4. Pertemuan Pertama
Minggu merupakan hari yang menyenangkan bagi semua orang, panti asuhan last hope terlihat disibukan dengan berbagai macam aktivitas di akhir pekan. Beberapa anak terlihat sedang memberi makan ikan dengan semangat, sebagian lagi terlihat bermain ayunan dan jungkat jungkit di taman panti asuhan, sisanya berada di gereja panti untuk melakukan ibadah mingguan. Di dalam gereja Ten terlihat menuntun anak-anak untuk duduk di tempatnya masing-masing dan berdoa. Wanita cantik itu sesekali tersenyum ramah kepada anak-anak dan memilih untuk memperhatikan mereka dari belakang saat beberapa suster menyuruh anak-anak berdoa.
Pagi ini Ten terlihat begitu cantik dengan kemeja berwarna biru muda dan celana panjang yang berwarna biru tua, serta rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai indah. Wangi vanilla menguar dari tubuh Ten, ya vanilla merupakan wangi kesukaan Ten karena terasa begitu manis dan menyegarkan. Saat hendak keluar dari gereja, Ten tiba-tiba saja melihat siluet seorang laki-laki yang begitu tinggi, ia terlihat memandangi bagian depan gereja. Ten memutuskan untuk menghampirinya dan berniat menanyakan maksud dan tujuan orang tersebut datang kemari.
"Selamat pagi tuan, silahkan masuk ke dalam jika ingin berdoa, di luar begitu panas. Ah sajangnim…." Ucap Ten, namun ucapannya terputus saat melihat orang yang berada di hadapannya, itu CEO perusahaannya. Untuk apa ia kemari, pikir Ten. Si pria tinggi menatap kearah Ten dan perlahan mendekatinya.
"Ah kau mengenalku?" Tanya pria itu.
"Aku bekerja di Seo Corp dan beberapa kali melihat tuan di sana." Ucap Ten yang mulai menundukan kepalanya. Si pria tinggi hanya mengangguk dan tidak berniat melanjutkan pembicaraannya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan membuatnya terpaksa menjauh dari Ten yang masih berdiri kebingungan. Ia terlihat serius berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, setelah panggilan ditutup ia kembali menghampiri Ten dan mengatakan sesuatu.
"Kurasa aku akan mampir lain kali, aku pergi dulu." Ucap pria itu, ia mulai menjauh dari Ten dan terlihat memasuki gedung panti. Mau apa dia, pikir Ten. Tak ingin ambil pusing, Ten memilih untuk kembali ke dalam gereja dan menunggu anak-anak yang masih fokus berdoa. Dalam hati ia berpikir sungguh sajangnim benar-benar pria yang aneh.
Setelah ibadah selesai, Ten kembali menggiring anak-anak untuk mebali ke taman. Saat hendak kembali ke dalam gereja tiba-tiba saja Sungwoo terlihat berlari menghampiri Ten seraya meneriakkan namanya.
"Ten noona…. Ten noona!" Ucap Sungwoo.
"Ada apa Sungwoo kenapa sampai teriak begitu, kau darimana?" Tanya Ten dengan Lembut, sebelah tangannya mulai terulur untuk mengelap keringat yang bercucuran di kening Sungwoo. Bocah laki-laki itu hanya tersenyum dan berusaha menetralkan nafasnya yang masih terengah.
"Suster Kang memanggil noona ke ruangannya." Ucap Sungwoo setelah berhasil menetralkan nafasnya.
Jujur saja baru kali ini Ten merasa malas pergi ke ruangan suster Kang. Setelah berterima kasih pada Sungwoo, Ten mulai memasuki gedung panti dan menuju ke ruangan suster Kang. Ia mengetuk pintu berwarna coklat dan masuk ke dalam setelah mendapat jawaban. Alangkah terkejutnya Ten saat masuk ke ruangan suster Kang, di sana ada tuan dan nyonya Seo yang sedang duduk di sofa panjang dan sajangnim yang duduk di hadapan mereka. Tak hanya Ten, si pria tinggi juga tampak terkejut melihat Ten masuk ke dalam ruangan suster Kang, apa mungkin dia orangnya, batin pria tinggi tersebut.
