3. Kejutan Lainnya
Minggu pagi ini panti asuhan terlihat disibukkan dengan berbagai kegiatan. Beberapa anak-anak terlihat sedang bermain di taman, sedangkan anak-anak lain terlihat sedang berdoa dengan khidmat di dalam gereja yang berada di lingkungan panti asuhan. Ten juga terlihat berada di gereja, wanita cantik itu terlihat menangkupkan kedua tangannya dan fokus berdoa. Jungwoo yang berada di sebelahnya terheran-heran melihat tingkah laku Ten yang sejak tadi sibuk berdoa tanpa henti.
"Tuhan terlalu sibuk hari ini Ten, Ia tidak akan sempat mengabulkan doamu." Ucap Jungwoo sekenanya, netra indahnya mulai menelusuri seluruh penjuru gereja untuk melihat anak-anak yang ada di sana.
"Berisik kau Kim Jungwoo." Ten menjawab dengan kedua matanya yang tetap terpejam. Setelah selesai berdoa Ten mulai bangkit dari duduknya dan menuju ke taman panti asuhan. Ia melihat Jungwoo yang sedang duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke kolam ikan, sepertinya ia tengah memperhatikan beberapa anak yang sedang memberi makan ikan. Ten mendudukan dirinya di sebelah Jungwoo dan mulai menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Sungguh cuaca minggu pagi ini begitu cerah dan terasa sangat menyenangkan. Tiba-tiba saja ponsel Ten berbunyi, ia bergegas merogoh saku celananya dan membuka pesan yang masuk di ponsel miliknya. Mata sipit Ten membulat sempurna saat membaca email yang masuk. Ia merangkul Jungwoo yang ada di sebelahnya dan mengajaknya berdiri, sungguh Jungwoo sangat bingung melihat tingkah random Ten di pagi hari.
"Jungwoo…. Aku diterima kerja di Seo Corp, senangnya…." Ucap Ten seraya mengajak Jungwoo melompat.
"Jinjja?" Ucap Jungwoo berusaha meyakinkan. Ten mengangguk semangat dan mereka berdua kembali meloncat-loncat seperti anak kecil.
"Akhirnya Tuhan mendengar doamu Ten, tak sia-sia kau berada di gereja sejak pagi-pagi buat." Ucap Jungwoo sedikit bercanda, Ten mencebikkan bibirnya menanggapi perkataan Jungwoo. Sungguh sahabatnya ini sangat bisa meledeknya dengan hal sekecil apapun.
Setelah mendapat kabar gembira, Ten segera mengirim pesan pada Irene karena akhirnya mereka berdua resmi menjadi rekan kerja. Tiba-tiba saja siang harinya Irene mengajak Ten untuk membeli beberapa barang sebab sejak tadi pagi wanita cantik itu baru saja menempati apartemen baru. Ia memutuskan untuk memisahkan diri dari kakaknya yang sudah berkeluarga karena tidak ingin merepotkan. Sang kakak tentu saja setuju dengan keputusan Irene, lagi pula adiknya itu telah berjanji untuk mengunjungi keponakannya setiap akhir pekan.
Ten terlihat duduk di bangku panjang yang berada di depan pintu gerbang panti asuhan, ia sedang menunggu Irene menjemputnya. Sebelumnya Jungwoo telah berpamitan kepada Ten dan beberapa pengurus panti karena ia harus segera mengerjakan desain yang telah diminta oleh atasannya. Tak lama kemudian terlihat sebuah mobil berwarna hitam memasuki lingkungan panti asuhan. Ten berdiri dari duduknya dan melambaikan tangannya. Diujung sana terlihat Irene yang tersenyum cerah dan mempersilahkan Ten untuk masuk ke mobilnya.
"Maaf yang Ten membuatmu repot siang-siang begini." Ucap Irene membuka pembicaraan diantara mereka berdua. Saat ini mobil yang dikendarai wanita cantik itu mulai keluar dari area panti asuhan.
