5. (Bukan) Rumor

Tak terasa berminggu-minggu telah berlalu sejak kejadian di toko perhiasan. Ten tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Berusaha bersikap biasa saja saat bertemu dengan Johnny di kantor dan berusaha menerima semua perlakuan Johnny yang diberikan padanya. Ten menganggap semua itu sebagai bentuk latihan sebelum nanti pria kelewat tinggi itu benar-benar menjadi suaminya. Berselang tiga hari setelah kejadian di toko perhiasan pada akhirnya Johnny memutuskan untuk mengambil cincin mereka seorang diri dan tidak mengajak Ten. Keesokan harinya ia beralasan meminta Mingyu memanggil Ten ke ruangannya untuk mengambil berkas penting milik tim marketing yang telah selesai diperiksa, padahal nyatanya dia meletakkan kotak beludru berwarna biru di atas meja kerjanya dan meminta Ten mengambilnya.

"Kenapa tidak mengajakku saat mengambilnya?" Tanya Ten, ia mulai membuka kotak tersebut dan memperhatikan dua cincin yang terdapat di dalamnya.

"Kurasa tak ada bedanya aku mengajakmu atau tidak, lagipula kau tidak akan bicara." Balas Johnny, matanya tak menatap Ten sama sekali melainkan mencoba fokus pada setumpuk dokumen yang masih ia periksa.

"Padahal kau yang tidak mengizinkanku bicara." Cicit Ten pelan, bahkan suaranya kalah besar dibanding suara printer yang sedang bekerja di ruangan Johnny.

"Kau bicara sesuatu?" Tanya Johnny yang mulai mendongakkan wajahnya untuk menatap Ten.

"Ah tidak, sepertinya kau salah dengar. Baiklah aku pergi dulu, kurasa ini tak perlu kubawa, akan lebih aman jika tetap ada padamu." Ucap Ten yang mulai menutup kotak tersebut dan kembali meletakkannya di meja Johnny.

"Aku juga tak menyuruhmu membawanya kan?" Ucap Johnny menatap lurus ke arah Ten.

"Dasar laki-laki menyebalkan." Bisik Ten pelan. Ia mulai membalikan badannya dan berlalu dari hadapan Johnny. Percayalah saat ini hati kecil Ten sedang mengutuk Johnny dengan segala sikapnya yang begitu aneh.

Setelah kejadian tersebut baik Ten maupun Johnny tidak pernah lagi saling bertemu, kebetulan juga Mingyu tidak lagi menyuruh Ten untuk mengantarkan berkas tim marketing secara langsung pada Johnny. Siang ini Ten nampak sedang menyantap makan siangnya bersama Dokyeom, mereka hanya berdua karena Irene sedang sakit dan memutuskan untuk izin bekerja sejak kemarin, niatnya sore ini mereka berdua akan menjenguk Irene di apartemennya.

"Ten kau tau gossip yang sedang heboh di perusahaan?" Tanya Dokyeom setelah menelan suapan pertama miliknya. Ten hanya menggeleng dan kembali fokus pada makanannya.

"Kim Doyeon sekretaris pribadi sajangnim, kudengar sebenarnya mereka berdua berkencan." Ucap Dokyeom sedikit berbisik dan mendekatkan tubuhnya pada Ten. Detik itu juga Ten berhasil tersedak setelah mendengar perkataan Dokyeom yang cukup mengejutkan. Dengan sigap Dokyeom menyodorkan minuman pada Ten dan membiarkan wanita di depannya ini menenangkan tenggorokannya terlebih dahulu.

"Kau tahu berita semacam itu darimana bodoh?" Tanya Ten setelah menuntaskan setengah gelas jus jeruk miliknya.

"Pamanku juga bekerja di sini, dia bilang gossip ini sudah berhembus kencang di kalangan para petinggi. Kurasa Mingyu bujangnim juga telah mendengar berita semacam ini. Ditambah lagi beberapa hari yang lalu ada karyawan yang menonton di bioskop lalu ia berpapasan langsung dengan Kim Doyeon dan sajangnim di bioskop yang sama." Jelas Dokyeom panjang lebar. Ten hanya tersenyum sekilas dan berusaha menormalkan ekspresi wajahnya, jadi hubungan mereka sudah sejauh itu.