"Selamat datang tuan dan nyonya Seo." Ucap Ten menundukan badannya di hadapan para tamu. Nyonya Seo terlihat bangkit untuk menghampiri Ten dan memegang kedua pundak ramping wanita cantik itu.
"Jangan panggil kami seperti itu Ten, mulai sekarang panggil eomma dan appa ya." Ucap nyonya Seo yang membuat Ten membulatkan kedua bola matanya. Si pria tinggi juga nampak terkejut dengan perkataan ibunya. Ten hanya mengangguk dan menurut saat tiba-tiba saja nyonya Seo menyuruhnya duduk di sebelah laki-laki tampan itu.
"Ten ini Youngho, anak tuan dan nyonya Seo." Ucap suster Kang memecah keheningan antara mereka.
"Dan Youngho, ini Ten yang telah dibicarakan ibumu sebelumnya." Ucap suster Kang. Johnny hanya mengangguk dan tidak banyak bicara setelahnya.
Selama beberapa menit perbincangan hanya terjadi antara suster Kang dan tuan serta nyonya Seo. Kedua anak muda yang duduk di antara mereka hanya berdiam diri terlebih lagi Ten, ia hanya menunduk seraya memainkan jemarinya.
"Ah sepertinya uri Youngho dan Ten perlu bicara berdua." Ucap nyonya Seo tiba-tiba. Ten yang mendengar perkataan itu sontak terkejut dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Ten kau boleh mengajak Youngho berkeliling panti." Saran suster Kang. Youngho bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada orang dewasa di ruangan tersebut.
"Kami permisi dulu." Ucapnya singkat, Ten yang semakin terkejut hanya mampu membelalakkan matanya sebelum akhirnya ia bangkit dan menyusul Youngho yang sudah berjalan jauh di depannya. Ten mengedarkan pandangannya kesana kemari setelah keluar dari ruangan suster Kang. Apa mungkin orang aneh yang bernama Youngho ah maksudnya sajangnim mampu menghilang secepat itu.
"Kau mencariku." Ucap suara berat dibelakang Ten. Ia mulai berjalan disebelah Ten dan mengajaknya berbicara.
"Aku rasa ada banyak hal yang perlu kita bicarakan soal ide gila ah maksudku perjodohan ini. Kau punya saran tempat?" Ucap Youngho.
"Ikuti aku…." Ucap Ten singkat.
Di sinilah mereka berdua sekarang, di sebuah gazebo tempat Ten dan Jungwoo pernah berbicara beberapa bulan yang lalu. Ten duduk terlebih dahulu, menyusul Youngho yang duduk disampingnya.
"Bagaimana menurutmu Ten?" Ucap Youngho memecah keheningan.
"Aku bingung sajangnim." Balas Ten, ia mulai kembali menundukkan kepalanya dan sibuk menatap tanah yang ia pijak.
"Panggil saja Johnny, tak perlu Youngho atau sajangnim. Aku rasa itu terlalu merepotkan." Ucap Youngho.
"Nde?" Tanya Ten, ia mulai terlihat kebingungan.
"Kau tau aku tak bisa menolak perjodohan ini. Kuharap kau melakukan hal yang sama." Ucap Johnny. Ten membelalakkan matanya, ia tidak percaya kalimat seperti itu keluar dari mulut Johnny.
"Dan aku benci penolakan." Ucap Youngho lagi. Ayolah Ten bahkan semakin bingung dengan perkataan pria dihadapannya ini.
"Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku harus segera pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan." Johnny berucap dan mulai menjauhi Ten.
Ten sudah mengutuk Johnny dalam hati. Bahkan orang itu sama sekali tidak membiarkannya bicara dan dengan mudahnya dia bilang semuanya sudah selesai. Benar-benar pria aneh. Ten membiarkan Johnny menghilang dari hadapannya. Ia memutuskan merogoh saku celananya dan berniat ingin mengambil ponselnya. Sepertinya Ten tahu harus menghubungi siapa dalam keadaan seperti ini.
