakaian mirip sepertinya sedang duduk seperti menunggu giliran. Ten mendudukan dirinya di salah satu kursi kosong yang berada di dekat pintu utama hall perusahaan. Tiba-tiba saja suara seseorang menyapu gendang telinganya membuat Ten menoleh dan menatap orang tersebut.
"Hei…. Kau mau interview juga?" Ucap seorang wanita berkacamata yang duduk di sebelah Ten. Ten mendongak dan membalas perkataan wanita tersebut dengan anggukan kepala. Beberapa detik Ten sempat terpaku dengan kecantikan wanita yang saat ini berada di sebelahnya, benar benar seperti seorang dewi, batin Ten.
"Ah iya perkenalkan aku Irene." Wanita cantik tersebut mulai memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya pada Ten.
"Aku Ten Lee…." Balas Ten singkat seraya tersenyum pada Irene.
"Wah senyumanmu cantik sekali." Ucap Irene tiba-tiba. Perkataan Irene cukup membuat Ten tersipu malu dan menundukan kepalanya membuat Irene semakin tertawa melihat tingkah imut orang yang baru saja dikenalnya itu.
"Kau tau Ten aku sangat senang saat mendapatkan undangan interview dari perusahaan ini. Ternyata sudah dua tahun lamanya aku berusaha keras untuk masuk ke perusahaan ini dan baru terwujud sekarang." Irene mulai berbicara panjang lebar pada Ten yang berada disampingnya.
"Waw…. Aku rasa kau lebih tua dariku Irene-ssi, apa boleh jika aku memanggilmu eonni?" Balas Ten, ia baru sadar ternyata Irene lebih tua darinya setelah mendengar ceritanya barusan.
"Tentu boleh, aku sangat menginginkan adik perempuan apalagi jika cantik dan manis sepertimu." Ucap Irene
Kedua wanita cantik yang baru saja berkenalan itu mulai berbicara panjang lebar tentang kehidupan mereka dan aktivitas yang mereka lakukan sebelum sampai di sini. Dari percakapan panjang tersebut Ten baru mengetahui jika Irene selama ini menetap di Daegu dan ia menginap di rumah kakaknya sejak kemarin demi interview ini. Ten juga jadi paham ternyata selama dua tahun ini Irene bekerja di sebuah supermarket di Daegu. Irene merupakan pribadi yang baik dan memancarkan energi positif untuk orang-orang sekitarnya, dilihat dari bagaimana Ten yang tidak berhenti tersenyum dan tertawa sejak tadi setelah mendengar beberapa perkataan Irene. Tak lama kemudian nama Irene mulai dipanggil dan dipersilahkan untuk memasuki salah satu ruang interview. Terlebih dahulu Irene merapikan penampilannya dan mulai menyusul wanita di depannya memasuki sebuah ruangan yang cukup besar.
"Eonni semangat!" Ten terlihat mengepalkan kedua tangannya untuk menyemangati Irene yang terlihat sedikit gugup. Irene menganggukan kepalanya dan mulai menghilang dibalik pintu ruangan tersebut.
Terhitung dua puluh menit sudah Irene berada di ruangan tersebut. Tak lama kemudian wanita cantik itu terlihat keluar dan mulai melangkah ke ruangan lain yang berada di sebelahnya. Ten terheran-heran melihat Irene yang tidak menghampirinya tapi malah memasuki ruangan lain yang berukuran lebih kecil daripada sebelumnya. Saat sedang menatap Irene tiba-tiba saja Ten terkejut karena namanya dipanggil untuk memulai interview. Ten merapikan setelan yang ia gunakan dan mulai membuka pintu ruangan besar tersebut. Ten mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan sebuah meja panjang, ia dapat melihat dengan jelas tiga orang yang akan menginterview nya hari ini. Terlihat dua orang pria dewasa yang cukup berumur dan seorang pria muda dengan wajah yang cukup tampan. Jujur saja wajah tampan pria itu sempat mengecoh pikiran Ten selama beberapa detik.
Pria tampan tersebut mulai memberikan pertanyaan kepada Ten diikuti dua pria dewasa lainnya. Ten menjawab semua pertanyaan dengan keyakinan yang terlihat jelas dari sorot matanya. Dua pria dewasa terlihat terkagum-kagum dengan setiap jawaban yang Ten berikan, sedangkan si pria tampan tetap memasang wajah datar tanpa senyuman kepada Ten. Jujur saja hal itu cukup membuat Ten bingung, pikirnya apa ia melakukan suatu kesalahan.