Pantas saja Doyeon kerap kali menatapnya sinis tiap ia keluar dari ruangan Johnny, mungkin saat itu ia sedang cemburu. Awalnya Ten mengira Johnny menerima perjodohan ini karena ia tidak ada waktu untuk bermain-main dengan wanita dan memilih pasrah serta menyerahkan semuanya pada orang tuanya, namun sepertinya Ten salah, Johnny pasti memiliki alasan yang jelas kenapa ia mau menerima perjodohan semacam ini. Tapi kenapa sejak awal ia tidak mengatakan kepada kedua orang tuanya dan menikah dengan Doyeon? Kenapa pria dingin itu malah memilih menerima perjodohan dari kedua orang tuanya yang nyatanya membuat ia berakhir dengan Ten. Benar-benar teori yang membingungkan, jujur saja kepala Ten cukup pusing saat ini ditambah hari ini adalah hari pertamanya menstruasi.

"Kurasa aku tahu kenapa mereka berdua bisa berkencan." Ucap Dokyeom tiba-tiba, laki-laki itu terlihat masih asyik membahas gossip tentang CEO nya sendiri.

"Karena faktor pekerjaan kah? Mereka berdua kan selalu keluar bersama." Jawab Ten singkat.

"Itu bukan faktor utamanya, kau tau mereka berdua ternyata satu sekolah. Dan sejak itu Doyeon selalu mengikuti sajangnim kemanapun, ku rasa wanita itu memang menyukai sajangmin sejak dulu." Balas Dokyeom. Baiklah lagi-lagi Ten dibuat terkejut dengan perkataan temannya ini. Berbagai teori kembali bermunculan di kepala Ten tapi tak ada satupun yang memberikan kejelasan. Kurasa aku harus bicara dengan Johnny nanti, batin Ten.

"Wow… kau menakjubkan Dokyeom-ssi darimana kau tahu hal-hal semacam itu?" Tanya Ten sedikit bercanda.

"Sepupu ku pernah masuk ke club taekwondo yang sama dengan sajangnim, mereka juga masih akrab hingga saat ini." Balas Dokyeom setelah menghabiskan susu pisang miliknya. Ten hanya ber oh ria dan tak berniat membuat pembicaraan mereka semakin panjang.

Setelah selesai makan, Ten dan Dokyeom kembali ke ruangan mereka dan melupakan segala gossip yang baru saja mereka bicarakan. Ten kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Dokyeom mulai sibuk dengan telepon di atas mejanya yang tak henti-hentinya berdering sejak tadi. Aktivitas Ten tiba-tiba saja terhenti karena ponsel miliknya berbunyi, Ten bergegas mengeceknya dan membaca pesan masuk yang tertera di notifikasinya, itu dari Johnny.

From: Johnny

Setelah ini pulang bersamaku, kita ke butik yang minggu lalu. Mereka mengabari pakaian kita sudah selesai.

Ten menghembuskan nafasnya cukup kencang setelah membaca pesan Johnny, kenapa harus pergi disaat yang tidak tepat begini. Ia kan telah memiliki janji dengan Dokyeom untuk pergi ke apartemen Irene eonni. Dokyeom yang berada di sebelah Ten telihat menyadari perubahan raut wajah Ten yang menjadi masam tidak seperti sebelumnya, ia pun mendekatinya.

"Kau sakit Ten?" Tanya Dokyeom yang mulai menatap serius wajah Ten.

"Ah tidak kok aku baik-baik saja." Balas Ten.

"Dokyeom-ah maafkan aku sepertinya aku tidak bisa ikut ke apartemen Irene eonni hari ini." Ucap Ten, ia sebenarnya merasa tidak enak pada temannya itu.

"Baiklah tak apa, kurasa kita bisa kesana lain kali. Lagi pula kau terlihat pucat Ten, sepertinya kau juga butuh istirahat." Ucap Dokyeom, ia mulai menggeser kursinya menjauh dari meja Ten. Ten kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana, ia harus segera membalas pesan Johnny.

From: Ten

Kau pergi duluan saja, nanti aku menyusul naik bus. Hari ini aku sedikit sibuk karena partnerku tidak bisa hadir.

Ten meletakkan ponsel miliknya di meja dan kembali fokus pada pekerjaannya, rasanya saat bertemu dengan Johnny nanti ia perlu menanyakan tentang rumor tersebut. Setidaknya akan ada sedikit pencerahan dari semua teori yang berputar-putar di kepalanya.