"Tak apa eonni lagi pula aku tidak ada kegiatan apapun hari ini." Balas Ten
"Ah iya ngomong-ngomong dimana apartemenmu eonni?" Tanya Ten pada Irene yang sedang fokus menyetir.
"Lumayan dekat dengan kantor, aku bisa berjalan kaki dari apartemen ke kantor karena gedungnya cukup berdekatan." Ucap Irene, dalam hati ia sangat berterima kasih pada kakak dan kakak iparnya yang berhasil menemukan apartemen dengan jarak sedekat itu dari kantornya.
"Wah senang sekali, tidak perlu repot-repot lagi." Balas Ten.
"Humm…. Ah iya ngomong-ngomong kau tidak akan pindah dari panti itu Ten? Ah maksudku kau kan sudah dewasa, setahuku di beberapa panti asuhan memberikan batasan umur untuk setiap penghuninya." Ucap Ten cukup hati-hati.
"Aku memang berniat pindah dari sana eonni hanya saja tidak dalam waktu dekat ini, aku masih harus membantu suster-suster di sana." Balas Ten dengan nada yang ia buat seceria mungkin.
"Kau memang yang terbaik Ten. Jangan lupa kabari aku ya jika kau berniat mencari apartemen, aku akan dengan senang hati membantumu." Ujar Irene penuh semangat. Ten menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Irene, dalam hati ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Irene sebagai rekan kerjanya.
Irene mulai menepikan mobilnya di sebuah supermarket, ia berniat berbelanja beberapa kebutuhan untuk sebulan kedepan. Kehadiran Ten terbilang cukup membantu untuk Irene, karena ini merupakan pengalaman pertama baginya tinggal terpisah dari orang tua. Jadi Ten memberikan arahan barang apa saja yang sekiranya akan ia butuhkan di apartemen nanti. Tak terasa keranjang belanjaan mereka sudah penuh dengan berbagai macam barang. Irene terlihat mengantri untuk membayar di kasir sedangkan Ten mulai sibuk memeriksa ponselnya dan berdiri di seberang kasir. Setelah selesai belanja, dua wanita cantik itu bergegas pulang, sebenarnya Irene berniat mengajak Ten makan terlebih dahulu, namun Ten menolak ajakan Irene dengan alasan suster Kang telah menunggunya di panti asuhan. Dengan berat hati Irene menurunkan Ten di gerbang panti asuhan dan berpamitan, tak lupa ia berpesan pada Ten agar tidak terlambat pergi bekerja di hari pertama mereka esok. Setelah mobil Irene menghilang dari pandangan, Ten mulai berjalan memasuki panti dan pergi ke ruangan suster Kang yang sedang menunggunya.
Ten mengetuk pintu kayu berwarna coklat sebelum melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Di sofa terlihat suster Kang yang sedang duduk seraya menikmati teh hijau kesukaannya. Ten menghampirinya dan duduk disebelahnya. Suster Kang memandangi wajah cantik Ten, ia tak pernah menyangka bayi mungil yang ia urus sedari kecil telah tumbuh menjadi wanita cantik yang begitu tangguh dan pekerja keras. Manik hitam Ten menatap lekat ke arah suster Kang yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri, senyuman indah terlihat terpatri di wajah cantik Ten saat menatap ibu asuhnya itu.
"Kau sudah dewasa Ten, sebentar lagi kau mungkin akan pergi dari sini." Suster Kang mulai membuka pembicaraan setelah menyesap teh hijau miliknya.
"Humm…. Tapi aku masih ingin di sini ibu, aku harus membantu ibu mengurus adik-adik yang lain." Ucap Ten dengan suara yang sedikit bergetar.
"Ten dengarkan ibu, kau harus menemukan kebahagiaanmu sendiri. Kau telah berhasil sampai ke tahap ini, selanjutnya kau harus lebih bahagia. Ten harus bisa membuat ibu bangga." Ucap suster Kang seraya mengelus lembut punggung tangan Ten.
