6. Menikah

Sabtu pagi ini Kota Seoul terlihat begitu cerah, burung-burung berkicau dan dedaunan terlihat basah oleh embun yang siap menetes kapan saja. Ten terduduk di kursi panjang yang berada di sebuah gedung mewah di Seoul. Hatinya begitu berdebar, entah akan jadi apa ia hari ini, pikirnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan Jungwoo yang masuk ke dalam dengan gaun berwarna biru tua. Ia mendekati Ten dan membenarkan gaun pernikahan sahabatnya itu. Jungwoo tampak tersenyum cerah, akhirnya sahabatnya ini menikah. Jungwoo tidak pernah menyangka Ten yang terkadang ceroboh akan menikah lebih dulu darinya.

"Woo…. Aku takut." Ucap Ten, ia terlihat menunduk dan asyik memandang ke bawah.

"Kalau begitu kabur saja." Balas Jungwoo sekenanya. Ten mendongakkan wajahnya untuk menatap Jungwoo yang berada di hadapannya.

"Kau tidak menyuruhku melalui ini semua?" Tanya Ten, suaranya mulai terdengar bergetar.

"Tentu saja tidak, kalau kau suka kau boleh melanjutkannya. Kalau tidak, tentu saja kau punya hak untuk meninggalkannya." Ucap Jungwoo, ia mulai duduk di sebelah Ten. Dengan telaten Jungwoo membenahi kembali riasan wajah Ten yang sempat terganggu karena air mata yang menetes dari pelupuk matanya.

"Jangan coba-coba meninggalkanku ya Kim Jungwoo." Ucap Ten, ia mulai berhambur ke pelukan Jungwoo dan tak lama mulai terdengar suara tangisan dari mulut Ten. Jungwoo segera melepaskan pelukan Ten dan menatap wajah sahabatnya itu lekat-lekat.

"Bodoh kenapa kau menangis, kau tahu betapa mahalnya biaya make up artist yang kau gunakan hari ini. Ayolah Ten tersenyum kau akan menikah, jangan menangis lagi ya…." Jungwoo menjulurkan jarinya untuk menghapus sisa air mata yang ada di wajah Ten.

Tak lama kemudian Jungwoo berpamitan untuk keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Ten seorang diri. Beberapa menit setelah Jungwoo keluar, pintu ruangan itu kembali terketuk, terlihat seorang wanita berpakaian rapi mempersilahkan Ten untuk keluar karena prosesi pernikahan akan segera dimulai. Di sinilah Ten sekarang, di depan sebuah ruangan utama yang akan digunakan untuk mengucap janji suci pernikahan. Ten nampak memandang lurus ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu, tak lama Tuan Seo menghampirinya dan menawarkan Ten untuk melingkarkan tangannya di lengan kokoh miliknya. Ia akan berjalan ke altar bersama tuan Seo, mau bagaimana lagi, walaupun hal ini terdengar menyakitkan tapi Ten tidak pernah mengetahui siapa ayahnya.

Saat ini Ten dan Johnny berdiri bersebelahan di depan altar, mereka baru saja mengucapkan janji sehidup semati. Ten sendiri bingung apakah janji itu akan bertahan selamanya atau hanya sementara. Johnny dan Ten nampak berdiri berhadapan, riuh tepuk tangan para undangan terdengar begitu jelas, pernikahan ini hanya mengundang keluarga besar Johnny dan beberapa suster panti asuhan. Johnny membuka tudung tipis yang sejak tadi menutupi wajah cantik Ten, setelah itu ia mendaratkan ciuman lembut di kening Ten, tentu saja Ten begitu terkejut dan tak pernah menyangka Johhny akan berbuat demikian padanya. Selesai pemberkatan para tamu mulai menikmati hidangan yang disajikan. Johnny dan Ten berdiri berdampingan, terlihat beberapa anggota keluarga Johnny yang menunggu giliran untuk foto bersama kedua mempelai.

"Terima kasih ya Ten sayang sudah mau menerima Johnny yang menyebalkan ini." Ucap nyonya Seo yang mulai memeluk tubuh ramping Ten. Sepertinya wanita paruh baya ini belum mengetahui jika Ten dan Johnny masih merasa seperti orang asing. Ten tersenyum tulus membalas perkataan ibu mertuanya, mungkin Johnny adalah pria paling menyebalkan yang pernah ia temui, tapi percayalah kedua orang tuanya begitu luar biasa dan sangat baik pada Ten dan keluarga kecilnya di panti asuhan.