"Yoboseyo Ten-ah ada apa tumben sekali menghubungiku." Ucap Jungwoo diseberang sana.
"Woo…." Ten terdiam, ia tak melanjutkan ucapannya.
"Yak bodoh, ada apa? Jangan buang-buang waktuku." Ucap Jungwoo yang terdengar mulai mengomel.
"Aku rasa aku akan menikah Woo." Ucap Ten singkat.
"Apa? Yang benar saja, pernikahan bukan main-main Ten. Bisa-bisanya kau bercanda seperti itu." Balas Jungwoo.
"Aku serius bodoh, aku akan menikah." Ten mulai jenuh dengan semua omelan Jungwoo.
"Kau bagaimana bisa baru kutinggal pergi ke Jeju seminggu sudah memberikan berita seperti ini." Ucap Jungwoo, ia terdengar begitu emosi di seberang sana.
Ten mulai menceritakan semua kejadian yang ia alami beberapa hari ini, tentu saja Jungwoo dibuat bingung bukan main. Jungwoo berusaha memberikan saran sebaik mungkin pada sahabatnya. Beberapa kali pula ia berusaha meyakinkan Ten untuk kembali memikirkan keputusannya dan tidak mengingkari suara hatinya sendiri. Ten mengangguk mengerti mendengar penjelasan Jungwoo dan panggilan telepon sore itu ditutup paksa oleh Jungwoo karena ia sudah ditunggu rekan kerjanya untuk makan bersama. Baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan Jungwoo, tiba-tiba saja ponsel Ten kembali berdering. Terdapat pesan masuk di sana, Ten bergegas membukanya.
From: 010-xxxx-xxxx
Aku sudah katakan pada appa dan eomma jika kau setuju dengan perjodohan ini. Satu bulan lagi kita akan menikah. – Johnny
Mata Ten membulat sempurna ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Johnny, benar-benar pria dingin itu tak memberikan Ten kesempatan bicara sedikitpun dan tiba-tiba dia datang memberi tahu jika pernikahan mereka akan dilakukan dalam waktu sebulan kedepan, rasanya Ten bisa gila setelah menghadapi hari ini. Setelah seharian berkutat di luar panti asuhan, Ten memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, rasanya ia harus segera menenangkan diri atas semua kejutan yang datang padanya hari ini. ten berbaring di atas kasurnya setelah sebelumnya mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Ia terlihat termenung beberapa menit, sampai akhirnya matanya mulai berat dan akhirnya terpejam. Rasanya ia memang butuh istirahat segera.
Hari senin yang paling dibenci oleh semua orang telah tiba. Beberapa suster panti asuhan terlihat sibuk berlalu lalang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Ten membuka pintu kamarnya dan memutuskan untuk segera pergi ke kantor, rasanya ia tidak perlu sarapan terlebih dahulu. Ten berjalan lunglai ke halte bus, perasaan malas untuk pergi ke kantor mulai menyeruak dari dalam dirinya. Jika ia ke kantor hari ini artinya ia akan bertemu dengan sajangnim ah lebih tepatnya ia akan bertemu dengan Johnny calon suaminya itu. Ten mulai memasuki bus dan menyandarkan kepalanya ke jendela, rasanya mulai hari ini persepsinya tentang Seo Corp akan segera berubah bukan lagi tempat kerja impiannya, melainkan hanya perusahaan besar yang dipimpin oleh pria dingin yang sama sekali tak mengizinkannya bicara kemarin.
Saat bus berhenti Ten memutuskan tidak langsung masuk ke perusahaan, lagipula masih banyak waktu untuk bersantai sejenak. Ia melangkahkan kakinya ke sebuah minimarket yang berada tepat di sebelah Seo Corp. Ten mulai mengambil beberapa onigiri dan sebuah susu pisang dari dalam kulkas, setelah membayar Ten memutuskan untuk duduk di kursi yang menghadap ke jendela. Ia mulai menyantap onigiri miliknya, mata tajamnya terlihat memandang lurus ke depan. Mungkin raganya ada bersamanya saat ini, namun jiwanya entah melayang kemana. Setelah menghabiskan onigiri dan susu miliknya, Ten masuk ke kantornya dan bersiap untuk rutinitas paginya.