Air mata mulai berlomba untuk berjatuhan dari manik indah Ten, wanita cantik itu menghamburkan dirinya di pelukan suster Kang dan mulai menangis sejadi-jadinya. Sungguh bertemu dengan suster Kang adalah satu hal yang amat Ten syukuri dalam hidupnya, ia tidak akan tahu akan jadi apa nantinya jika saat itu tidak dipertemukan dengan suster kepala.
"Ibu tenang saja, aku akan selalu bahagia. Tapi izinkan aku di sini sebentar lagi ya Bu, aku janji akan pindah saat sudah siap nanti." Ucap Ten dengan suara yang bergetar. Sang ibu menganggukan kepalanya seraya mengelus lembut surai hitam Ten. Setelah lelah menangis dan berdrama, sepasang wanita yang nampak seperti ibu dan anak itu melanjutkan obrolan mereka tentang banyak hal seraya sesekali tertawa. Tiba-tiba saya pertanyaan dari suster Kang berhasil membuat Ten tersentak dan terpaku selama beberapa saat.
"Ibu tidak pernah melihat Ten berkencan. Kau sudah dewasa loh Ten sudah waktunya untuk menikah." Ucap suster Kang pada Ten.
"Aku tidak pernah terpikir kesana Bu, ah maksudku belum terpikir kesana. Mungkin ibu berniat mencarikan kekasih untukku, haha…." Ujar Ten seraya bercanda. Suster Kang terkekeh mendengar guyonan Ten dan kembali menyesap teh hijau miliknya. Tiba-tiba saja suster Kang teringan dengan perkataan nyonya Seo saat berkunjung beberapa hari yang lalu. Apa mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahu Ten, ah tidak bisa, wanita cantik di depannya ini baru saja merasa bahagia karena dapat bekerja di tempat impiannya. Rasanya akan terlalu jahat jika suster Kang membicarakan hal tersebut pada Ten sekarang.
"Sudah sekarang lebih baik kau istirahat di kamarmu. Jangan sampai telat di hari pertama bekerja." Ucap suster Kang seraya mengelus lembut bahu ramping Ten.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya Bu. Ibu jangan lupa selalu doakan aku ya, aku sangat mencintai ibu." Ucap Ten, ia mulai bergelayut manja pada suster Kang.
"Tentu saja doaku tidak pernah putus untuk semua anak di sini, terutama kau, kucing kecil kesayangan ibu." Balas suster Kang seraya mencubit pelan hidung mancung Ten. Ten terkekeh geli saat menerima perlakuan dari suster Kang. Ia mulai bangkit dari sofa dan menuju kamarnya, rasanya sudah saatnya ia beristirahat setelah seharian menemani Irene di luar.
Ten mulai berbaring di kasur empuk miliknya. Ia baru saja selesai mandi dan menghabiskan cemilan yang sempat Jungwoo tinggal di kamarnya. Jam dinding menunjukan pukul sembilan malam tapi wanita cantik itu belum mengantuk sedikitpun. Ten sangat khawatir akan kesiangan esok hari dan menghambat aktivitasnya. Ten mencoba menyibukan dirinya agar segera mengantuk. Ia mulai menyetrika pakaian yang akan ia kenakan besok, sesekali ia terlihat menyanyikan lagu yang ia suka. Setelah selesai Ten memutuskan untuk minum susu hangat, mungkin itu akan membuatnya mengantuk. Benar saja beberapa menit kemudian Ten mulai mengantuk dan memutuskan untuk segera berbaring di kasur empuk miliknya. Perlahan manik indah Ten mulai menutup dan membawanya ke alam mimpi, semoga saja hari esok akan penuh dengan keberuntungan.