Setelah rangkaian acara pernikahan selesai Ten dan Johnny bergegas pergi ke suatu tempat menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Johnny. Di dalam mobil, Ten beberapa kali memijat betisnya. Sungguh berdiri terlalu lama membuatnya begitu tersiksa, Johnny hanya melirik sekilas dan tak menanyakan apapun. Rasanya hubungan mereka masih sama buruknya dengan saat terakhir kali mereka bertemu. Ten menatap tak percaya dengan pemandangan di hadapannya, sebuah rumah dua tingkat dengan ukuran cukup besar. Jadi sejak tadi Johnny membawanya ke komplek elit di tengah Kota Seoul.

"Hadiah dari appa dan eomma untuk pernikahan kita." Ucap Johnny yang mulai sibuk mengeluarkan koper-koper Ten dari bagasi mobilnya.

"Bukankah ini terlalu besar jika hanya untuk kita berdua." Balas Ten, ia menoleh sekilas ke arah Johnny yang berada di belakangnya.

"Eomma bahkan berpikir rumah ini terlalu kecil untuk kita." Ucap Johnny, ia menyeret koper besar Ten dan menaruhnya di depan wanita itu.

"Bawa koper mu masuk." Johnny berkata seraya melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

"Kau tidak berniat membantuku?" Tanya Ten, ia sendiri tak habis pikir kenapa barangnya sebanyak ini.

"Kau tahu mengeluarkannya saja sudah menguras energiku." Balas Johnny tanpa menoleh sedikitpun, sungguh rasanya Ten ingin menendang bokong Johnny sekarang juga. Ten benar-benar tak bisa membayangkan jika kedepannya ia tinggal berdua dengan Johnny. Ten mulai menyeret koper-kopernya ke dalam, di ruang keluarga Johnny nampak bersantai seraya melonggarkan dasi dan membuka jas yang sejak tadi membingkai indah tubuh kekarnya.

"Dimana kamarnya?" Tanya Ten setelah ia sampai di ruang keluarga.

"Duduklah dulu." Balas Johnny seraya menunjuk sofa dihadapannya. Ten mulai duduk dihadapan Johnny, tak lama kemudian pria tinggi itu menyodorkan sebuah map berwarna biru dan menyuruh Ten membacanya.

"Kesepakatan pernikahan! Kau gila John-" Ucap Ten sedikit emosi setelah membaca judul dari dokumen tersebut.

"Kau pikir aku menikahimu tanpa alasan yang jelas?" Tanya Johnny yang mulai menatap tajam ke arah Ten. Baiklah Ten semakin tak habis pikir dengan perkataan pria dihadapannya ini.

"Kau mau aku setuju dengan perjanjian konyolmu ini?" Tanya Ten, suaranya terdengar sedikit bergetar karena ia mulai menahan tangisnya.

"Tentu saja, kau juga akan diuntungkan. Kau dapat fasilitas mewah dari keluargaku dan aku tetap akan menikmati kemewahan yang sama seperti sebelumnya." Balas Johnny begitu menusuk.

"Apa suatu saat kau akan menceraikanku?" Tanya Ten, ia menatap mata Johnny dengan kedua matanya yang mulai memerah seperti menahan tangis.

"Akan kulihat bagaimana kedepannya." Ucap Johnny singkat.

"Jika kau hanya mau bermain-main kenapa melibatkanku John." Baiklah Ten sudah benar-benar menangis saat ini.

"Karena kau yang terpilih Ten, ayolah terima saja. Kau bisa tetap berkencan dengan orang lain jika kau mau." Balas Johnny.

"Semudah itu katamu? Kau harus tahu aku tak pernah menganggap pernikahan ini permainan John, kita sudah berjanji di hadapan Tuhan, dengan mudahnya kau berkata seperti itu. Persetan dengan perjanjianmu ini aku tak peduli." Ucap Ten panjang lebar, air mata mulai berlomba untuk keluar dari manik indahnya, biarlah hari ini Johnny melihatnya menangis, Ten tidak peduli lagi.

Tentu saja Ten telah membaca perjanjiannya tadi, mereka harus tidur terpisah, tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi satu sama lain, bersikap mesra di depan keluarga dan kerabat, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat konyol yang bahkan Ten pun tak sanggup untuk mengingatnya, sungguh pria itu begitu kekanakan, batin Ten. Ten mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar tamu yang berada di dekat ruang keluarga, sedangkan Johnny akan menempati kamar di lantai dua. Ten menyeret koper-kopernya dengan susah payah kemudian ia membanting pintu dengan keras tanpa mempedulikan Johnny yang masih duduk di sofa dan diam-diam menatapnya.