Ten terlihat tengah membereskan beberapa berkas di hadapannya, ia menarik selembar kertas yang menurutnya penting dan berjalan ke arah mesin fotokopi. Jemari lentiknya dengan lihai menekan tombol-tombol yang terdapat di mesin fotokopi. Tiba-tiba saja Johnny terlihat melewati dinding kaca yang merupakan perbatasan antara ruang tim marketing dan lorong perusahaan. Ten memandang datar ke arah Johnny yang sama sekali tak sadar akan keberadaan Ten. Tiba-tiba saja Johnny berbelok dan masuk ke ruangan tim marketing. Semua karyawan berdiri dan membungkuk pada Johnny, Ten yang terlalu terkejut secara tak sengaja menendang mesin fotokopi yang ada disampingnya sehingga semua mata tertuju padanya.
"Kau tidak apa-apa Ten-ssi?" Tanya Mingyu yang berdiri di samping Johnny.
"Joesonghamnida bujangnim." Ucap Ten seraya membungkukkan tubuhnya.
Johnny terlihat melirik sekilas sebelum akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya ke ruangan Mingyu. Setelah Mingyu dan Johnny menghilang dari hadapannya, Ten terlihat beberapa kali memukul kecil kepalanya dan merutuki kebodohannya pagi ini. Sungguh sial sekali nasibnya seja kemarin.
"Sajangnim lama sekali berada di dalam." Ucap Dokyeom yang mulai menggeser bangkunya mendekati meja Ten.
"Mungkin ada hal yang penting." Sahut Irene yang berhadapan dengan meja Ten.
"Ten-ah kenapa kau terlihat grogi saat berhadapan dengan sajangnim tadi?" Tanya Dokyeom.
"Hah…. Benarkah aku terlihat begitu." Ucap Ten sedikit terbata.
"Benar apa kata Dokyeom Ten kau terlihat grogi saat di depan sajangnim tadi." Balas Irene yang mulai melepas kacamatanya.
"Mungkin perasaan kalian saja." Balas Ten singkat dan tidak berniat melanjutkan pembicaraan. Dokyeom dan Irene saling berpandangan dan menggelengkan kepala mereka, seperti ada yang aneh dengan Ten, batin Irene.
Waktu istirahat tiba, bersamaan dengan itu Mingyu terlihat keluar dari ruangannya bersamaan dengan Johnny yang mengekor di belakangnya. Selanjutnya dua pria dengan tinggi diatas rata-rata itu berjalan beriringan dari ruangan tim marketing. Dokyeom bersiap mengajak dua sahabatnya untuk makan bersama, mereka bertiga mulai memasuki area kantin dan duduk tempat makan tepat di sebelah jendela. Sesekali mereka terlihat bercakap dan tertawa di sela-sela kegiatan makan mereka. Setelah selesai mereka bergegas kembali ke ruangan dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Ten yang sedang fokus bekerja tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara telepon di mejanya yang berdering, Ten mengangkat telepon itu kemudian menutupnya kembali. Ia mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan Mingyu.
"Ada yang perlu kubantu bujangnim?" Tanya Ten begitu ia berdiri di hadapan Mingyu.
"Ah iya, bisa tolong antarkan berkas ini ke ruangan sajangnim?" Ucap Mingyu. Ten terlihat terkejut mendengar perkataan Mingyu. Dengan ragu-ragu ia mengambil setumpuk dokumen yang ada di meja Mingyu, setelah itu Ten membungkuk sedikit sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari hadapan Mingyu. Apa tidak ada orang lain? Mengapa harus aku, batin Ten.
"Ten kau mau kemana?" Tanya Irene yang sedang berdiri di sebelah mesin fotokopi.
"Bujangnim memintaku mengantarkan berkas ini. Aku tinggal dulu ya eonni." Ucap Ten.
Di sinilah Ten sekarang. Di depan sebuah ruangan besar dengan pintu berwarna abu-abu yang bertuliskan CEO. Saat hendak masuk ke dalam tiba-tiba saja seorang wanita menginterupsi kegiatannya.