Setelah jam kantor selesai, Ten melangkahkan kakinya menuju halte bus untuk segera pergi ke butik yang telah diberitahukan Johnny sebelumnya. Tiba-tiba saja sebuah mobil yang tidak asing muncul di hadapan Ten, kaca mobil itu perlahan turun dan menampilkan wajah tegas Johnny dengan kacamata hitamnya. Penampilannya sedikit berantakan hari ini, tidak terlihat seperti Johnny yang biasanya. Rambut hitam itu terlihat sedikit acak-acakan, jas yang biasa terbingkai rapi di tubuh tegapnya juga ia lepas begitu saja sehingga hanya menyisakan tubuh kekarnya yang hanya dibalut oleh kemeja putih yang membingkai indah dada bidangnya. Ten mengedipkan matanya berkali-kali, ia masih tidak percaya Johnny muncul di hadapannya sore ini.

"Yak cepat masuk jangan buang-buang waktu." Ucap Johnny sedikit berteriak.

Ten akhirnya tersadar dan memasuki mobil Johnny dengan secepat kilat, pikirnya akan sangat bahaya jika ada orang yang melihatnya masuk ke mobil sajangnim. Johnny melepas kacamata hitamnya dan menengok sekilas ke arah Ten. Wanita cantik itu tersadar dengan tatapan Johnny padanya dan berbalik menatap dengan pandangan agak menusuk.

"Kenapa kau menjemputku? Kan sudah kubilang aku bisa kesana sendiri." Ucap Ten yang mulai mendengus sebal.

"Itu hanya akan membuang waktuku bodoh, aku tidak mau bersusah payah menunggumu sendirian di butik itu." Balas Johnny tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang sedang mereka lewati.

"Aku tahu John, tapi jika tadi ada yang melihatnya bagaimana? Akan sangat bahaya jika sekretaris mu tahu aku pergi berdua denganmu." Ucap Ten sedikit frustasi.

"Jadi kau sudah tahu hubunganku dengan Doyeon." Ucap Johnny, nada suaranya terdengar begitu datar dan tak berperasaan. Benar-benar pria aneh, batin Ten.

"Jadi kau benar-benar berkencan dengannya?" Tanya Ten sedikit ragu.

Johnny tidak menjawab pertanyaan Ten sama sekali, bahkan menoleh ke arahnya pun tidak. Tentu saja Ten semakin kesal dibuatnya, benar-benar menguras emosi dan perasaan.

"Jika kau berkencan dengannya kenapa tidak nikahi saja dia? Kenapa malah menerima perjodohan dari orang tuamu dan kau harus berakhir denganku?" Ucap Ten panjang lebar, sadarkah ia bahwa secara tidak langsung ia mulai menyulut emosi Johnny. Johnny menepikan mobilnya sejenak di jalanan yang terlihat sepi. Mata tajamnya menatap netra indah milik Ten lekat-lekat.

"Dengarkan aku! Jangan pernah sekalipun kau coba untuk mencampuri urusan pribadiku. Ikuti saja semua aturan mainnya, karena kau tahu apa? Sekalipun aku mencintai Doyeon aku tak akan pernah bisa menikahinya, dan aku juga tak akan pernah bisa menolak permintaan kedua orang tuaku. Kau terlalu banyak bicara Ten! Tutuplah mulutmu sebentar." Ucap Johnny penuh penekanan di setiap kalimatnya, Ten terlihat ketakutan, matanya mulai memerah, ia terlihat tengah menahan tangisnya, jadi begini rasanya dimarahi oleh laki-laki, batin Ten.

Johnny kembali melajukan mobilnya, perjalanan ke butik terasa begitu lama dan menyesakkan bagi keduanya. Ten sibuk dengan pikirannya sendiri dan berusaha keras menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan Johnny, mau ditaruh dimana mukanya nanti jika ia menangis di depan Johnny. Tak lama Johnny menepikan mobilnya di depan sebuah butik yang cukup besar, Ten bergegas turun dan masuk lebih dahulu. Ia masuk ke toilet dan segera memperbaiki penampilannya yang sedikit lusuh, perlahan air mata mulai berlomba keluar dari manik indah Ten, wanita itu juga tak berniat untuk menahan tangisnya, rasanya lega sekali bisa meluapkan semua kesedihannya. Setelah cukup lelah menangis Ten bergegas menghampiri Johnny yang terlihat mulai mengenakan jas miliknya. Tak lama seorang pegawai wanita mengajak Ten masuk ke fitting room dan mencoba gaun miliknya.