"Baiklah Ten Lee kau boleh ke ruangan sebelah dan melakukan interview langsung dengan manajer marketing." Ucap salah satu pria dewasa kepada Ten dan mempersilahkannya untuk keluar. Ten mengucap terima kasih dan menundukan tubuhnya untuk berpamitan kepada tiga orang tersebut. Jadi ini yang membuat Irene eonni tidak langsung menghampirinya begitu keluar dari ruangan tersebut, batin Ten. Ten mulai melangkah menuju ruangan yang ada di sebelahnya, tiba-tiba saja ia mendengar Irene memanggil namanya dan terlihat mengatakan sesuatu dari gerakan bibirnya.
"Ten…. Aku tunggu di sini ya." Kira-kira begitulah ucapan Irene dari kejauhan yang dihadiahi anggukan kepala oleh Ten.
Ten memasuki ruangan tersebut dan terlihat seorang pria muda dengan paras rupawan yang berada di sudut ruangan. Pria itu terlihat tersenyum dan mempersilahkan Ten untuk duduk di hadapannya.
"Tidak perlu tegang, aku akan lebih santai tidak seperti mereka bertiga." Ucap pria tersebut, sepertinya ia dapat melihat kegugupan yang terpancar di wajah cantik Ten.
"Ah…. Iya." Balas Ten ragu-ragu.
"Perkenalkan aku Kim Mingyu manajer marketing Seo Corp, senang bertemu denganmu nona…" Perkenalan Mingyu terhenti karena ia belum mengetahui nama wanita cantik di depannya itu.
"Aku Ten Lee, bujangnim." Ucap Ten pada pria di hadapannya.
"Ah jangan terlalu formal bahkan kita belum tentu akan bekerja sama kedepannya." Ucap Mingyu, jujur saja perkataan pria tampan di hadapannya ini cukup membuat Ten goyah.
Sesi interview antara mereka berdua pun dimulai, Mingyu terlihat menanyakan beberapa hal kepada Ten. Sesekali pria tampan tersebut terlihat bercanda dan membuahkan senyuman yang merekah di wajah cantik Ten. Lima belas menit kemudian Ten dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan setelah sebelumnya Mingyu berpesan hasil interview ini akan diberitahu melalui email masing-masing beberapa jam kedepan. Ten bergegas berpamitan pada Mingyu dan berniat membuka pintu ruangan, namun perkataan Mingyu yang tiba-tiba cukup membuat Ten terkejut dan mematung selama beberapa detik.
"Ten-ssi berhati-hatilah sepertinya akan turun hujan." Ucap Mingyu tiba-tiba.
"Ah…. Iya terima kasih Mingyu-ssi, aku sudah membawa payung." Balas Ten dan mulai meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa ia tahu Mingyu tak melepas pandangan matanya sampai akhirnya Ten menghilang di balik pintu.
Ten mulai menghampiri Irene yang terlihat sedang memainkan ponsel miliknya. Setelah menyadari kehadiran Ten dihadapannya Irene mulai memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas dan mengajak Ten berbincang soal interview yang baru saja dilakukan.
"Kau tahu di ruangan yang lebih besar itu rasanya aku hampir mati. Nuansanya benar-benar suram sekali apalagi pria muda yang tinggi itu, tatapannya sangat menusuk." Ucap Irene saat mereka berdua mulai meninggalkan area perusahaan dan berjalan menuju ke halte bus.
"Benar sekali eonni kukira dia hanya bersikap dingin padaku tadi, ternyata dia juga seperti itu ya padamu." Balas Ten menanggapi perkataan Irene.
"Humm…" Balas Irene seraya menganggukan kepalanya.
"Ah iya Ten boleh aku minta nomor ponselmu, kurasa kita bisa jadi teman yang sejalan haha..." Irene berucap seraya bercanda. Ten memulai mengetikkan nomor ponselnya di ponsel milik Irene dan kembali menyerahkannya pada sang empunya ponsel. Irene mulai menghubungi nomor tersebut dan melirik sekilas ke arah Ten yang berada di sampingnya.
"Itu nomorku ya Ten kau bisa simpan." Ucap Irene, Ten mengangguk dan mulai bermain dengan ponsel miliknya.
"Ngomong-ngomong kau tinggal dimana Ten?" Tanya Irene pada Ten setelah menyesap Americano miliknya.
"Aku tinggal di Panti Asuhan Last Hope, tidak jauh dari sini hanya dua puluh menit naik bus." Balas Ten yang masih sibuk mengetikkan sesuatu di ponsel miliknya.
"Ah…. Ten aku tidak bermaksud…." Ucap Irene karena takut menyakiti hati Ten.
"Tak apa eonni aku memang tinggal di sana tak perlu merasa tidak enak." Balas Ten seraya menampilkan senyum cerahnya. Irene mengangguk dan merangkul pundak Ten seraya mengusapnya perlahan.