"Ada perlu apa?" Tanya wanita tersebut. Mata tajamnya nampak menatap nyalang ke arah Ten seolah-olah Ten adalah buronan.
"Ah Mingyu bujangnim memintaku memberikan ini pada sajangnim." Ucap Ten seraya menunjukan setumpuk dokumen yang berada di tangannya.
"Silahkan masuk, setelah selesai bergegaslah keluar. Tidak perlu berlama-lama di dalam." Ucap wanita itu. Sungguh wanita yang aneh, seolah-olah dia adalah istri sajangnim. Padahal kan aku yang sebentar lagi menjadi istrinya, batin Ten. Ten terlihat memukul kecil kepalanya, bagaimana bisa pemikiran semacam itu tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.
"Maaf sajangnim aku di sini ingin mengantarkan berkas yang perlu kau periksa." Ucap Ten begitu ia sampai di hadapan meja kerja Johnny. Johnny memutar kursi kerjanya dan saat ini kedua mata tajamnya bertemu pandang dengan manik indah Ten yang tepat berada di hadapannya.
"Ah jadi Mingyu menyuruhmu mengantarkannya?" Tanya Johnny. Ia mulai membuka beberapa berkas yang baru saja Ten berikan.
"Ne, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Ten dan berniat pamit undur diri.
"Setelah pulang kantor kita bertemu di basement." Ucap Johnny tiba-tiba yang membuat Ten menghentikan langkahnya.
"Hah? Ah maksudku kenapa? Ada yang ingin sajangnim katakan lagi?" Ten terlihat bertanya-tanya.
"Eomma menyuruh kita pergi membeli cincin pernikahan." Balas Johnny tanpa menatap ke arah Ten.
"Tapi…. Bagaimana jika jangan di basement, di minimarket sebelah kantor saja bagaimana?" Tanya Ten sedikit terbata-bata.
"Kau tahu kan aku tak pernah suka penolakan. Saat jam pulang nanti keluarlah lebih dulu supaya tidak dilihat oleh siapapun saat kita bertemu di basement." Ucap Johnny, ia mulai menatap lekat kedua manik indah Ten.
"Baiklah." Cicit Ten Pelan. Ia pun berjalan keluar dan menutup pintu ruangan Johnny, dan lagi-lagi wanita di depan ruangan Johnny kembali menatapnya begitu tajam seolah akan menerkam Ten hidup-hidup. Sungguh sial hari-hariku, batin Ten.
Setelah jam pulang tiba Ten bergegas keluar dari ruangannya dan menuju ke basement perusahaan. Sesampainya di basement tiba-tiba saja suara klakson mobil mengagetkan Ten. Suara itu berasal dari mobil Johnny. Ten bergegas menghampiri Johnny dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil mulai melaju ke tempat yang mereka tuju. Tidak ada pembicaraan antara Ten dan Johnny, suasana begitu hening dan sepertinya tidak ada yang berniat membuka pembicaraan antara mereka berdua.
"Jadi sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan?" Tanya Johnny, sepertinya ia mulai lelah dengan keheningan yang menguasai mereka berdua.
"Kurang lebih enam bulan sajangnim." Balas Ten sedikit canggung, jujur saja ia masih tidak menyangka calon suaminya adalah CEO nya sendiri.
"Bukankah sudah kukatakan kemarin, jika kita hanya berdua cukup panggil Johnny. Tidak perlu seformal dan setegang itu aku tidak akan menggigitmu." Ucap Johnny cuek. Ten mengangguk dan menelan ludahnya kasar, ayolah cepat sampai, batin Ten.
Di sinilah mereka sekarang, di sebuah toko perhiasan yang cukup terkenal. Ten berjalan dibelakang Johnny karena jujur saja ia belum pernah ke tempat seperti ini sekalipun, apalagi jika dilihat harga perhiasan di sini pasti begitu mahal.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Ucap seorang pegawai wanita pada Johnny.
"Kami butuh cincin pasangan, bisa tolong berikan rekomendasi yang terbaik." Balas Johnny. Ia mulai duduk di sebuah sofa dan membolak-balikan majalah toko perhiasan tersebut.