Ten duduk di kasur dengan air mata yang masih mengalir deras dari pelupuk matanya, kenapa nasibnya bisa seburuk ini, ditinggalkan orang tua sejak kecil dan saat dewasa malah menikah dengan pria tak berperasaan seperti Johnny, kenapa hidup tidak pernah adil padanya, pikir Ten. Ia mengusap air matanya kasar dan mulai membuka koper-koper besarnya agar dapat segera berganti pakaian. Ten menghela nafas sejenak, sejak kapan barang-barangnya jadi sebanyak ini, pikirnya. Ia mulai mencari baju santai dan mengganti gaunnya dengan baju tersebut. Beruntungnya kamar tamu rumah ini juga memiliki kamar mandi, jadi ia tidak perlu bersusah payah keluar dan melihat wajah Johnny. Setelah selesai berganti pakaian, Ten bergegas merapikan semua barang-barangnya. Ten mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, rasanya kamar ini terlalu besar jika disebut sebagai kamar tamu. Ukuran lemarinya begitu besar, ada sebuah kamar mandi, dan tak lupa terdapat meja rias yang tentu saja lebih dari cukup untuk menampung kosmetik milik Ten. Mungkin saja Johnny sudah menyiapkan kamar ini untuknya demi mendukung perjanjian konyolnya itu.

Tak terasa sore telah berganti malam, ternyata cukup lama Ten berada di dalam kamarnya sejak tadi. Masih ada dua koper yang mengantri Ten rapikan, namun rasanya tubuhnya sudah butuh istirahat sejenak. Ten keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Ia berniat mengambil minuman dan mencari apapun yang dapat ia makan dari sana, sepertinya cacing-cacing di perut Ten sudah mengamuk. Ten cukup terkejut saat membuka kulkas yang telah berisi berbagai macam makanan, sungguh Ten begitu beruntung memiliki ibu mertua yang baik seperti nyonya Seo walaupun anaknya tidak bisa dikatakan begitu baik padanya. Ten mulai memasak nasi dan mengambil beberapa frozen food yang akan ia nikmati serta sebungkus ramyeon yang sepertinya sudah memanggil sejak tadi. Setelah nasi matang, Ten mulai memasukan beberapa frozen food ke dalam air fryer dan memasaknya di sana, kemudian sibuk membuat ramyeon kesukaanya. Ten tak peduli sekalipun keesokan harinya pipinya membengkak, yang penting hari ini ia makan dengan nikmat.

Setelah semuanya beres, Ten membawa makanannya ke meja makan dan mulai menikmatinya. Tiba-tiba saja siluet pria tinggi berada tepat di hadapan Ten. Ten cukup terkejut dan mendongakkan wajahnya untuk menatap Johnny.

"Aku akan keluar, kau tak perlu menungguku pulang." Ucap Johnny dan mulai melangkah mendekati pintu rumah mereka.

"Aku juga tak berniat menunggumu." Balas Ten saat Johnny mulai menjauh darinya.

Kenapa Johnny wangi sekali pasti mau menemui Doyeon, lagi pula kan sekarang malam minggu bukankah waktu yang tepat untuk jalan-jalan dengan kekasih, pikir Ten. Ten mulai fokus menghabiskan makanannya, ia masih harus merapikan dua kopernya. Atau mungkin Ten akan melanjutkan eksperimen di dapur selagi Johnny pergi. Setelah selesai, Ten mencuci semua piring yang telah ia gunakan dan kembali ke kamar. Ia kembali berkutat dengan koper besarnya dan merapikan ke tempat yang seharusnya. Setelah satu jam akhirnya Ten selesai dengan masalah barang-barangnya. Koper-kopernya juga telah ia rapikan di samping lemari agar tidak membuat sempit ruangan. Ten kembali berjalan ke dapur dan mengedarkan pandangannya ke arah kitchen set yang baru saja ia buka pintunya, disana terdapat berbagai macam tepung, Ten memekik gemas dan berniat membuat cookies untuk dinikmati nanti.