"Kantung mata nona terlihat sekali, pasti nona kurang tidur karena hari pernikahan sudah semakin dekat." Ucap salah satu pegawai yang membantu Ten mengenakan gaunnya. Ten hanya terkekeh dan tersenyum membalas ucapan pegawai tersebut, payah sekali kau Ten hanya karena Johnny kau menangis sampai mata berkantung, batin Ten. Setelah selesai mengenakan gaunnya, tirai pembatas fitting room pun ditarik oleh dua orang pegawai membuat Ten terlihat oleh orang-orang yang berada di luar fitting room. Ten menatap lurus kedepan, Johnny berada tepat di hadapannya ia berdiri tegak dan menatap lekat ke arah Ten. Entahlah rasanya Johnny juga tak mampu berkata apapun tentang penampilan Ten hari ini, kenapa dia begitu cantik, batin Johnny.

"Astaga cantiknya, gaun itu pas sekali denganmu, kulitmu juga begitu bersinar. Kalian berdua pasangan paling serasi yang pernah kutemui sejauh ini." Ucap sang desainer yang juga merupakan sahabat dari nyonya Seo. Ia terlihat memekin gemas melihat kecantikan Ten yang begitu terpancar hari ini.

"Youngho cepat naik ke atas, aku akan memotret kalian dan mengirimkannya pada ibumu." Ucap wanita itu seraya menggoncang lengan Johnny. Tentu saja Johnny terlihat terkejut atas permintaan yang tiba-tiba itu, ia mulai melangkah mendekati Ten dan berdiri disampingnya. Nyonya Lee sang desainer mulai memotret mereka dengan ponsel miliknya, beberapa kali ia terlihat mengarahkan gaya Ten dan Johnny agar mendapatkan angle foto yang pas.

"Youngho kemarikan ponselmu, kalian juga butuh menyimpan setidaknya satu foto saat fitting baju pernikahan." Ucap nyonya Lee, mau tak mau Johnny mulai merogoh saku celananya dan memberikannya pada nyonya Lee. Lagi-lagi wanita paruh baya itu memotret Johnny dan Ten, ia meminta Ten melingkarkan tangannya ke lengan kekar Johnny, Ten terlihat begitu ragu, namun tiba-tiba Johnny menarik tangan Ten dan membuatnya melingkar di lengannya. Tentu saja Ten hanya diam.

"Kau cantik Ten." Entah sadar atau tidak, tapi kalimat itu meluncur bebas dari mulut Johnny. Ten sama sekali tidak membalas perkataan pria disampingnya itu, dalam hati Ten hanya berharap semoga semua ini cepat usai, ia harus segera pulang dan menenangkan pikirannya. Ten bergegas keluar dari fitting room begitu selesai mengganti pakaiannya seperti semula, terlihat Johnny tengah sibuk berbincang dengan nyonya Lee, sepertinya ia mulai menyadari kehadiran Ten. Johnny dan Ten bergegas berpamitan dengan nyonya Lee dan karyawan butik lainnya, mereka mulai keluar dari area butik. Namun Ten terlihat berjalan ke arah berlawanan dengan tempat mobil Johnny diparkirkan. Sang pria tinggi hanya menatap bingung calon istrinya itu dan mulai menghampirinya.

"Kau mau kemana? Apa kau lupa mobilku di sana." Ucap Johnny seraya menunjuk ke arah mobilnya.

"Aku pulang naik bus saja." Jawab Ten singkat. Johnny menatap heran ke arah Ten ia mulai menarik tangan wanita mungil itu, tentu saja Ten terkejut dengan perlakuan Johnny yang begitu tiba-tiba.

"Kau pucat, lebih baik ku antarkan kau pulang." Johnny mulai berusaha menarik Ten untuk mendekat ke arahnya.

"Tidak perlu John, apa pedulimu jika aku sakit. Aku masih bisa pulang sendiri." Ucap Ten sedikit kesal, ia menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Johnny. Detik itu juga Ten mulai berjalan menjauh dari Johnny dan memasuki bus yang tepat berhenti di depan halte.

"Wanita yang aneh." Ucap Johnny pelan. Apa sikapnya saat di mobil tadi membuat Ten kesal, pikir Johnny. Johnny mulai memasuki mobilnya, dari dalam mobil ia menatap lurus ke arah bus yang berada di halte. Memandang Ten yang terlihat tengah menyandarkan kepalanya ke jendela bus dan sesekali menyeka air matanya. Apa aku telah membuat kesalahan, batin Johnny.