"Kau tak berniat duduk?" Tanya Johnny, ia heran kenapa wanita di sebelahnya ini tahan sekali berdiri lama-lama. Setelah mendapat teguran dari Johnny, Ten mulai duduk di sebelah pria tinggi tersebut. Tak lama pegawai wanita yang sebelumnya kembali lagi ke hadapan mereka seraya membawa kotak beludru berwarna biru yang berukuran sedang.
"Ini produk edisi terbaru yang akan launching minggu depan." Ucap wanita tersebut seraya menunjuk cincin itu dengan ujung tangannya. Cincin tersebut terlihat begitu cantik dengan detail yang begitu rumit dan berlian kecil yang tersemat di tengah, cincin untuk mempelai pria juga terlihat begitu menawan. Ten fokus memperhatikan beberapa cincin yang tersaji di depan mereka, dari netra indahnya terpancar jelas kekaguman yang tidak dapat disembunyikan.
"Kau suka yang itu?" Tanya Johnny saat melihat Ten tengah mencoba cincin yang baru saja direkomendasikan oleh pegawai.
"Tapi aku rasa terlalu longgar dijariku." Ucap Ten yang mulai melepas cincin tersebut.
"Kami ambil yang itu dan bisa tolong sesuaikan ukurannya dengan jarinya?" Tanya Johnny pada pegawai wanita yang berada di hadapan Ten. Ten sontak terkejut dengan perkataan Johnny, baiklah sekali lagi Johnny tak pernah menerima pendapatnya.
"Ah baik, boleh kuukur jarimu terlebih dahulu nona?" Ten mulai mengulurkan tangannya ke depan dan membiarkan sang pegawai wanita bermain dengan jarinya.
"Ah iya karena tuan dan nona yang pertama kali membeli produk ini, kalian akan mendapatkan hadiah berupa ukiran nama di cincin kalian secara cuma-cuma, apa tuan dan nona berminat?" Ucap pegawai wanita setelah selesai mengukur jari Ten.
"Tidak per-"
"Boleh. Tolong tulis nama kami di sana, aku Youngho dan dia Ten." Ucap Johnny menyela ucapan Ten. Baiklah rasanya Ten tidak berguna di sini, jadi untuk apa ia mengajaknya jika tak mengizinkan Ten berpendapat sama sekali. Mimpi apa aku akan menikah dengan orang sepertinya, batin Ten.
Setelah selesai mereka berdua bergegas keluar dari toko tersebut. Pihak toko berpesan pada mereka untuk datang tiga hari lagi, karena pengerjaan cincin untuk mereka cukup memakan waktu. Ten yang berjalan di belakang Johnny terkejut karena tiba-tiba saja pria itu menghentikan langkahnya dan menatap wajah Ten lekat.
"Aku ada urusan, kau pulanglah naik taxi." Ucap Johnny seraya menyodorkan beberapa lembar uang pada Ten.
"Tidak perlu aku bisa bayar sendiri, hubungi aku jika kau butuh teman untuk mengambil cincinnya." Ucap Ten yang berlalu dari hadapan Johnny tak lupa tangan Ten sempat menyingkirkan tangan panjang Johnny yang berniat memberikan uang kepadanya.
Ten duduk di halte bus, sesekali ia terlihat memijat betisnya yang cukup pegal. Tak lama kemudian mobil Johnny lewat di hadapannya begitu saja, benar-benar pria dingin tidak tahu sopan santun. Bisa-bisanya ia membiarkanku pulang sendiri, batin Ten. Tapi bukankah seharusnya Ten bersyukur dapat menjauh dari Johnny, kenapa malah kecewa seperti ini. Ten masuk ke dalam bus yang akan membawanya pulang, sialnya bus itu juga terlihat penuh jadi Ten dengan sukarela berdiri menahan rasa pegal di kakinya yang makin menggila.
Jadi hari itu ditutup dengan Ten yang pulang dengan perasaan kesal pada Johnny calon suaminya, sebenarnya wanita cantik itu belum tahu kemana takdir akan jauh membawanya pergi setelah ini.