"Eonni bus nya sudah datang, ayo kita pulang." Ucap Ten seraya menarik tangan Irene untuk berdiri.
Mereka berdua mulai menaiki bus dan memilih tempat duduk berdekatan. Sesekali mereka terlihat berbincang tentang banyak hal seperti Irene yang bertanya soal Seoul pada Ten atau Irene yang meminta ditemani mengelilingi Seoul suatu hari nanti. Tak lama bus berhenti di halte yang Ten tuju, ia mulai berpamitan pada Irene dan bergegas keluar dari bus. Ten mulai memasuki lingkungan panti asuhan dan berjalan riang di taman semoga saja beberapa jam kedepan akan ada berita baik yang datang padanya.
"Ten eonni…. Dari mana saja, seharian aku hanya bermain dengan Jungwoo eonni." Itu suara Hanbyul salah satu anak panti asuhan yang sangat dekat dengan Ten. Hanbyul terlihat menghampiri Ten bersama dengan Jungwoo yang sibuk menggandeng tangannya. Terlihat senyum cerah yang menghiasi wajah manis Hanbyul begitu mendapati Ten pulang ke panti.
"Aigo… uri Hanbyul merindukanku ya, maaf ya tadi eonni harus pergi pagi-pagi sekali, tapi Hanbyul tenang saja sekarang kita bisa bermain bersama lagi karena eonni sudah sampai." Ten berucap seraya berjongkok di hadapan Hanbyul yang dibalas anggukan kepala dari bocah manis itu.
"Jadi bagaimana hasilnya Ten?" Tanya Jungwoo menyela pembicaraan antara Ten dan Hanbyul.
"Hasil akhirnya belum keluar, katanya nanti akan diberitahu lewat email masing-masing." Ucap Ten yang mulai bangkit dan menggandeng sebelah tangan Hanbyul yang bebas.
"Hum…. Banyak-banyaklah berdoa Ten, semoga saja kau berhasil menjadi bagian dari perusahaan itu." Balas Jungwoo, kini mereka bertiga mulai berjalan memasuki gedung panti dengan Hanbyul yang berada di tengah-tengah dua orang yang jauh lebih dewasa darinya. Sepanjang perjalanan Hanbyul tak henti-hentinya berceloteh tentang banyak hal yang semakin membuat Ten dan Jungwoo gemas dibuatnya.
"Terima kasih Woo, kau memang yang terbaik." Ucap Ten
Malampun tiba, saat ini Ten dan Jungwoo sedang berada di dapur membantu beberapa suster panti asuhan untuk menyiapkan makan malam. Bagi Ten dan Jungwoo kegiatan seperti ini sudah biasa mereka lakukan, terlebih mereka berdua adalah penghuni panti asuhan tertua jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Ten terlihat sibuk memasak chicken teriyaki sedangkan Jungwoo terlihat sedang mengupas beberapa buah apel seraya berbincang dengan seorang suster yang sudah mereka anggap sebagai ibu mereka sendiri. Setelah selesai dengan berbagai macam menu masakan, Ten, Jungwoo serta beberapa suster panti asuhan mulai membawa hasil masakan mereka ke ruang makan. Tak lama kemudian beberapa anak terlihat memasuki ruang makan dan mulai mengantri untuk mengambil makanan. Saat Ten sedang sibuk menyendokan chicken teriyaki ke piring anak-anak tiba-tiba saja ada tangan kecil yang menarik pakaiannya dari samping.
"Ah Hanbyul ada apa? Kau tidak ikut mengantri bersama yang lain?" Ucap Ten kepada gadis kecil tersebut, ternyata Hanbyul telah berdiri di sebelah Ten cukup lama.
"Tidak mau, aku mau makan bersama Ten eonni. Aku mau menunggu eonni saja di sini." Balas bocah enam tahun itu seraya mencebikkan bibirnya.
"Baiklah tunggu sebentar ya, setelah ini kita makan bersama." Ucap Ten seraya mengelus lembut kepala Hanbyul. Gadis kecil itu mengangguk semangat mendengar perkataan Ten dan kembali fokus melihat aktivitas eonni kesayangannya itu.
Setelah semua anak mendapatkan jatah makanan mereka masing-masing, Ten dan Jungwoo bergegas menuju ke meja yang masih kosong untuk menikmati makan malam mereka. Tak lupa selalu ada Hanbyul yang dengan setia mengekori mereka berdua. Mereka bertiga mulai menyantap makanan dengan nikmat, sesekali Hanbyul bercerita dengan semangat tentang aktivitas apa saja yang telah ia lakukan seharian ini. Tiba-tiba saja datang seorang suster yang terlihat menggendong anak laki-laki yang sedang menangis. Ten dan Jungwoo memusatkan arah pandang mereka ke suster tersebut dan berniat ingin menolong.