Pagi harinya Ten terbangun dengan perasaan yang lebih segar. Ia memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap. Setelah selesai Ten bergegas keluar dari kamarnya dan menyapa beberapa suster yang terlihat berlalu lalang menuju ruang makan. Ten memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantornya. Setelah selesai Ten bergegas menuju halte terdekat dan menunggu bus yang akan membawanya ke kantor. Sesampainya di kantor, Ten bertemu dengan Irene di lobby saat tengah menunggu antrian lift. Kedua wanita cantik itu pun akhirnya memutuskan untuk pergi bersama ke ruangan mereka. Di depan ruangan mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang terlihat kebingungan, akhirnya Irene memutuskan untuk menghampirinya dan mengajaknya bicara. Ternyata pria tersebut juga merupakan karyawan baru di tim marketing sama seperti Irene dan Ten.
"Perkenalkan aku Dokyeom, karyawan baru di tim marketing." Ujar pria tersebut,
"Jinjja?Kami juga karyawan baru di sini, aku Irene dan ini Ten." Ucap Irene seraya menunjuk Ten dengan tangannya. Ten terlihat tersenyum pada Dokyeom dan menundukan kepalanya. Tak lama Mingyu datang dan mengajak mereka bertiga untuk masuk ke ruangannya. Mingyu menjelaskan tentang teknis pekerjaan di tim yang ia pimpin saat ini. Ketiga karyawan baru tersebut nampak memperhatikan penjelasan Mingyu dengan saksama dan sesekali terlihat mengangguk mengerti saat mendengar penjelasan Mingyu. Setelah itu Mingyu memperkenalkan mereka pada anggota tim lainnya dan mempersilahkan Ten, Irene, juga Dokyeom menempati meja mereka.
Tim marketing memiliki anggota yang cukup banyak jadi Ten tak sempat mengingat berapa jumlah laki-laki dan perempuan dalam timnya. Ten mulai fokus mempelajari apa saja yang harus ia lakukan, sesekali ia terlihat bertanya kepada beberapa orang yang berada di dekatnya. Ten merasa sangat bersyukur ditempatkan di tim dengan anggota yang begitu baik dan mau membagi ilmu dengannya. Setelah mengerti Ten mulai mengerjakan beberapa pekerjaan dengan sangat teliti karena tak ingin membuat kesalahan. Tak terasa waktu istirahat telah tiba, Irene terlihat telah berdiri di hadapan meja Ten dan berniat mengajaknya makan bersama. Tiba-tiba saja Dokyeom menghampiri mereka dan meminta ikut makan bersama. Mereka bertiga turun ke kantin perusahaan dan duduk di sudut dekat jendela.
"Apakah dia selalu bermuka dingin begitu?" Ucap Irene membuka pembicaraan antara mereka bertiga. Dokyeom terlihat menoleh ke arah pandang Irene dan ia terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Noona kau jangan macam-macam. Dia CEO di sini." Ucap Dokyeom sedikit berbisik. Ten yang sejak tadi fokus dengan makanannya mulai tertarik dengan pembicaraan kedua temannya, ah ternyata orang yang menatapnya tajam saat interview adalah CEO nya sendiri.
"Tapi kenapa dia duduk sendiri? Apa menariknya makan sendirian?" Tanya Ten tiba-tiba. Irene mulai menganggukan kepalanya, dalam hati ia berpikir benar juga apa yang dikatakan Ten.
"Sajangnim memang seperti itu, ia tidak suka makan dengan orang lain saat di perusahaan." Tiba-tiba saja satu suara menginterupsi kegiatan mereka. Tak lama mereka bertiga terkejut dengan orang yang telah mendudukan diri di hadapan Ten.
"Ah…. Mingyu bujangnim maafkan kami telah berkunjung di perusahaan." Ucap Ten tiba-tiba pada Mingyu yang mulai menikmati makanannya di hadapan Ten.