Wanita cantik itu mulai berkutat dengan berbagai macam bahan kue, ia membuat choco cookies yang biasa ia makan bersama anak panti. Bau harum mulai tercium dari oven yang ia gunakan, tak lama oven berbunyi dan Ten mulai mengeluarkan Loyang yang ia gunakan dari oven tersebut. Aroma coklat menguar di seluruh penjuru dapur, Ten tersenyum puas saat mencoba cookie buatannya. Sepertinya ia bisa membuat cukup banyak dan memberikannya pada mertuanya besok, lagi pula rencananya besok ia dan Johnny akan datang ke rumah keluarga Seo untuk bertemu dengan kakak perempuan Johnny yang baru datang dari Swiss. Saat meraba lemari bagian bawah untuk mencari tepung yang hendak ia gunakan, tiba-tiba saja tangannya bersentuhan dengan kotak yang cukup kokoh. Ten menarik kotak tersebut, ia tersenyum cerah saat tahu ternyata yang ia temukan adalah tepung es krim instan sungguh ibu mertuanya memang luar biasa, seolah tahu jika Ten memiliki hobi memasak.

Ten tersenyum puas setelah menyelesaikan masakannya hari ini, ia baru saja selesai membuat bertoples-toples choco cookies, es krim rasa coklat, stroberi, dan vanila, dan yang terakhir ia membuat banana bread di Loyang berukuran sedang. Entah ide dari mana tiba-tiba saja dia teringat dengan banana bread saat melihat pisang yang ada di kulkas. Ten mulai memasukkan es krim yang ia buat ke freezer dan merendahkan suhunya supaya es krim yang ia buat akan mengeras dengan sempurna esok hari. Ten membawa beberapa toples berisi choco cookies ke ruang keluarga dan berniat menatanya di sana untuk diberikan pada mertuanya esok hari. Setelah selesai dengan choco cookies miliknya Ten kembali ke dapur dan terlihat membawa sebuah piring kecil berisi potongan banana bread yang ia beri sedikit maple syrup di atasnya. Ten kembali duduk di ruang keluarga dan memilih untuk menonton Netflix. Tiba-tiba saja pintu rumah mereka terbuka, Ten menoleh sekilas tak lama kemudian Johnny terlihat berjalan masuk ke dalam.

"Kau menungguku?" Tanya Johnny yang berada di belakang Ten.

"Untuk apa? Aku rasa itu tidak termasuk dalam surat perjanjian yang kau buat." Balas Ten tanpa menoleh ke arah Johnny. Johnny terlihat berjalan ke arah dapur, sepertinya pria itu kelaparan.

"Kau tidak memasak apapun Ten!" Teriak Johnny cukup kencang.

"Kukira kau sudah makan dengan Doyeon, jadi aku tidak memasak apapun hari ini." Ucap Ten tak kalah kencang. johnny terlihat kembali ke ruang keluarga dan duduk di sebelah Ten, ia menatap keheranan ke arah Ten yang sedang menonton Kingdom seraya menikmati makanannya, wanita ini luar biasa gila, batin Johnny.

"Apa ini?" Ujar Johnny, ia hendak memegang box berukuran sedang yang berada di hadapannya.

"Jangan dibuka, ini untuk eomma mu." Ucap Ten sedikit berteriak.

"Makan ini saja." Ucap Ten seraya menyodorkan piringnya yang berisi setengah potong banana bread.

"Ambilkan yang baru, aku tidak mau makanan sisa." Johnny menjauhkan tubuhnya dari Ten dan menatap tajam ke arah wanita tersebut.

"Aish…. Menyebalkan." Ten mulai bangkit ke dapur dan mengambilkan makanan untuk Johnny.

"Jika kau baca perjanjian yang tadi, seharusnya kau paham itu salah satu isi dari kontrak kita. Ten minumannya juga!" Ucap Johnny yang mulai fokus dengan tontonan zombie yang tersaji di hadapannya.

"Kau punya kaki John, ambillah sendiri." Teriak Ten yang mulai memotong banana bread di hadapannya.

"Untuk apa bersusah payah jika kau sudah ada di sana." Ucap Johnny. Baiklah Johnny benar-benar pandai menjawab omongan orang lain, pantas saja dia bisa jadi CEO di usia nya yang semuda ini.

Berbicara soal perjanjian antara Ten dan Johnny, disana disebutkan jika Ten tetap harus melayani Johnny sebagai istri yang baik. Jadi Ten harus menyiapkan makanan untuk pria itu, namun mereka tidak akan pernah melakukan "hubungan" selayaknya suami istri pada umumnya.