"Tidak mau, Sungwoo tidak mau makan suster. Makanannya pahit, tidak ada rasanya, hue…." Bocah laki-laki yang berada di gendongan sang suster terlihat menolak saat hendak disuapi makanan. Jungwoo bergegas menghampiri Sungwoo dan mengajaknya makan bersama, pikirnya mungkin Sungwoo mau makan jika ada anak kecil lain bersamanya.
"Sungwoo-ya makan dengan noona yuk. Di sana juga ada Hanbyul." Ucap Jungwoo berusaha membujuk Sungwoo. Bocah laki-laki itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menganggukan kepalanya dan membiarkan Jungwoo menggandeng tangannya.
"Sungwoo kenapa tidak mau makan, lihat tuh Hanbyul saja makannya banyak!" Ucap Ten saat Sungwoo berada di hadapannya.
"Aku sedang sakit noona, semua makanan rasanya pahit. Aku tidak mau makan." Ucap Sungwoo yang sibuk mengacak-ngacak makanan yang ada di piringnya.
"Noona suapin ya? Sungwoo harus makan setelah itu minum obatnya supaya cepat sembuh. Setelah ini Ten noona akan mengambilkan apel yang banyak untuk Sungwoo." Ucap Jungwoo berusaha membujuk bocah laki-laki yang tepat berada di sampingnya itu.
"Hanbyul juga mau apel eonni." Hanbyul terlihat berucap semangat dengan mulutnya yang masih penuh. Ten hanya tersenyum memperhatikan tingkah polah Hanbyul yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"Baiklah aku akan ambilkan apel untuk kalian, sekarang habiskan dulu makanannya." Ucap Ten seraya melangkahkan kakinya untuk mengambil potongan apel yang berada di sudut ruangan. Hanbyul dan Sungwoo terlihat mengangguk semangat, bahkan Sungwoo mulai menyantap makanan yang disuapkan oleh noona cantik di sampingnya itu.
Setelah selesai makan malam, anak-anak mulai kembali ke kamarnya masing-masing. Jungwoo terlihat baru saja kembali setelah mengantarkan Sungwoo ke kamarnya dan memastikan bocah laki-laki itu meminum obatnya. Setelah selesai membereskan sisa makanan, kedua wanita cantik itu mulai memasuki kamar Ten untuk segera beristirahat. Tiba-tiba saja ponsel milik Ten berdering dan terlihat ada notifikasi pesan masuk di sana.
From: Irene
Ten aku sudah dapat hasil interviewnya, huaaa… senang sekali akhirnya impianku untuk bekerja si Seo Corp terwujud. Bagaimana denganmu Ten?
Ten terlihat tersenyum setelah membaca pesan dari Irene, ia bergegas membuka emailnya dan beberapa kali merefresh kotak masuk namun tetap saja tidak ada notifikasi email baru. Ten mulai sedikit panik, apa mungkin ia melakukan kesalahan saat interview tadi. Ten mulai mengetikkan pesan di ponselnya dan mengirimnya pada Irene, setelah itu ia mulai berbaring disebelah Jungwoo yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
From: Ten
Wah eonni selamat ya akhirnya impianmu terwujud. Hummm… aku belum mendapatkan email apapun sampai saat ini.
Ten meletakkan ponselnya di meja nakas dan menghela nafasnya pelan. Jungwoo yang sadar akan tingkah aneh sahabatnya itu mulai mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja nakas.
"Kenapa Ten? Ada masalah?" Ucap Jungwoo, ia menatap lekat wajah Ten yang berada di sampingnya.
"Kau tau Irene eonni diterima di Seo Corp, tapi aku belum mendapatkan informasi apapun. Bagaimana ini Woo? Bagaimana jika aku gagal?" Ucap Ten sedikit frustasi.
"Hei tenanglah bodoh, masih ada waktu esok hari. Besok kan hari minggu jangan lupa perbanyaklah berdoa, mungkin tuhan akan mendengar doamu." Jelas Jungwoo.
Ten mengangguk dan merapatkan tubuhnya pada Jungwoo, ia membisikkan ucapan terima kasih. Sungguh Ten merasa sangat beruntung memiliki Jungwoo disisinya, wanita cantik itu selalu bisa menenangkan Ten saat ia sedang frustasi.
"Tidurlah Ten…. Aku mengantuk." Ucap Jungwoo. Ten mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Semoga saja esok hari akan ada berita baik yang datang.