"Santai saja, aku rasa sajangnim sangat menarik perhatian karyawan baru. Sebenarnya kalian bukan orang pertama yang membicarakan sajangnim seperti itu." Ucap Mingyu setelah menelan suapan nasi pertamanya. Ten, Irene, dan Dokyeom mengangguk mengerti dan mulai melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda karena gosip tentang CEO mereka. Setelah selesai mereka bertiga berpamitan pada Mingyu untuk kembali ke ruangan. Mingyu hanya mengangguk karena ia masih fokus dengan makan siangnya. Tak terasa waktu pulang telah tiba, Ten berpisah dengan Irene dan Dokyeom di depan perusahaan. Ia bergegas duduk di halte dan menunggu bus untuk pulang.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah enam bulan Ten bekerja di Seo Corp. Ia semakin dekat dengan Irene dan Dokyeom dan sesekali mereka bertiga pergi bersama untuk saling bercerita dan mendengarkan keluh kesah masing masing setelah lelah bekerja. Sekalipun bekerja di Seo Corp adalah impian Ten sejak lama, tetap saja wanita cantik itu sering kali merasa jenuh dan kelelahan sehingga beberapa kali Ten dan teman-temannya pergi ke tempat wisata yang mereka sukai untuk sejenak menghibur diri.
Sabtu pagi ini terlihat sedikit mendung, Ten terlihat memandang keluar jendela seraya mencebikkan bibirnya. Hari ini wanita cantik itu berniat untuk mencari apartemen untuk ia tinggali, namun sepertinya ia harus mengurungkan niatnya karena hujan akan segera turun. Tiba-tiba saja pintu kamar Ten diketuk oleh seseorang, ia bergegas membukanya dan terkejut melihat orang yang berdiri di hadapannya, itu suster Kang.
"Ibu kenapa pagi-pagi begini sudah ke kamarku?" Tanya Ten seraya mempersilahkan suster Kang masuk ke dalam.
"Ada yang harus aku bicarakan padamu Ten." Ucap suster Kang yang mulai duduk di atas kasur Ten. Ten terlihat penasaran dan mulai menaruh atensi penuh pada suster Kang untung mendengar apa yang hendak dibicarakan pagi-pagi begini.
"Jadi beberapa bulan yang lalu tuan dan nyonya Seo datang kemari, mereka meminta sesuatu padaku…." Suster Kang diam sejenak dan memandang lekat wajah cantik Ten.
"Apa itu Bu? Apa yang diminta tuan dan nyonya Seo?" Tanya Ten, jujur saja ia cukup penasaran dengan arah pembicaraan suster Kang.
"Mereka memintamu menikah dengan anaknya." Ucap suster Kang. Ten terlihat terkejut, hampir saja ia menyemburkan teh dari mulutnya.
"Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak pernah mengenal anak mereka." Balas Ten cepat.
"Besok tuan dan nyonya Seo akan datang kemari bersama putra mereka, aku berbicara begini padamu karena semua keputusan ada ditanganmu Ten." Ucap suster Kang seraya menggenggam kedua tangan Ten.
"Ibu, aku bingung…." Balas Ten sedikit ragu.
"Tapi mereka berjanji tidak akan pernah memutus program beasiswa pendidikan untuk anak-anak setelah kau menikah dengan putra mereka." Ucap suster Kang tiba-tiba. Ten semakin bingung dibuatnya, apa yang harus ia lakukan? Apa mungkin ini waktunya ia membalas budi atas semua kebaikan suster Kang padanya?
"Akan aku pikirkan lagi Bu." Balas Ten seraya menarik tangannya dari genggaman suster Kang.
"Baiklah tenangkan pikiranmu terlebih dahulu, besok kita bicara lagi Ten." Ucap suster Kang, ia mulai berdiri melangkah keluar dari kamar Ten.
Di dalam kamar Ten masih terduduk di tempat yang sama seraya menundukan kepalanya. Ten memang berniat pergi dari panti asuhan tapi tidak dengan cara yang seperti ini. Apa mungkin ini waktunya ia membalas kebaikan suster Kang selama ini? Berjuta pemikiran mulai saling beradu di kepala Ten, sepertinya wanita cantik itu harus segera menenangkan diri setelah mendengar kejutan yang tiba-tiba datang pagi-pagi begini. Dalam hati Ten berharap semoga hari ini berlalu begitu lama karena ia tidak siap jika harus menghadapi hari esok, lebih tepatnya Ten tidak siap bertemu dengan orang yang akan menjadi suaminya kelak.