Johnny mendongak dan menatap Ten yang berada di hadapannya dan menyodorkan piring berisi banana bread ke arahnya. Johnny mengambil piring tersebut dan mulai menikmati makanannya. Ten terlihat duduk di sebelah Johnny dan kembali menikmati makanannya yang sempat tertunda.

"Kau beli dimana? Aku tak pernah tahu ada toko kue yang enak di sekitar sini." Ucap Johnny.

"Aku buat sendiri." Jawab Ten singkat tanpa menoleh ke arah Johnny.

"Berbohong itu tak baik Ten, kau pasti diajarkan oleh suster di tempatmu tinggal dulu." Ucap Johnny yang baru saja menyelesaikan banana bread miliknya.

"Terlalu enak ya sampai kau tak percaya aku yang membuatnya." Ucap Ten seraya tersenyum jahil.

"Aku tak pernah bilang ini enak." Balas Johnny sedikit kaku, namun tangannya sibuk memotong banana bread yang ada di hadapannya. Ten terlihat tersenyum lembut dan menatap ke arah Johnny.

"Makanlah John, kurasa kau lapar." Ucap Ten.

"Untuk yang tadi sore, maafkan aku Ten." Ucap Johnny tiba-tiba.

"Tak apa, aku juga paham pria sepertimu tidak mungkin menerima perjodohan aneh ini begitu saja. Orang tuamu terlalu baik John, aku hanya tak mau mengecewakan mereka." Balas Ten, ia sama sekali tak menatap ke arah Johnny yang berada di sebelahnya. Johnny tak menjawab, tanpa sadar ia tersenyum tipis mendengar ucapan Ten.

"Soal perjanjian itu, aku sudah membacanya. Aku rasa isinya masih dalam batas kewajaran, kau bukan psikopat seperti yang kupikirkan sebelumnya." Ucap Ten yang menolehkan kepalanya untuk menatap Johnny.

"Uhukkk…. Bagaimana bisa kau menganggap aku psikopat?" tanya Johnny yang sempat tersedak banana bread miliknya.

"Hehe…. Kau sangat aneh John saat di kantor." Ucap Ten seraya terkekeh. Johnny hanya memutar bola matanya malas, disatu sisi ia merasa bersyukur karena Ten yang menjadi istrinya. Jika orang lain yang berada di posisi Ten mungkin akan marah besar saat menerima perlakuan Johnny yang sebelumnya.

"Ini kau juga yang buat?" Tanya Johnny seraya menunjuk box yang berada di hadapannya.

"Hum…. Akan kuberikan pada eomma besok." Ucap Ten

"Aku mau coba." Tangan besar Johnny mulai menarik pita yang mengikat box tersebut.

"Jangan! Kau makan yang ini saja." Ten sedikit memekik pada Johnny dan menyerahkan toples berukuran besar pada pria di sebelahnya. Johnny mengambil toples tersebut dan mulai menikmati cookies yang berada di dalamnya.

"Enak. Kenapa kau tidak berhenti saja dari perusahaanku dan membuka toko kue? Semuanya enak hari ini." Ucap Johnny seraya bergumam.

"Perusahaanmu itu memberiku gaji cukup besar John, mana bisa aku melepaskannya begitu saja setelah berjuang mati-matian untuk bisa sampai di sana." Ucap Ten. Johnny hanya tersenyum, tentu saja ia masih ingat pertemuan pertamanya dengan Ten beberapa bulan yang lalu. Johnny masih ingat bagaimana Ten yang begitu gugup duduk di hadapannya untuk interview pekerjaan saat itu.

"Kau sudah selesai? Aku akan mencucinya." Ucap Ten seraya mengambil piring yang berada di hadapan Johnny. Pria tampan itu hanya mengangguk dan masih sibuk menikmati cookies buatan Ten. Tak berapa lama Ten tampak muncul dari arah dapur dan mengatakan sesuatu pada Johnny.

"Aku tidur duluan John." Ucap Ten, sebenarnya Ten tidak menghindar hanya saja entah kenapa sejak tadi jantungnya berdegup begitu cepat saat duduk di sebelah Johnny. Jangan sampai aku menyukainya, batin Ten. Ten menutup pintu kamarnya dan menyentuh dadanya yang berdegup tak beraturan, ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran anehnya. Ten memilih untuk membersihkan diri ke kamar mandi dan berencana tidur dengan nyenyak malam ini. Ia tak sabar menyambut hari esok, semoga saja kakak perempuan Johnny dapat menerimanya dengan baik.